DOCTYPE html PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML 1.0 Strict//EN" "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-strict.dtd"> Didi Tarsidi: Counseling, Blindness and Inclusive Education: Persepsi tentang Dampak Ketunanetraan terhadap Kehidupan Remaja
  • HOME


  • Guestbook -- Buku Tamu



    Anda adalah pengunjung ke

    Silakan isi Buku Tamu Saya. Terima kasih banyak.
  • Lihat Buku Tamu


  • Comment

    Jika anda ingin meninggalkan pesan atau komentar,
    atau ingin mengajukan pertanyaan yang memerlukan respon saya,
    silakan klik
  • Komentar dan Pertanyaan Anda




  • Contents

    Untuk menampilkan daftar lengkap isi blog ini, silakan klik
  • Contents -- Daftar Isi




  • Izin

    Anda boleh mengutip artikel-artikel di blog ini asalkan anda mencantumkan nama penulisnya dan alamat blog ini sebagai sumber referensi.


    14 November 2007

    Persepsi tentang Dampak Ketunanetraan terhadap Kehidupan Remaja

    L. Penny Rosenblum

    Reviu oleh Didi Tarsidi
    Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

    Abstrak

    Artikel ini melaporkan hasil penelitian terhadap 10 orang remaja tunanetra beserta sahabat karibnya yang awas. Penelitian tersebut menemukan bahwa masing-masing remaja mempunyai persepsi yang unik tentang dampak ketunanetraannya terhadap keluarganya, sekolahnya, dan hubungan persahabatannya.

    Latar Belakang

    Keinginan untuk diterima oleh teman sebayanya dan untuk mempertahankan rasa individualitasnya merupakan suatu dilema bagi sebagian besar remaja di Amerika Serikat (Feldman, 1998). Bagi remaja tunanetra, permasalahannya mungkin menjadi lebih kompleks bila mereka menelaah betapa ketunanetraannya mempengaruhi pandangan orang tentang siapa dirinya dan peran apa yang dapat mereka mainkan di dalam masyarakat yang memandang kecacatan secara negatif (Hanna & Rogovsky, 1991; Morris, 1994; Thomson, 1997). Meskipun remaja tunanetra mengalami banyak kesamaan permasalahan seperti teman-teman sebayanya yang awas atau remaja penyandang ketunaan lain, mereka juga mengalami beberapa permasalahan yang unik.
    Keunikan pertama adalah langkanya teman sebaya yang senasib karena kurang dari 2 dalam 1000 anak usia sekolah menyandang ketunanetraan (Corn & Koenig, 1996). Karena 90% anak tunanetra bersekolah di sekolah umum (Corn, Bina, & DePriest, 1995), maka banyak di antara mereka merupakan satu-satunya anak tunanetra di sekolahnya atau bahkan kadang-kadang di distriknya. Hal ini dapat membuat mereka mengira bahwa tidak ada orang lain yang membaca Braille atau menggunakan tongkat selain dirinya.
    Keunikan kedua adalah langkanya role model dan teman sebaya yang mengalami tantangan yang sama akibat ketunanetraan (Hutto & Hare, 1997; Peanstiehl, 1983). Kini di AS tidak jarang remaja tunanetra yang sedikit sekali atau bahkan tidak pernah berhubungan dengan tunanetra lain seusianya ataupun bertemu dengan orang dewasa tunanetra.
    Keunikan ketiga muncul ketika teman-teman sebayanya sudah berhak membuat surat izin mengemudi. Di dalam masyarakat yang berorientasi teknologi seperti AS, SIM dipandang sebagai satu batu loncatan, satu simbol kemandirian dan merupakan indikator bahwa masa remaja sudah mendekati masa dewasa (Corn & Rosenblum, 2000).
    Remaja tunanetra mungkin tidak merasa nyaman untuk membicarakan ketunanetraannya dengan keluarganya, gurunya, atau teman-temannya. Jadi, ketika mereka telah menjalin persahabatan dengan sebayanya yang awas, di mana mereka merasa nyaman untuk membicarakan permasalahannya, peran yang dimainkan oleh ketunanetraan di dalam hubungan persahabatan itu dapat merupakan tantangan yang unik bagi kedua belah pihak.

    Metode

    Dalam studi pendahuluan dengan sampel yang lebih besar, dikumpulkan data kuantitatif maupun kualitatif tentang perkembangan persahabatan, keintiman persahabatan, dan jenis kegiatan yang dilakukan dengan sahabatnya itu. Dari sampel besar yang terdiri dari 40 remaja tunanetra dan 23 sahabatnya itu (17 orang sahabat memilih untuk tidak berpartisipasi dalam penelitian ini), peneliti memilih 10 pasangan sahabat di antara 23 pasangan sahabat itu sebagai sampel untuk wawancara semi-terstruktur. Pemilihan sampel dilakukan atas dasar lokasi geografis, tingkat ketunanetraan dan gendernya, agar sedapat mungkin mewakili sampel yang lebih besar itu.

    Partisipan

    Dari 10 remaja tunanetra beserta sahabatnya itu, 4 berasal dari Arizona, 2 dari Minnesota, 2 dari Texas, 1 dari Oregon, dan 1 dari Wisconsin. Remaja tunanetra ini tergolong penyandang low vision atau functionally blind tanpa ketunaan lain. Semuanya mengikuti pendidikan umum di sekolah negeri untuk sekurang-kurangnya 50% hari sekolah, dan selebihnya memperoleh layanan dari guru pembimbing khusus bagi tunanetra dan instruktur O&M.

    Pertanyaan Penelitian

    Dalam penelitian ini, peneliti ingin mendeskripsikan persepsi remaja tunanetra mengenai lima hal:
    1) persepsi mereka terhadap ketunanetraannya sendiri dan keberfungsian sisa penglihatannya;
    2) pengalaman dengan keluarganya;
    3) pengaruh guru dan pengalaman sekolahnya;
    4) posisinya di dalam budaya teman sebaya (peer culture; dan
    5) pengalaman persahabatannya.
    Peneliti juga menganalisis persahabatan mereka dari perspektif sahabatnya yang awas.

    Prosedur Pengumpulan dan Analisis Data

    Peneliti mewawancarai kesepuluh pasangan sahabat itu antara bulan Juni dan September 1996 dan merekamnya untuk keperluan transkripsi dan analisis. Setiap pasangan dapat menentukan sendiri tempat wawancara. Tujuh wawancara dilaksanakan di rumah remaja tunanetra, satu di rumah sahabatnya, dan dua di tempat tinggal peneliti. Semua wawancara untuk pasangan yang sama dilakukan pada hari yang sama, sehingga sang sahabat tidak berkesempatan untuk membicarakan jawabannya sebelum wawancara dilaksanakan.
    Masing-masing wawancara dilaksanakan dalam tiga babak, masing-masing babak selama 30 hingga 60 menit. Babak pertama untuk wawancara dengan remaja tunanetra, babak kedua dengan sahabatnya, dan babak ketiga dengan kedua remaja itu bersama-sama. Dalam wawancara babak pertama dan kedua, yang dilakukan secara individual, remaja yang diwawancarai itu dapat berbicara secara terbuka tentang persahabatannya dan dampak ketunanetraan pada persahabatan itu.
    Setiap wawancara membicarakan empat topik:
    1) pengalaman keluarga;
    2) persahabatan sejak sekolah dasar hingga saat ini;
    3) persahabatan dengan remaja yang berpartisipasi dalam penelitian ini dan dampak ketunanetraan terhadap persahabatan tersebut; dan
    4) hal-hal yang berkaitan dengan kencan, status sosial, kelompok sosial, dan olok-olok orang.
    Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam wawancara bersama (di mana remaja tunanetra dan sahabatnya hadir sekaligus) berfokus pada keunikan persahabatan mereka, kegiatan bersama, rencana untuk masa depan, dampak ketunanetraan terhadap persahabatannya, keyakinan tentang individu tunanetra lain, dan masalah-masalah yang muncul dalam wawancara individual.
    Hasil setiap wawancara ditranskripsikan, dikodekan oleh peneliti dan dianalisis menggunakan program komputer Ethnograph. Ke-21 kode yang dikembangkan oleh peneliti mencakup kategori-kategori seperti kencan, keluarga, kegiatan, dan transportasi.

    Temuan

    Pertanyaan Penelitian 1: Ketunanetraan dan Keberfungsian Penglihatan
    Ketunanetraan pada 8 dari 10 remaja ini adalah ketunanetraan bawaan (congenital). Meskipun penglihatan beberapa partisipan (seperti Gail dan Irene) semakin memburuk (dari low vision menjadi buta), tetapi sisa penglihatan sebagian besar partisipan itu relatif stabil.
    Bagi Aaron dan Mary, tanda-tanda ketunanetraan baru tampak jelas sesudah mereka agak besar (di kelas 6 untuk Aaron, dan di kelas 5 untuk Mary).
    Menyadari bahwa ketunanetraannya tidak akan sembuh, memahami dan mampu menjelaskan ketunanetraannya kepada orang lain, dicapai melalui proses evolusi oleh semua partisipan, setelah mengalami beberapa tes untuk memastikan kebenaran diagnosis dokter tentang kondisi matanya itu.
    Tingkat negativisme tentang ketunanetraan di kalangan kesepuluh remaja tunanetra itu bervariasi. Esther berusaha "menyembunyikan" ketunanetraannya dari masyarakat dan teman-teman sebayanya. Sebagian besar partisipan lain mengakui bahwa mereka tidak menyukai ketunanetraannya, tetapi menyadari bahwa kondisi tersebut tidak dapat diubah dan tidak akan dapat disembunyikan. Aaron dan Gail tidak merasa begitu negatif. Gail berkata bahwa ketunanetraan bukan sesuatu yang harus diubah karena ketunanetraan telah "membuat saya menjadi diri saya". Aaron mendapati bahwa menjadi tunanetra itu merupakan pengalaman yang positif, "Ketunanetraan memberi saya sesuatu untuk memperolok-olok diri sendiri, sesuatu untuk dibicarakan, untuk memecahkan kebekuan pergaulan".
    Variabilitas sikap para partisipan terhadap ketunanetraannya itu merupakan peringatan bagi keluarga dan para profesional bahwa remaja tertentu merasa lebih nyaman daripada remaja lainnya dalam menerima ketunanetraannya dan dalam menjelaskannya kepada orang lain.

    Pertanyaan Penelitian 2: Pengalaman Keluarga
    Beberapa remaja (seperti Aaron dan Mary) memandang keluarganya sebagai membantu mereka memecahkan masalah-masalah yang terkait dengan ketunanetraannya.
    Tetapi mayoritas partisipan merasa bahwa orang tuanya tidak memahami mereka dan ketunanetraannya, dan memperlakukan mereka berbeda dari saudara-saudaranya. Orang tua Katie, misalnya, membatasi kebebasannya karena khawatir akan keselamatannya. Karena masa remaja biasanya merupakan masa di mana hubungan orang tua-anak tegang dan komunikasi renggang, persepsi partisipan mengenai orang tuanya itu tampaknya khas remaja.
    Partisipan lainnya mempunyai persepsi yang baur tentang pemahaman keluarganya tentang ketunanetraannya. Irene, misalnya, merasa bahwa anggota keluarganya selalu meragukan kemampuannya. "Mereka selalu bertanya apakah saya dapat memotong makanan sendiri meskipun mereka tahu bahwa saya bisa".
    Beberapa remaja tunanetra merasa bahwa mereka tidak benar-benar merupakan bagian dari keluarganya. Misalnya, ketika dia berbicara tentang ibunya, ayah tirinya, saudara-saudara tirinya, Chuck mengatakan, "Mereka selalu sibuk sendiri melakukan sesuatu, sedangkan saya dibiarkan saja". Gail mengatakan bahwa dia selalu dikucilkan sendiri dalam berbagai kegiatan keluarga.
    Remaja yang ketunanetraannya genetik merasa bahwa saudara-saudara kandungnya sering takut ketularan tunanetra.
    Bagi beberapa orang remaja yang mempunyai kakak yang juga tunanetra merasa lebih nyaman, mempunyai role model, dan memiliki sumber informasi yang dibutuhkannya.

    Pertanyaan Penelitian 3: Pengalaman dengan Guru dan Sekolah
    Beberapa di antara partisipan bersekolah di wilayah distrik yang sama sejak TK. Ketika mereka pindah distrik, layanan yang mereka terima dari guru pembimbing khusus bagi tunanetra dan instruktur O&M di wilayah baru itu lebih baik. Bagi Chuck dan Paul (keduanya pindah ke sekolahnya saat ini sejak di kelas tiga dan akhirnya dilayani oleh GPK yang sama) GPK itu membantu mereka memperoleh akses ke materi pelajaran di kelas reguler. Begitu juga dengan Irene, yang belajar Braille di kelas enam, dan Gail, yang belajar Braille di kelas lima, GPK telah membuat mereka menguasai Braille, yang memberi mereka cara untuk mengakses materi pelajaran bertulisan awas.
    Ada kalanya partisipan yang sudah memiliki keterampilan spesifik tunanetra (seperti membaca Braille dan menggunakan komputer bicara) tidak berkesempatan mengoptimalkan penggunaannya karena kurangnya dukungan dan perhatian dari guru reguler. Dalam situasi seperti ini, perasaan diabaikan dan frustrasi yang mereka alami mengakibatkan mereka merasa marah dengan ketunanetraannya. Beberapa partisipan melaporkan bahwa guru kelasnya memperlakukannya seperti anak kecil.
    Beberapa partisipan lain memandang GPK-nya sebagai teman yang dapat dipercaya, dan semuanya yakin bahwa GPK memainkan peran penting dalam mempromosikan pengertian staf sekolah lainnya tentang hal-hal yang terkait dengan ketunanetraan. Selain itu, beberapa partisipan juga mengatakan bahwa GPK dan instruktur O&M berperan dalam memberi mereka kesempatan untuk bertemu dengan tunanetra lain sebayanya untuk berbagi pengalaman.

    Pertanyaan Penelitian 4: Budaya Teman Sebaya (peer culture)
    Pengalaman para partisipan dalam pergaulan sosial dengan teman sebaya di sekolahnya bervariasi. Beberapa partisipan merasa sebagai orang luar kelompok sosial sekolahnya. Mereka diacuhkan atau sering diganggu.
    Para partisipan berpendapat bahwa ketidaktahuan teman-teman sebayanya mengenai ketunanetraan (misalnya mengira bahwa ketunanetraan itu menular) sering berdampak pada status sosialnya. Hampir semua partisipan melaporkan pernah diganggu karena ketunanetraannya.
    Akan tetapi, beberapa partisipan merasa bahwa ketunanetraannya tidak menurunkan status sosialnya. Misalnya, ketika ditanya bagaimana reaksi teman-teman sebayanya terhadap ketunanetraannya, Aaron berkata, "Anak seumur saya biasanya jika mereka mengatakan sesuatu, mereka akan mengatakan apa pun tentang kekurangan saya, dan saya akan balik membalasnya. Saya tinggi besar (185 cm tinggi), saya bisa memperolok-olokkan mereka. Satu-satunya yang tidak bisa saya lakukan adalah menyetir".
    Semua remaja tunanetra menyadari pentingnya memiliki SIM bagi anak remaja di Amerika Serikat. Kecuali Paul, yang belajar menyetir dengan menggunakan sistem teleskop bioptik, para partisipan mengatakan bahwa masalah unik yang mereka hadapi sebagai remaja adalah ketidakmampuan mengemudi. Untuk transportasi, beberapa bergantung pada orang tua, tetapi lebih banyak yang bergantung pada teman sebaya yang memberinya tumpangan.
    Semua partisipan menyamakan kemampuan mengemudi dengan kemandirian dan kebebasan.

    Pertanyaan Penelitian 5: Persahabatan
    Semua partisipan merasa yakin bahwa mereka mempunyai sahabat sebaya yang saling menghargai. Kecuali persahabatan antara Esther dan Frances, semua partisipan mengawali persahabatannya di sekolah. Kesamaan minat pada umumnya merupakan pemicu berkembangnya persahabatan itu. Minat partisipan mencakup bermain peran, elektronik, konstruksi, perkayuan, paduan suara, main gitar, dan tari.
    Sebagian besar partisipan mengemukakan bahwa persahabatannya sering perlu waktu lama untuk berkembang, untuk membuat orang awas menyadari bahwa orang tunanetra tidak begitu berbeda, dan bahwa fase awal merupakan fase tersulit.
    Beberapa partisipan mengemukakan bahwa untuk mendapatkan orang awas yang mau bersahabat dengannya, mereka perlu mendekati teman sekelas yang tidak begitu disukai oleh teman-teman lain di kelasnya.
    Katie mengatakan bahwa dia kadang-kadang mendapatkan teman baru di luar sekolah melalui Internet. Dia berkata, seandainya dunia nyata ini seperti di Internet, maka akan jauh lebih mudah untuk mendapatkan teman, karena persahabatan dapat berkembang sebelum kedua belah pihak mengetahui bahwa sahabat barunya itu ternyata cacat.

    Perspektif Sahabat Awas

    Sebagaimana halnya remaja tunanetra, banyak di antara sahabatnya yang awas mengemukakan bahwa awal dari persahabatannya merupakan masa-masa yang paling penuh tantangan, ketika kedua belah pihak masih saling mengenal.
    Beberapa sahabat, seperti Nancy, sangat sadar bahwa temannya itu tunanetra, dan pada awalnya dia ragu tentang cara mendekati temannya yang tunanetra itu. Nancy berkata, "Mulanya saya agak khawatir, khawatir kalau-kalau saya harus berperilaku berbeda di hadapannya atau harus memperlakukannya secara berbeda, tetapi sesudah agak lama kekhawatiran itu hilang. Kami ngobrol normal."
    Beberapa di antara sahabat awas ini mempunyai saudara yang cacat. Pengalaman tersebut memberi mereka tingkat empati dan pengertian yang lebih tinggi.
    Di dalam hubungan persahabatan itu, konsep resiprositas dipahami dan dipraktekkan oleh kedua belah pihak. Mereka saling menolong dengan caranya masing-masing. Bob berkata bahwa Aaron sangat besar bantuannya baginya dalam pergaulan sosial. "Saya sendiri selalu terkucil sebelum mengenal Aaron, dan kemudian saya kenal dengan banyak orang melalui dia." Persahabatan Ray dan Paul berkembang karena Paul membantu Ray belajar main gitar.
    Ketika ditanya apakah lebih mudah, lebih sulit, atau sama saja bersahabat dengan orang tunanetra, jawabannya bervariasi, tetapi kebanyakan mengatakan lebih sulit. Jane, misalnya, mengatakan bahwa dengan sahabat yang tunanetra, dia harus lebih memperhatikannya, lebih berhati-hati agar tidak mencelakainya.
    Namun demikian, para sahabat ini yakin bahwa persahabatannya dengan remaja yang tunanetra itu sangat menyenangkan, dan oleh karenanya agak repot sedikit untuk mengatasi hilangnya atau berkurangnya fungsi penglihatan itu tidak menjadi masalah.

    Kesimpulan

    Keluarga dan profesional dapat memperoleh pemahaman yang lebih dalam dari pengalaman remaja tunanetra yang diwawancarai dalam penelitian ini. Berikut ini adalah kesimpulan pengalaman dan persepsi mereka.
    1. Hasil wawancara itu mengkonfirmasikan heterogenitas populasi remaja tunanetra, dalam pengertian bahwa pengalaman partisipan dengan ketunanetraannya dan persepsinya tentang dampak ketunanetraan terhadap kehidupannya bervariasi.
    2. Beberapa di antara remaja itu merasa terkucil dari keluarganya satu perasaan yang dapat berdampak negatif pada rasa harga dirinya.
    3. Para remaja ini sering merasa sebagai orang luar di dalam hirarki budaya sekolahnya dan tidak memandang dirinya sebagai bagian dari kelompok teman-temannya. Namun demikian, mereka masih berhasil mendapatkan sahabat. Oleh karena itu, penting untuk diakui bahwa seorang anak dapat menjadi orang luar tetapi tetap membina hubungan sosial yang bermanfaat dan bermakna.
    4. Keluarga dan profesional harus mengakui bahwa olok-olok sering merupakan bagian dari milieu sosial sekolah. Oleh karenanya, anak tunanetra perlu mendapatkan pembelajaran yang sistematis untuk mengembangkan keterampilan interpersonal agar dapat mengatasi pengalaman-pengalaman negatif dan memperoleh rasa percaya diri dan merasa dihargai. Di pihak lain, guru-guru dan lembaga penyedia layanan perlu diajari strategi intervensi yang tepat bagi anak tunanetra agar dapat menghindari perlakuan yang tidak sepatutnya.
    5. Remaja tunanetra yang memiliki keterampilan advokasi yang baik dapat membantu mereka mengatasi pengalaman-pengalaman negatif dan mampu mengkomunikasikan apa yang diinginkan dan dibutuhkannya secara efektif.
    6. Remaja tunanetra dalam penelitian ini merasa kehilangan haknya untuk dapat mengemudi, dan banyak di antara mereka menyesalkan ketergantungannya kepada keluarga dan teman-temannya untuk transportasi. Oleh karena itu, penting bagi keluarga dan profesional untuk memberi pengertian kepada remaja tunanetra bahwa mereka dapat mandiri dalam transportasinya meskipun tidak dapat mengemudi, yaitu dengan mengajarkan kepada mereka keterampilan untuk menggunakan berbagai macam alat transportasi umum.
    7. Hasil wawancara dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa salah satu kunci keberhasilan dalam menjalin persahabatan antara remaja tunanetra dan awas adalah dengan menemukan kegiatan yang dapat dilakukan bersama-sama (oleh orang tunanetra dan orang awas) atas dasar kesamaan kesukaan dan partisipasi penuh. Oleh karena itu, penting bagi keluarga dan profesional untuk membimbing anak tunanetra mengeksplorasi berbagai kemungkinan hobi dan mengembangkan keterampilan dalam satu atau dua bidang kegiatan yang dapat mereka lakukan bersama-sama dengan anak awas.

    Meskipun penelitian ini menggunakan jumlah sampel yang sangat kecil, tetapi kesimpulan yang dapat ditarik darinya tampaknya memiliki tingkat generalabilitas yang cukup tinggi untuk populasi remaja tunanetra di Indonesia, kecuali yang terkait dengan mengemudi. Karena perbedaan status ekonomi, persentase populasi remaja pemilik SIM di Indonesia tidak sebesar di Amerika Serikat, dan oleh karenanya tingkat frustrasi remaja tunanetra Indonesia akibat tidak dapat mengemudi pun tampaknya tidak signifikan.

    Referensi:
    Rosenblum, L. P. (2000). Perceptions of the Impact of Visual Impairment on the Lives of Adolescents. Journal of Visual Impairment and Blindness, July 2000, pp. 434 445.

    Labels: ,

    Links to this post:

    Create a Link

    << Home

    :)

    Anda ingin mencari artikel lain? Silakan isi formulir pencarian di bawah ini. :)
    Google
  • Kembali ke DAFTAR ISI