DOCTYPE html PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML 1.0 Strict//EN" "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-strict.dtd"> Didi Tarsidi: Counseling, Blindness and Inclusive Education: Makna Konseling dan Psikoterapi
  • HOME


  • Guestbook -- Buku Tamu



    Anda adalah pengunjung ke

    Silakan isi Buku Tamu Saya. Terima kasih banyak.
  • Lihat Buku Tamu


  • Comment

    Jika anda ingin meninggalkan pesan atau komentar,
    atau ingin mengajukan pertanyaan yang memerlukan respon saya,
    silakan klik
  • Komentar dan Pertanyaan Anda




  • Contents

    Untuk menampilkan daftar lengkap isi blog ini, silakan klik
  • Contents -- Daftar Isi




  • Izin

    Anda boleh mengutip artikel-artikel di blog ini asalkan anda mencantumkan nama penulisnya dan alamat blog ini sebagai sumber referensi.


    22 November 2007

    Makna Konseling dan Psikoterapi

    Reviu oleh Didi Tarsidi
    Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

    Sumber:
    Cavanagh, Michael E. (1982)
    The Counseling Experience
    Chapter 1: The Nature of Counseling
    Monterey, California: Brooks/Cole Publishing Company

    Pada bab ini dibahas sejumlah konsep yang penting untuk dipahami agar dapat memahami prinsip-prinsip konseling. Penulis buku ini mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut untuk membantu pembaca memahami konsep-konsep tersebut.
    1. Apakah konseling itu?
    2. Apakah konseling berbeda dengan psikoterapi?
    3. Apakah konseling itu efektif?
    4. Bagaimanakah peranan penelitian dalam konseling?
    5. Apakah ada teori konseling yang "terbaik"?
    6. Apakah manfaatnya mempelajari konseling?

    1. Definisi Konseling
    Cavanagh mendefinisikan konseling sebagai hubungan antara seorang petugas bantuan yang terlatih dengan seseorang yang meminta bantuan, di mana keterampilan petugas bantuan tersebut beserta suasana yang diciptakannya dapat membantu orang belajar berhubungan dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain dengan cara yang lebih menghasilkan pertumbuhan. Definisi ini mengandung tujuh unsure kunci. Jika salah satu dari ketujuh unsure tersebut tidak ada, maka konseling tidak dapat berlangsung betapa pun baiknya niat orang-orang yang terlibat di dalamnya. Ketujuh unsure tersebut adalah sebagai berikut:

    a. Petugas bantuan itu merupakan professional yang terlatih. Semakin akademik dan semakin praktis pelatihan yang pernah diikutinya, akan semakin tinggi kemampuanya untuk menangani berbagai macam masalah dengan tingkat keparahan yang bervariasi.
    b. Konselor memiliki hubungan dengan orang yang sedang dibantunya. Ini berarti bahwa terdapat sekurang-kurangnya saling pengertian, kepercayaan, penerimaan, dan kerjasama pada tingkat yang memadai. Hubungan professional konseling itu akan tumbuh semakin dalam sejalan dengan bertambahnya waktu yang dipergunakan untuk konseling.
    c. Seorang konselor professional perlu memiliki keterampilan konseling dan kepribadian yang menunjang.
    d. Seorang konselor membantu orang belajar. Ini berarti bahwa konseling merupakan suatu proses pembelajaran. Melalui proses tersebut orang belajar menghilangkan perilaku maladaptif dan belajar perilaku adaptif sesuai dengan konteksnya. Perilaku maladaptif itu dapat normal ataupun abnormal, tetapi sama-sama dapat mengganggu tercapainya pemenuhan kebutuhan dan pertumbuhan.
    e. Orang belajar berhubungan dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain. Ini berarti bahwa konselor membantu orang berhubungan dengan dirinya sendiri secara lebih baik agar dapat menjadi lebih terintegrasi dan dapat menghindari konflik. Belajar berhubungan secara lebih baik dengan orang lain itu penting karena sebagian besar kebutuhan dasar psikologis dapat dipenuhi hanya melalui hubungan interpersonal. Hal ini penting juga karena manusia tidak hanya memiliki tanggung jawab pribadi untuk tumbuh tetapi juga memiliki tanggung jawab social untuk membantu orang lain tumbuh atau sekurang-kurangnya tidak menghambat pertumbuhan orang lain.
    f. Orang belajar berhubungan menuju pertumbuhan yang lebih produktif. Pertumbuhan yang produktif itu mengandung tiga makna. Pertama, ini berarti bahwa orang tumbuh dalam kompetensi intrapersonal dan interpersonal. Kedua, seyogyanya konseling diarahkan untuk membantu pertumbuhan kepribadian dan bukan sekedar menghilangkan gejala-gejala. Ketiga, konseling bukan hanya untuk orang yang mengalami gangguan psikologis, tetapi juga untuk mereka yang normal tetapi mengalami hambatan dalam pertumbuhannya.
    g. Konseling mengandung konotasi hubungan antara seorang konselor dengan seseorang yang meminta bantuan .

    2. Konseling dan Psikoterapi
    Terdapat banyak persamaan antara konseling dan psikoterapi sehingga:
    (1) konseling dan psikoterapi tidak dapat dibedakan secara jelas,
    (2) konselor sering mempraktekkan apa yang oleh psikoterapis dipandang sebagai psikoterapi,
    (3) psikoterapis sering mempraktekkan apa yang oleh konselor dipandang sebagai konseling.

    Meskipun demikian, kedua bidang ini tetap berbeda. Berikut ini adalah beberapa perbedaan antara konseling dan psikoterapi.
    a. Konseling pada umumnya menangani orang normal, sedangkan psikoterapi terutama menangani orang yang mengalami ganguan psikologis.
    b. Konseling lebih edukatif, suportif, berorientasi sadar dan berjangka pendek, sedangkan psikoterapi lebih rekonstruktif, konfrontatif, berorientasi tak sadar, dan berjangka panjang.
    c. Konseling lebih terstruktur dan terarah pada tujuan yang terbatas dan konkret, sedangkan psikoterapi sengaja dibuat lebih ambigu dan memiliki tujuan yang berubah-ubah dan berkembang terus.

    3. Kefektifan KONSELING
    Keefektifan konseling tergantung antara lain pada variabel-variabel berikut:
    a. Durasi, hakikat, dan tingkat keparahan ganguan psikologis yang dialami klien;
    b. Motivasi klien dan kualitas dukungan lingkungan;
    c. Tingkat kesehatan psikologis yang dimiliki klien sebelum mengkonsultasikan masalahnya;
    d. Tingkat kesehatan psikologis yang dimiliki klien pada saat konseling dimulai;
    e. Keterampilan umum konselor dan keterampilan khusus yang dibutuhkan untuk menangani klien tertentu dengan masalah tertentu;
    f. Motivasi konselor dan kualitas suasana terapeutik yang dapat diciptakannya.

    4. Peranan Penelitian dalam KONSELING
    Terdapat dua pertanyaan yang muncul bila kita menelaah bagaimana hubungan antara penelitian dan konseling:
    a. Seberapa banyak seorang konselor harus mendasarkan pendekatanya pada temuan penelitian?
    b. Dapatkah seorang konselor mengunakan teori dan praktek yang belum divalidasi melalui penelitian?

    Terdapat dua pandangan mengenai pertanyaan pertama:
    1) Penelitian dalam konseling telah memberikan kontribusi yang penting dan signifikan terhadap praktek konseling.
    2) Konseling itu demikian kompleks sehingga hanya serpihan-serpihannya saja yang dapat diteliti, dan hasilnya pun sering tidak lengkap, konfliktual, atau tidak dapat diaplikasikan pada banyak situasi konseling sehari-hari. Ini bukan kesalahan penelitian melainkan merupakan cerminan tentang banyaknya dan kompleksnya masalah-masalah yang terlibat dalam konseling. Masalah-masalah itu mencakup kompleksitas orang yang menjadi klien konseling ataupun konselornya, hubungan antara klien dan konselor, faktor lingkungan yang mempengaruhi klien maupun konselor, bervariasinya pandangan orang terhadap hakikat dan tujuan konseling, validitas dan reliabilitas alat ukur, dan kompleksnya meneliti konseling tanpa secara signifikan mempengaruhi prosesnya.
    Ini berarti bahwa penelitian dalam konseling itu penting, tetapi kita harus sangat berhati-hati dalam menyikapi temuan-temuanya.

    Juga terdapat dua pandangan mengenai pertanyaan kedua (apakah konselor dapat menggunakan teori dan praktek yang belum divalidasi melalui penelitian):
    1) Berbahaya bagi konselor jika menggunakan teori dan praktek tersebut sebelum pendekatan yang digunakanya divalidasi secara ilmiah.
    2) Berbahaya bagi konselor jika harus menunggu hingga pendekatannya divalidasi secara empirik. Cavanagh menganut pandangan yang kedua ini. Hanya sedikit saja teknik konseling yang sudah divalidasi, sedangkan banyak sekali ragam masalah yang harus ditangani, dan penelitian membutuhkan waktu. Kita dapat belajar dari pengalaman, dan apa yang kita temukan terbaik untuk hari ini dapat lebih baik untuk hari esok.

    5. Teori KONSELING
    Tidak ada teori konseling yang terbaik untuk semua orang. Apa yang terbaik untuk satu orang mungkin terburuk bagi orang lain. Oleh karena itu, seorang konselor sebaiknya eklektik; dia harus memahami banyak teori dan menggunakan aspek-aspek terbaiknya untuk klien tertentu dengan masalah tertentu yang dihadapinya.
    Ada tiga kebaikan eklektik yaitu:
    a. Ini berarti bahwa konselor itu memiliki pengetahuan dan pemahaman yang sehat tentang berbagai teori yang dipelajarinya.
    b. Ini berarti bahwa konselor itu memiliki filosofi dasar tentang perilaku manusia dan menggunakannya untuk memadukan berbagai bagian dari bermacam-macam teori menjadi satu kesatuan teoritik yang terintegrasi dan bermakna.
    c. Ini berarti bahwa sang konselor menyesuaikan pendekatan yang dipegunakannya dengan klien dan bukan sebaliknya.

    Konselor yang mengikuti satu pendekatan teoretik tertentu dan mengesampingkan yang lainnya harus berhati-hati agar tidak terjerumus pada perangkap berikut.
    1) Mempersepsi klien dan masalahnya sebatas orientasi teori tertentu yang dianutnya. Bila seorang konselor memandang klien hanya dari sudut tertentu saja maka hasil konselingnya pun akan menjadi parsial.
    2) Berusaha mencocokkan klien dengan teori meskipun pada kenyataannya tidak. Hasilnya dapat conterterapeutik.
    3) Konselor lebih memahami satu ahli teori tertentu daripada dirinya sendiri sehingga dia membahas teori tersebut dan bukan melakukan konseling.

    Menarik untuk diketahui bahwa banyak di antara para pendiri aliran utama konseling pun menekankan bahwa pendekatan terapinya itu bersifat tentatif. Mereka tidak menganjurkan orang untuk memandang teori dan strateginya sebagai sesuatu yang valid dalam semua situasi untuk semua orang. Misalnya, Freud menulis bahwa terdapat banyak cara untuk mempraktekkan psikoterapi. Yang baik adalah yang dapat menyembuhkan. Jung menulis bahwa teori dalam psikologi itu dapat sangat menyesatkan. Memang benar bahwa kita perlu memiliki sudut pandang tertentu sebagai landasan berpikir, tetapi teori-teori itu seyogyanya senantiasa dipandang hanya sebagai konsep-konsep pelengkap yang dapat dikesampingkan setiap saat.

    6. Manfaat Mempelajari KONSELING
    Terdapat banyak sekali manfaat mempelajari konseling, tergantung pada imaginasi dan upaya mahasiswa.
    a. Perkuliahan dan buku teks konseling dapat memberikan berbagai teori dan prinsip yang diperlukan untuk menjadi konselor yang efektif, dan pengalaman praktikum memberi kesempatan untuk memodifikasi, menguji, dan memoles apa yang sudah dipelajari dalam perkuliahan.
    b. Mahasiswa dapat memperoleh wawasan yang tepat tentang konseling sehingga dapat menentukan apakah konseling merupakan profesi yang cocok dengan kepribadianya. Konseling mencakup banyak prinsip praktis tentang perilaku manusia: teori tentang kepribadian, prinsip-prinsip penyesuaian personal dan sosial, dinamika hubungan interpersonal, dan unsur-unsur psikologi abnormal. Dengan mempelajari bagaimana fungsi seorang konselor profesional, orang dapat belajar cara berhubungan dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain secara lebih efektif.
    c. Konseling dapat membantu orang yang mengalami ataupun tidak mengalami masalah psikologis. Memperoleh ilmu konseling pada usia muda dapat membantu orang membangun fondasi yang lebih kuat untuk kehidupan selanjutnya, terlepas dari apakah dia akan memilih konseling sebagai karirnya ataupun tidak.

    Labels:

    Links to this post:

    Create a Link

    << Home

    :)

    Anda ingin mencari artikel lain? Silakan isi formulir pencarian di bawah ini. :)
    Google
  • Kembali ke DAFTAR ISI