DOCTYPE html PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML 1.0 Strict//EN" "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-strict.dtd"> Didi Tarsidi: Counseling, Blindness and Inclusive Education: Aplikasi Teori Self-Efficacy pada Perkembangan Karir dan Konseling Karir
  • HOME


  • Guestbook -- Buku Tamu



    Anda adalah pengunjung ke

    Silakan isi Buku Tamu Saya. Terima kasih banyak.
  • Lihat Buku Tamu


  • Comment

    Jika anda ingin meninggalkan pesan atau komentar,
    atau ingin mengajukan pertanyaan yang memerlukan respon saya,
    silakan klik
  • Komentar dan Pertanyaan Anda




  • Contents

    Untuk menampilkan daftar lengkap isi blog ini, silakan klik
  • Contents -- Daftar Isi




  • Izin

    Anda boleh mengutip artikel-artikel di blog ini asalkan anda mencantumkan nama penulisnya dan alamat blog ini sebagai sumber referensi.


    10 October 2007

    Aplikasi Teori Self-Efficacy pada Perkembangan Karir dan Konseling Karir

    Oleh Didi Tarsidi
    Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

    I. Pendahuluan

    Salah satu bidang penelitian yang paling menonjol dalam perkembangan dan konseling karir saat ini adalah aplikasi teori self-efficacy dari Bandura (1977) pada pemahaman dan perlakuan terhadap permasalahan personal/sosial dan perkembangan karir (Paulsen & Betz, 2004). Secara lebih spesifik, kini telah terdapat ratusan studi yang menginvestigasi pentingnya self-efficacy (sering juga disebut confidence) bagi perkembangan pendidikan dan karir yang difokuskan pada perilaku yang terkait dengan karir. Perilaku tersebut mencakup self-efficacy dalam matematika (Lopez, Lent, Brown, & Gore, 1997), self-efficacy untuk tugas-tugas okupasional yang diambil dari Dictionary of Occupational Titles (Rooney & Osipow, 1992), self-efficacy dalam pembuatan keputusan karir (Luzzo, 1993; Taylor & Popma, 1990), dan efficacy dalam pencarian karir (Solberg, Good, Fischer, Brown, & Nord, 1995) (dalam Paulsen & Betz, 2004).

    Makalah ini akan membahas bagaimana teori self-efficacy itu diaplikasikan dalam perkembangan karir dan konseling karir. Agar memperoleh gambaran yang cukup jelas tentang landasan teoretik konsep self-efficacy itu, makalah ini akan diawali dengan paparan tentang teori Bandura tersebut.

    II. Teori Self-Efficacy

    Konsep self-efficacy mengacu pada keyakinan seseorang pada kemampuannya untuk berhasil dalam suatu bidang perilaku tertentu (Betz, 2004). Tingkat self-efficacy yang lebih tinggi dipostulatkan dapat menyebabkan perilaku approach versus avoidance. Terdapat empat sumber informasi efficacy, YANG mengarah pada perkembangan awal ekspektasi efficacy dan dapat dipergunakan untuk meningkatkannya, yaitu keberhasilan kinerja (performance accomplishments), belajar melalui pengamatan (vicarious learning/modeling), peningkatan emosi (emotional arousal/anxiety), dan persuasi dan dorongan social.

    Aplikabilitas teori self-efficacy pada perilaku vokasional pertama kali dikemukakan oleh Hackett dan Betz (1981; Betz & Hackett, 1981) dan kini telah diinvestigasi secara empiric dalam berbagai studi (Betz, 2004). Secara singkat, sebagaimana dikemukakan oleh Bandura (1977), ekspektasi self-efficacy mengacu pada keyakinan seseorang mengenai kemampuanya untuk berhasil melakukan suatu tugas atau perilaku. Karena ekspektasi self-efficacy itu terkait dengan perilaku spesifik dan tidak bersifat umum, maka konsep ini harus mengacu pada perilaku tertentu agar bermakna (Betz, 2004). Misalnya orang dapat memiliki ekspektasi self-efficacy dalam perilaku yang terkait dengan matematika, memprakarsai interaksi social, melakukan investasi dalam perdagangan saham, atau memperbaiki ban bocor. Karena masing-masing jenis self-efficacy mengacu pada ranah perilaku tertentu, maka jumlah macam ekspektasi self-efficacy itu dibatasi oleh jumlah ranah perilaku yang dapat didefinisikan. Dalam kaitanya dengan konseling karir, ranah perilaku yang penting untuk memilih karir (misalnya keterampilan pembuatan keputusan) atau perilaku untuk berhasil dalam suatu karir tertentu (misalnya keterampilan kuantitatif, keterampilan kepemimpinan) mungkin relevan bagi konselor dan klien untuk dipertimbangkan dalam konseling.

    Konsep ekspektasi self-efficacy sangat bermanfaat untuk memahami dan memodifikasi perilaku karir karena konsep ini terkandung dalam teori Bandura. Bandura (1977) berpostulat bahwa ekspektasi self-efficacy mempunyai sekurang-kurangnya tiga konsekuensi perilaku. Ketiga konsekuensi perilaku tersebut adalah:
    1) perilaku mendekat atau menghindar (approach versus avoidance behaviour),
    2) keberhasilan kinerja (performance accomplishment) dalam ranah sasaran, dan
    3) kegigihan (persistence) dalam menghadapi rintangan atau pengalaman yang tidak diharapkan.
    Ini berarti bahwa tingkat ekspektasi self-efficacy yang rendah sehubungan dengan suatu perilaku atau ranah perilaku tertentu dapat mengakibatkan individu menghindari perilaku itu, kinerja yang lebih buruk dalam perilaku itu, dan kecenderungan untuk menyerah apabila dihadapkan dengan kesulitan atau kegagalan. Misalnya, self-efficacy yang rendah dalam matematika dapat mengakibatkan individu menghindari perkuliahan matematika, buruknya kinerja dalam tes matematika apabila perkuliahan matematika itu tidak dapat dihindari, dan menyerah apabila ada tanda-tanda buruknya kinerja atau kegagalan dalam matematika.
    Konsep approach versus avoidance behavior merupakan konsep yang paling sederhana tetapi paling dalam dampaknya pada konseling (Betz, 2004). Dalam konteks perkembangan karir, perilaku mendekat menggambarkan apa yang akan dicoba oleh seorang individu, sedangkan perilaku menghindar mengacu pada hal-hal yang tidak akan dicobanya. Ini tidak mencakup isi pilihan karir (jenis pendidikan dan karir yang akan dicobanya), ataupun proses pemilihan karir (eksplorasi karir dan perilaku pembuatan keputusan yang esensial untuk membuat pilihan yang baik(. Avoidance merupakan sebuah fenomena yang destruktif karena bila individu menghindari sesuatu, mereka tidak akan memperoleh kesempatan untuk mempelajarinya atau menguasainya. Jika seorang individu adalah seorang “fobia computer”, misalnya, dia akan sedapat mungkin menghindari penggunaan computer dan oleh karenanya tidak akan pernah menjadi kompeten atau merasa nyaman menggunakan computer. Jika individu itu takut naik sepeda, kemungkinan besar dia tidak akan belajar naik sepeda kecuali jika terpaksa – dan rasa takutnya itu akan mendapatkan pembenaran jika dia gagal mengembangkan kompetensi naik sepeda.

    Dampak ekspektasi self-efficacy pada kinerja dapat berupa situasi seperti kinerja dalam tes untuk menamatkan pendidikan di perguruan tinggi atau tes yang dipersyaratkan untuk dapat diterima mengikuti program pelatihan kerja. Misalnya, rendahnya tingkat ekspektasi self- efficacy dapat disertai “negative self-talk” atau respon kecemasan, yang menganggu konsentrasi pada tugas yang sedang dikerjakan dan akibatnya menurunkan kualitas kinerja. Rendahnya self-efficacy sejauh tertentu dapat mengakibatkan individu mempunyai ramalan negative tentang hasil pekerjaannya dan terbukti.

    Sama pentingnya dengan konsekuensi self-efficacy adalah penyebabnya, karena penyebab ini merupakan dasar untuk meningkatkan dan memperkuat ekspektasi efficacy. Penyebab self-efficacy ini adalah empat sumber informasi tentang latar belakang atau pengalaman yang mempengaruhi perkembangan awal ekspektasi efficacy. Keempat sumber informasi tersebut adalah:
    1) keberhasilan kinerja (performance accomplishments), yaitu pengalaman keberhasilan melaksanakan perilaku terkait;
    2) vicarious learning atau modelling, yaitu belajar melalui pengamatan terhadap perilaku orang lain;
    3) tingkat emosi yang rendah, yaitu rendahnya tingkat kecemasan yang terkait dengan perilaku yang relevan; and
    4) persuasi social, misalnya dorongan dan dukungan dari orang lain.

    Sumber-sumber informasi efficacy ini tidak hanya penting pada perkembangan awalnya tetapi juga dapat dipergunakan sebagai pedoman untuk merancang intervensi yang dapat membangun atau memperkuat ekspektasi self-efficacy (Betz, 2004). Pada awalnya, sumber-sumber informasi efficacy itu diperkirakan berasal dari keluarga asal individu; variable-variabel yang melatarbelakanginya seperti gender, etnisitas, status sosioekonomi; dan hakikat serta kualitas kesempatan pendidikan. Hackett dan Betz (1981) menemukan bahwa pengalaman sosialisasi mempengaruhi ekspektasi individu. Misalnya, pengalaman sosialisasi anak perempuan dalam masa pertumbuhanya mungkin tidak memberikan jenis informasi efficacy yang dibutuhkan untuk membangun ekspektasi yang kuat dalam kaitannya dengan bidang-bidang karir yang secara tradisional didominasi oleh laki-laki seperti sains dan teknologi. Wolfe & Betz (2004) telah menguji postulat bahwa kualitas ikatan batin orang tua dan teman sebaya dapat secara positif mempengaruhi self-efficacy dalam pembuatan keputusan karena ikatan batin yang membuat rasa aman mengakibatkan individu merasa lebih nyaman dalam mengeksplorasi lingkunganya.

    III. Aplikasi Self-Efficacy pada Perkembangan Karir

    Penelitian selama lebih dari 20 tahun telah menunjukkan bahwa ekspektasi self-efficacy memang secara signifikan mempengaruhi pilihan karir, kinerja, dan kegigihan (Betz, 2004). Aplikasi teori ini oleh Betz (Betz, 2004) dilandasi oleh antara lain hipotesis bahwa sosialisasi perempuan secara tradisional mengakibatkan rendahnya tingkat ekspektasi self-efficacy mereka dalam kaitannya dengan karir yang didominasi oleh laki-laki, terutama dalam bidang matematika dan sains. Dalam penelitiannya yang pertama, Betz dan Hackett (1981) meminta mahasiswa dan mahasiswi untuk melaporkan apakah mereka merasa bahwa dirinya mampu menamatkan kuliahnya di berbagai jurusan. Meskipun mahasiswa dan mahasiswi itu, secara kelompok, tidak berbeda dalam hasil tes kemampuannya, tetapi mereka berbeda secara signifikan dalam persepsinya tentang kemampuan dirinya. Perbedaan ini mencolok dalam kaitannya dengan okupasi yang melibatkan matematika: 59% mahasiswa versus 41% mahasiswi meyakini bahwa mereka mampu meraih gelar kesarjanaan dalam bidang ini. Tujuh puluh empat persen laki-laki versus 59% perempuan yakin bahwa mereka dapat menjadi akuntan. Sangat dramatis, 70% mahasiswa tetapi hanya 30% mahasiswa dengan kompetensi yang sebanding yakin bahwa dirinya mampu meraih gelar kesarjanaan dalam bidang teknologi.

    Sama pentingnya adalah temuan Betz dan Hackett (1981) bahwa rendahnya tingkat self-efficacy ini terkait dengan rendahnya kemungkinan mereka mempertimbangkan karir nontradisional, yaitu karir yang secara tradisional didominasi oleh laki-laki. Betz dan Hackett juga menemukan bahwa self-efficacy untuk matematika itu sendiri mempengaruhi pilihan karir dalam bidang sains. Jadi, penelitian mereka mendukung teori Bandura tentang konsekuensi approach/avoidance, baik dalam persepsi tentang opsi karir atau pilihan karir atau pendidikan yang sesungguhnya.

    Sejumlah penelitian lain menunjukkan bahwa keyakinan self-efficacy terkait dengan kinerja dan kegigihan. Misalnya, Lent, Brown, dan Larkin (Betz, 2004) menunjukkan bahwa keyakinan efficacy mengenai persyaratan pendidikan untuk okupasi dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi terkait dengan kinerja maupun kegigihan mahasiswa yang mengambil jurusan teknik.

    Ranah yang telah dikaji oleh para peneliti tersebut dapat dibagi menjadi ranah isi (content domains) dan ranah proses (process domains) menggunakan teori kematangan karir (career maturity) dari Crites. Ranah isi pilihan karir adalah apa yang menjadi pilihan karirnya – yaitu bidang kegiatan vokasional tertentu di mana individu dapat merasa tinggi atau rendah dalam ekspektasi efficacy-nya. Ini mencakup matematika, enam “Holland themes”, 17 dimensi kegiatan pada “the Expanded Skills Confidence Inventory”, dll. (Betz, 2004). Para peneliti mempunyai evidensi yang kuat bahwa ekspektasi self-efficacy yang rendah mengakibatkan individu menghindari program studi dan karir dalam bidang-bidang ini. Misalnya, Betz dan Hackett (1981) menunjukkan bahwa cakupan pilihan karir secara signifikan terkait dengan ekspektasi efficacy yang berhubungan dengan pilihan-pilihan itu.

    Ranah proses mengacu pada rasa percaya diri dalam kaitannya dengan proses pembuatan keputusan karir. Self-efficacy yang rendah sehubungan dengan proses pembuatan keputusan karir terkait dengan kebimbangan dalam pembuatan keputusan karir, masalah-masalah dalam mengembangkan identitas vokasional yang jelas, dan ketidakpastian dalam menentukan pilihan yang ditunjukkan dengan seringnya individu berganti-ganti jurusan di perguruan tinggi. Jadi, self-efficacy yang terkait dengan ranah isi maupun ranah proses itu relevan dengan proses konseling karir. Penelitian Paulsen dan Betz (2004) juga telah menunjukkan bahwa self-efficacy dalam ranah isi itu sendiri terkait dengan self-efficacy dalam keputusan karir. Dalam penelitiannya, Paulsen dan Betz (2004) menunjukkan bahwa rasa percaya diri mahasiswa dalam sejumlah bidang kompetensi (yang mencakup matematika, sains, keterampilan menulis, kepemimpinan, penggunaan teknologi, dan kepekaan budaya), merupakan 44% hingga 79% varian dalam self-efficacy keputusan karir.

    Dalam hal populasi, teori Bandura tentang self-efficacy ini telah diaplikasikan untuk memahami perkembangan karir pada berbagai kelompok yang mencakup kelompok perempuan, orang kulit berwarna, orang lanjut usia, penyandang cacat, dan kelompok yang melecehkan perempuan (Betz, 2004). Kita dapat mengatakan bahwa hamper semua individu mempunyai bidang perilaku tertentu di mana mereka kurang percaya terhadap kemampuan dirinya. Dalam banyak kasus, persepsi individu tentang adanya kekurangmampuan ini dapat membatasi jumlah pilihan karir atau keberhasilan dalam karir yang dipilihnya.

    IV. Penggunaan Teori Self-Efficacy dalam Konseling Karir

    Sebagaimana dikemukakan di atas, 20 tahun penelitian dengan jelas menunjukkan pentingnya self-efficacy bagi pembuatan keputusan karir, kinerja, dan kegigihan, dan oleh karena itu konselor seyogyanya menggunakanya dalam mengkonseptualisasikan dan mendiskusikannya dengan klien. Dalam banyak hal, self-efficacy juga akan menjadi focus intervensi. Untuk menggunakan teori self-efficacy dalam konseling karir, Betz (2004) menyarankan dua langkah, yaitu (1) diskusi awal dan asesmen, dan (2) intervensi konseling.

    Langkah 1: Diskusi Awal dan Asesmen

    Tugas pertama konselor adalah memasukkan konsep self-efficacy ke dalam diskusi awal dengan klien. Di sini konselor dituntut untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai keyakinan klien tentang kompetensinya dalam ranah-ranah yang relevan dengan pembuatan keputusan karir, kinerjanya, atau kemajuannya. Berikut ini adalah contoh pertanyaan semacam itu: "Apa yang anda ingin lakukan untuk karir yang ideal?" "Hambatan apa yang anda temui untuk mencapai karir yang ideal itu?" "Karir apa yang pernah anda angan-angankan, dan apa yang menyebabkan anda tetap ingin mewujudkan angan-angan itu?" "Karir apa yang akan anda wujudkan andaikata anda dapat melakukan APA PUN?" Tujuan dari pertanyaan-pertanyaan ini adalah untuk menentukan batas-batas keyakinan klien tentang apa yang mampu dilakukannya. Batas-batas itu mungkin realistis jika klien memang tidak mempunyai bakat yang menonjol dalam bidang tertentu, tetapi kontribusi yang sesungguhnya dari self-efficacy adalah bahwa konsep ini memfokuskan perhatiannya pada orang yang secara tidak realistis merendahkan kapabilitasnya. Penelitian menunjukkan bahwa perempuan cenderung underestimate kapabilitasnya (Betz, 2004), dan oleh karenanya keyakinannya itu harus ditantang. Tetapi ras/etnisitas, status sosioekonomi yang rendah, sikap keluarga, dan kualitas pengalaman pendidikan juga dapat mengakibatkan orang underestimate kapabilitasnya.

    Bila dalam satu sesi konseling seorang klien mengatakan bahwa dia tidak mampu menguasai suatu ranah perilaku tertentu, konselor sebaiknya memfokuskan perhatian pada penyebab timbulnya persepsi tersebut dengan mengali latar belakang pengalamannya. Misalnya, jika seorang klien perempuan mengatakan bahwa sejak SMA dia tidak berminat belajar matematika karena dia berpersepsi bahwa matematika itu untuk anak laki-laki, maka dapat difahami kalau kini dia kurang percaya diri dalam matematika dan tidak begitu kompeten dalam bidang ini. Karena dapat mengakibatkan terjadinya avoidance, maka self-efficacy dapat menjadi “self-fulfilling prophecy” (ramalan yang menjadi kenyataan). Sebagai manusia, kita menghindari ranah yang kita takuti, maka kita tidak mempelajarinya, dan oleh karenanya kita tidak menjadi pintar dalam bidang itu, dan hal ini akan memverifikasi persepsi bahwa kita tidak kompeten. Konselor harus berusaha memutuskan lingkaran setan ini. Konselor tidak boleh menerima jawaban "Saya tidak bisa" kecuali jika klien sudah berusaha sungguh-sungguh untuk mempelajarinya, untuk menguasainya.

    Konselor sebaiknya membantu orang dewasa mempertimbangkan perubahan karir atau mengeksplorasi bidang-bidang perilaku di mana mereka merasa bahwa kekurangan keterampilannya menghambat kemajuannya atau mencegahnya memilih opsi yang diinginkanya. Dalam banyak bidang, keahlian teknik diperlukan tetapi tidak cukup untuk mengejar peran manager atau supervisor dalam bidang itu. Jika seorang klien berkeinginan mengejar peran tersebut, maka keyakinan self-efficacy mengenai keterampilan managerial/kepemimpinan mungkin sangat relevan dengan opsi yang ingin diambil oleh klien ini. Pertanyaan asesmen yang relevan dengan ini dapat berupa "Keterampilan baru apakah yang dapat benar-benar meningkatkan opsi atau kepuasan anda, dan apakah yang menghambat anda mengembangkan keterampilan tersebut?" Dalam banyak kasus, konselor akan mendengar persepsi tentang self-efficacy atau keraguan diri (self-doubts) tentang kompetensi dan kemampuan klien untuk melangkah menuju arah baru (Betz, 2004).

    Langkah 2: Intervensi Konseling

    Sesudah konselor dan klien menentukan ranah perilaku di mana peningkatan self-efficacy dapat bermanfaat bagi perkembangan karir klien di masa depan, maka perlu dibuat rencana untuk intervensi. Intervensi ini didasarkan pada keempat sumber informasi efficacy menurut teori Bandura, dan oleh karenanya seharusnya mencakup:
    a. Keberhasilan kinerja (performance accomplishments),
    b. Belajar melalui pengamatan (vicarious learning) atau modeling,
    c. Mengelola kecemasan, dan
    d. Memberikan dukungan dan dorongan.
    Keberhasilan kinerja telah terbukti merupakan jenis intervensi yang paling efektif, tetapi dorongan dan dukungan merupakan hal yang sudah diintegrasikan oleh sebagian besar konselor ke dalam praktek konselingnya (betz, 2004), jadi memfokuskan pada sekurang-kurangnya dua hal ini dapat merupakan langkah pertama dalam merancang intervensi.

    Dalam merencanakan kinerja baru agar berhasil, pertama-tama sebaiknya dicari kesempatan di mana keberhasilan sudah dapat dipastikan. Hanya sesudah mendapatkan pengalaman keberhasilan klien dihadapkan pada tantangan yang lebih sulit. Materi belajar yang kompleks harus diurai menjadi segmen-segmen kecil agar mudah dipelajari dan dikuasai sehingga menumbuhkan rasa percaya diri pada klien. Instruktur harus mengharapkan dan menjamin keberhasilan, bukan kegagalan; jadi, pendidikan yang berorientasi penguasaan, tidak menggunakan system evaluasi yang didassarkan atas perbandingan antara satu orang dengan orang-orang lain.

    Dalam menggunakan modeling, konselor harus menemukan orang yang telah berhasil dalam bidang di mana klien kurang memiliki efficacy. Akan lebih baik apabila model itu dari gender dan etnik yang sama dengan klien, meskipun ini bukan merupakan persyaratan yang esensial. Hal ini terutama penting apabila ranah perilaku itu dipandang nontradisional bagi gender klien. Misalnya, seorang perempuan yang mengajarkan perawatan dan perbaikan mobil atau pertukangan kayu kepada sesama perempuan akan memberikan dampak modeling yang baik, karena bidang ini secara tradisional dipandang sebagai ranah perilaku laki-laki. Demikian pula, seorang laki-laki yang mengajarkan parenting kepada pemuda akan memberikan keuntungan tambahan yaitu modeling kompetensi yang nontradisional. Model itu dapat hadir langsung, ditampilkan dalam film atau telivisi, atau dapat juga berupa paparan dalam buku atau media lainnya. Misalnya, sebuah buku tentang kehidupan seorang astronot atau ilmuwan perempuan dapat merupakan model yang baik bagi anak perempuan yang ingin menggeluti bidang tersebut.

    Sumber informasi efficacy lainnya untuk digunakan dalam intervensi adalah pengelolaan kecemasan (anxiety management). Mempelajari perilaku baru dapat menimbulkan kecemasan, terutama jika perilaku tersebut dipandang nontradisional oleh klien. Jika sebuah ranah seperti permesinan biasanya dikaitkan dengan pekerjaan laki-laki, dan jika seorang klien perempuan telah menginternalisasikan pesan bahwa "perempuan tidak dapat bekerja dalam bidang permesinan", maka kecemasan dapat menyertai upayanya untuk belajar permesinan. Maka pengelolaan kecemasan akan tepat bagi klien seperti ini. Teknik yang dapat digunakan antara lain melatih relaksasi dan secara sadar belajar memfokuskan perhatian pada tugas, bukan pada diri sendiri.

    Untuk memberikan dorongan dan penguatan pada saat klien sedang mempelajari sesuatu yang baru, konselor dapat berfungsi sebagai cheerleader bagi kliennya. Konselor harus membantu klien menetapkan tujuan, dan memberikan reinforcement bila klien berhasil mencapai tujuan tersebut, dan membantunya mencoba lagi bila mereka mengalami kebimbangan.

    Komponen-komponen intervensi efficacy ini dapat diaplikasikan secara efektif dalam konseling kelompok, karena para anggota kelompok dapat bekerjasama dalam mengelola kecemasannya dan berfungsi sebagai cheerleader untuk sesama anggota kelompok. Kelompok juga dapat berfungsi sebagai wahana untuk vicarious learning dan modeling bila anggota kelompok melihat anggota lainnya di dalam kelompok, yang sebelumnya juga mengekspresikan perasaan inkompeten, kemudian berhasil dalam bidang yang pernah ditakutinya.

    V. Kesimpulan dan Saran

    Paparan di atas menunjukkan dengan jelas bahwa teori self-efficacy dan intervensi berdasarkan efficacy dapat dan seharusnya dipergunakan dalam konseling karir. Teori self-efficacy dapat dipergunakan sebagai cara untuk meningkatkan persepsi tentang pilihan karir dan untuk meningkatkan keberhasilan dan pemajuan serta pengayaan dalam karir yang sudah dipilih atau karir baru.

    Berikut ini adalah saran-saran bagi konselor dalam mengaplikasikan teori self-efficacy dalam praktek konseling.
    1. Konselor yang belum yakin tentang cara merancang intervensi berdasarkan teori self-efficacy dapat mulai dengan memperhatikan dan mencatat bidang-bidang perilaku di mana klien memiliki persepsi tentang ketidakmampuannya yang dapat membatasi pilihan karir dan pencapaiannya.
    2. Jika klien memiliki persepsi ketidakmampuan dalam beberapa ranah perilaku, konselor sebaiknya mengintervensi ranah-ranah perilaku itu satu persatu. Langkah pertama intervensi itu adalah konselor mengidentifikasi sumber-sumber local yang dapat memberikan kesempatan bagi klien untuk mencapai keberhasilan kinerja (performance accomplishment). Sumber local itu dapat berupa program pendidikan luar sekolah yang menawarkan keterampilan yang sesuai dengan minat klien.
    3. Untuk membantu klien mengembangkan social confidence, konselor dapat mempelajari buku-buku tentang pelatihan keterampilan social atau membantu klien mengembangkan serangkaian tugas social yang bertahap, yang dapat dipergunakan oleh klien untuk mempraktekkan kompetensi yang sedang dikembangkannya. Ini dapat dilakukan dalam kelompok, seperti dalam kelompok assertiveness training, kelompok pelatihan komunikasi dan keterampilan interpersonal, dan public speaking, di mana para anggotanya sama-sama merasa memiliki rasa kurang percaya diri.
    4. Konselor harus mendampingi klien pada saat mereka sedang berlatih dengan keterampilan barunya itu, dan siap memberikan dorongan dan dukungan jika klien mengalami kegagalan.
    5. Untuk memberi kesempatan vicarious learning dan modelling, konselor sebaiknya dapat menghadirkan orang yang sudah berhasil dalam bidang yang sedang dipelajari oleh klien.
    6. Konselor harus menguasai teknik-teknik dasar pengelolaan kecemasan seperti relaksasi otot dan positive self-talk, yang dapat dipelajari oleh klien untuk menghadapi kinerja yang ditakutinya.

    Sebagaimana halnya dengan setiap keterampilan baru, konselor akan mengembangkan penguasaan komponen-komponen untuk intervensi self-efficacy melalui pengalaman dalam membantu klien mengatasi permasalahan akibat rendahnya tingkat self-efficacy.


    Daftar Pustaka

    Bandura, A. (1977). Self-efficacy: Toward a unifying theory of behavioral change. Psychological Review, 84, 191-215.
    Betz, N. E. (2004). Contributions of Self-Efficacy Theory to Career Counseling. The Career Development Quarterly, 52, 340-353.
    Betz, N. E., & Hackett, G. (1981). The relationship of career-related self-efficacy expectation to perceived career options in college women and men. Journal of Counseling Psychology, 28, 399-110.
    Paulsen, A. M. & Betz, n. E. (2004). Basic Confidence Predictors of Career Decision-Making Self-Efficacy. The Career Development Quarterly, 52, 354-362.
    Wolfe, J. B., & Betz, N. E. (2004). The relationship of attachment variables to career decision-making self-efficacy and fear of commitment. The Career Development Quarterly, 52, 363-369.

    Labels:

    Links to this post:

    Create a Link

    << Home

    :)

    Anda ingin mencari artikel lain? Silakan isi formulir pencarian di bawah ini. :)
    Google
  • Kembali ke DAFTAR ISI