DOCTYPE html PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML 1.0 Strict//EN" "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-strict.dtd"> Didi Tarsidi: Counseling, Blindness and Inclusive Education: METODE-METODE PENGUKURAN SIKAP DAN PERMASALAHANNYA
  • HOME


  • Guestbook -- Buku Tamu



    Anda adalah pengunjung ke

    Silakan isi Buku Tamu Saya. Terima kasih banyak.
  • Lihat Buku Tamu


  • Comment

    Jika anda ingin meninggalkan pesan atau komentar,
    atau ingin mengajukan pertanyaan yang memerlukan respon saya,
    silakan klik
  • Komentar dan Pertanyaan Anda




  • Contents

    Untuk menampilkan daftar lengkap isi blog ini, silakan klik
  • Contents -- Daftar Isi




  • Izin

    Anda boleh mengutip artikel-artikel di blog ini asalkan anda mencantumkan nama penulisnya dan alamat blog ini sebagai sumber referensi.


    31 May 2008

    METODE-METODE PENGUKURAN SIKAP DAN PERMASALAHANNYA

    Diintisarikan dari:
    Krech, D.; Crutchfield, R.S.; & Ballachey, E.L. (1982). Individual in Society.
    Chapter 5: The Nature and Measurement of Attitudes. Berkeley: McGraw-Hill International Book Company.

    Oleh Didi Tarsidi
    Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

    Untuk menggunakan konsep sikap dalam memahami dan memprediksi tindakan, kita perlu alat ukur yang reliabel dan valid. Pengukuran sikap itu harus dilakukan secara tak langsung. Sikap hanya dapat diukur berdasarkan inferensi yang ditarik dari respon-respon individu terhadap obyek, tindakan-tindakannya yang nyata dan pernyataan lisannya tentang keyakinannya, perasaannya, dan disposisinya untuk bertindak sekaitan dengan obyek tersebut. Salah satu metode yang paling banyak dipergunakan untuk mengukur sikap itu adalah skala sikap, yang terdiri dari seperangkat pernyataan atau item, yang terhadapnya individu mengindikasikan kesetujuan atau ketidaksetujuannya. Pola respon individu terhadap item-item tersebut memberikan jalan bagi psikolog untuk menarik inferensi tentang sikapnya.

    Kriteria Pemilihan Skala Sikap

    Untuk memilih skala sikap yang tepat, hal-hal berikut ini harus dipertimbangkan: perumusan item, jenis item, metode penyekalaan, reliabilitas dan validitas skala sikap.

    Perumusan Item. Dalam menentukan item apa yang akan dimasukkan dalam suatu skala, dan berapa item yang diperlukan, empat kriteria berikut ini dapat dipergunakan:
    1. Membedakan fungsi. Sebuah item harus dapat benar-benar membedakan orang berdasarkan warna sikapnya.
    2. Ketajaman pembedaan. Item-item juga harus mampu membedakan setajam mungkin.
    3. Pembedaan secara halus. Item sebaiknya tidak hanya mampu membedakan antara domba dan kambing, tetapi juga harus mampu membedakan antara domba yang lebih ekstrim dengan domba yang kurang ekstrim, antara kambing yang lebih ekstrim dengan kambing yang tidak begitu ekstrim.
    4. Jumlah item yang minimal dengan tingkat reliabilitas yang tinggi. Semakin banyak jumlah item dalam satu skala, semakin tinggi pula tingkat reliabilitasnya. Tetapi jumlah item yang minimal dengan tingkat reliabilitas yang tinggi akan efisien.

    Jenis-jenis Item. Dua jenis item utama telah dipergunakan dalam pembuatan skala sikap. Jenis yang paling banyak dipergunakan adalah pernyataan evaluatif tentang obyek, yang mengungkap komponen kognisi dan perasaan.
    Item jenis kedua, yang hanya dipergunakan dalam beberapa skala saja, terdiri dari deskripsi tentang tindakan spesifik terhadap obyek yang disikapi dalam situasi tertentu. Subyek ditanya apakah dia akan atau tidak akan melakukan tindakan tersebut.

    Metode-metode Penyekalaan. Terdapat lima metode penyakalaan utama: metode equal-appearing intervals, metode summated ratings, social-distance scale, cumulative-scaling method, dan scale-discrimination technique.

    Metode EQUAL-APPEARING INTERVALS. Thurstone dan Chave (1929) adalah pencipta konstruksi metode skala sikap. Mereka menerbitkan sejumlah skala khusus untuk mengukur berbagai sikap terhadap perang, gereja, hukuman mati, evolusi, orang Negro, pembatasan kelahiran, sensor, orang Cina, dll. Skala Thurstone dapat dikembangkan untuk mengukur sikap terhadap obyek apa pun. Yang mendasar pada metode ini adalah penggunaan penilai untuk menetapkan nilai skala pada setiap item dalam tes.
    Salah satu kritik utama terhadap metode equal-appearing intervals ini adalah bahwa sikap penilai dapat mempengaruhi penilaiannya.
    Berikut ini adalah contoh skala Thurstone yang dikembangkan oleh Rosander (1937) untuk mengukur sikap terhadap orang Negro. Nilai skala dari setiap item diberikan di dalam kurung di sebelah kiri.

    (1.2) Anda sedang mandi di pantai. Beberapa orang Negro mendekat dan masuk ke air dekat anda. Anda bertengkar dengan mereka.
    (6.2) Di masyarakat tempat anda tinggal, seorang Negro menikah dengan seorang gadis kulit putih. Anda tidak berbuat apa-apa sehubungan dengan hal tersebut.
    (11.5) Sebuah keluarga Negro pindah ke daerah pemukiman tempat tinggal anda. Anda mengundang mereka ke rumah anda.

    SOCIAL-DISTANCe SCALE. Bogardus (1925) adalah salah seorang yang pertama merancang teknik khusus untuk mengukur dan membandingkan sikap terhadap bermacam-macam kebangsaan. Social-distance scale dari Bogardus ini terdiri dari sejumlah pernyataan yang dipilih untuk merangsang respon yang menunjukkan tingkat penerimaan subyek terhadap suatu kelompok kebangsaan.
    Instruksi untuk skala tersebut berbunyi sebagai berikut: "Menurut reaksi pertama perasaan saya, secara suka rela saya akan memasukkan anggota setiap ras (sebagai satu kelas, dan bukan yang terbaik yang saya ketahui, bukan pula anggota terburuk) ke dalam satu atau lebih klasifikasi yang saya beri tanda silang". Untuk setiap kebangsaan yang diukur, ditawarkan 7 klasifikasi:
    i. 1. Ke dalam ikatan persaudaraan karena perkawinan
    2. Ke dalam klub saya sebagai sahabat
    3. Ke jalan tempat saya tinggal sebagai tetangga
    4. Ke pekerjaan dalam usaha saya
    5. Ke kewarganegaraan di negara saya
    6. Hanya sebagai pengunjung di negara saya
    7. Akan dilarang masuk ke negara saya

    Metode Summated Ratings. Satu pendekatan yang berbeda terhadap penyekalaan sikap dikembangkan oleh Likert (1932) dalam penelitiannya tentang berbagai sikap - terhadap imperialisme, internasionalisme, dan terhadap orang Negro. Prosedurnya meliputi langkah-langkah sebagai berikut:
    (1) Pengumpulan sejumlah besar pernyataan yang dipertimbangkan oleh eksperimenter sehubungan dengan kaitannya pada obyek yang bersangkutan;
    (2) Menyajikan pernyataan-pernyataan tersebut kepada sekelompok subyek yang untuk setiap itemnya mereka dapat menyatakan sangat setuju, setuju, tidak tahu, tidak setuju, atau sangat tidak setuju;
    (3) Menentukan skor total untuk masing-masing individu dengan menjumlahkan responnya terhadap semua item itu, dengan ketentuan bahwa kelima kategori respon di atas masing-masing diberi skor 5, 4, 3, 2, dan 1, untuk item-item yang positif, dan kebalikannya untuk item-item negatif;
    (4) Melakukan analisis item untuk memilih item yang paling tinggi kadar diskriminasinya.
    Langkah terakhir tersebut dilakukan dengan menghitung korelasi antara skor pada masing-masing item dengan skor total pada keseluruhan item. Kemudian, item-item dengan korelasi tertinggi disimpan untuk skala akhir.
    Skor yang dihasilkan dari skala Likert hanya dapat diinterpretasikan berdasarkan di mana kkedudukan skor individu dalam distribusi skor orang-orarng lain; skor tersebut tidak memiliki makna absolut. Interpretasi skor minimum dan maksimum biasanya jelas: skor minimum menunjukkan sikap negatif, dan skor maksimum menunjukkan sikap positif. Tetapi skor di antara skor minimum dan maksimum lebih sulit untuk diinterpretasikan karena skor yang paralel dengan titik netral tidak dikenal.

    Cumulative Scaling. Skala kumulatif adalah metode untuk mengevaluasi perangkat pernyataan untuk menentukan apakah pernyataan-pernyataan tersebut memenuhi persyaratan jenis skala tertentu - biasanya disebut skala Guttman. Skala ini didefinisikan oleh Guttman (1950) sebagai berikut: "Seperangkat item yang isinya biasa-biasa saja dapat disebut skala jika seseorang yang peringkatnya lebih tinggi daripada orang lain akan sama tingginya atau lebih tinggi pada setiap item daripada orang lain itu". Contoh skala Guttman yang sempurna adalah skala tentang berat, yang item-itemnya berbunyi sebagai berikut:
    (1) Berat saya lebih dari 100 pon; (2) Berat saya lebih dari 120 pon; (3) Berat saya lebih dari 140 pon; dst.
    Dalam skala tersebut, orang yang memberikan respon positif terhadap item 3, juga akan memberikan respon positif terhadap item 1 dan 2.
    Dalam contoh di atas, kita tahu bahwa skala itu hanya mengukur satu dimensi fisik, yaitu berat badan. Tujuan prosedur Guttman adalah untuk menentukan apakah seperangkat pernyataan sikap hanya mengukur satu sikap atau tidak. Jika pernyataan-pernyataan itu membentuk satu skala Guttman, maka dapat dikatakan bahwa pernyataan itu merupakan skala unidimensional, artinya hanya mengukur satu sikap. Dalam skala Guttman yang sempurna, skor total seorang individu akan mempunyai hubungan satu banding satu dengan pola responnya terhadap item-item yang membentuk skala itu.

    Scale-discrimination Technique. Teknik ini dikembangkan oleh Edwards dan Kilpatrick (1948). Langkah-langkah dalam teknik ini adalah sebagai berikut. Pertama, dipilih sejumlah besar item. Kemudian penilai diminta untuk menyaring item-item tersebut dan mengkategorikannya berdasarkan tingkat kebaikkannya. Item-item yang tidak dipilih secara konsisten oleh para penilai itu dibuang. Item-item sisanya disiapkan dalam bentuk pilihan jamak dengan enam kategori respon: sangat setuju, setuju, agak setuju, agak tidak setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju. Pernyataan-pernyataan tersebut disajikan kepada sekelompok subyek. Respon dari setiap subyek itu kemudian diskor untuk memperoleh skor total baginya. Masing-masing item kemudian dianalisis dan item yang nondiskriminatif dibuang. Item-item selebihnya didikotomikan dan dimasukkan ke dalam skala kumulatif.
    Wilayah Netral (Neutral Region). Wilayah netral dari sebuah skala adalah titik di mana sikap pro dan kontra bertemu, di mana subyek tidak menunjukkan sikapnya. Penentuan wilayah netral pada sebuah skala sangat penting dalam pengukuran sikap. Tidak ada metode penyekalaan yang dapat mengidentifikasi wilayah netral ini dengan memuaskan. Jalan keluar yang paling memuaskan adalah dengan menetapkan wilayah terendah dari kurva bila skor intensitas atau skor kepastian dibandingkan dengan skor valensi.
    Reliabilitas dan Validitas Skala Sikap.
    Pertimbangan terakhir dari suatu teknik pengukuran adalah validitasnya, yaitu sejauh mana teknik tersebut dapat mengukur apa yang ingin diukurnya. Validitas suatu teknik sangat tergantung pada reliabilitasnya, yaitu sejauh mana teknik tersebut dapat memberikan hasil pengukuran yang konsisten.

    Reliabilitas. Reliabilitas suatu skala dapat dipastikan dengan tiga cara:
    (1) Metode test-retest, di mana pengukuran dengan tes tertentu diulang, baik langsung maupun dengan jarak waktu, dan hasilnya dibandingkan;
    (2) Metode equivalent forms, dimana pengukuran dengan dua bentuk yang sebanding, untuk satu tes yang sama, hasilnya dibandingkan;
    (3) Metode split-half, di mana skor pada setengah bagian dari suatu tes dibandingkan dengan setengah lainnya.
    Tingkat reliabilitas biasanya dinyatakan sebagai koefisien korelasi antara kedua pengukuran yang dibandingkan itu.
    Validitas. Terdapat beberapa cara untuk memastikan validitas:
    (1) Dengan penilaian oleh ahli tentang kerepresentatifan suatu sampel item;
    (2) Melalui pengukuran terhadap kelompok yang "sudah dikenal";
    (3) Dengan meneliti akurasi prediksi perilaku didasarkan pada pengukuran sikap.

    WAWANCARA SURVEY (SURVEY INTERVIEW)

    Penggunaan skala sikap dibatasi oleh situasi apakah individu yang diukur cukup tersedia dan termotivasi untuk bekerjasama. Pengembangan teknik wawancara survey untuk mengukur distribusi sikap dengan sampel yang representatif turut mengatasi keterbatasan tersebut.
    Jenis-jenis Pertanyaan Survey. Dua jenis pertanyaan utama yang dipergunakan dalam wawancara survey adalah fixed-alternative question (pertanyaan dengan alternatif yang sudah ditetapkan) dan the open-end question (pertanyaan terbuka).
    Fixed-alternative Question. Jenis pertanyaan wawancara ini memberi responden pilihan antara dua atau lebih alternatif jawaban. Misalnya, "Partai apa menurut pendapat anda yang akan memerintah dengan lebih baik untuk beberapa tahun mendatang ini - Partai Republik atau Partai Demokrat?" Pendapat responden hanya dicatat sebagai berpihak kepada Partai Republik atau kepada Partai Demokrat, atau tidak memihak kalau dia menjawab "tidak tahu".
    Open-end Question. Jenis pertanyaan ini memberi kebebasan kepada responden untuk menjawab sesuai dengan pola pikirnya. Contoh pertanyaan: "Bagaimana pendapat anda tentang Partai Republik?" Pewawancara, dengan secermat mungkin, mencatat semua jawaban responden itu.

    Labels:

    Links to this post:

    Create a Link

    << Home

    :)

    Anda ingin mencari artikel lain? Silakan isi formulir pencarian di bawah ini. :)
    Google
  • Kembali ke DAFTAR ISI