DOCTYPE html PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML 1.0 Strict//EN" "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-strict.dtd"> Didi Tarsidi: Counseling, Blindness and Inclusive Education: Dampak Kehilangan Penglihatan
  • HOME


  • Guestbook -- Buku Tamu



    Anda adalah pengunjung ke

    Silakan isi Buku Tamu Saya. Terima kasih banyak.
  • Lihat Buku Tamu


  • Comment

    Jika anda ingin meninggalkan pesan atau komentar,
    atau ingin mengajukan pertanyaan yang memerlukan respon saya,
    silakan klik
  • Komentar dan Pertanyaan Anda




  • Contents

    Untuk menampilkan daftar lengkap isi blog ini, silakan klik
  • Contents -- Daftar Isi




  • Izin

    Anda boleh mengutip artikel-artikel di blog ini asalkan anda mencantumkan nama penulisnya dan alamat blog ini sebagai sumber referensi.


    06 June 2008

    Dampak Kehilangan Penglihatan

    Kingsley, M. (1999). “The Effects of a Visual Loss”. In: Mason, H. & McCall, S. (Eds.). (1999, pp.23-30). Visual Impairment: Access to Education for Children and Young People. London: David Fulton Publishers.

    Diterjemahkan oleh Didi Tarsidi
    Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

    Pendahuluan
    Dalam bab ini, perkembangan seorang anak yang awas akan dibandingkan dan dikontraskan dengan perkembangan seorang anak yang tunanetra. Dampak kehilangan penglihatan dalam empat bidang perkembangan, yaitu perkembangan sosial dan emosi, perkembangan bahasa, perkembangan kognitif, dan perkembangan mobilitas dan orientasi, akan dibahas. Pembahasan juga akan dilakukan mengenai pengaruh dari kombinasi dampak-dampak tersebut terhadap fungsi dan potensi belajar individu.

    Perkembangan Sosial dan Emosi
    Ms. Morgan menatap berlama-lama ke dalam mata anaknya, sam. Dia mulai khawatir bahwa sesuatu yang tak diharapkan telah terjadi. Ms. MOrgan berkata kepada ibunya bahwa dia khawatir anak laki-lakinya itu tidak dapat melihat dengan baik.
    Ibunya berkata, "Tidak, jangan bodoh, tentu saja dia tidak apa-apa." Tetapi sesudah itu Nenek pun mulai menatap mata anak itu secara lebih seksama, dan beberapa minggu kemudian dia berkata kepada Kakek, "Saya sedikit khawatir tentang cucu kita. Saya tidak yakin apakah dia dapat melihat dengan baik atau tidak."
    Sementara itu, Ms. Morgan pikir ibunya pasti benar ibu-ibu selalu benar.
    Pasangan Ms. Morgan, yaitu David Evans, juga curiga mengapa anaknya tidak balas tersenyum ketika dia tersenyum kepadanya. Mr. Evans pikir, "Oh, memang aku tidak bisa dekat dengan anak kecil, dan anakku sendiri pun tidak merespon kepadaku."
    Ketika Sam berusia enam minggu, Ms. Morgan pergi ke klinik untuk pemeriksaan bayi rutin. Sambil berjalan keluar setelah pemeriksaan selesai, dia bertanya kepada petugas kesehatan, "Menurut anda, apakah anak saya ini dapat melihat dengan normal?" Petugas kesehatan itu, yang sibuk dengan pekerjaan administrasinya dan sudah kesiangan, berkata, "Hmmm saya yakin dia normal."
    Akhirnya, beberapa minggu kemudian Ms. Morgan tak kuat menahan tangisnya di ruang praktek dokter umum dan mengungkapkan rasa takut dan khawatirnya itu. Kemudian Sam dirujuk ke rumah sakit distrik dan akhirnya ke rumah sakit wilayah, yang menghasilkan diagnosis yang membenarkan kekhawatiran Ms. Morgan itu.
    Bagaimanakah kini perasaan orang-orang dalam skenario itu? Perasaan bersalah, yang belum diungkapkan pada saat ini oleh siapa pun, perasaan marah yang akan meledak dalam berbagai macam cara, di samping berbagai macam emosi lainnya. Nenek dan Kakek mengintrospeksi dirinya masing-masing, kalau-kalau ada dosa yang pernah mereka lakukan. Tidak, Kakek tidak merasa telah berbuat suatu dosa, tidak pula Nenek, dia sudah melaksanakan perannya. Tetapi sesungguhnya Nenek tidak pernah menyukai David Evans itu, yang tidak menikahi puterinya dan membuatnya menjadi wanita terhormat.
    Dan kini yang paling merasa bersalah dan sedih adalah Ms. Morgan. "Mungkin seharusnya aku tidak pergi ke liburan itu, tidak pergi ke pelajaran senam itu, tidak minum anggur itu," pikirnya dengan penuh sesal.
    Di pihak lain, Mr. Evans, ketika dia mendengar kabar tentang kecacatan penglihatan anaknya yang dia harapkan akan menjadi atlet kelak itu, berpikir: "Oh dia tidak akan pernah main untuk England sekarang. Apa yang dapat diharapkan dari Sam sekarang."

    Skenario yang serupa dengan gambaran di atas sering terjadi pada keluarga-keluarga yang mempunyai anak yang cacat. Pada saat-saat seperti ini keluarga itu akan memerlukan dukungan untuk menyadari bahwa keadaannya tidak sepenuhnya suram. Dengan dukungan dan pengajaran yang tepat, Sam akan mampu mengembangkan keterampilan yang dibutuhkannya untuk merealisasikan potensinya secara penuh dan menjadi seorang dewasa yang mandiri, mencapai keseimbangan yang baik, dan mampu menyesuaikan dirinya secara sosial. Dukungan bagi keluarga itu dapat berasal dari berbagai sumber. Mereka dapat dibantu oleh para profesional, teman, dan orang tua lain yang juga mempunyai anak yang tunanetra. Mereka mungkin akan mendapat kunjungan dari pekerja sosial untuk anak-anak tunanetra dari otoritas dinas layanan sosial lokal, atau dari guru advisoris bagi anak-anak tunanetra dari otoritas pendidikan lokal. Di antara para profesional yang mungkin terlibat adalah staf paramedis dari pusat pengembangan anak lokal.
    Orang tua biasanya akan mengalami masa duka atas kehilangan anaknya yang "normal" itu. Tahap-tahap kedukaan itu dapat mencakup penolakan, rasa marah, dan akhirnya penerimaan; meskipun bagi orang tua tertentu penerimaan itu mungkin perlu waktu bertahun-tahun untuk dapat terwujud. Kedukaan ini merupakan proses yang umum di kalangan orang tua yang mempunyai anak penyandang kecacatan jenis apa pun. Perasaan orang tua itu akan berdampak pada hubungan di antara mereka sendiri maupun pada hubungan mereka dengan anak itu, dan hal ini pada gilirannya akan berdampak pada perkembangan emosi dan sosial anak.
    Faktor-faktor lain juga akan mempunyai dampak terhadap hubungan dini antara orang tua-anak. Salah satu faktor tersebut adalah tingkat pemahaman orang tua tentang dampak ketunanetraan. Elstner (1983), ketika membahas abnormalitas dalam komunikasi verbal anak-anak tunanetra, berkata: Mari kita pertimbangkan juga perspektif orang-orang awas di dalam lingkungan bayi tunanetra itu. Secara tak sadar, untuk memicu respon kasih sayang mereka terhadap bayi tunanetra itu, mereka mengharapkan bayi tersebut menampilkan reaksi dan pola perilaku sebagaimana yang lazim ditampilkan oleh bayi yang awas. Oleh karena itu, mereka salah tafsir terhadap wajah bayi tunanetra yang tanpa ekspresi itu bila hal itu ditafsirkannya sebagai mencerminkan penolakan atau tak berminat terhadap orang-orang di sekitarnya. Sebagaimana diformulasikan oleh Wills (1978), anak dan dunia sekitarnya berkomunikasi "dalam panjang gelombang yang berbeda".

    Pada saat Sam sudah agak besar, dia dimasukkan ke playgroup setempat, tetapi dia sering diacuhkan oleh anak-anak lain. Anak kecil bermain secara paralel untuk beberapa saat, di mana masing-masing melakukan kegiatan yang sama tetapi tidak bekerjasama. Salah satu cara mereka belajar bekerjasama adalah dengan saling mengamati bermain dan melakukan kontak mata. Dengan kecacatan penglihatannya, Sam tidak dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan oleh Rosita dan
    Ferdinand, dan karenanya tidak diajak "bergabung".
    Kerjasama antara Sam dengan teman-temannya seperti ini harus diarahkan secara terampil oleh seorang dewasa yang memahami kebutuhan Sam.
    Bila Sam dan teman-temannya bermain bersama-sama, biasanya anak-anak itu harus bergiliran dengan mainannya. Sam mungkin tidak mengerti bahwa mainan itu tetap berada di dalam lingkungannya bila sudah meninggalkan genggaman tangannya, maka dia membutuhkan komentar verbal secara terus-menerus untuk memungkinkannya memahami apa yang tengah terjadi dengan mainan itu dan untuk belajar bergiliran.
    Bila anak-anak sudah lebih besar, mereka perlu keterampilan untuk memprakarsai dan memelihara hubungan sosial. Jika bahasa tubuh (body language) mereka tidak sesuai dengan bahasa tubuh teman-temannya, mereka mungkin akan mengalami kesulitan dalam sosialisasi. Bayangkan Sam, yang sekarang sudah remaja, masih mengangkat tangannya tinggi-tinggi bila ingin menjawab pertanyaan di kelas. Pada awal masa sekolahnya, dia mungkin diberi tahu agar mengangkat tangannya lurus-lurus ke atas bayangkan murid taman kanak-kanak mengangkat tangannya. Akan tetapi, murid yang menyandang ketunanetraan yang parah mungkin tidak akan menyadari bahwa dengan bertambahnya usia dan meningkatnya kehalusan perilaku, gerakan isyarat pun akan semakin kecil bayangkan cara mahasiswa menunjuk jari bila hendak bertanya.
    Nuansa bahasa tubuh yang luwes, yang terintegrasikan ke dalam pola perilaku sebagaimana yang dapat kita amati pada anak awas pada umumnya, sangat kontras dengan bahasa tubuh yang terkadang sangat kaku yang dapat kita amati pada banyak anak tunanetra. Remaja tunanetra tertentu sulit menghilangkan perilaku kebiasaan yang tidak pada tempatnya atau "blindism" yang berkembang pada masa kanak-kanak. Bertepuk-tepuk, yang normal dan dipandang lucu bila dilakukan oleh seorang anak usia dua tahun yang keriangan, akan tampak sangat ganjil bila dilakukan oleh seorang remaja berusia 14 tahun seperti Sam. Bahasa tubuh yang tidak tepat seperti ini dapat memberi kesan awal bahwa Sam menyandang kesulitan belajar yang parah, bukannya ketunanetraan. Perilaku kebiasaan lainnya yang secara sosial dipandang tidak pada tempatnya adalah menusuk-nusuk mata dan bergoyang-goyang. Mereka yang bertugas membimbing Sam harus memiliki keterampilan untuk menghilangkan perilaku tersebut. Sebagaimana halnya dengan semua modifikasi perilaku, penguatan positif (positive reinforcement) terhadap perilaku yang baik akan lebih tepat daripada komentar negatif. Bila Sam sedang menusuk-nusuk matanya ketika dia masih kecil, akan lebih baik jika orang tuanya atau pengasuhnya memberinya sebuah mainan yang merangsang untuk dimainkannya dibandingkan dengan terus-menerus berteriak "Jangan begitu!"
    Dari pembahasan singkat tentang dampak kehilangan penglihatan terhadap keterampilan sosial ini muncul pemahaman mengenai pentingnya advis yang dapat membantu orang tua, pengasuh atau profesional untuk memahami kebutuhan anak dan mengintervensinya dengan cara yang benar pada waktu yang tepat.

    Perkembangan Bahasa
    Meskipun penelitian tentang perkembangan bahasa pada anak-anak yang tunanetra masih belum konklusif (lihat Bab 33), namun terdapat bukti mengenai adanya perbedaan dalam perkembangan bahasa anak-anak ini dalam hal-hal berikut ini:
    - perolehan sistem bunyi atau fonologi;
    - penggunaan kata-kata secara sintaktik.
    Lewis (1987) berpendapat bahwa ketunanetraan itu sedikit sekali dampaknya terhadap perkembangan pra-bahasa, dan Illingworth (1972) mengemukakan bahwa anak tunanetra yang normal, sebagaimana halnya anak yang awas, mulai berucap pada usia delapan minggu, menjerit kegirangan dan "berbicara" bila diajak berbicara pada usia 12 minggu, mengucapkan suku-suku kata "ba /ka /da" pada usia 28 minggu, dapat mengucapkan satu kata yang bermakna dan menirukan bunyi pada usia 48 minggu, dan dapat memiliki dua atau tiga kata yang bermakna dalam kosa katanya menjelang usia satu tahun. Sesudah tahap ini, perkembangan bahasa anak yang menyandang ketunanetraan yang parah cenderung lebih lambat daripada anak yang awas. Misalnya, anak yang normal mungkin sering mengulang-ulang kata-kata pertamanya tanpa sepenuhnya memahami maknanya (echolalia); begitu juga dengan anak yang tunanetra, tetapi pada anak tunanetra hal tersebut berlangsung untuk masa yang lebih lama.
    Elstner (1983) berpendapat bahwa penyebab keterlambatan pada anak tunanetra tersebut berasal dari ketidakmampuannya untuk mengamati hakikat peristiwa visual dan auditer yang terjadi berbarengan. Akibatnya, anak ini kehilangan stimuli yang berharga untuk berbicara, dan akibatnya kehilangan kesempatan untuk berkomunikasi. Inilah sebabnya, menurut Fraiberg (1974), bahwa anak tunanetra jarang berinisiatif untuk memulai suatu "dialog vokal" meskipun kondisi lingkungannya memungkinkan untuk itu. Kanak-kanak tunanetra mulai belajar pada usia dini untuk membedakan suara-suara, tetapi dia tidak tahu dari mana asalnya suara-suara itu, sehingga dia tetap bergantung pada inisiatif orang-orang di sekitarnya untuk memulai percakapan (Rogow, 1972).
    Dalam dialog pada masa awal perkembangan bahasa, kedua orang pelaku percakapan memerlukan satu obyek yang sama untuk dipercakapkan. Obyek acuan percakapan dan kedua orang pelaku percakapan ini membentuk segi tiga acuan [reference triangle] (Trevarthen 1974). Lazimnya, satu pelaku percakapan akan mengikuti arah tatapan mata yang lainnya dan menjadikan obyek yang dilihatnya sebagai acuan percakapan. Misalnya, dengan mengacu pada seekor burung yang kebetulan terbang di tempat peristiwa percakapan, satu pelaku percakapan akan berkata, "Oh, burung itu bagus sekali, ya?" Pelaku percakapan lainnya akan mengikuti arah tatapannya dan melanjutkan percakapan itu, "Lihat sayapnya yang indah itu." Segi tiga percakapan tersebut lebih sulit terbentuk jika salah seorang pelakunya tidak dapat melihat dan hanya bergantung pada stimulus bunyi. Bila kanak-kanak kecil yang tunanetra tiba-tiba berdiam diri untuk mendengarkan, partner bercakap-cakapnya yang sudah lebih dewasa harus memperhatikannya dan kemudian menduga-duga tentang bunyi yang mana di antara banyak bunyi latar belakang yang sedang diperhatikan oleh kanak-kanak tunanetra itu.

    Ketunanetraan berdampak terhadap perolehan konsep dan makna. Elstner (1983) berkomentar bahwa kanak-kanak yang tunanetra cenderung menggunakan bahasa secara berbeda dari kanak-kanak yang awas. Seorang kanak-kanak yang awas akan menggunakan bahasa tidak hanya untuk tujuan komunikasi, tetapi juga untuk memperoleh konsep-konsep, sedangkan seorang anak yang tunanetra, setelah dapat menggunakan bahasa, cenderung menggunakannya terutama untuk tujuan-tujuan komunikasi dan bukan untuk memperoleh konsep-konsep. Hal ini mungkin dapat menjelaskan temuan Mills (1983) bahwa anak-anak tunanetra tetap pada tahap echolalia (mengulang-ulang bunyi yang sama) untuk masa yang lebih lama, dan cenderung mengembangkan verbalisme (penggunaan kata-kata yang tidak berakar pada pengalaman langsung).
    Anak-anak yang tunanetra tampaknya mampu belajar struktur formal, atau sintaksis bahasa, dengan relatif mudah. Akan tetapi, absennya stimulus visual tampaknya mengakibatkan seringnya terjadi kesalahan-kesalahan artikulasi di kalangan kanak-kanak tunanetra, misalnya bunyi /w/ menjadi /l/ atau /r/. Anak yang tunanetra itu akan sangat terbantu jika orang tua, pengasuh dan guru dapat mendengarkan dengan seksama bahasa anak yang sedang berkembang itu, untuk memastikan bahwa anak dapat mengucapkan bunyi-bunyi secara benar. Mereka dapat mendorong anak itu untuk mengucapkan bunyi-bunyi secara benar melalui permainan kata, lagu atau sajak.

    Perkembangan Kognitif
    Lowenfeld (1948) menyatakan bahwa ketunanetraan mengakibatkan tiga keterbatasan yang serius pada perkembangan fungsi kognitif:
    - dalam sebaran dan jenis pengalaman anak;
    - dalam kemampuannya untuk bergerak di dalam lingkungannya;
    - dalam interaksinya dengan lingkungannya.
    Jan et al. (1977) berpendapat bahwa permasalahan dalam perkembangan kognitif tersebut mungkin disebabkan oleh kurang kayanya informasi, didasarkan pada fakta bahwa indera-indera lain tidak dapat memproses informasi seefisien indera penglihatan. Misalnya, bila anak-anak yang awas menyusun jigsaw puzzle (teka-teki potongan-potongan gambar), mereka dapat melihat masing-masing potongan gambar itu dan dengan cepat dapat menentukan ke mana arah membujurnya dan menaksir luas bidang yang tepat untuk tempat potongan gambar tersebut. Dengan berkoordinasi dengan mata, otak dapat memproses warna dan bentuk masing-masing potongan gambar itu secara hampir berbarengan dalam kaitannya dengan potongan-potongan lain untuk menentukan lokasinya. Tidak ada alat indera lain yang mampu memberikan begitu banyak informasi secara demikian cepatnya. Akan tetapi, tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa keterbatasan-keterbatasan akibat hilangnya penglihatan ini juga membatasi potensi.
    Lewis (1987) membahas tentang inteligensi anak-anak yang tunanetra dan membahas fakta-fakta yang bertentangan yang disajikan oleh Kolk (1977) dan Tillman (1967, 1973). Kolk mengkaji sejumlah hasil studi mengenai inteligensi anak-anak tunanetra dan menyimpulkan bahwa pada umumnya skor IQ rata-rata tidak berbeda secara signifikan antara anak tunanetra dan anak awas. Akan tetapi, Tillman berargumentasi bahwa terdapat perbedaan yang signifikan. Dengan menggunakan skala verbal WISC (the Wechsler Intelligence Scale for Children), Tillman melaporkan skor IQ rata-rata 92 untuk 110 anak tunanetra usia 7 13 tahun, dibandingkan dengan 96,5 untuk kelompok bandingan yang awas. Tillman (1967) menganalisis hasil dari masing-masing item tes dan menemukan bahwa anak-anak yang awas lebih tinggi daripada anak-anak yang tunanetra dalam item tes pemahaman dan tugas-tugas yang menuntut anak untuk menemukan persamaan di antara item-item yang disajikan. Tidak ada perbedaan antara anak yang tunanetra dan anak yang awas dalam skala informasi, aritmetika, dan kosa kata. Sejumlah ahli lain melaporkan bahwa anak tunanetra dapat lebih baik dibanding anak yang awas dalam pengerjaan soal-soal yang menggunakan rentangan bilangan 1-10.
    Penjelasan yang dikemukakan oleh Tillman untuk perbedaan-perbedaan itu adalah bahwa anak-anak tunanetra kurang mampu mengintegrasikan semua jenis fakta yang sudah mereka pelajari, sehingga masing-masing item informasi itu seolah-olah disimpan dalam kerangka acuan yang terpisah dari item lainnya. Anak-anak yang tunanetra tidak mengalami kesulitan dalam item-item yang menuntut informasi, seperti item-item dalam skala aritmetika dan kosa kata, tetapi mereka mengalami kesulitan dalam item-item seperti pada tes pemahaman atau penilaian persamaan antarobyek, yang menuntut anak menghubungkan berbagai macam item informasi. Seolah-olah semua pengalaman pendidikan anak tunanetra itu disimpan di dalam ruangan yang terpisah-pisah. Jika hal ini benar, maka dapat disimpulkan bahwa, seperti dalam persepsi, penglihatan memberi kesempatan kepada anak untuk menghubungkan pengalaman-pengalaman yang berbeda-beda, hubungan yang membantunya dalam memanfaatkan berbagai pengalamannya secara efektif.

    Perkembangan Motorik, Mobilitas dan Orientasi
    Istilah mobilitas dan orientasi mempunyai pengertian khusus bagi orang-orang yang tunanetra dan bagi para profesional yang menangani kelompok klien ini. Sementara pelatihan awal dalam mobilitas dan orientasi biasanya diberikan oleh guru kunjung bagi anak-anak tunanetra, tetapi keterampilan tingkat mahir untuk memungkinkan orang tunanetra bepergian secara aman dan mandiri di lingkungan sekitarnya dengan menggunakan teknik-teknik tongkat panjang, biasanya diberikan oleh petugas rehabilitasi yang berkualifikasi.
    Tooze (1981) membedakan antara orientasi dan mobilitas sebagai berikut: Orientasi adalah kemampuan untuk memahami hubungan antara satu obyek dengan obyek lainnya penciptaan suatu pola mental tentang lingkungan. Latihan mobilitas mencakup pembelajaran seperangkat teknik dan keterampilan yang memungkinkan seorang tunanetra bepergian secara lebih mudah di dalam lingkungannya. Pengembangan keterampilan dalam orientasi dan mobilitas sangat terkait dengan perkembangan gerak pada usia dini.
    Jan et al. (1977) mengemukakan bahwa anak-anak yang menyandang ketunanetraan yang parah dengan sistem syaraf yang sehat, yang belum pernah diberi kesempatan yang memadai untuk belajar keterampilan motorik, sering mengalami keterlambatan dalam perkembangannya. Sering kali mereka lemah, daya koordinasinya buruk, berjalannya goyah, dan kedua belah kakinya senantiasa "bertukar tempat".
    Best (1992) mengemukakan bahwa anak-anak yang tunanetra tidak dapat dengan mudah memantau gerakannya dan oleh karenanya dapat mengalami kesulitan dalam memahami apa yang terjadi bila mereka menggerakkan atau merentangkan anggota tubuhnya, membungkukkan atau memutar tubuhnya. Karena mereka tidak dapat melihat orang lain dengan jelas, maka mereka akan memiliki lebih sedikit kerangka acuan (term of reference), dan mungkin tidak akan menyadari apa artinya "duduk tegak" itu atau bagaimana caranya "berbaris seperti tentara" itu.
    Tanpa penglihatan yang jelas, anak dapat mengalami kesulitan dalam menciptakan sebuah peta mental lingkungannya. Tanpa intervensi yang tepat, mereka mungkin tidak akan tahu ke arah mana mereka harus pergi atau bagaimana cara menemukan jalan untuk menghindari rintangan agar tiba ke tujuannya. Ketidakpastian tentang lingkungannya dapat mengakibatkan kurangnya rasa percaya diri dalam mengeksplorasi lingkungan. Hilangnya penglihatan yang efektif dapat juga menghilangkan sumber motivasi yang penting bagi seorang anak karena dia tidak dapat melihat obyek-obyek yang menarik, yang akan mendorongnya untuk berusaha merangkak ke arah obyek itu atau untuk menjangkaunya. Menjangkau obyek dengan mengikuti bunyinya itu lebih kompleks daripada menjangkaunya dengan arahan penglihatan, dan biasanya baru dapat dilakukan oleh anak pada tahap perkembangan yang lebih kemudian. Oleh karenanya, Anak yang tunanetra biasanya menunjukkan keterlambatan dalam perkembangan motoriknya. Hal ini telah diukur oleh Reynell (1978), yang menyimpulkan bahwa keterlambatan itu terjadi mulai sekitar usia 6 8 bulan dan terus hingga selama masa pra-sekolah. Pada usia lima tahun, anak-anak dalam sampel Reynell itu rata-rata 12 bulan lebih lambat daripada anak-anak yang awas. Agar dapat berkembang sebagai pelancong yang percaya diri dan mandiri, anak yang tunanetra memerlukan penanggulangan yang tepat sejak usia yang sangat dini untuk meningkatkan perkembangan motorik dan gerakan yang terkoordinasi dan disadarinya. Dan, sementara anak itu terus berkembang, dia memerlukan program yang disusun dengan cermat untuk mengajarinya teknik berjalan (lihat Bab 17).

    Rangkuman
    Dalam bab ini telah dibahas dampak ketunanetraan yang parah. Dampak kehilangan penglihatan itu luas dan mempengaruhi setiap bidang perkembangan anak. Beberapa di antara strategi-strategi untuk meminimalkan dampak negatif dari ketunanetraan itu telah dikaji secara sekilas, dan informasi tambahan mengenai strategi-strategi ini akan dijumpai pada bagian-bagian lain dari buku ini.

    Labels:

    Links to this post:

    Create a Link

    << Home

    :)

    Anda ingin mencari artikel lain? Silakan isi formulir pencarian di bawah ini. :)
    Google
  • Kembali ke DAFTAR ISI