DOCTYPE html PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML 1.0 Strict//EN" "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-strict.dtd"> Didi Tarsidi: Counseling and Blindness: Program Magister Pendidikan Kebutuhan Khusus
  • HOME


  • Guestbook -- Buku Tamu



    Anda adalah pengunjung ke

    Silakan isi Buku Tamu Saya. Terima kasih banyak.
  • Lihat Buku Tamu


  • Comment

    Jika anda ingin meninggalkan pesan atau komentar,
    atau ingin mengajukan pertanyaan yang memerlukan respon saya,
    silakan klik
  • Komentar dan Pertanyaan Anda




  • Contents

    Untuk menampilkan daftar lengkap isi blog ini, silakan klik
  • Contents -- Daftar Isi




  • Izin

    Anda boleh mengutip artikel-artikel di blog ini asalkan anda mencantumkan nama penulisnya dan alamat blog ini.


    28 October 2007

    Program Magister Pendidikan Kebutuhan Khusus

    PENGEMBANGAN PROGRAM MAGISTER INKLUSI DAN PENDIDIKAN KEBUTUHAN KHUSUS DI
    UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA (UPI)

    Deskripsi tentang
    bagaimana program studi ini telah dikembangkan dan bagaimana seharusnya kelanjutan pengembangannya

    Disusun Oleh
    Didi Tarsidi
    Djadja Rahardja
    Juang Sunanto
    Permanarian Somad
    Suhaeri
    Zaenal Alimin

    Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
    Bandung
    May 2004

    PENDAHULUAN

    Dokumen ini memberikan gambaran tentang bagaimana Program Magister Inklusi dan Pendidikan Kebutuhan Khusus di Program Pasca-sarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) telah dikembangkan dan bagaimana seharusnya kelanjutan pengembangannya.

    Dokumen ini diawali dengan gambaran tentang sejarah pendidikan anak-anak berkelainan di Indonesia selama masa pra-kolonial, selama masa kolonial Belanda dan sesudah kemerdekaan. Kemudian dokumen ini dilanjutkan dengan membahas filosofi yang melatarbelakangi pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus – bagaimana perubahan paradigma telah mempengaruhi cara mendidik anak-anak ini. Deskripsi tentang kedua topik tersebut mengarah pada paparan tentang rasional untuk membuka dan mengembangkan Program Magister Inklusi dan Pendidikan Kebutuhan Khusus di UPI, dan kemudian persiapan untuk pembukaan program studi ini dideskripsikan.

    Sesudah itu dokumen ini mengemukakan tentang visi, misi dan tujuan program magister ini, persyaratan bagi calon mahasiswa dan kurikulum program studi ini sebagaimana telah dirumuskan oleh Tim Persiapan. Kemudian dideskripsikan bagaimana program ini diimplementasikan dan diakhiri dengan harapan-harapan tentang bagaimana seharusnya kelanjutan pengembangannya.


    I. PERSPEKTIF SEJARAH

    A. Pendidikan Anak-anak Berkelainan

    Pendidikan formal di Indonesia dimulai ketika pada akhir zaman Hindu dan Budha, sekitar abad ke-12, para pendeta Hindu dan Budha memulai suatu tradisi baru dalam pendidikan; mereka mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang disebut “padepokan”. Segera setelah anak-anak cukup matang untuk meninggalkan rumahnya, mereka dikirim ke padepokan untuk belajar keterampilan-keterampilan tertentu seperti membaca mantra, bela diri atau cara berperang. Dengan demikian pengajaran tidak lagi hanya dilakukan oleh orang tua di rumah tetapi juga oleh guru di padepokan. Anak dan remaja itu diberi pelajaran secara individual maupun secara berkelompok. Bila ada siswa yang mengalami kesulitan belajar, secara intuitif guru akan melakukan penyesuaian, misalnya dengan membagi pelajaran menjadi beberapa segmen kecil, mengubah teknik pengajaran, dsb. Anak-anak yang memiliki kelainan menuntut ilmu di tempat yang sama seperti anak-anak lainnya.

    Selama zaman Islam, tradisi padepokan digantikan dengan “pesantren”. Siswanya disebut “santri” dan biasanya mereka tinggal di pondok pesantren. Di sini para santri itu mendalami ajaran Islam, belajar kehidupan bermasarakat dan bela diri. Santri-santri yang sudah senior juga belajar tatabahasa, retorika dan logika, biasanya dalam bahasa Arab. Pengajarannya dilakukan secara individual. Secara bergiliran, santri-santri itu bersila di hadapan guru untuk menerima pengajaran. Guru dibantu oleh mentor yang bertugas melatih santri. Metode pengajaran seperti ini disebut “sorogan”. Santri-santri yang memiliki kelainan atau berkesulitan belajar diajar dengan cara yang sama.

    Pada zaman penjajahan Belanda (1596-1942), pemerintah kolonial memperkenalkan sistem persekolahan gaya Barat. Lembaga-lembaga khusus didirikan untuk mendidik anak-anak berkelainan. Lembaga pertama untuk pendidikan anak tunanetra dibuka pada tahun 1901, untuk anak tunagrahita pada tahun 1927 dan untuk anak tunarungu pada tahun 1930, semuanya di Bandung.

    Pada tahun 1952, tujuh tahun sesudah kemerdekaan, pemerintah Indonesia memberlakukan undang-undang pendidikan yang pertama. Undang-undang tersebut menyatakan bahwa semua anak usia enam tahun berhak untuk bersekolah dan anak usia delapan tahun wajib bersekolah sekurang-kurangnya selama enam tahun. Sehubungan dengan anak-anak yang memiliki kelainan, undang-undang itu menyatakan bahwa pendidikan luar biasa disediakan bagi mereka yang membutuhkannya. Diberlakukannya undang-undang tersebut telah mendorong dibukanya sejumlah sekolah baru yang khusus untuk anak-anak yang menyandang kelainan, termasuk untuk anak tunadaksa dan tunalaras. Sekolah-sekolah ini disebut “sekolah luar biasa” (SLB).

    Sebagian didasarkan atas urutan sejarah pendirian sekolah pertama untuk masing-masing kategori kelainan, SLB-SLB ini dikelompokkan menjadi:
    SLB/A untuk anak tunanetra;
    SLB/B untuk anak tunarungu;
    SLB/C untuk anak tunagrahita;
    SLB/D untuk anak tunadaksa;
    SLB/E untuk anak tunalaras; dan
    SLB/G untuk anak yang memyandang kelainan ganda (tunaganda).

    Berdasarkan data dari Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2002 terdapat 1118 SLB di seluruh Indonesia, dengan 48522 siswa (= sekitar 7,5% dari populasi anak berkebutuhan khusus usia sekolah).

    Di samping itu terdapat juga sekolah integrasi. Menurut Departemen Pewndidikan Nasional, pada tahun 2002 terdapat 182 sekolah integrasi dengan 961 siswa yang menyandang kelainan.

    Konsep pendidikan integrasi diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1978 oleh Helen Keller International, Inc. Pada saat itu HKI membantu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan sekolah integrasi bagi anak tunanetra. Keberhasilan proyek perintis sekolah integrasi itu mengarah pada diterbitkannya Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 002/U/1986 tentang Pendidikan Terpadu bagi Anak Cacat, yang pada intinya mengatur bahwa anak penyandang cacat yang memiliki kemampuan harus diterima di sekolah reguler untuk belajar bersama-sama dengan sebayanya yang non-cacat.

    Sayangnya, ketika proyek pendidikan integrasi itu berakhir, implementasi pendidikan integrasi makin lama makin kurang dipraktekkan, terutama di tingkat sekolah dasar. Akan tetapi, menjelang akhir tahun 1990-an, upaya baru dilakukan untuk mengembangkan pendidikan inklusif melalui proyek kerjasama antara Departemen Pendidikan Nasional dan pemerintah Norwegia di bawah manajemen Braillo Norway dan Direktorat Pendidikan Luar Biasa. Dengan mengimplementasikan pendidikan inklusif diyakini bahwa lebih banyak anak berkebutuhan khusus usia sekolah akan memperoleh kesempatan untuk bersekolah.

    B. Pendidikan Guru Pendidikan Kebutuhan Khusus

    Lembaga pendidikan guru pertama untuk pendidikan kebutuhan khusus, yaitu Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB), dibuka di Bandung pada tahun 1952. Pendidikan tersebut dirancang untuk durasi dua tahun. Pada mulanya SGPLB dimaksudkan untuk memberikan pelatihan kepada lulusan Sekolah Guru Bawah (SGB) yang telah memiliki pengalaman mengajar di SD reguler. Pada perkembangan selanjutnya, masukan untuk SGPLB adalah lulusan SLTA. Pada saat lembaga ini dilikuidasi pada tahun 1994, di seluruh Indonesia terdapat enam SGPLB (Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Surakarta, Makasar dan Padang). Likuidasi ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualifikasi guru Pendidikan Kebutuhan Khusus menjadi sekurang-kurangnya berizasah sarjana (S1).

    Program S1 pertama dalam bidang pendidikan kebutuhan khusus (Jurusan Pendidikan Luar Biasa) dibuka pada tahun 1964 di IKIP Bandung (yang sekarang UPI). Beberapa tahun kemudian sejumlah perguruan tinggi lain juga membuka Jurusan Pendidikan Luar Biasa. Pada saat ini sembilan universitas di Jawa, Sumatra dan Sulawesi mempunyai Jurusan Pendidikan Luar Biasa.

    Pada tahun 1996 UPI membuka konsentrasi Bimbingan Anak Khusus pada Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan sebagai satu upaya untuk merintis dibukanya program magister dalam bidang Pendidikan Kebutuhan Khusus.

    Pada tahun 2001, melalui menejer proyeknya, Mr. Terje Watterdal, Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan Anak berkebutuhan khusus, Departemen Pendidikan Nasional, dengan bantuan dana dari pemerintah Norwegia, menawarkan kerjasama antara UPI dan Universitas Oslo untuk membuka program magister inklusi dan pendidikan kebutuhan khusus di Program Pasca-sarjana UPI. Tawaran tersebut disambut dengan antusias, dan UPI segera menyiapkan proposalnya. Proyek menindaklanjuti proposal tersebut dengan mengundang empat orang dosen UPI ke Norwegia pada awal tahun 2003 untuk melakukan studi banding dan untuk merumuskan kurikulum untuk Program Magister Inklusi dan Pendidikan Kebutuhan Khusus di UPI. Dan pada bulan September 2003 proyek kerjasama itu dimulai dengan 15 orang mahasiswa. Pada saat itu Program Magister Inklusi dan Pendidikan Kebutuhan Khusus masih berada di bawah administrasi Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan. Akan tetapi, dalam rapat rektorat UPI pada tanggal 18 Februari 2004, yang dihadiri oleh pimpinan Program Pasca-sarjana UPI dan menejer pendidikan dari Universitas Oslo, Prof. Miriam Skjørten, disepakati bahwa pada tahun akademik 2004-2005 program ini akan dibuka sebagai satu program studi yang mandiri.


    II. PERSPEKTIF FILOSOFI

    Konsep pendidikan luar biasa telah mengalami perubahan fundamental. Sebelumnya, pendidikan luar biasa dipandang sebagai satu sistem layanan pendidikan yang eksklusif yang terpisah dari sistem pendidikan umum. Pandangan tersebut telah mengakibatkan pendidikan luar biasa diartikan secara sempit dan ditafsirkan sebagai satu tempat yang eksklusif bagi anak-anak berkelainan bukannya sebagai satu sistem, sehingga tidak memungkinkan bagi layanan pendidikan luar biasa dilaksanakan di sekolah reguler. Hal ini disebabkan oleh paradigma dikotomik lama, yang mengelompokkan anak sekolah menjadi dua kategori, yaitu apa yang disebut anak “normal” dan anak “luar biasa” – anak penyandang cacat. Paradigma tersebut meyakini bahwa kedua kategori anak ini sebaiknya berada dalam dua sistem pendidikan yang terpisah, yaitu sistem pendidikan reguler untuk anak-anak normal dan sistem pendidikan luar biasa untuk anak-anak yang menyandang kecacatan. Paradigma ini membiarkan orang percaya bahwa tidak umum bagi kedua kelompok anak ini berada dalam satu sistem pendidikan yang sama. Pengelompokan anak tersebut didasarkan atas diagnosis medis. Lebih jauh, diagnosis itu juga memberi label pada anak-anak ini berdasarkan kecacatannya, dan layanan pendidikan yang berbeda dipreskrippsikan secara khusus untuk kecacatan yang berbeda. Dengan demikian, cara berpikir seperti ini lebih berorientasi pada kecacatan, bukannya memandang anak sebagai individu yang unik. Paradigma seperti inilah yang telah mendukung pemikiran tentang pendidikan segregasi.

    Satu pandangan yang berlawanan kini telah muncul bahwa anak penyandang cacat seyogyanya tercakup di dalam sekolah reguler untuk mendapatkan pendidikan bersama-sama dengan anak-anak lain. Pandangan ini menekankan bahwa semua individu memiliki hak yang sama atas pendidikan tanpa diskriminasi, hanya berbeda dalam kebutuhan individualnya.
    Perubahan pandangan tersebut berimplikasi pada konsep pendidikan luar biasa, yang lebih menekankan kebutuhan khusus individual dalam bidang pendidikan daripada kecacatannya, sehingga disiplin ilmunya kini disebut "Pendidikan Kebutuhan Khusus".

    Paradigma baru ini memandang persoalan pendidikan dari sudut pandang yang lebih humanistik dan memperlakukan anak secara holistik, lebih memperhatikan hak-haknya sebagai seorang manusia, dan kebutuhan belajarnya menjadi pusat perhatian. Ini berarti bahwa layanan pendidikan untuk anak itu tidak lagi didasarkan atas kategori kecacatannya tetapi lebih didasarkan pada kebutuhan khususnya yang mungkin diakibatkan oleh kecacatannya dan/atau hambatan-hambatan belajar dan perkembangan lainnya, dan anak seyogyanya tidak dipisahkan dari komunitasnya. Jadi, anak itu seyogyanya bersekolah bersama-sama dengan sebayanya di sekolah reguler yang terdekat dari rumahnya. Pemikiran inilah yang telah memunculkan ideologi pendidikan inklusif dan konsep sekolah inklusif.

    Sebagaimana dikemukakan dalam Pernyataan Salamanca (UNESCO, 1994), tantangan yang dihadapkan pada sekolah inklusif adalah bahwa sekolah ini seyogyanya mengembangkan satu pedagogi yang berpusat pada diri anak, yang mampu berhasil mendidik semua anak, termasuk mereka yang mengalami kekurangan dan kecacatan yang parah. Keuntungan sekolah semacam ini bukan hanya bahwa mampu memberikan pendidikan berkualitas kepada semua anak; pendiriannya juga merupakan satu langkah yang sangat penting dalam membantu mengubah sikap diskriminatif, dalam menciptakan masyarakat yang ramah dan dalam mengembangkan satu masyarakat inklusif. Perubahan dalam pandangan sosial merupakan satu keharusan jika kita ingin memberikan kepada para penyandang cacat satu lingkungan sosial yang memampukan, satu lingkungan di mana potensinya lebih difokuskan daripada kekurangannya.

    Pada saat ini Indonesia masih berada dalam situasi transisi, di mana secara sistematik kita masih mempraktekkan paradigma lama, tetapi dengan rasa iri kita mengintip ke paradigma baru melalui lubang kunci. Hanya sejumlah kecil profesional dalam bidang pendidikan yang sudah memiliki pemahaman yang tepat tentang konsep baru dalam pendidikan kebutuhan khusus. Oleh karena itu, agar dapat mengikuti perubahan paradigma ini, kita perlu meningkatkan kualitas profesional dalam bidang ini, termasuk pendidik, peneliti dan administrator dalam bidang pendidikan kebutuhan khusus, sehingga mereka memiliki pemahaman baru dan wawasan yang lebih luas tentang masalah-masalah yang terkait dengan anak-anak berkebutuhan khusus.

    Untuk mencapai tujuan ini, UPI, bekerjasama dengan Universitas Oslo, mulai tahun akademik 2003-2004, telah memutuskan untuk membuka Program Magister Inklusi dan Pendidikan Kebutuhan Khusus.


    III. PERSIAPAN PEMBUKAAN PROGRAM

    Dalam merespon tawaran kerjasama dalam Program Magister Inklusi dan Pendidikan Kebutuhan Khusus, pada tahun 2001, UPI membentuk satu Tim Pengembang. Tim Pengembang tersebut menyiapkan proposal yang memuat deskripsi tentang latar belakang, visi dan misi, tujuan, lembaga penyelenggara, persyaratan pendaftaran calon mahasiswa, kurikulum dan perkuliahan, serta fasilitas pendukung dan sumber daya manusia untuk Program Magister yang direncanakan itu. Proposal tersebut diajukan kepada Directorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan diteruskan kepada NORAD dan Universitas Oslo melalui Braillo Norway sebagai lembaga pelaksana proyek dari pihak Norwegia.

    Pada tahun 2003 proyek mengirim satu tim yang terdiri dari empat orang dosen UPI (Juang Sunanto, Djadja Rahardja, Zaenal Alimin dan Didi Tarsidi) ke Oslo. Tim tersebut tinggal di sana dari tanggal 8 Januari hingga 15 Maret 2003. Di bawah bimbingan Prof. Miriam Sjerten dari Universitas Oslo (menejer pendidikan proyek), tim ini diterima sebagai peneliti tamu pada Universitas Oslo.

    Secara umum, tanggung jawab team ini adalah mempelajari bagaimana Program Internasional Master Filosofi Pendidikan Kebutuhan Khusus di Universitas Oslo diselenggarakan dan bagaimana layanan pendidikan kebutuhan khusus untuk anak berkebutuhan khusus di Norwegia dilaksanakan. Temuan-temuannya akan dipergunakan sebagai dasar untuk mengembangkan Program Magister Inklusi dan Pendidikan Kebutuhan Khusus di UPI, dan pada gilirannya diharapkan akan berpengaruh terhadap cara pelaksanaan pemberian layanan pendidikan luar biasa bagi anak berkebutuhan khusus di Indonesia.

    Secara spesifik, tim tersebut meneliti hal-hal sebagai berikut:
    1) Perkuliahan bagi para mahasiswa Program Internasional Master Filosofi Pendidikan Kebutuhan Khusus di Universitas Oslo;
    2) Isi dan struktur kurikulum Program Master;
    3) Kegiatan belajar/mengajar di program master;
    4) Penulisan tesis;
    5) Prosedur evaluasi dan ujian;
    6) Pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus di Norwegia.

    Untuk mengumpulkan informasi, tim ini melakukan hal-hal sebagai berikut:
    a) Diskusi dengan dosen dan mahasiswa Program Internasional Master Filosofi Pendidikan Kebutuhan Khusus;
    b) Mengikuti perkuliahan, baik yang dirancang khusus untuk tim ini maupun perkuliahan reguler untuk mahasiswa Program Master;
    c) Kunjungan ke beberapa sekolah (Oppsal Twin School dan sekolah dasar di Nes dan Neskoln di luar kota Oslo);
    d) Kunjungan ke Pusat Sumber Huseby; dan
    e) Membaca mandiri.

    Informasi yang diperoleh dapat dirangkum sebagai berikut:
    Program Internasional Master Filosofi Pendidikan Kebutuhan Khusus adalah salah satu program yang ditawarkan di Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus, yang merupakan bagian dari Fakultas Pendidikan di Universitas Oslo. Jurusan ini menawarkan sejumlah program perkuliahan pada berbagai jenjang yang meliputi jenjang sarjana, master dan doktoral serta sejumlah program perkuliahan spesialisasi jangka pendek dan pelatihan/penataran kedinasan.

    Program Internasional Master Filosofi Pendidikan Kebutuhan Khusus dilaksanakan dalam bahasa Inggris. Sebagian besar mahasiswa yang diterima dalam program ini berasal dari negara-negara berkembang. Program ini berupa "sandwich programme" yang terdiri dari empat bagian:
    Bagian I (2 bulan): Tugas persiapan – deskripsi tentang situasi di negara asal mahasiswa yang dilaksanakan di negara asal mahasiswa sebelum mereka datang ke Norwegia.
    Bagian II (8 bulan): Teori dan metode inklusi, kajian umum pendidikan kebutuhan khusus, spesialisasi, dan metodologi dan desain penelitian. Bagian ini dilaksanakan di Universitas Oslo.
    Bagian III (9 bulan): Penelitian dan tesis – studi lapangan, pengumpulan, penyusunan dan analisis data empirik di negara asal mahasiswa.
    Bagian IV (5 bulan): Penyelesaian gelar master filosofi – finalisasi tesis dan perkuliahan akhir di Universitas Oslo.
    Program mencakup perkuliahan, diskusi kelompok, seminar mata kuliah terintegrasi, kerja kelompok, membaca mandiri, pengerjaan tugas dan penulisan makalah dan tesis, latihan praktek, tutoring dan studi lapangan.

    Sehubungan dengan pendidikan anak berkebutuhan khusus, Norwegia telah mengadopsi dan mempraktekkan filosofi pendidikan inklusif. Semua sekolah luar biasa pada tingkat nasional ataupun tingkat kota telah ditutup, kecuali SLB untuk anak tunarungu berat – atas dasar pertimbangan kebutuhan khusus bahasa anak-anak ini, bukan karena kecacatannya. Pendidikan Kebutuhan Khusus diberikan di sekolah reguler di lingkungan tempat tinggal anak. Beberapa dari bekas SLB itu diubah fungsinya menjadi pusat sumber nasional atau pusat sumber regional, yang kini tergabung dalam Sistem Pendukung Norwegia untuk Pendidikan Kebutuhan Khusus. Sistem pendukung ini menjamin bahwa anak-anak berkebutuhan khusus memperoleh pendidikan yang diadaptasikan secara tepat di sekolah reguler di lingkungan tempat tinggalnya.

    Layanan pendidikan kebutuhan khusus biasanya diberikan di dalam setting kelas reguler, di mana dua orang guru atau lebih bekerjasama, tetapi kadang-kadang juga diberikan dalam kelompok yang lebih kecil atau secara individual. Jumlah maksimum siswa dalam satu kelas adalah 28 orang; jumlah rata-ratanya adalah 20 siswa dalam satu kelas. Berdasarkan peraturan, di setiap sekolah harus terdapat sekurang-kurangnya seorang guru yang memiliki kualifikasi sebagai guru pendidikan kebutuhan khusus.

    Menurut undang-undang Norwegia, sekolah lokal harus memberikan pendidikan yang setara dan diadaptasikan secara tepat untuk setiap orang dalam sistem pendidikan yang terkoordinasi berdasarkan kurikulum nasional yang sama. Berdasarkan peraturan, semua siswa harus mengikuti jalur pendidikan yang sama dan belajar mata pelajaran yang sama. Akan tetapi, pedoman kurikulum nasional diharapkan diadaptasikan dengan kondisi lokal dan disesuaikan dengan kebutuhan belajar individu.

    Tim menggunakan informasi di atas sebagai dasar dalam pengembangan kurikulum program magister di UPI. Akan tetapi, dalam mengembangkan kurikulum tersebut (termasuk perumusan visi dan misi, tujuan dan persyaratan calon mahasiswa), tim juga mempertimbangkan praktek yang lazim dilaksanakan di UPI. Hal ini dapat dilihat pada bagian-bagian selanjutnya dari dokumen ini.


    IV. VISI, MISI, TUJUAN DAN PERSYARATAN CALON MAHASISWA

    A. Visi
    Visi Program Magister Inklusi dan Pendidikan Kebutuhan Khusus dirumuskan sebagai berikut:
    “Mengembangkan UPI sebagai salah satu pusat unggulan dalam bidang inklusi dan pendidikan kebutuhan khusus yang akan senantiasa mengembangkan pemahaman baru tentang kebutuhan khusus pendidikan anak guna mengembangkan layanan pendidikan kebutuhan khusus yang lebih baik bagi semua anak berkebutuhan khusus, baik mereka yang ada di sekolah reguler maupun sekolah khusus ataupun mereka yang ada di lembaga-lembaga non-sekolah”

    B. Misi
    Program Magister Inklusi dan Pendidikan Kebutuhan Khusus di Program Pasca-sarjana UPI mengemban misi berikut:
    1) Mengembangkan sumber daya manusia agar memiliki kemampuan dalam mengelola inklusi dan pendidikan kebutuhan khusus
    2) Mengembangkan konsep ilmiah dan praktek inklusi dan pendidikan kebutuhan khusus melalui penelitian
    3) Mengembangkan kerjasama yang erat dengan lembaga pendidikan tinggi lain dan dengan lapangan untuk meningkatkan mutu inklusi dan pendidikan kebutuhan khusus

    C. Tujuan

    Tujuan yang ingin dicapai dengan membuka program ini adalah sebagai berikut:
    1) Lulusan memiliki pengetahuan yang luas tentang teori-teori mutakhir dan metode penelitian dalam bidang pendidikan kebutuhan khusus;
    2) Lulusan memiliki pengetahuan yang luas tentang isu-isu teoritis dan praktis yang terkait dengan pendidikan inklusif;
    3) Lulusan memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menyesuaikan lingkungan belajar;
    4) Lulusan memiliki wawasan yang luas tentang aplikasi praktis prinsip-prinsip dan metode pendidikan dan habilitasi/rehabilitasi bagi orang segala usia di dalam dan di luar kelas;
    5) Lulusan memiliki kualifikasi untuk lebih mengembangkan bidang inklusi dan pendidikan kebutuhan khusus di daerahnya masing-masing.

    D. Persyaratan Calon Mahasiswa

    Untuk dapat diterima sebagai mahasiswa dalam program ini, calon mahasiswa harus memiliki sekurang-kurangnya gelar sarjana pendidikan dan berminat terhadap pendidikan kebutuhan khusus, dengan prioritas diberikan kepada mereka yang sudah berprofesi sebagai:
    1) Guru anak berkebutuhan khusus
    2) Dosen di Jurusan Pendidikan Luar Biasa
    3) Administrator pendidikan.

    Untuk dapat diterima dalam program ini, calon mahasiswa harus:
    a) Menunjukkan ijazah S1 dengan nilai kumulatif tidak kurang dari 2,5;
    b) Lulus ujian masuk yang terdiri dari tes minat dan bakat (Scholastic Aptitude Test) dan tes bahasa Inggris;
    c) Menyerahkan makalah dengan topik yang terkait dengan pendidikan kebutuhan khusus, dengan tema yang ditentukan oleh Panitia Penerimaan Mahasiswa.


    V. KURIKULUM

    A. Struktur Kurikulum

    Program Magister Inklusi dan Pendidikan Kebutuhan Khusus dirancang untuk masa studi selama empat semester. Perkuliahan terdiri dari dua bidang besar, yaitu 10 kredit untuk landasan keilmuan dan kependidikan, dan hingga 40 kredit untuk mata kuliah dalam bidang inklusi dan pendidikan kebutuhan khusus (termasuk tesis). Landasan keilmuan dan kependidikan terdiri dari mata kuliah yang wajib bagi semua mahasiswa S2 di UPI. Struktur kurikulum tersebut dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.

    Tabel 1: Struktur Kurikulum

    NO
    Mata Kuliah Topik Kr SMT
    Landasan Keilmuan dan Kependidikan:
    1. Filsafat Ilmu 2 I
    2. Statistika Terapan dalam Penelitian Pendidikan 3 II
    3. Metodologi Penelitian Pendidikan 2 I
    4. Teori, Proses dan Konteks Sosial Budaya Pendidikan 3 I
    Pendidikan Kebutuhan Khusus:
    1. Pengantar Pendidikan Kebutuhan Khusus dalam Setting Inklusi • Latar belakang historis
    • Konsep-konsep penting yang terkait dengan kebutuhan khusus dan inklusi
    • Inklusi dan integrasi: perbedaan dan persamaan
    • Penelitian dan proses menuju inklusi 2 I
    2. Perkembangan Anak • Interaksi dan komunikasi
    • Perkembangan kognitif, emosi, sosial dan fisik
    • Keterampilan sensori-motor dan persepsi
    • Perkembangan bahasa dan bicara
    • Kompetensi sosial
    • Penerimaan diri: psikologis, fisik, dan sosial
    • Kegiatan bermain 3 I
    3. Teori Belajar • Proses belajar
    • Berbagai pendekatan teori:
    o Strukturalisme (Piaget, Vygotsky, Bruner)
    o Behaviorisme (Skinner)
    o Social learning (Bandura)
    o Pendekatan multi-sensori (Montessori)
    • Belajar termediasi 2 I
    4. Hambatan Belajar dan Perkembangan • Dampak psiko-sosial kecacatan
    • Ketunanetraan
    • Ketunarunguan
    • Ketunagrahitaan
    • Autisme
    • Ketunalarasan
    • Ketunadaksaan: cerebral palsy, kesulitan akibat kecelakaan, dan polio
    • Kesulitan yang terkait dengan kesehatan: epilepsi, asma
    • Kesulitan belajar: bahasa, membaca, matematik
    • Ketunaan ganda
    • Faktor-faktor lingkungan yang mengakibatkan hambatan 4 I & II
    5. Asesmen • Asesmen formal dan informal
    • Observasi
    • Asesmen pendidikan
    • Asesmen sosial
    • Asesmen dinamik 2 I
    6. Intervensi Dini • Interaksi dan komunikasi
    • Deteksi
    • Intervensi
    • Pengembangan konsep 2 II
    7. Pendekatan dan metode mengajar • Teknik belajar
    • Pengajaran yang berpusat pada kurikulum vs. berpusat pada diri anak
    • Perencanaan pendidikan terindividualisasi
    • Belajar/mengajar terdiferensiasi
    • Motivasi
    • Pendekatan mengajar dalam setting inklusi
    • Manajemen kelas
    • Metode pengajaran bahasa, membaca dan berhitung
    • Relevansi topik dan integrasi mata pelajaran
    • Alat bantu dan materi adaptif
    • Penggunaan alat bantu fungsional untuk ketunaan tertentu
    • Kegiatan bermain sebagai alat
    • Kegiatan fisik sebagai alat
    • Kegiatan budaya sebagai alat 3 II
    8. Keterampilan Kompensatoris • Braille
    • Orientasi dan mobilitas
    • Bahasa isyarat
    • Komunikasi augmentatif dan alternatif
    • ADL 2 II
    9. Pengembangan Kesadaran Masyarakat tentang Pendidikan Kebutuhan Khusus • Inklusi sebagai visi
    • Sikap
    • Kebijakan: tingkat internasional, nasional, lokal, dan sekolah
    • Hak-hak anak
    • Peranan orang tua
    • Peranan guru dan kepala sekolah dalam pengembangan sekolah
    • Komunitas lanjut usia
    • Advokasi 2 II
    10. Bimbingan dan konseling dalam Pendidikan Kebutuhan Khusus • Bimbingan orang tua, siswa, guru reguler, masyarakat
    • Penerimaan diri 2 III
    11. Perencanaan Pelatihan Pendidikan Kebutuhan Khusus bagi Masyarakat
    • Kebutuhan partisipan
    • Kerangka kerja
    • Tujuan
    • Isi
    • Pengorganisasian dan metode
    • Evaluasi
    • Komunikasi
    • Keterlibatan 2 III
    12. Penelitian dalam bidang Pendidikan Kebutuhan Khusus • Pendekatan kualitatif dan kuantitatif
    • Studi kasus
    • Penelitian tindakan kelas
    • Desain eksperimen kasus tunggal 3 II
    13. Studi Lapangan dan Seminar 2 III
    14. Tesis 8 IV

    Catatan: Kurikulum ini sebaiknya dievaluasi secara terus-menerus agar senantiasa sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan sesuai dengan tuntutan kebutuhan lapangan.


    B. Deskripsi Mata Kuliah

    Deskripsi mata kuliah pendidikan kebutuhan khusus dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini.


    Tabel 2: Deskripsi Mata Kuliah

    No. Mata Kuliah Tujuan Deskripsi
    1. Pengantar Pendidikan Kebutuhan Khusus dalam Setting Inklusi Mahasiswa memiliki pemahaman umum tentang pendidikan kebutuhan khusus dan mengetahui cara mempraktekkannya dalam setting inklusi Mata kuliah ini membahas latar belakang sejarah pendidikan kebutuhan khusus dan inklusi, konsep-konsep penting yang terkait dengan pendidikan kebutuhan khusus dan inklusi, perbedaan dan persamaan antara inklusi dan integrasi, serta penelitian dan proses menuju inklusi.
    2. Perkembangan Anak Mahasiswa memahami teori-teori perkembangan dan mampu mengidentifikasi kebutuhan seorang anak pada setiap tahap perkembanganya dari sudut pandang holistik. Mata kuliah ini membahas berbagai aspek perkembangan anak termasuk perkembangan interaksi dan komunikasi; perkembangan kognitif, emosi, sosial, dan fisik; perkembangan dalam keterampilan sensori-motor dan persepsi, bahasa dan bicara, dan kompetensi sosial; penerimaan diri secara psikologis, fisik dan sosial; dan pentingnya bermain dalam perkembangan anak; dan bagaimana aspek-aspek tersebut saling mempengaruhi.
    3. Teori Belajar Mahasiswa memahami teori-teori belajar dan mampu mengaitkannya dengan proses belajar anak, termasuk anak berkebutuhan khusus. Mata kuliah ini membahas proses belajar dan berbagai pendekatan teoritis yang meliputi strukturalisme (Piaget, Vygotsky, Bruner), behaviorisme (Skinner), social learning (Bandura), pendekatan multi-sensori (Montessori), dan belajar termediasi, dan relevansi teori-teori ini dengan kegiatan belajar/mengajar.
    4. Hambatan Belajar dan Perkembangan I Mahasiswa memiliki pemahaman yang tepat tentang kecacatan dan faktor-faktor lingkungan yang mengakibatkan hambatan terhadap belajar dan perkembangan, dan mampu merencanakan strategi pengajaran untuk mengatasi atau meminimalkan hambatan itu. Mata kuliah ini membahas berbagai hambatan belajar dan perkembangan yang diakibatkan oleh kelainan alat indera (penglihatan dan pendengaran), kelainan motorik dan kesulitan akibat gangguan kesehatan, dampak psiko-sosial kecacatan/kesulitan, dan faktor-faktor lingkungan yang mengakibatkan hambatan terhadap belajar dan perkembangan.
    5. Hambatan Belajar dan Perkembangan II Mahasiswa memiliki pemahaman yang tepat tentang kecacatan dan faktor-faktor lingkungan yang mengakibatkan hambatan terhadap belajar dan perkembangan, dan mampu merencanakan strategi pengajaran untuk mengatasi atau meminimalkan hambatan itu. Mata kuliah ini membahas hambatan belajar dan perkembangan yang diakibatkan oleh ketunagrahitaan, autisme, ketunalarasan, kesulitan belajar (dalam bahasa, membaca, dan berhitung), ketunaan ganda, dan faktor-faktor lingkungan.
    6. Asesmen Pendidikan Mahasiswa memahami berbagai metode dan prosedur asesmen dan mampu mengaplikasikan temuan-temuan asesmen itu dalam perencanaan pendidikan bagi anak, termasuk anak berkebutuhan khusus. Mata kuliah ini membahas asesmen formal dan informal, observasi sebagai alat asesmen, tes kependidikan, asesmen pendidikan dan sosial, dan asesmen dinamik, serta perbedaan antara asesmen dan diagnosis.
    7. Intervensi Dini Mahasiswa mengetahui cara mendeteksi kesulitan pada anak dan mampu merencanakan intervensi terhadap anak dan keluarganya. Mata kuliah ini membahas tentang bagaimana seorang anak berinteraksi dan berkomunikasi dan mengembangkan konsep, bagaimana cara mendeteksi irregularitas dalam perkembangan anak dan interaksi anak-orang dewasa, dan cara mengintervensi untuk mencegah anak mengembangkan kesulitan tambahan atau kesulitan yang lebih serius.
    8. Pendekatan dan Metode Mengajar Mahasiswa menguasai berbagai pendekatan dan metode mengajar anak, termasuk anak berkebutuhan khusus. Mata kuliah ini membahas berbagai teknik belajar, pengajaran yang berpusat pada kurikulum vs. pengajaran yang berpusat pada diri anak, perencanaan pendidikan terindividualisasi, belajar/mengajar terdiferensiasi, motivasi, pendekatan mengajar dalam setting inklusi, manajemen kelas, metode mengajar bahasa, membaca dan berhitung, relevansi topik dan pengintegrasian berbagai mata pelajaran, alat bantu dan materi adaptif, penggunaan alat bantu fungsional untuk ketunaan tertentu, dan kegiatan bermain, kegiatan fisik dan kegiatan budaya sebagai media pembelajaran.

    9. Keterampilan Kompensatoris Mahasiswa memiliki pengetahuan dasar tentang sejumlah keterampilan kompensatoris untuk orang berkebutuhan khusus. Mata kuliah ini membahas Braille, orientasi dan mobilitas, bahasa isyarat, komunikasi augmentatif dan alternatif, dan ADL.

    10. Pengembangan Kesadaran Masyarakat tentang Pendidikan Kebutuhan Khusus Mahasiswa memahami prinsip-prinsip yang mendasari berbagai kebijakan tentang pendidikan kebutuhan khusus dan mampu merencanakan kampanye kesadaran masyarakat untuk membentuk sikap yang lebih positif dari masyarakat terhadap orang berkebutuhan khusus. Mata kuliah ini membahas inklusi sebagai satu visi, pendidikan untuk semua dalam setting inklusi, sikap masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus, berbagai kebijakan tingkat internasional, nasional, lokal dan kebijakan tingkat sekolah tentang pendidikan kebutuhan khusus, hak-hak anak, peranan orang tua, peranan guru dan kepala sekolah dalam pengembangan sekolah, masalah-masalah komunitas lanjut usia, dan strategi advokasi.

    11. Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan Kebutuhan Khusus Mahasiswa memahami dan mampu merencanakan bimbingan dan konseling guna memenuhi kebutuhan khusus pendidikan anak. Mata kuliah ini membahas penerimaan diri orang berkebutuhan khusus, dan bimbingan dan konseling berbasis sumber bagi orang tua, siswa, guru reguler, administrator pendidikan dan masyarakat pada umumnya ke arah pemenuhan kebutuhan khusus pendidikan anak.

    12. Perencanaan Pelatihan Pendidikan Kebutuhan Khusus bagi Masyarakat Mahasiswa mampu merencanakan pelatihan dan penataran tentang masalah-masalah yang terkait dengan pendidikan kebutuhan khusus untuk orang tua, guru, dan anggota masyarakat lainnya yang relevan. Mata kuliah ini membahas hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam merencanakan pelatihan bagi masyarakat yang meliputi: kebutuhan peserta, kerangka kerja, tujuan, isi, pengorganisasian dan metode, evaluasi, komunikasi, dan keterlibatan.
    13. Penelitian dalam bidang Pendidikan Kebutuhan Khusus Mahasiswa mampu merancang penelitian dalam bidang pendidikan kebutuhan khusus mengunakan pendekatan dan metode yang tepat. Mata kuliah ini membahas pendekatan kualitatif dan kuantitatif yang meliputi studi kasus, penelitian tindakan kelas, eksperimen quasi dan desain eksperimen kasus tunggal.

    14. Studi Lapangan dan Seminar Berdasarkan atas kerangka teori yang telah mereka peroleh sejauh ini, mahasiswa mampu memiliki wawasan tentang berbagai tantangan pendidikan kebutuhan khusus di lapangan. Mata kuliah ini memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengobservasi pendidikan kebutuhan khusus dalam praktek, dan berdasarkan atas hasil observasinya itu mahasiswa melaksanakan diskusi tentang masalah penelitian yang relevan dengan tesisnya.


    VI. IMPLEMENTASI PROGRAM

    Program Magister Inklusi dan Pendidikan Kebutuhan Khusus di Program Pasca-sarjana UPI mulai diimplementasikan pada tahun akademik 2003-2004. Pada tahap awal ini, secara administratif program ini masih berada di bawah Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan. Penjaringan mahasiswa untuk program ini seyogyanya sama dengan penjaringan mahasiswa untuk program-program lain di PPS UPI dan seyogyanya terbuka untuk umum. Akan tetapi, untuk angkatan pertama, penjaringan dilakukan dengan menyebarkan formulir pendaftaran melalui manajemen proyek di Jakarta kepada guru-guru SLB di seluruh Indonesia. Dari 64 orang guru yang mengajukan formulir pendaftaran, 36 di antaranya memenuhi persyaratan administratif dan diundang untuk mengikuti ujian masuk, dan 16 orang dinyatakan lulus. Ujian masuk dilaksanakan di UPI, dua bulan setelah terlaksananya ujian masuk reguler. Materi ujian sama dengan materi untuk ujian masuk reguler, yaitu tes bakat dan minat (Scholastic Aptitude Test) dan bahasa Inggris.

    Dari 16 orang calon mahasiswa yang diterima dalam program ini, seorang di antaranya mengundurkan diri, sehingga angkatan pertama program ini hanya diikuti oleh 15 orang mahasiswa yang terdiri dari:
    2 mahasiswa dari Sumatra Barat;
    4 mahasiswa dari Jakarta;
    3 mahasiswa dari Jawa Barat;
    1 mahasiswa dari Jawa Tengah;
    2 mahasiswa dari Jawa Timur;
    1 mahasiswa dari Bali;
    1 mahasiswa dari Kalimantan Selatan; dan
    1 mahasiswa dari Sulawesi Selatan.

    Sebelum semester pertama dimulai, semua mahasiswa S2 di UPI wajib mengikuti matrikulasi selama empat minggu. Karena Program Magister Inklusi dan Pendidikan Kebutuhan Khusus secara administratif masih berada di bawah Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan, maka materi untuk matrikulasi bagi mahasiswa angkatan pertama ini masih difokuskan pada bimbingan dan penyuluhan.

    Perkuliahan untuk mahasiswa angkatan pertama Program Magister Inklusi dan Pendidikan Kebutuhan Khusus di UPI dimulai pada tanggal 1 September 2003, dengan 15 orang mahasiswa. Selama masa proyek kerjasama, tim pengajar berasal dari Universitas Oslo dengan dosen UPI sebagai mitranya.

    Sejumlah hal patut dicatat sehubungan dengan pelaksanaan perkuliahan sebagai berikut.

    Dosen Universitas Oslo memberi kuliah dalam “block time”. Untuk alasan efisiensi, dosen dari Universitas Oslo datang selama satu hingga dua minggu untuk satu masa perkuliahan dan mengajar setiap hari kerja dari pukul 9 hingga pukul 16. Kemudian perkuliahan dilanjutkan oleh mitranya dari UPI sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan untuk semester yang bersangkutan.

    Sejumlah mata kuliah digabungkan. Agar pembahasannya lebih terintegrasi, dua mata kuliah yang terkait erat digabungkan menjadi satu mata kuliah. Ini mencakup (1) Teori Belajar dan (2) Hambatan Belajar dan Perkembangan menjadi Teori Belajar dan Hambatan Belajar dan Perkembangan I (semester I) dan Teori Belajar dan Hambatan Belajar dan Perkembangan II (semester II); dan (1) Asesmen dan (2) Pendekatan dan Metode Mengajar menjadi Asesmen dan Pendekatan dan Metode Mengajar I (semester I) dan Asesmen dan Pendekatan dan Metode Mengajar II (semester II).

    Pengintegrasian Mata Kuliah. Berbagai mata kuliah disajikan sedemikian rupa sehingga satu mata kuliah lebih terintegrasi dengan mata kuliah lainnya dan bermacam-macam mata kuliah itu menjadi terintegrasi dengan baik, dan dengan demikian mahasiswa dapat diharapkan memiliki pengetahuan yang holistik tentang pendidikan kebutuhan khusus. Hal tersebut dimungkinkan karena tim dosen terkoordinasi dengan baik.

    Jadwal berdasarkan topik. Setiap mata kuliah pendidikan kebutuhan khusus direncanakan dengan baik sehingga jadwal perkuliahan dapat disusun berdasarkan topik pembahasan.

    Kelompok kerja mahasiswa. Kelima belas orang mahasiswa dalam program ini dibagi ke dalam empat kelompok kerja. Mereka mengerjakan tugas-tugas dalam kelompok dan mempresentasikan hasil kerja kelompoknya kepada kelas.

    Prosedur evaluasi holistik. Evaluasi terhadap pencapaian seorang mahasiswa terdiri dari empat komponen, yaitu (1) aktivitas mahasiswa di dalam kelas; (2) kinerjanya dalam presentasi hasil kerja kelompok; (3) ujian tengah semester; dan (4) ujian akhir semester. Pertanyaan-pertanyaan ujian menuntut agar mahasiswa mengungkapkan pengetahuannya secara holistik tentang pendidikan kebutuhan khusus dengan orientasi aplikatif. Soal disajikan kepada mahasiswa sebelumnya untuk mereka kerjakan dalam kerja kelompok dan hasilnya dipresentasikan ke hadapan kelas di mana seluruh anggota tim dosen mata kuliah pendidikan khusus hadir. Penilaian diarahkan kepada keseluruhan kelompok maupun masing-masing anggota kelompok dalam mempresentasikan hasil tugasnya, dalam mempertahankan pendapat atau dalam menjawab pertanyaan, baik dari teman sekelas maupun dari dosen.

    VII. PERSPEKTIF MASA DEPAN

    Inklusi dan Pendidikan Kebutuhan Khusus sebagai satu program studi yang mandiri. Hingga saat dokumen ini ditulis, status Pendidikan Kebutuhan Khusus di PPS UPI masih merupakan sub-program di bawah Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan – meskipun hanya secara administratif. Harapannya adalah bahwa program ini akan menjadi satu program studi yang mandiri, dan tampaknya harapan tersebut akan segera terwujud. Sebagaimana dikemukakan di muka, dalam rapat rektorat pada tanggal 18 Februari 2004, Rektor UPI menyatakan komitmennya bahwa Inklusi dan Pendidikan Kebutuhan Khusus sebagai satu program studi di PPS UPI akan diresmikan sebelum dimulainya tahun akademik 2004-2005 pada bulan September 2004. Untuk mencapai target tersebut, Direktur PPS UPI, Prof. Dr. Asmawi Zainul, telah membentuk satu tim khusus (yang terdiri dari dosen-dosen yang terlibat langsung dalam proyek ini) untuk mempersiapkan proposal, dan tim tersebut telah menyerahkan proposal itu pada tanggal 29 April 2004. Bila proposal tersebut disetujui oleh Rektor, Program Magister Inklusi dan Pendidikan Kebutuhan Khusus akan mempunyai Ketua dan Sekretaris sendiri, tetapi masih akan terus menerima bantuan teknis dari Universitas Oslo dengan pendanaan dari pemerintah Norwegia hingga masa proyek kerjasama ini berakhir.

    Prosedur penjaringan mahasiswa reguler. Karena proyek program magister ini sejauh tertentu terkait dengan Direktorat Pendidikan Luar Biasa, Departemen Pendidikan Nasional, UPI berkomitmen untuk memprioritaskan guru-guru dan birokrat di bawah direktorat tersebut sebagai mahasiswa dalam program ini, dengan pengaturan khusus sehubungan dengan penyebaran formulir pendaftaran dan waktu untuk pelaksanaan ujian masuk (sebagaimana dipaparkan dalam bagian tentang Implementasi Program). Di luar konteks proyek, penjaringan mahasiswa akan menggunakan prosedur yang sama seperti untuk mahasiswa yang diterima di program studi lainnya di lingkungan PPS UPI: calon mahasiswa datang ke PPS UPI untuk mengambil formulir pendaftaran dan mengerjakan ujian masuk sesuai dengan jadwal pada kalender akademik UPI.

    Makalah dengan topik dalam bidang pendidikan kebutuhan khusus untuk menunjukkan minat. Dengan penjaringan calon mahasiswa menggunakan prosedur reguler, Program Studi Inklusi Pendidikan Kebutuhan Khusus akan terbuka bagi setiap calon mahasiswa yang memiliki gelar sarjana dalam bidang pendidikan yang berminat terhadap inklusi dan pendidikan kebutuhan khusus, dengan prioritas diberikan kepada mereka yang sudah berprofesi sebagai guru anak berkebutuhan khusus, dosen Jurusan Pendidikan Luar Biasa dan administrator pendidikan. Jika ada calon mahasiswa yang tidak memiliki latar belakang pendidikan kebutuhan khusus, maka minatnya terhadap pendidikan kebutuhan khusus akan ditunjukkan melalui makalah dengan topik yang terkait dengan pendidikan kebutuhan khusus yang harus diserahkannya sebagai bagian dari persyaratan penerimaan.

    Beasiswa dari pemerintah propinsi. Praktek yang berlaku saat ini adalah bahwa pemerintah, melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, memberikan beasiswa untuk mahasiswa yang dosen. Untuk mendukung lebih banyak non-dosen kuliah di program ini, diharapkan bahwa pemerintah propinsi serta lembaga-lembaga pendanaan lain menyediakan beasiswa bagi mereka.

    Matrikulasi: Tinjauan umum tentang pendidikan kebutuhan khusus. Sebagai satu program studi yang mandiri, program matrikulasi untuk para mahasiswa Program Magister Inklusi dan Pendidikan Kebutuhan Khusus seyogyanya dirancang untuk tinjauan umum tentang pendidikan kebutuhan khusus sebagai satu disiplin ilmu. Mahasiswa dalam program ini mungkin memiliki tingkatan yang berbeda-beda atau aspek yang berbeda-beda dari disiplin ini. Program matrikulasi (biasanya diberikan kepada mahasiswa baru sebelum perkuliahan S2 yang sesungguhnya dimulai) seyogyanya dirancang agar para mahasiswa mempunyai pengetahuan dasar yang sama atau hampir sama dalam bidang pendidikan kebutuhan khusus sebelum mereka mulai perkuliahan di tingkat magister.

    Kelanjutan bantuan teknis dari Universitas Oslo. Program Magister Inklusi dan Pendidikan Kebutuhan Khusus telah mencapai bentuknya saat ini (terutama dalam segi isinya dan struktur kurikulumnya) berkat bantuan teknis dari Universitas Oslo. Fase proyek saat ini akan berakhir pada tahun 2005, dan upaya-upaya tengah dilakukan untuk memperpanjang masa proyek untuk satu fase lagi. Untuk menjamin keberlangsungan program magister ini, penting bahwa bantuan teknis tersebut dilanjutkan selama waktu tertentu.

    Penguatan Dosen-dosen UPI. Program Magister Inklusi dan Pendidikan Kebutuhan Khusus telah dirancang dengan paradigma pendidikan inklusif, satu paradigma yang relatif baru di Indonesia. Dosen-dosen UPI masih dapat belajar banyak dari dosen-dosen Universitas Oslo dalam bidang ini, sehingga berlanjutnya bantuan teknis itu sangat penting untuk membantu dosen-dosen UPI memperdalam pemahamannya terhadap paradigma baru ini. Di samping itu, terdapat harapan kuat bahwa program magister ini akan memiliki tiga lagi dosen UPI dengan kualifikasi doktor menjelang akhir tahun 2004, dan ini akan merupakan satu faktor tambahan yang akan lebih memperkuat program ini.

    Program magister di universitas lain. Cita-cita menginklusikan anak-anak berkebutuhan khusus di dalam sistem pendidikan umum sebagai alat untuk menciptakan suatu masyarakat inklusif di Indonesia masih jauh dari jangkauan dan menuntut upaya yang sangat keras. Lebih banyak universitas dengan Program Magister Inklusi dan Pendidikan Kebutuhan Khusus akan membantu memperceepat langkah menuju pencapaian cita-cita tersebut, dan keberhasilan pembukaan program di UPI akan merupakan satu model yang penting bagi universitas-universitas lain.

    Beasiswa doktoral dalam bidang inklusi dan pendidikan kebutuhan khusus. Hambatan utama dalam membuka program magister dalam bidang inklusi dan pendidikan kebutuhan khusus di universitas-universitas di Indonesia adalah kurangnya tenaga dosen dengan kualifikasi doktor dalam bidang ini. Oleh karena itu, penyediaan beasiswa bagi dosen-dosen Indonesia untuk memperoleh gelar doktor dalam bidang pendidikan kebutuhan khusus akan sangat membantu. Dan karena gelar tersebut belum dapat diperoleh di suatu universitas di Indonesia, maka mereka harus memperolehnya di luar negeri seperti di Universitas Oslo atau di universitas lain yang memiliki program doktor dalam bidang pendidikan kebutuhan khusus.


    EPILOG

    Dengan telah mulai menyebarnya gagasan pendidikan inklusif di seluruh Indonesia, pusat-pusat sumber sudah mulai menunjukkan bentuknya, beberapa sekolah reguler sudah mulai mengimplementasikan inklusi, Program Magister Inklusi dan Pendidikan Kebutuhan Khusus sudah terbentuk, kini kita dapat berharap bahwa pada suatu saat di masa depan yang tidak terlalu jauh nanti warga negara Indonesia yang berkebutuhan khusus – termasuk mereka yang menyandang kecacatan – akan diterima sebagai anggota masyarakat yang setara, dengan kesamaan hak atas pendidikan, atas pekerjaan dan atas kehidupan sosial.

    Labels:

    Links to this post:

    Create a Link

    << Home

    :)

    Anda ingin mencari artikel lain? Silakan isi formulir pencarian di bawah ini. :)
    Google
  • Kembali ke DAFTAR ISI