DOCTYPE html PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML 1.0 Strict//EN" "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-strict.dtd"> Didi Tarsidi: Counseling, Blindness and Inclusive Education: MOTIVASI: Apa yang mendorong orang berbuat sesuatu?
  • HOME


  • Guestbook -- Buku Tamu



    Anda adalah pengunjung ke

    Silakan isi Buku Tamu Saya. Terima kasih banyak.
  • Lihat Buku Tamu


  • Comment

    Jika anda ingin meninggalkan pesan atau komentar,
    atau ingin mengajukan pertanyaan yang memerlukan respon saya,
    silakan klik
  • Komentar dan Pertanyaan Anda




  • Contents

    Untuk menampilkan daftar lengkap isi blog ini, silakan klik
  • Contents -- Daftar Isi




  • Izin

    Anda boleh mengutip artikel-artikel di blog ini asalkan anda mencantumkan nama penulisnya dan alamat blog ini sebagai sumber referensi.


    02 March 2008

    MOTIVASI: Apa yang mendorong orang berbuat sesuatu?

    Diintisarikan dari:
    Krech, D.; Crutchfield, R.S.; & Ballachey, E.L. (1982). Individual in Society.
    Chapter 3: Motivation. Berkeley: McGraw-Hill International Book Company.

    Oleh Didi Tarsidi
    Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

    Pikiran dan tindakan individu mencerminkan keinginan dan tujuan yang hendak dicapainya.

    Kognisi berkaitan erat dengan keinginan dan tujuan. Keinginan dan tujuan berperan sangat penting dalam mengarahkan pikiran dan tindakan. Keinginan individu mengintegrasikan dan mengorganisasikan semua aktivitas psikologisnya dalam mengarahkan dan mempertahankan tindakannya menuju suatu tujuan. Apa yang dipersepsinya, apa yang dipikirkannya, apa yang dirasakannya, kebiasaan lama yang mana yang diaktifkannya, kebiasaan baru apa yang dibentuknya - kesemuanya ini dipengaruhi oleh keinginan yang mendorong individu untuk bertindak serta tujuan yang ingin dicapainya. Hubungan antara keinginan, tujuan dan perilaku itu sangat kompleks dan sulit dimengerti.
    Di sini kita dapat mengemukakan dua generalisasi sederhana yang saling menunjang, yang sekaligus menunjukkan kompleksnya hubungan antara keinginan, tujuan, dan tindakan. Di satu pihak, beberapa tindakan yang serupa dapat berhubungan dengan berbagai keinginan yang berbeda-beda. Di pihak lain, beberapa tindakan yang berbeda-beda dapat mencerminkan keinginan-keinginan yang serupa. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati karena meskipun perilaku dapat mencerminkan keinginan dan tujuan, tetapi perilaku tidak hanya ditentukan oleh keinginan dan tujuan. Perilaku ditentukan oleh banyak hal - oleh kondisi situasional, kognisi, kebiasaan dan sikap sosial, di samping oleh keinginan individu.

    Keinginan dan tujuan individu senantiasa berkembang dan berubah.

    Pikiran dan tindakan individu mencerminkan keinginan dan tujuan yang hendak dicapainya. Hubungan di antara keduanya bersifat kompleks: tindakan-tindakan yang serupa dapat mencerminkan bermacam-macam keinginan, tetapi bermacam-macam tindakan dapat pula mencerminkan keinginan yang sama.
    Keinginan dan tujuan senantiasa berkembang dan berubah sebagai akibat perubahan dalam keadaan fisiologis individu serta pengalaman-pengalamannya saat dia berinteraksi dengan berbagai obyek dan orang. Keinginan dapat berubah bentuk melalui penggabungan berbagai macam keinginan. Seberapa sering keinginan itu terpenuhi atau tidak terpenuhi turut menentukan kekuatan dan keutamaan (primacy) keinginan tersebut serta menentukan kesiapan keinginan-keinginan lainnya untuk muncul dalam urutan perkembangan yang teratur.
    Untuk setiap keinginan mungkin terdapat banyak macam tujuan yang tepat. Tujuan mana yang berkembang untuk individu tertentu tergantung pada nilai-nilai budaya, kapasitas biologis, pengalaman pribadi, dan ketersediaannya di dalam lingkungan. Jika tujuan yang tepat tidak tersedia, individu mungkin akan mengembangkan tujuan pengganti, yang pada gilirannya dapat menjadi tujuan utama. Lamanya tindakan menuju tujuan jangka panjang dipertahankan oleh pencapaian tujuan jangka menengah.

    Keinginan dan tujuan terorganisasi di sekitar diri sendiri (the self).

    Manusia tidak hanya merespon terhadap obyek dan orang di lingkungan luar, tetapi juga terhadap tubuhnya sendiri, pikirannya sendiri, perasaannya sendiri. Dengan melakukan hal itu, dia mengembangkan kognisi tentang dirinya sendiri (the self) sebagai obyek sentral yang sangat penting. Dan the self memainkan peran yang sangat penting dalam motivasi: mengorganisasikan keinginan dan tujuan individu, dan menjadi obyek dari keinginan dan tujuan yang penting yang berkaitan dengan peningkatan diri dan bela diri. The self merupakan produk interaksi sosial dan cenderung didefinisikan berdasarkan keanggotaan dalam kelompok.

    Evaluasi diri (self-evaluation) pada intinya merupakan perbandingan antara diri dengan berbagai kelompok rujukan (reference groups), yaitu kelompok di mana diri menjadi anggotanya serta kelompok yang ingin dimasukinya. Evaluasi diri sangat tergantung pada pencapaian tujuan-tujuan yang mencerminkan nilai-nilai kelompok. Standar kinerja yang dijadikan dasar evaluasi diri sebagian ditentukan oleh status relatif individu - semakin tinggi status individu akan semakin tinggi pula tingkat aspirasinya, dan semakin rendah statusnya akan semakin rendah pula tingkat aspirasinya. Lebih jauh, individu yang berstatus tinggi lebih berkemungkinan untuk menerima isyarat-isyarat dari orang lain, yang pada gilirannya akan mempertinggi standar evaluasi dirinya.
    Konsepsi diri (self-conception) individu turut mempertinggi tingkat keinginan dan tujuan tertentu, terutama keinginan dan tujuan yang berkaitan dengan harga diri (selfesteem).

    Munculnya keinginan-keinginan tertentu tergantung pada keadaan fisiologis individu saat ini, situasi, dan kognisi individu.

    Sebagian besar dari banyak keinginan individu itu tidak aktif atau terpendam; hanya satu rumpun keinginan tertentu yang aktif dalam mengarahkan dan mempertahankan perilaku dalam satu peristiwa perilaku interpersonal. Munculnya satu rumpun keinginan tertentu pada diri individu tergantung pada keadaan fisiologisnya, situasi lingkungan, dan pikirannya.

    Peran Keadaan Fisiologis dalam Membangkitkan Keinginan
    Satu sumber pembangkit keinginan terdapat dalam rangkaian peristiwa fisiologis yang berinteraksi secara kompleks. Misalnya, faktor-faktor fisiologis yang terlibat dalam pembangkitan keinginan untuk makan meliputi kepekaan indra pengecap, kontraksi perut, tingkat gula darah, keadaan hormon, dan aktivitas syaraf yang berpusat di dalam hypothalamus.
    Data eksperimental terbaru menunjukkan bahwa otak berperan penting dalam membangkitkan dan mengontrol keinginan secara fisiologis.
    Terdapat beberapa hal yang menunjukkan adanya relevansi antara faktor-faktor fisiologis dengan psikologi sosial.
    Pertama, terdapat dampak yang sangat penting pada perilaku sosial individu dari beberapa keinginan yang vital yang dasar fisiologisnya telah diteliti (rasa lapar, sex, dorongan-dorongan "abnormal" seperti alkoholisme, kecanduan obat-obatan keras).
    Kedua, keadaan-keadaan fisiologis tertentu dapat mempunyai dampak yang penting pada munculnya atau tidak munculnya keinginan-keinginan lain pada diri individu (misalnya, apati akibat malnutrisi, munculnya keinginan yang lebih tinggi akibat tekanan keinginan biologis).
    Ketiga, perbedaan-perbedaan individual dalam potensi berbagai keinginan sebagian disebabkan oleh faktor-faktor fisiologis.

    Peran Situasi dalam Pembangkitan Keinginan
    Rumpun keinginan tertentu yang diaktifkan pada satu saat juga ditentukan oleh isyarat-isyarat tertentu yang terdapat dalam situasi lingkungan. Isyarat-isyarat situasional tersebut dapat merangsang munculnya keinginan terpendam; dapat juga berfungsi untuk memperkuat suatu keinginan yang sudah aktif. Isyarat situasional yang paling kuat dalam membangkitkan dan memperkuat keinginan adalah obyek tujuan yang benar-benar ada di dalam situasi saat itu. Baik faktor-faktor genetik maupun faktor belajar menentukan kuatnya obyek tujuan dalam membangkitkan keinginan. Isyarat situasional itu dapat pula berbentuk simbol-simbol dan isyarat-isyarat tak langsung yang berkaitan dengan tujuan dan pencapaiannya.

    Kompleksitas Situasi. Jumlah dan jenis keinginan yang muncul tergantung pada kompleksitas situasi. Akan kecil kemungkinannya bagi suatu keinginan untuk tetap terpendam dalam lingkungan yang kaya, bervariasi dan kompleks. Asesmen yang tepat mengenai potensi suatu situasi dalam membangkitkan keinginan merupakan peran yang sangat penting dari psikologi sosial.

    Peran Kognisi dalam Pembangkitan Keinginan
    Produk pemikiran sering kali berupa munculnya keinginan. Ini terutama terjadi pada sejenis pemikiran autistik yang terdapat dalam fantasi dan lamunan. Kadang-kadang fantasi itu muncul akibat tidak segera terpenuhinya keinginan dalam dunia nyata; individu dapat berimaginasi dalam berbagai macam situasi yang dapat memunculkan dan memperkuat berbagai keinginan - keinginan yang dapat menjadi cukup kuat sehingga individu merasa harus melakukan sesuatu yang realistis untuk mewujudkannya. Ada kalanya fantasi juga muncul akibat rasa bosan dan tidak adanya stimulasi eksternal. Perasaan kekosongan temporer itu kemudian dapat mengakibatkan meningginya tingkat pemunculan keinginan. Berada terlalu lama dalam lingkungan yang tidak memberikan stimulasi dan miskin obyek tujuan akan menimbulkan dampak yang berbeda. Karena terus-menerus frustrasi akibat tidak mungkinnya mencapai tujuan-tujuan tertentu, individu dapat "lupa" akan keinginan-keinginan yang berkaitan dengan itu. Keinginan aktifnya dapat menurun jumlahnya, menyesuaikan dengan lingkungan yang miskin dengan potensi pembangkitan keinginannya.

    Metode-metode dan Permasalahan dalam Pengukuran Keinginan
    Terdapat tiga jenis metode untuk memastikan dan mengukur keinginan atau tujuan: (1) menarik inferensi dari tindakan (inference from actions), (2) menggunakan laporan subyektif (subjective report), dan (3) menggunakan berbagai macam teknik proyektif (projective technique). Ketiga metode ini saling melengkapi, dan dapat dipergunakan dalam setiap penelitian tentang motivasi manusia.

    Inferensi dari Tindakan (Inference from Actions). Dalam metode pertama ini, karakteristik tindakan individu dijadikan dasar untuk inferensi tentang keinginan efektif yang mendorongnya. Berbagai karakteristik tindakan dipergunakan, termasuk perilaku perseptual dan emosional. Di antara indeks keinginan itu adalah: pencarian, pemilihan, atau perhatian terhadap obyek atau golongan obyek tertentu; konsistensi dalam rangkaian tindakan hingga obyek tertentu dicapai atau suatu aktivitas tertentu dilakukan, di mana tindakan itu tampaknya berhenti; manifestasi rasa puas akan pencapaian tujuan tertentu atau manifestasi ketidakpuasan bila gagal mencapai tujuan tertentu. Secara konsisten menghindari suatu obyek - seperti bila seorang anak menyeberang jalan untuk menghindari jeger kampungnya - dapat juga memberikan inferensi tentang motivasi.
    Menggunakan satu indeks saja tidak dapat diharapkan memberikan indikasi yang sempurna tentang keinginan yang mendasar, tetapi menggunakan beberapa indeks sekaligus sering terbukti diagnostik. Jadi, misalnya, orang yang selalu mendahulukan membaca halaman koran yang memuat berita keuangan sebelum membaca berita-berita lain; yang selalu ingin bergaul dengan orang kaya; yang bekerja lama dan keras di tempat usahanya, lebih suka tinggal setengah jam lebih lama di sana daripada di bar atau di rumah; dan orang tersebut akan sangat kecewa bila pembukuan usahanya menunjukkan penurunan dalam keuntungannya. Kita dapat menarik inferensi bahwa orang tersebut dimotivasi oleh keinginan untuk memiliki (acquisitive want).
    Akan tetapi, sering konsistensi kehadiran sejumlah indeks perilaku yang menunjukkan keinginan tertentu dapat membawa kita pada inferensi yang salah. Sebagaimana telah kita lihat pada bagian terdahulu, bermacam-macam keinginan dapat dimanifestasikan dalam tindakan-tindakan yang kelihatannya sama. Untuk menghindari kesalahan dalam menarik inferensi, analisis motivasi berdasarkan kriteria perilaku sebaiknya didukung dengan metode-metode lain seperti metode laporan subyektif (subjective report).

    Laporan Subyektif (Subjective Report). Banyak keinginan individu dapat terungkap dengan hanya dengan menanyakan kepadanya apa yang diinginkannya. Dalam banyak kasus, individu dapat melaporkan secara langsung tentang keinginan-keinginannya pada saat dia mengalaminya, tentang tujuan yang sedang diupayakan pencapaiannya, tentang kekhawatiran dan keengganannya, tentang perasaan keberhasilan dan kegagalannya. Tentu saja laporan seperti ini dapat menghasilkan data yang dapat diukur dan diberi skor untuk mengindikasikan "kekuatan" keinginannya.
    Sering kali individu sengaja menyembunyikan atau mengaburkan keadaan yang sesungguhnya karena berbagai alasan seperti karena ingin memberi kesan yang baik, karena ingin menyenangkan pewawancaranya, karena ingin menghindari sanksi sosial. Tetapi kalaupun individu itu jujur, kita tidak dapat begitu saja mengambil datanya sebagaimana adanya.

    Teknik Proyektif (Projective Techniques). Teknik proyektif mencakup meminta subyek untuk bereaksi terhadap stimuli ambigu (misalnya gambar atau desain yang samar). Teknik ini berasumsi bahwa keinginan subyek akan mempengaruhi tindakannya pada saat dia mempersepsi stimuli ambigu tersebut - bahwa dia akan "memproyeksikan" keinginannya pada stimuli ambigu itu. Tidak menjadi masalah apakah keinginan itu disadarinya atau tidak, karena salah satu asumsi dasar teknik proyektif ini adalah individu itu tidak menyadari apa yang terungkap melalui responnya.

    Beberapa Keinginan Sosial Utama Yang Biasa Dimiliki Orang Barat

    Manusia memiliki lebih banyak keinginan daripada binatang terutama karena sistem-sistem syarafnya lebih kompleks.
    Beberapa keinginan sosial utama yang mempengaruhi perilaku sosial orang barat adalah: afiliasi, kepemilikan, prestise, kekuasaan, altruisme, rasa ingin tahu.

    Keinginan Berafiliasi (Affiliation Want)
    Orang di mana-mana tampaknya mendapatkan kepuasan bila berhubungan atau sekedar berdekatan dengan orang lain. Dalam mencari pertemananitu, orang-orang tertentu juga mencari prestise dan kekuasaan.
    Interpretasi tentang keinginan afiliasi ini sudah lama diteliti para ahli. Trotter (1920) mengemukakan bahwa keinginan afiliasi merupakan satu dari empat naluri yang memainkan peranan terpenting dalam kehidupan manusia. Tiga naluri lainnya adalah pelestarian diri, nutrisi, dan sex.
    Sumner dan Keller (1927) berpendapat bahwa keinginan afiliasi tidak bersifat naluriah. Mereka berargumentasi bahwa keinginan afiliasi telah menjadi karakteristik manusia karena nilai survivalnya yang tinggi. Dalam kelompok, banyak fungsi yang tidak dapat dilaksanakan seorang diri (seperti perdagangan dan pertukaran barang, pertahanan terhadap musuh, upacara ritual, pembagian kerja, dll.) dapat dilaksanakan secara berkelompok. Juga, kehidupan berkelompok pada umumnya lebih mudah dan lebih aman.
    Memang jelas bahwa ungkapan keinginan afiliasi mengarah pada terbentuknya kehidupan berkelompok. Itulah sebabnya ada ilmuwan sosial yang berpendapat bahwa jumlah kelompok di mana individu menjadi anggotanya dapat dipergunakan sebagai ukuran keinginan afiliasinya. Jumlah kelompok formal yang ada di dalam satu masyarakat juga dapat dipakai sebagai ukuran keinginan afiliasi masyarakat tersebut.
    Schachter (1959) mengemukakan bahwa keinginan afiliasi yang kuat mungkin ada kaitannya dengan kecemasan. Penelitiannya mengindikasikan bahwa orang yang tinggi tingkat kecemasannya mempunyai keinginan yang lebih besar untuk bersama orang lain daripada orang yang tingkat kecemasannya lebih rendah. Menurut Schachter, keadaan bersama-sama dengan orang lain mempunyai dua fungsi utama bagi individu yang cemas. Pertama, ditemani orang lain yang sama-sama berada dalam kesusahan dapat mengurangi kecemasan. Kedua, bersama orang lain dapat memberi individu isyarat sosial yang akan membantunya menginterpretasikan situasi-situasi baru yang dapat menimbulkan kecemasan.
    Di samping itu, Schachter juga melaporkan bahwa orang yang merupakan anak pertama dan anak tunggal, bila mereka sangat cemas, jauh lebih suka ditemani daripada orang yang mempunyai kakak.

    Keinginan Memiliki (Acquisitive Want) Dan Keinginan Prestise (Prestige Want)
    Bagi banyak orang, obyek material diidentifikasikan dengan diri, dan pemilikan kekayaan identik dengan peningkatan diri. Dan di dalam masyarakat "akuisitif" di dunia Barat, prestise sering diukur dengan menghitung jumlah dan nilai benda-benda material yang dikumpulkan oleh individu.
    Ungkapan keinginan prestise berbeda-beda dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya. Di dalam masyarakat tertentu, prestise diidentifikasikan dengan mistik kefakiran. Dan di dalam masyarakat lain, keinginan prestise dinyatakan dalam bentuk "penghilangan diri" (seperti dengan bertapa).

    Keinginan Kekuasaan (Power Want)
    Keinginan kekuasaan - keinginan untuk mengendalikan orang lain atau obyek, mendapatkan kepatuhan dari mereka, memaksa mereka untuk berbuat, menentukan nasib mereka - mempunyai arti yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Keinginan kekuasaan inilah yang harus dimiliki oleh pemimpin yang efektif, dan masyarakat dengan pemimpin yang efektif seperti inilah yang dapat bertahan dalam masa-masa krisis. Tetapi keinginan ini pulalah yang dapat membawa masyarakat ke kehancuran.
    Keinginan kekuasaan mungkin bersumber dari kebutuhan pembelaan diri dan peningkatan diri.

    Keinginan Altruistik (Altruistic Want)
    Perilaku manusia berorientasi pada diri sendiri serta berorientasi pada diri orang lain. Dia bekerja untuk memajukan dirinya sendiri serta untuk menolong orang lain. Keinginan untuk menolong orang lain (atau keinginan altruistik), muncul sejak awal masa kanak-kanak.

    Keinginan Mengetahui (Curiosity Want)
    Manusia adalah hewan yang penuh dengan rasa ingin tahu. Dia senantiasa berminat untuk mengeksplorasi dunianya dan memanipulasi obyek-obyek yang ada di dalamnya. Rasa ingin tahu mempunyai akar biologis yang dalam, dan terkait erat dengan keinginan manusia yang tak ada hentinya untuk mencari pengetahuan baru. Upaya pencarian pengetahuan oleh manusia itu dimotivasi oleh kebutuhan untuk memecahkan masalah sehari-hari, atau sekedar demi memperoleh penjelasan atas hal-hal yang tidak dimengertinya. Kekuatan rasa ingin tahu itu sangat bervariasi dari individu ke individu. Dalam analisis faktor-faktor motif manusia, Cattell (1957) mengemukakan bahwa perbedaan satu individu dengan individu lainnya ditunjukkan oleh perbedaan dalam keinginannya, yang dia namakan eksplorasi, yang menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan individual yang jelas.
    Munculnya rasa ingin tahu itu sebagian dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya. Lingkungan yang kaya dan kompleks akan membangkitkan lebih banyak rasa ingin tahu dan lebih banyak upaya pencarian penjelasan tentang berbagai hal daripada lingkungan yang gersang.

    Labels: ,

    Links to this post:

    Create a Link

    << Home

    :)

    Anda ingin mencari artikel lain? Silakan isi formulir pencarian di bawah ini. :)
    Google
  • Kembali ke DAFTAR ISI