DOCTYPE html PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML 1.0 Strict//EN" "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-strict.dtd"> Didi Tarsidi: Counseling, Blindness and Inclusive Education: Pendidikan dan Latihan Yang Tepat sebagai Kunci Keberhasilan Kemandirian Individu Tunanetra
  • HOME


  • Guestbook -- Buku Tamu



    Anda adalah pengunjung ke

    Silakan isi Buku Tamu Saya. Terima kasih banyak.
  • Lihat Buku Tamu


  • Comment

    Jika anda ingin meninggalkan pesan atau komentar,
    atau ingin mengajukan pertanyaan yang memerlukan respon saya,
    silakan klik
  • Komentar dan Pertanyaan Anda




  • Contents

    Untuk menampilkan daftar lengkap isi blog ini, silakan klik
  • Contents -- Daftar Isi




  • Izin

    Anda boleh mengutip artikel-artikel di blog ini asalkan anda mencantumkan nama penulisnya dan alamat blog ini sebagai sumber referensi.


    22 July 2007

    Pendidikan dan Latihan Yang Tepat sebagai Kunci Keberhasilan Kemandirian Individu Tunanetra

    Oleh Didi Tarsidi
    Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

    Pendahuluan

    Bila anda "berselancar" di Internet dan masuk ke alamat ini: , anda akan menjumpai teks berikut ini:

    The real problem of blindness is not the lack of eyesight. The real problem is the misunderstanding and lack of information which exist. If a blind person has proper training and opportunity, blindness is only a physical nuisance.

    Itu adalah teks yang menyertai logo National Federation of the Blind, persatuan tunanetra Amerika Serikat. Teks tersebut menyuratkan bahwa masalah sesungguhnya yang diakibatkan oleh ketunanetraan itu bukanlah hilangnya penglihatan itu sendiri, melainkan kesalahfahaman dan kurangnya informasi mengenai ketunanetraan. Jika seorang tunanetra memperoleh pendidikan dan latihan yang tepat serta diberi kesempatan, ketunanetraan tidak lebih dari sekedar gangguan fisik. Hal ini menyiratkan bahwa dengan pendidikan dan latihan yang tepat serta kesamaan kesempatan, orang tunanetra pada umunya akan dapat melakukan pekerjaan pada umumnya di tempat kerja pada umumnya, dan akan dapat melakukannya sebaik tetangganya yang awas. James H. Omvig (1999) mengemukakan bahwa setiap hari ribuan orang tunanetra, baik laki-laki maupun perempuan, yang telah diberi pendidikan dan latihan yang tepat, berhasil bekerja sebagai petani dan pekerja pabrik, juru mesin dan petugas pemeliharaan, dosen perguruan tinggi, guru sekolah umum, ahli kimia dan ilmuwan lainnya, pengacara, agen asuransi atau real estate, pengusaha dalam berbagai bidang, juru masak, pencuci piring dan buruh, dan politisi.
    Perlu difahami bahwa kata "tepat" di dalam kebenaran fundamental tersebut di atas merupakan konsep yang operatif. Pendidikan/latihan yang tepat adalah kombinasi antara berbagai teknik pendidikan/pelatihan yang memberdayakan - pendidikan/pelatihan yang memungkinkan orang tunanetra pada umumnya untuk menjadi benar-benar mandiri dan swasembada (Omvig, 1999). Dengan kata lain, seorang tunanetra akan berhasil mencapai kemandirian bila dia memperoleh pendidikan dan latihan yang tepat.

    Omvig (1999) mengemukakan tiga "resep" dasar yang dibutuhkan oleh setiap orang tunanetra agar dapat mencapai tujuan kemandirian sejati dan swasembada, dan saya ingin menambahkan resep yang keempat. Dan, karena keempat resep ini dibutuhkan oleh setiap orang tunanetra untuk dapat benar-benar mandiri, maka sekolah dan pusat rehabilitasi bagi tunanetra harus berusaha memasukkan keempat resep ini sebagai bagian yang integral dari program pendidikan/latihannya. Keempat resep tersebut adalah:

    1) Orang tunanetra harus menyadari, baik secara intelektual maupun emosional, bahwa dia benar-benar dapat mandiri dan swasembada;
    2) Orang tunanetra harus benar-benar belajar untuk menguasai keterampilan-keterampilan khusus (teknik-teknik alternatif) yang akan memungkinkannya untuk benar-benar mandiri dan swasembada;
    3) Orang tunanetra harus belajar mengatasi sikap negatif masyarakat terhadap ketunanetraan - hal-hal yang tidak menyenangkan yang mungkin dikatakan atau dilakukan orang terhadap dirinya akibat kesalahfahaman dan miskonsepsi mereka mengenai ketunanetraan;
    4) Orang tunanetra harus belajar tampil wajar di dalam pergaulan sosial.

    Makalah ini akan membahas keempat resep pendidikan/latihan yang tepat tersebut, yang merupakan kunci keberhasilan bagi individu tunanetra dalam upayanya mencapai kemandirian.


    I. Kesadaran akan Kemampuan Diri untuk Mandiri

    Sangatlah penting bahwa orang tunanetra sendiri memahami, bukan hanya secara intelektual, tetapi juga secara emosional, bahwa dia benar-benar dapat mandiri dan swasembada. Tidaklah sulit bagi seorang siswa/klien tunanetra untuk memahami kebenaran ini secara intelektual; suruh saja dia menghafal frase ini dan mengucapkannya beberapa kali. Akan tetapi, tentu saja latihan intelektual seperti ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan penyesuaian emosi. Sering kali diperlukan keahlian seorang pembimbing untuk membantu seorang tunanetra memahami secara emosional bahwa dia dapat mandiri dan swasembada.

    Agar guru atau petugas rehabilitasi dapat secara efektif melaksanakan program pendidikan/latihan yang sangat penting ini, pertama-tama mereka sendiri harus memahami bahwa sikap masyarakat yang tidak tepat terhadap ketunanetraan, bukan ketunanetraannya itu sendiri, yang merupakan penyebab permasalahan yang sesungguhnya, yang harus diatasi melalui pendidikan/latihan yang tepat. Program pendidikan/latihan yang baik harus merupakan sebuah "pabrik pencetak sikap". Masyarakat pada umumnya beranggapan bahwa ketunanetraan itu berarti ketidakberdayaan, inferioritas, ketergantungan total, dan inkompetensi. Dan, karena sebagian besar masyarakat menganut pandangan yang salah ini, maka besar kemungkinan bahwa pandangan tersebut juga akan tercermin dalam sikap pada siswa/klien tunanetra terhadap dirinya sendiri. Pemberian suatu label pada diri seorang anak dapat membatasi ekspektasi orang lain terhadap anak tersebut, dan pada gilirannya juga membatasi ekspektasi anak terhadap dirinya sendiri. Label yang diberikan kepada seseorang akan mempengaruhi cara orang lain berperilaku terhadap dirinya (pengaruh interaksi sosial), cara orang tersebut berperilaku terhadap dirinya sendiri (self‑referent behavior), dan peran-peran apa yang akan diharapkan atau tidak diharapkan untuk diisinya (Smith et al, 1975). Oleh karena itu, siswa/klien itu perlu dibimbing ke arah pemikiran dan perasaan yang lebih sehat dan lebih konstruktif.

    Berikut ini adalah beberapa advis agar seorang tunanetra dapat memiliki pemahaman emosional mengenai ketunanetraannya.

    Pertama, seorang tunanetra harus mau mengakui dan menerima kenyataan bahwa dia tunanetra. Kebenaran mendasar di balik advis ini adalah bahwa siapa pun diri anda, anda tidak akan dapat mengatasi masalah yang anda hadapi jika anda sendiri tidak mau mengakui adanya masalah itu. Dan yang dimaksud dengan tunanetra di dalam makalah ini tidak hanya mereka yang mengalami kebutaan total, tetapi juga mencakup mereka yang masih memiliki sisa penglihatan tetapi tidak cukup baik sehingga dalam banyak kegiatan kehidupan sehari-harinya mereka tidak dapat berfungsi sebagai orang awas.
    Satu ciri bahwa seorang tunanetra sudah menerima ketunanetraannya adalah dia mau menggunakan kata "tunanetra" bila mengacu kepada dirinya sendiri, menggunakannya tanpa rasa ragu atau malu. Ciri-ciri lainnya adalah tidak malu membawa tongkat ke mana pun dia pergi, mau belajar Braille dan berbagai teknik alternatif yang khas bagi tunanetra, serta bersedia menggunakannya bila dia membutuhkannya meskipun dalam kehadiran orang lain.

    Kedua, mengekspos siswa/klien pada kegiatan-kegiatan yang selintas tampak terlalu sulit baginya sebagai seorang tunanetra ‑ misalnya mengoperasikan peralatan mekanik, bepergian sendiri dengan tongkat di lingkungan yang sudah ataupun belum dikenalnya, bermain sepatu roda, mendaki bukit, memasak, menjahit, dll. Siswa/klien harus memahami bahwa dia dapat belajar melakukan kegiatan-kegiatan tersebut atau kegiatan-kegiatan lain yang penuh tantangan secara kompeten, dengan ataupun tanpa penglihatan, bila dia menggunakan teknik yang tepat.

    Ketiga, membiasakan siswa/klien melibatkan diri dalam kegiatan sosial di tempat-tempat umum, misalnya berbelanja, menonton teater atau pementasan musik, mengunjungi pameran, mengikuti turnamen catur yang diselenggarakan bagi umum, dll. Tujuan dari semua kegiatan semacam ini adalah untuk membantu siswa/klien memahami bahwa dia adalah bagian yang integral dari masyarakat luas, yang memiliki hak yang sama seperti anggota masyarakat lainnya.

    Keempat, juga merupakan hal yang penting bagi siswa/klien ini mengenal dan bergaul dengan orang tunanetra dewasa yang berhasil. Adanya model peran yang baik itu sangat berharga dalam proses penyesuaian diri.

    Kelima, menanamkan konsep bahwa orang tunanetra pun dapat memberikan atau melakukan sesuatu untuk membantu orang lain. Sekurang-kurangnya, siswa/klien itu dapat berperan sebagai model bagi adik kelasnya. Dia dapat lebih memacu kemajuan dirinya dengan merasakan kepuasan diri karena dapat berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

    Tujuan dari resep pertama di atas adalah untuk membentuk sikap siswa/klien sedemikian rupa sehingga dia dapat secara jujur berkata kepada dirinya sendiri, "Saya memang tunanetra, dan itu tidak apa-apa! Saya dapat menjalani kehidupan yang normal, sukses, dan bahagia ‑ penglihatan yang baik bukan jaminan keberhasilan atau kebahagiaan. Tunanetra ataupun awas, saya dapat mandiri dan hidup bahagia. Ketunanetraan itu tidak mengurangi kehormatan seseorang."
    Dengan kata lain, siswa/klien diharapkan dapat menemukan konsep dirinya yang tepat dan dapat mengaktualisasikan dirinya. Kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri (self-actualising tendency) merupakan dorongan bagi setiap orang untuk mempertahankan dirinya dan meningkatkan kehidupannya, dan dorongan tersebut ada pada diri setiap individu (Carl Rogers dalam Nelson-Jones, 1995).


    II. Teknik Alternatif

    Sering kali, untuk dapat melakukan kegiatan kehidupannya sehari-hari secara mandiri, orang tunanetra harus menggunakan teknik alternatif, yaitu teknik yang memanfaatkan indera-indera lain untuk menggantikan fungsi indera penglihatan. Oleh karena itu, Kenneth Jernigan (1994) mendefinisikan tunanetra sebagai seorang individu yang harus menggunakan begitu banyak teknik alternatif jika ia ingin berfungsi secara efisien, sehingga pola kehidupan sehari-harinya sangat berubah. Teknik-teknik alternatif itu diperlukannya dalam berbagai bidang kegiatan seperti dalam membaca, bepergian, mengetik, menggunakan komputer, menata rumah, menata diri, dll. Kadang-kadang teknologi diperlukan untuk membantu menciptakan teknik-teknik alternatif tersebut. Program pendidikan/latihan yang tepat bagi tunanetra tidak hanya harus mengajarkan kepada mereka teknik-teknik alternatif ini, tetapi juga harus membangun daya kreativitasnya agar dapat mengembangkan teknik-teknik alternatif sendiri agar mereka dapat senantiasa mandiri jika dihadapkan pada situasi-situasi baru di dalam perjalanan hidupnya.


    III. Mengatasi Sikap Negatif Masyarakat mengenai Ketunanetraan

    Karena kurangnya informasi yang tepat mengenai ketunanetraan dan karena mispersepsi masyarakat umum tentang orang tunanetra, maka sikap negatif terhadap ketunanetraan sering ditunjukkan masyarakat umum, sehingga komentar yang tidak tepat atau perlakuan yang ganjil akan dialami oleh orang tunanetra setiap hari. Pengalaman-pengalaman ini berkisar dari diperlakukannya orang tunanetra sebagai seorang anak kecil yang tak berdaya hingga sikap kagum yang tidak pada tempatnya, misalnya pujian yang diberikan pada orang tunanetra yang dapat mengupas mangga sendiri tanpa melukai jarinya. Betapa pun berhasilnya seorang tunanetra menerapkan kedua resep di atas, kemandiriannya tidak akan bertahan lama jika dia tidak belajar mengatasi sikap dan perlakuan negatif itu.

    Untuk mengatasi masalah ini, program pendidikan/latihan bagi tunanetra harus mencantumkan banyak diskusi tentang sikap negatif dan mispersepsi masyarakat mengenai ketunanetraan. Pertama-tama, siswa/klien harus mengetahui apa sikap negatif dan mispersepsi tersebut, kemudian mereka harus diajak berpikir untuk menelaah mengapa sikap negatif dan mispersepsi itu terjadi. Dan dalam diskusi ini siswa/klien juga harus diajak menelaah sikapnya sendiri agar dapat membedakan antara fakta dan mitos tentang ketunanetraan. Di samping itu, mereka juga harus mengerti bahwa pada dasarnya masyarakat kita memiliki niat yang baik untuk menolong, dan bahwa perlakuan masyarakat yang kurang tepat itu lebih didasarkan atas persepsi mereka yang salah mengenai ketunanetraan.

    Akhirnya, bila siswa/klien telah memperoleh pengetahuan tentang sikap masyarakat mengenai ketunanetraan, dan bila mereka sudah mulai mampu memiliki pemahaman emosional bahwa kemandirian swasembada benar-benar memungkinkan untuk dicapainya, maka akan semakin mudah baginya untuk mengatasi masalah ini. Lambat laun mereka akan belajar untuk menghadapi perlakuan masyarakat yang ganjil itu dengan senyuman, dan bahkan dengan percakapan yang bersahabat dan konstruktif bagi kedua belah pihak.


    IV. Penampilan Sosial

    Penampilan sosial seseorang sangat menentukan apakah dia dapat diterima dengan baik di dalam lingkungan sosialnya. Yang dimaksud dengan penampilan sosial di sini adalah cara orang berperilaku, yang dapat dilihat dari gerakan fisiknya, tutur katanya, caranya berpakaian, dan caranya melakukan interaksi sosial secara keseluruhan.

    Albert Bandura (1986) mengemukakan bahwa Banyak perilaku yang ditampilkan oleh individu itu dipelajari atau dimodifikasinya dengan memperhatikan dan meniru model melakukan tindakan-tindakannya. Terdapat dua cara belajar, yaitu belajar melalui pengamatan (observational learning) dan belajar melalui perbuatan (enactive learning). Orang akan belajar dari seorang model hanya jika mereka mengamati dan mengenali aspek-aspek terpenting dari perilaku model itu.

    Observational learning memerlukan empat macam proses utama:
    1) Proses memperhatikan (attentional processes). Jika orang belajar melalui modelling, maka mereka harus memperhatikan dan mempersepsi perilaku model secara tepat. Tingkat keberhasilan belajar itu ditentukan oleh karakteristik model maupun karakteristik pengamat itu sendiri. Karakteristik model yang merupakan variabel penentu tingkat perhatian itu mencakup frekuensi kehadirannya, kejelasannya, daya tarik personalnya, dan nilai fungsional perilaku model itu. Karakteristik pengamat yang penting untuk proses perhatian adalah kapasitas sensorisnya, tingkat ketertarikannya, kebiasaan persepsinya, dan reinforcement masa lalunya.
    2) Proses retensi (retention processes). Agar efektif, modelling harus disimpan dalam ingatan. Retensi ini dapat dilakukan dengan cara menyimpan informasi secara imaginal atau mengkodekan peristiwa model ke dalam simbol‑simbol verbal yang mudah dipergunakan. Materi yang bermakna bagi pengamat dan menambah pengalaman sebelumnya akan lebih mudah diingat. Cara lain untuk mengingat adalah dengan membayangkan perilaku model atau dengan mempraktekkannya. Keterampilan dan struktur kognitif pengamat dapat memperkuat retensi. Motivasi untuk belajar juga berperan dalam retensi, meskipun insentif lebih bersifat fasilitatif daripada keharusan.
    3) Proses produksi. Pada tahap tertentu, gambaran simbolik tentang perilaku model mungkin perlu diterjemahkan ke dalam tindakan yang efektif. Pengamat memerlukan gambaran kognitif yang akurat tentang perilaku model untuk dibandingkan dengan umpan balik sensoris dari perbuatannya. Modelling korektif merupakan cara yang efektif untuk memberikan umpan balik bila pengamat melakukan kinerja yang tidak tepat. Variabel pengamat yang mempengaruhi reproduksi perilaku mencakup kapasitas fisiknya, apakah perbendaharaan responnya sudah mencakup komponen‑komponen respon yang diperlukan, dan kemampuannya untuk melakukan penyesuaian korektif bila mencobakan perilaku baru.
    4) Proses motivasi. Apakah orang mempraktekkan apa yang sudah dipelajarinya atau tidak, tergantung pada motivasinya. Pengamat akan cenderung mengadopsi perilaku model jika perilaku tersebut:
    (a) menghasilkan imbalan eksternal;
    (b) secara internal pengamat memberikan penilaian yang positif; dan
    (c) pengamat melihat bahwa perilaku tersebut bermanfaat bagi model itu sendiri.
    Antisipasi terhadap akibat yang positif dan negatif menentukan aspek‑aspek yang mana dari perilaku model itu yang diamati atau diabaikan oleh pengamat.

    Secara teknis, proses pengamatan itu dilakukan melalui indera penglihatan (untuk perilaku fisik / bahasa tubuh) dan melalui pendengaran (untuk perilaku verbal / bahasa lisan).

    menurut Farkas et al (dalam Hallahan & Kauffman, 1991:314), bagi tunanetra, belajar keterampilan sosial (yang di dalamnya mencakup perilaku fisik), dapat merupakan tugas yang sangat menantang, karena keterampilan tersebut secara tradisi dipelajari melalui modeling dan umpan balik menggunakan penglihatan.

    Akan tetapi, Bandura (1986) mengemukakan bahwa orang juga dapat dibimbing secara fisik untuk melakukan suatu perilaku dan ambil bagian dalam prosedur modelling. Jadi, deskripsi verbal dari model atau dari orang ketiga mengenai suatu perilaku, yang disertai bimbingan fisik, merupakan cara terbaik untuk memberikan persepsi tentang perilaku kepada anak tunanetra agar dia dapat menirunya. Sementara pada anak awas pencontohan itu terjadi secara alami dalam kehidupan sosial sehari-hari (dia akan mencontoh perilaku yang sering dilihatnya dan menarik perhatiannya), sedangkan perolehan perilaku fisik oleh individu tunanetra itu harus lebih banyak dilakukan dalam setting pembelajaran. Harus termasuk ke dalam proses pembelajaran perilaku ini adalah penghilangan perilaku kebiasaan yang berupa gerakan fisik yang tidak normal (seperti bergoyang-goyang atau menusuk-nusuk mata), yang dikenal dengan istilah blindism atau mannerism atau stereotypic behavior, yang sering dapat diamati pada individu tunanetra tertentu (Hallahan & Kauffman, 1991).

    V. Kesimpulan dan Implikasi

    Agar individu tunanetra dapat berhasil mencapai kemandirian, mereka tidak hanya memerlukan pendidikan dan latihan, tetapi harus memperoleh pendidikan dan latihan yang tepat. Pembentukan konsep diri yang tepat dan motivasi untuk mengaktualisasikan diri, perolehan berbagai teknik alternatif untuk memungkinkannya melakukan kegiatan kehidupan sehari-hari secara efektif dan efisien, kemampuan untuk mengatasi masalah-masalah sosial, serta kemampuan untuk menampilkan diri secara wajar di dalam pergaulan sosial, harus merupakan bagian yang integral dari program pendidikan dan latihan bagi individu tunanetra agar mereka dapat mandiri dan swasembada. Kaji ulang terhadap kurikulum pendidikan dan program latihan yang ada seyogyanya dilakukan untuk menjamin bahwa keempat komponen kemandirian tersebut tercakup di dalamnya.


    Referensi

    Bandura, a. (1986). Social Foundations of Thought and Action: a Social Cognitive Theory. Englewood Cliffs, Nj: Prentice‑hall.

    Hallahan, D.p. & Kauffman, J.m. (1991). Exceptional Children - Introduction to Special Education. Virginia: Prentice-hall International, Inc.

    Jernigan, K. (1994) If Blindness Comes. Baltimore: National Federation of the Blind.

    Nelson‑Jones, Richard. (1995). COUNSELLING AND PERSONALITY: THEORY AND PRACTICE. Australia: Allen and Unwin Pty Ltd.

    Omvig, James H. (1999). Proper Training for the Blind; What Is It? - The Fourth Ingredient. The Braille Monitor, November 1999 Edition . Baltimore: National Federation of the Blind.

    Smith, R. M.; Neisworth, J. T.; Berlin, C. M. Jr. (1975). The Exceptional Child. New York: Mc Graww‑hill Book Company.

    Labels:

    Links to this post:

    Create a Link

    << Home

    :)

    Anda ingin mencari artikel lain? Silakan isi formulir pencarian di bawah ini. :)
    Google
  • Kembali ke DAFTAR ISI