DOCTYPE html PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML 1.0 Strict//EN" "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-strict.dtd"> Didi Tarsidi: Counseling, Blindness and Inclusive Education: Kelainan Mata Yang Umum dan Implikasinya pada Pendidikan
  • HOME


  • Guestbook -- Buku Tamu



    Anda adalah pengunjung ke

    Silakan isi Buku Tamu Saya. Terima kasih banyak.
  • Lihat Buku Tamu


  • Comment

    Jika anda ingin meninggalkan pesan atau komentar,
    atau ingin mengajukan pertanyaan yang memerlukan respon saya,
    silakan klik
  • Komentar dan Pertanyaan Anda




  • Contents

    Untuk menampilkan daftar lengkap isi blog ini, silakan klik
  • Contents -- Daftar Isi




  • Izin

    Anda boleh mengutip artikel-artikel di blog ini asalkan anda mencantumkan nama penulisnya dan alamat blog ini sebagai sumber referensi.


    06 June 2008

    Kelainan Mata Yang Umum dan Implikasinya pada Pendidikan

    Mason, H. (1999). “Common Eye Defects and their Educational Implications”. In: Mason, H. & McCall, S. (Eds.). (1999, pp.38-51). Visual Impairment: Access to Education for Children and Young People. London: David Fulton Publishers.

    Diterjemahkan oleh Didi Tarsidi
    Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

    Bab ini membahas beberapa macam kelainan penglihatan yang paling umum yang mungkin ditemukan oleh guru, baik di sekolah umum maupun di sekolah khusus bagi tunanetra. Kebanyakan kondisi kelainan mata pada anak berkaitan dengan masalah refraksi (pembiasan cahaya) yang biasanya dapat dikoreksi sepenuhnya. Ketunanetraan yang parah jarang terjadi pada anak-anak (lihat Bab 2).
    Untuk masing-masing kelainan yang digambarkan, ditawarkan advis khusus yang terkait dengan pengelolaan kelas yang dapat dipergunakan bila merumuskan rencana pendidikan individual, yang merupakan salah satu persyaratan yang ditetapkan dalam Code of Practice (DfE 1994). Jika dipandang perlu, peralatan khusus yang dibutuhkan oleh anak untuk mengatasi kesulitannya akan disebutkan. Pengetahuan tentang peralatan khusus yang dibutuhkan akan sangat penting bagi pihak-pihak yang terkait dengan pengelolaan dana untuk biaya pelayanan.
    Ketunanetraan yang parah tidak dapat dibahas terlepas dari dampak emosional, sosial dan psikologisnya terhadap individu dan keluarganya secara keseluruhan. Kelainan mata harus dibahas dalam konteks fungsi penglihatan secara keseluruhan dan dampaknya terhadap proses belajar.

    Sebab-sebab Ketunanetraan
    Banyak di antara kondisi dan sindrom yang mengakibatkan ketunanetraan ditentukan secara genetik dan dapat diturunkan kepada anak melalui satu atau kedua orang tuanya tanpa selalu disadarinya bahwa mereka adalah pembawa gen tersebut. Di dalam masyarakat tertentu, merupakan praktek yang umum bahwa perkawinan terjadi antarsaudara sepupu atau antarsaudara dekat, dan hal tersebut dapat meningkatkan kemungkinan diturunkannya kondisi kelainan mata serta kecacatan lainnya. Jadi, konseling genetik itu penting diberikan kepada mereka yang rentan resiko, sehingga mereka dapat membuat perencanaan atas dasar pengetahuan yang memadai.
    Kondisi kelainan itu dapat timbul pada masa perkembangan janin; ada yang tidak jelas penyebabnya, tetapi ada pula yang disebabkan oleh infeksi seperti rubella. Selama proses kelahiran selalu ada kemungkinan terjadi trauma, dan untuk kelahiran prematur, di mana berat bayi yang lahir kurang dari 1300 gram dan oksigen tingkat tinggi diperlukan untuk mempertahankan kehidupan, suatu kondisi kelainan yang dikenal dengan istilah "retinopathy of prematurity" kadang-kadang terjadi. Suatu kondisi yang dikenal dengan istilah "cortical visual impairment" diakibatkan oleh sejumlah gangguan neurologis yang dapat merusak jalur penglihatan sebelum dan sesudah jalur itu terbentuk sepenuhnya (Jan, 1993).
    Berbagai penyakit anak, infeksi virus, tumor otak atau cedera seperti yang terjadi akibat kecelakaan lalu-lintas merupakan kemungkinan-kemungkinan penyebab ketunanetraan pada anak. Perawatan dengan obat-obat keras yang terlalu lama, seperti yang menggunakan jenis-jenis steroids tertentu, dapat juga mempunyai dampak temporer ataupun permanen terhadap sistem penglihatan.
    Di sejumlah negara tropis, penyakit-penyakit mata tertentu seperti trakhoma (yang merupakan penyebab ketunanetraan yang paling umum di dunia), disebarkan oleh serangga. Kondisi non-higienis ditambah dengan perawatan kesehatan dasar yang buruk serta kekurangan gizi merupakan penyebab bagi sebagian besar ketunanetraan yang parah di dunia (Dobree & Boulter, 1982). Di beberapa negara berkembang, penyakit anak yang umum seperti campak merupakan penyebab utama kebutaan pada anak-anak. Di negara-negara ini, kasus kebutaan yang disebabkan oleh kondisi kelainan genetis bawaan, retinopathy of prematurity atau kerusakan jalur penglihatan, relatif kecil proporsinya (Baird & Moore, 1993).
    Penularan infeksi dari binatang tidak terbatas pada negara-negara tropis saja. Sering dipublikasikan dalam berbagai media tentang bahaya sejumlah penyakit yang dapat mengakibatkan kebutaan seperti toxoplasmosis yang dapat ditularkan oleh kucing melalui ibu kepada janin yang dikandungnya, dan toxocaria yang dapat ditularkan kepada anak-anak melalui kotoran anjing yang terkontaminasi.

    Jenis-jenis Ketunanetraan
    Ketunanetraan dapat diklasifikasikan dengan beberapa cara. Bagian ini dimulai dengan deskripsi tentang kelainan refraksi, dan, untuk memudahkan perujukan, jenis-jenis kelainan lainnya dikemukakan secara alfabetis. Kelainan-kelainan yang dikemukakan di sini tidaklah lengkap, dan karena terbatasnya ruang, deskripsi tentang kondisi kelainan mata yang tidak begitu umum tidak dicantumkan.

    Kelainan Refraksi
    Bagi anak yang mengalami kelainan refraksi (pembiasan cahaya) tanpa gangguan lain, penglihatannya dapat dikoreksi hingga kembali normal. Bagi anak ini, masalahnya akan timbul hanya jika kaca mata atau lensa kontak yang diresepkan baginya tidak dipakai. Seseorang dianggap menyandang ketunanetraan hanya bila penglihatan terbaiknya, sesudah dikoreksi, memiliki ketajaman yang secara signifikan berada di luar batas normal bagi penglihatan dekat dan penglihatan jauhnya.
    Penting bagi guru semua bidang studi untuk mengetahui kapan siswanya perlu memakai kaca mata. Apabila dia ragu, advis dapat dimintakan dari seorang optometris. Informasi mengenai hal ini dapat dituliskan di dalam Rencana Pendidikan Individual (Individual Education Plan [IEP]) di samping informasi lain yang berkaitan dengan akses ke kurikulum.

    Myopia (Melihat Dekat)
    Dalam penglihatan normal, berkas cahaya paralel yang datang dari jauh akan terfokus pada retina di bagian fovea titik tengah macula. Jika bola mata terlalu panjang dari depan ke belakang, seperti dalam kondisi yang dikenal dengan istilah "myopia", maka berkas cahaya itu terfokus di antara lensa dan macula, dan hal ini mengakibatkan buramnya penglihatan jauh. Kaca mata atau lensa kontak yang menggunakan lensa cekung (lensa minus) dapat dipergunakan untuk mengoreksi keadaan ini. Penglihatan dekatnya selalu baik asalkan obyeknya didekatkan ke mata.
    Dalam kebanyakan kasus myopia, pemanjangan bola mata itu hanya sedikit dan tidak terus memanjang, dan koreksi dapat dilakukan dengan pemakaian kaca mata. Akan tetapi, dalam sejumlah kecil kasus myopia, bola mata memanjang terus. Kondisi ini dikenal dengan istilah "progressive myopia" atau "high myopia", dan ketajaman penglihatan yang normal tidak akan dapat dicapai dengan pemakaian kaca mata ataupun lensa kontak. Pemelaran retina yang diakibatkan oleh pertumbuhan bola mata yang abnormal ini dapat mempengaruhi efisiensi macula, dan dapat mengakibatkan retina bagian tepi atau bagian tengah menjadi bolong-bolong atau sobek. Karena terdapat resiko "copotnya" retina, advis harus selalu dimintakan dari dokter spesialis mata sebelum anak berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan seperti judo atau jenis olahraga "kontak" lainnya, atau dalam aspek-aspek permainan-permainan tertentu seperti menyelam dalam renang, atau menanduk bola dalam permainan sepak bola.

    Implikasi Pendidikan bagi Pengidap Myopia
    - Pemakaian kaca mata dengan resep atau lensa kontak akan sangat penting agar anak dapat melakukan sebagian besar tugasnya. Anak mungkin membutuhkan dorongan agar mau memakainya.
    - Untuk tugas-tugas yang membutuhkan penglihatan dekat, anak mungkin lebih mudah melakukannya tanpa kaca mata, dia cukup mendekatkan pekerjaannya ke wajahnya (lihat Bab 7).
    - Anak mungkin mengalami kesulitan dengan penglihatan jauhnya, misalnya untuk melihat papan tulis.
    - Penggunaan daun meja atau penyangga buku yang dapat diatur ketinggiannya akan mendorong pembentukan postur yang baik pada saat membaca dan menulis. Peralatan khusus ini mungkin dapat diperoleh dari dinas-dinas layanan bagi tunanetra, atau sekolah mungkin perlu membelinya.
    - Semua bahan bacaan awas termasuk diagram dan peta harus memiliki kekontrasan yang baik dan tulisan yang jelas dengan ukuran huruf yang tepat. Hal ini dapat ditentukan oleh optometris.

    Hypermetropia (Melihat Jauh)
    Dalam kondisi ini, bola mata terlalu pendek dan berkas cahaya terfokus di belakang retina, sehingga penglihatan menjadi kabur, dan dalam kasus yang parah penglihatan menjadi tidak efektif. Hypermetropia sederhana dapat dikoreksi hingga ke penglihatan normal dengan mengunakan lensa cembung (lensa plus) sehingga berkas cahaya terfokus pada fovea. Permasalahan biasanya timbul hanya apabila kondisi ini disertai kondisi penglihatan lain seperti katarak. Dalam kasus seperti ini, meskipun kaca mata akan diresepkan, tetapi ketajaman penglihatan tetap akan berkurang. Kondisi ini dapat disertai dengan keadaan juling.


    Implikasi Pendidikan bagi Pengidap Hypermetropia
    - Siswa kehilangan daya akomodasi (kemampuan untuk memfokuskan penglihatan) bila obyek didekatkan ke wajah.
    - Kegiatan membaca atau tugas-tugas lain yang membutuhkan penglihatan dekat tidak boleh dilakukan terlalu lama karena akan menimbulkan rasa tak nyaman; anak mungkin akan mengeluh letih mata dan sekit kepala serta ketajaman penglihatannya tidak stabil.
    - Siswa-siswa tertentu mungkin diresepkan untuk mengunakan alat-alat bantu low vision seperti kaca pembesar, teleskop atau closed circuit television (CCTV). Sangat penting untuk melatih mereka mengoperasikan alat-alat ini dan mendorongnya untuk menggunakannya (lihat Bab 7).

    Astigmatism
    Penyebab utama astigmatism adalah bervariasinya daya refraksi cornea atau lensa akibat kelainan dalam bentuknya. Hal ini mengakibatkan distorsi pada citra yang tebentuk pada macula. Bila kasusnya sederhana, kondisi ini dapat dikoreksi dengan memakai kaca mata dengan lensa silinder, tetapi permasalahan dapat timbul bila kondisi ini disertai myopia dan hypermetropia. Bila disertai dengan jenis gangguan penglihatan lain, koreksi akan menjadi sulit dan dapat mengakibatkan berkurangnya ketajaman penglihatan.

    Implikasi Pendidikan bagi Pengidap Astigmatism
    Hal-hal yang harus diperhatikan sama dengan untuk hypermetropia, dengan tambahan hal-hal berikut:
    - Anak mungkin dibingungkan oleh huruf-huruf dan angka-angka tertentu sehingga tertukar.
    - Anak dapat mengalami keletihan mata sesudah melakukan pekerjaan visual untuk jangka waktu lama, atau pada akhir hari atau akhir pekan.

    Jenis-jenis Gangguan Penglihatan Lainnya

    Achromatopsia atau Cone Dystrophy
    Ini merupakan kondisi herediter yang lebih banyak terjadi pada laki-laki daripada perempuan. Tidak sempurnanya perkembangan cones di dalam macula mengakibatkan kebutaan warna total dan mengurangi ketajaman penglihatan jauh. Sebagai akibat dari hilangnya fungsi cones, rods tidak terlindungi pada siang hari sehingga terekspos secara berlebihan. Oleh karena itu anak dan remaja yang mengidap kondisi ini sangat fotofobik dan mengalami nystagmus. Implikasi pendidikannya sama dengan bagi kondisi yang akan dikemukakan berikut ini, albinism.

    Albinism
    Ini merupakan kondisi yang herediter (diwariskan), yang dapat dialami oleh semua kelompok ras, yang terkait dengan kekurangan pigment atau ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi melanin. Anak yang mengidap albinism ada yang putih rambut dan kulitnya, tetapi ada juga yang tidak menunjukkan tanda-tanda mengalami kondisi ini.
    Dalam jenis albinism yang parah, yang dikenal dengan "oculocutaneous albinism", macula tidak sempurna perkembangannya, dan kondisi penglihatan lain yang dikenal dengan istilah "nystagmus", yaitu mata berkedip-kedip terus secara berirama, dapat terjadi (lihat bagian berikut ini). Di samping itu, kulit pengidap albinism yang sangat pucat itu mudah terbakar sinar matahari, terutama bila terekspos pada sinar yang tinggi kadar ultravioletnya, seperti sinar yang terpantul dari salju atau laut. Anak yang mengidap jenis kondisi ini biasanya mengalami ketunanetraan cukup berat dan tingkat penglihatannya jarang lebih dari 6/36 pada tes Snellen, tetapi dapat terbantu oleh alat-alat bantu low vision tertentu atau CCTV (lihat Bab 7).

    Implikasi Pendidikan bagi Albinism dan Cone Dystrophy
    - Fotofobia merupakan permasalahan utama.
    - Siswa sebaiknya didorong untuk memakai kaca mata gelap dengan lensa filter penyerap yang tepat, plus pelindung mata atau topi baseball bila berada di bawah sinar matahari.
    - Sinar matahari di dalam ruangan kelas harus dikontrol secara cermat, misalnya penggunaan gorden untuk mencegah masuknya sinar matahari secara langsung. Bagi sekolah umum dan perguruan tinggi, hal ini dapat menimbulkan dampak finansial yang besar.
    - Sinar yang menyilaukan, misalnya sinar yang datang melalui jendela kotor yang dipantulkan oleh benda-benda yang mengkilap, akan membuat tidak nyaman, dan siswa mungkin perlu bekerja di bagian ruangan kelas yang tingkat pencahayaannya rendah.
    - Sebaiknya disediakan penyangga buku atau daun meja yang dapat diatur ketinggiannya, karena siswa mungkin lebih menyukai membaca atau menulis dari jarak yang sangat dekat. - Alat bantu low vision yang diberikan dengan resep mungkin dapat membantu siswa/mahasiswa itu.

    Aniridia
    Aniridia merupakan kondisi bawaan dan biasanya herediter, di mana iris tidak berkembang atau berkembang tetapi tidak sempurna. Yang tampaknya seperti iris yang hitam itu, sesungguhnya adalah pupil yang membesar. Aniridia menyerang kedua bola mata dan biasanya terkait dengan jenis-jenis gangguan penglihatan lainnya seperti nystagmus, fotofobia, copotnya lensa, dan kadang-kadang katarak (kekeruhan lensa). Glaucoma (meningkatnya tekanan di dalam bola mata) sering terjadi, dan akibatnya mata terasa tidak nyaman dan bahkan sakit.


    Implikasi Pendidikan bagi Aniridia
    - Hampir sama dengan albinism ditambah dengan hal-hal berikut.
    - Keletihan mata, sakit kepala atau rasa tidak nyaman pada mata secara keseluruhan dapat terjadi sesudah menggunakan mata untuk pekerjaan yang membutuhkan penglihatan dekat.
    - Kontras yang baik dibutuhkan antara tulisan dan kertas.
    - Siswa/mahasiswa akan terbantu dengan alat-alat bantu low vision yang tepat.
    - Jika ada nystagmus, lihat saran-saran untuk kondisi tersebut.

    Katarak
    Katarak, yaitu keruhnya lensa mata, merupakan salah satu penyebab ketunanetraan utama, baik pada anak-anak maupun orang tua. Orang yang mengidap katarak melihat seperti melalui kaca jendela yang kotor. Keruhnya lensa menghalangi masuknya cahaya ke retina. Terdapat beberapa jenis katarak. Sebagian besar yang terjadi pada anak-anak merupakan katarak bawaan (ada sejak lahir), sedangkan pada orang tua katarak merupakan bagian dari proses penuaan yang normal. Meskipun anak-anak tertentu mungkin telah dicabut lensanya yang terserang katarak itu sejak dini, sehingga matanya aphakic (tanpa lensa), tetapi mereka tetap akan mengalami masalah penglihatan yang parah.
    Sebaiknya guru meminta advis dari dokter mata atau optometris, karena ketajaman penglihatan tergantung pada posisi, besarnya dan tebalnya katarak itu. Anak yang mengidap katarak pada bagian tepi lensa membutuhkan tingkat pencahayaan yang lebih tinggi, sedangkan anak yang kataraknya menyerang bagian tengah lensa akan dapat melihat dengan lebih baik bila cahaya tidak terlalu terang. Katarak yang tidak memperoleh perawatan dapat mengakibatkan mata juling. Penglihatan fungsional anak-anak yang mengidap katarak bervariasi meskipun ketajaman penglihatannya sama.
    Katarak terkait dengan kondisi-kondisi lain seperti Down's syndrome, dan umum dialami oleh bayi yang perkembangan prenatalnya terganggu oleh rubella. Katarak juga dapat diakibatkan oleh keadaan lingkungan; misalnya suku asli Australia, baik tua maupun muda, terancam oleh katarak yang disebabkan oleh tingginya tingkat sinar ultraviolet dari matahari (Mason & Gale, 1997).

    Implikasi Pendidikan bagi Katarak
    Jagalah agar:
    - semua jenis cahaya silau seperti yang diakibatkan oleh sinar matahari langsung atau cahaya yang dipantulkan oleh kertas kilap) dihindari;
    - sumber cahaya berada di belakang anak;
    - ada kontras yang baik antara tulisan dan kertas;
    - besarnya tulisan disesuaikan dengan daya lihat anak;
    - alat-alat bantu low vision untuk melihat jauh maupun dekat disediakan, dengan latihan untuk menggunakannya;
    - disediakan penyangga buku jika anak lebih menyukai jarak baca yang dekat; ini akan mencegah timbulnya masalah postur.
    Sadarilah bahwa:
    - jenis-jenis katarak tertentu mengakibatkan berkurangnya penglihatan di tempat yang gelap dan redup, sedangkan jenis lainnya mengakibatkan sensitivitas terhadap cahaya terang dan berkurangnya persepsi warna;
    - pemakaian kaca mata biasanya akan meningkatkan penglihatan sentral, tetapi mengurangi bidang pandang, sehingga mempengaruhi keamanan bergerak di dalam lingkungan.

    Coloboma
    Kondisi yang herediter ini sering ditandai dengan pupil berbentuk lubang kunci, tetapi kelainan bentuk dapat terjadi pula pada bagian-bagian mata lainnya. Berkurangnya ketajaman penglihatan dapat disertai dengan nystagmus, juling, dan fotofobia. Katarak juga sering menyertainya. Anak-anak yang mengidap coloboma juga dapat mengidap microphthalmia (mata kecil). Tergantung di mana letak retakannya, berkurangnya bidang pandang dapat terjadi pada mata bagian bawah. Kondisi ini dapat terkait dengan kondisi-kondisi lain, misalnya CHARGE syndrome (coloboma, kelainan jantung, cloacal artesia, retardasi, genitourinary defects, anomali telinga) (lihat Good, 1993, untuk informasi lebih lanjut).

    Implikasi Pendidikan bagi Coloboma
    Berbagai kondisi penglihatannya berimplikasi pada:
    - pengaturan tempat duduk
    - pengaturan pencahayaan di dalam dan di luar ruangan untuk menghindari sinar matahari langsung atau cahaya silau.

    Glaucoma
    Glaucoma mengakibatkan meningginya tekanan di dalam bola mata yang dapat mempengaruhi suplai darah ke kepala syaraf optik. Terdapat beberapa jenis glaucoma: dapat merupakan penyakit tersendiri, atau dapat juga terkait dengan kondisi-kondisi lain, misalnya aniridia. Satu jenis glaucoma yang terjadi pada anak-anak adalah buphthalmos ("mata sapi"), yang ditandai dengan membesarnya satu mata atau kedua belah mata. Ini merupakan kondisi yang berbahaya, yang jika tidak diberi perawatan dapat merusak lensa, retina atau syaraf optik. Jenis-jenis glaucoma lainnya ditandai dengan berkurangnya bidang pandang dan kesulitan melihat di tempat yang gelap atau redup.

    Implikasi Pendidikan bagi Glaucoma
    - Implikasinya hampir sama dengan bagi aniridia.
    - Tetes mata yang dapat dipergunakan untuk menjaga tekanan di dalam bola mata juga dapat memperbesar pupil, sehingga mengakibatkan mata menjadi fotofobik.
    - Sangat penting bahwa tetes mata diberikan pada saat yang tepat; satu hal yang harus diperhatikan bila menyelenggarakan wisata sekolah.
    - Penampilan mata yang besar mungkin abnormal, sehingga anak mungkin akan mendengar komentar orang yang tidak menyenangkan.

    Hemianopia
    Hemianopia adalah tiadanya bidang pandang (visual field), sering terjadi pada bagian sebelah kiri atau kanan masing-masing retina. Karena penyebab kondisi ini terletak pada jalur penglihatan (visual pathways), macula biasanya tidak mengalami kelainan dan biasanya sedikit penglihatan sentral masih ada. Siswa mungkin mengembangkan postur kepala yang tidak umum untuk memanfaatkan sebaik-baiknya proses penglihatannya yang masih berjalan. Gambar 5.1 memberikan gambaran tentang terbatasnya bidang pandang seorang anak yang mengidap hemianopia.

    Gambar 5.1: Hemianopia

    Implikasi Pendidikan bagi Hemianopia
    - Keterampilan tracking dan scanning (mengikuti dan meneliti dengan penglihatan) mungkin sulit dilakukan, terutama pada kasus hemianopia kiri (yaitu di mana bagian kiri bidang pandang dari kedua bola mata terganggu), dan ini akan berdampak pada kegiatan membaca.
    - Pengaturan tempat duduk siswa di dalam kelas sangat penting agar dia dapat memanfaatkan bidang pandangnya sebaik mungkin.
    - Anak mungkin memerlukan program latihan persepsi visual.

    Keratoconus
    Keratoconus adalah satu kondisi cornea, biasanya menyerang kedua bola mata, di mana bentuknya menjadi "kerucut", sehingga bidang pandang terganggu dan ketajaman penglihatan jauh berangsur-angsur hilang. Dalam kasus yang parah dan tidak diberi perawatan, cornea akan bernoda atau retak, dan pencangkokan cornea mungkin diperlukan. Keratoconus diperkirakan merupakan kondisi yang herediter, dan dapat terkait dengan sejumlah kondisi lain, seperti retinitis pigmentosa, aniridia, Marfan's syndrome dan Down's syndrome. Di beberapa daerah tertentu, misalnya Australia, terdapat peningkatan insiden keratoconus ini, yang disebabkan oleh intoleransi terhadap serbuk tanaman (acacia) yang masuk ke mata dan akibatnya orang mengosok-gosok matanya.

    Implikasi Pendidikan Keratoconus
    Lihat Myopia dan Astigmatism.

    Degenerasi Macula
    Ini merupakan deskripsi sekelompok kondisi, misalnya Stargardt's dystrophy, yang menyerang fovea dan macula. Macula bertanggung jawab untuk melihat secara rinci, sehingga bila terganggu akan mengurangi kemampuan untuk melihat jauh maupun dekat. Scotomas (gangguan bidang pandang) berkembang dan magnifikasi (pembesaran dengan alat) diperlukan untuk memungkinkan orang melihat sekelilingnya. Persepsi warna dan kepekaan terhadap kekontrasan juga mungkin terganggu. Sayangnya banyak di antara kondisi-kondisi ini bersifat progresif, mengarah pada ketunanetraan yang parah.

    Implikasi Pendidikan bagi Degenerasi Macula
    Anak akan terbantu dengan:
    - penggunaan alat bantu low vision gengam yang tepat dan/atau CCTV;
    - pencahayaan yang baik untuk semua tugasnya;
    - alat penunjuk baris bila membaca;
    - buku teks dan lembar kerja dengan kekontrasan yang baik antara kertas dan tulisan;
    - menggunakan kertas tebal bergaris gelap untuk menulis;
    - program latihan persepsi visual;
    - latihan teknik memandang jika posisi kepalanya tidak wajar bila membaca.
    Cobalah menghindari:
    - cahaya yang menyilaukan;
    - buku teks dan buku-buku lainnya yang tulisannya dicetak di atas ilustrasi.

    Nystagmus
    Nystagmus adalah gerakan ritmis yang tidak disadari yang biasanya terjadi pada kedua bola mata. Nystagmus dapat berdiri sendiri, tetapi lebih sering terjadi bersama-sama dengan jenis-jenis gangguan penglihatan lainnya, seperti albinism, aniridia, katarak bawaan. Anak-anak yang mengidap nystagmus mengalami banyak kesulitan (yang dapat ditambah dengan stress), terutama dalam keterampilan menatap, karena mereka tidak dapat mempertahankan tatapan matanya tetap pada satu posisi. Siswa-siswa tertentu dapat dibantu dengan dilatih untuk mengidentifikasi "titik nol" yaitu posisi mata atau arah tatapan di mana gerakan matanya itu paling sedikit.


    Implikasi Pendidikan bagi Nystagmus
    Anak akan terbantu dengan:
    - penunjuk baris untuk membaca;
    - materi bacaan dan tulisan dengan cetakan yang jelas, kontras, dan tidak banyak ilustrasi.
    Ingatlah bahwa:
    - tugas-tugas yang menuntut penglihatan dekat untuk waktu yang lama dapat mengakibatkan keletihan mata;
    - banyak anak harus memutar, memiringkan atau menundukkan kepalanya untuk memperoleh fokus terbaik; jangan mengeritik atau mengoreksi hal ini.

    Optic Atrophy (OA)
    "Optic atrophy" adalah istilah generik yang menggambarkan degenerasi (memburuknya) syaraf optik. Syaraf optik atas mengirimkan pesan dari retina ke visual cortex di otak. OA dapat mengganggu berbagai proses penglihatan, termasuk ketajaman penglihatan, bidang pandang dan kepekaan terhadap kekontrasan, dan dapat mengakibatkan hilangnya penglihatan pada bidang sentral ataupun periferal dan menimbulkan kesulitan dalam beradaptasi dengan keadaan cahaya yang kurang terang. OA dapat berdiri sendiri atau dapat juga terkait dengan kondisi-kondisi lain, dan dapat bersifat progresif ataupun non-progresif.

    Implikasi Pendidikan bagi Optic Atrophy
    Implikasi berikut ini hampir sama dengan bagi degenerasi macula.
    - Kondisi pencahayaan yang tidak menyilaukan, mungkin dengan satu sumber cahaya (seperti lampu baca) adalah penting.
    - Biasanya diresepkan alat-alat bantu low vision, misalnya kaca pembesar genggam yang berlampu atau CCTV, atau, dalam kasus-kasus tertentu, lensa teleskopik yang dipasang pada kaca mata.

    Optic Nerve Hypoplasia (ONH)
    Hypoplasia artinya "kurang berkembang". Dalam ONH, kepala syaraf optik, yang disebut "optic disc", tampak lebih kecil dari biasanya. Ini merupakan penyebab utama low vision pada anak-anak akhir-akhir ini, dan ditemukan pada bayi prematur (Good, 1993). ONH mempunyai implikasi pendidikan yang hampir sama dengan optic atrophy.

    Retinitis Pigmentosa (RP)
    RP adalah nama untuk sekelompok kondisi progresif yang menyerang retina, terutama bagian periferal yang berisi rods, yaitu sel-sel yang peka untuk penglihatan dalam cahaya suram. RP mengakibatkan "penglihatan cerobong" ("tunnel vision") dan buta" ayam" (night blindness). RP lebih umum terjadi pada anak laki-laki dan dapat terkait dengan berbagai sindrom seperti Usher's syndrome (RP plus tuli), Leber's amaurosis dan Lawrence Moon Biedl syndrome. Banyak pengidap RP bersifat fotofobik dan harus memakai kaca mata warna. Progresi kondisi penglihatannya bervariasi, tetapi dapat cepat sekali pada masa remaja, sehingga remaja itu tidak dapat belajar dengan menggunakan penglihatannya lagi. Penglihatannya harus diperiksa terus secara teliti, dan setiap perubahan yang terjadi harus dilaporkan. Konseling profesional mungkin diperlukan bagi siswa pengidap RP beserta keluarganya.

    Implikasi Pendidikan bagi Retinitis Pigmentosa
    * Karena bidang pandangnya terus menyempit, siswa akan mengalami kesulitan dalam:
    - keterampilan scanning dan tracking yang diperlukan untuk membaca;
    - keterampilan motorik kasar dan mobilitasnya pada umumnya, sehingga siswa akan tampak semakin kaku;
    - beradaptasi dari cahaya terang ke cahaya redup (siswa akan berfungsi sebagai "orang buta" di tempat gelap atau pada malam hari).
    * Anak-anak tertentu dapat terbantu dengan:
    - penggunaan stabilo untuk meningkatkan kekontrasan tulisan;
    - CCTV dan alat bantu low vision untuk memperluas bidang pandang;
    - bahan bacaan dengan cetakan yang kontras;
    - lingkungan belajar dengan yang terang tetapi tidak menyilaukan;
    - kertas bergaris gelap;
    - penggunaan tulisan yang sekecil mungkin agar bidang pandang yang masih tersisa dapat menerima jumlah informasi maksimal (lihat Gambar 5.2).
    * Karena RP biasanya bersifat progresif, kurikulum khusus sebaiknya mencakup:
    - mengetik dengan sistem 10 jari;
    - latihan mobilitas (terutama pada malam hari);
    - Braille, jika prognosisnya mengatakan bahwa kebutaan total akan terjadi.
    Gambar 5.2: Keuntungan tulisan kecil bagi pengidap RP Retinopathy of Prematurity (RoP)

    Kondisi ini sebelumnyat dikenal dengan istilah "retrolental fibroplasia", terjadi pada bayi yang lahir prematur dengan berat yang sangat rendah, yang diberi terapi oksigen. Meskipun prosesnya belum diketahui dengan jelas, tetapi terapi tersebut mengakibatkan kerusakan pada retina bayi yang sedang berkembang itu. Kasus yang terparah mengakibatkan kebutaan, ketajaman penglihatan sering sangat buruk, dan sering disertai masalah-masalah lain, misalnya myopia, glaucoma, mengelopaknya retina (retinal detachment) atau nystagmus. Anak dapat mengalami kesulitan belajar.

    Implikasi Pendidikan bagi Retinopathy of Prematurity
    Implikasi pendidikannya sama dengan untuk degenerasi macula, plus:
    - Siswa pengidap RoP mungkin membutuhkan bantuan tambahan untuk mengembangkan:
    - keterampilan orientasi dan mobilitas;
    - keterampilan motorik halus dan kasar;
    - keterampilan persepsi visual.

    Juling (Squint)
    Istilah "squint" sinonim dengan "strabismus", "lacy eye", "cast eye" atau "wall eye". Terdapat banyak jenis mata juling, tetapi yang paling umum terjadi pada anak-anak adalah "manifest squint", yaitu penyimpangan yang jelas dari arah gerakan satu mata: ke dalam, ke luar, ke atas, ke bawah, atau kombinasi gerakan-gerakan ini. Penglihatan juling itu mungkin terjadi terus-menerus atau sewaktu-waktu, seperti hanya jika anak tidak memakai kaca mata, melihat pada jarak tertentu atau bila dia letih. Manifest squint dapat terjadi kapan saja dan pada semua kelompok usia, tetapi banyak yang dibawa dari lahir, dan perawatan biasanya dilakukan sebelum anak mulai bersekolah. Usia puncak untuk terjadinya mata juling adalah antara satu hingga empat tahun. Mata juling yang tidak dikoreksi akan mengakibatkan kelainan dan menghambat berkembangnya penglihatan binokuler, mengurangi bidang dan kedalaman penglihatan, dan jika juling disertai kondisi penglihatan lain, seperti katarak, maka asesmen terhadap keberfungsian penglihatan anak harus dilakukan secara cermat, karena hal itu akan menambah kesulitan yang serius pada masalah yang sudah ada.
    Anak yang memiliki penglihatan monokuler akan mengalami kesulitan dalam permainan atau kegiatan lain yang tergantung pada koordinasi mata-gerak motorik yang cepat. Pengawasan yang ketat perlu dilakukan dalam pelajaran praktikum seperti kimia atau teknologi pangan.

    Implikasi Pendidikan bagi Mata Juling
    - Bagi anak kecil, matanya yang tidak juling dapat menjadi kering sehingga ketajaman penglihatannya akan sangat berkurang, dan kemungkinan diperolok-olok anak-anak lain.
    - Penglihatan ganda dapat terjadi bila mata tidak ditambal.
    - Pengaturan tempat duduk di dalam kelas harus diperhatikan untuk memaksimalkan penggunaan mata yang baik.

    Beberapa Kondisi dan Sindrom Lainnya

    Cortical Visual Impairment (CVI)
    CVI dapat digambarkan sebagai kehilangan penglihatan temporer atau permanen yang disebabkan oleh gangguan pada jalur penglihatan posterior dan/atau occipital lobes (Jan, 1993). Gangguan tersebut dapat diakibatkan oleh banyak penyebab (beberapa di antaranya belum diketahui), yang mencakup meningkatnya kadar oksigen yang diberikan kepada bayi pra-natal, kelainan otak bawaan, cedera kepala (termasuk cedera non-kecelakaan), tidak berfungsinya katup cairan dalam hydrocephalus. Retina anak-anak ini tampak normal, dan diagnosisnya sering didapat melalui pengamatan terhadap perilaku visualnya (Jan, 1993). Misalnya, anak-anak ini mungkin:
    - tidak tampak tunanetra, tetapi rentang penglihatannya sangat pendek;
    - dapat melihat sedikit sekali, dan keterampilan visualnya bervariasi dari waktu ke waktu;
    - dapat melihat garis-garis dan bentuk-bentuk tetapi tidak dapat mengenalinya;
    - dapat membeda-bedakan benda-benda berwarna, terutama kuning dan merah, lebih mudah daripada yang hitam dan putih;
    - menengokkan kepalanya untuk melihat benda-benda, karena penglihatan periferalnya mungkin lebih baik daripada penglihatan sentralnya;
    - menatap cahaya termasuk cahaya matahari (sangat berbahaya!);
    - fotofobik;
    - memiliki "penglihatan buta", yaitu suatu tingkat penglihatan di bawah sadar yang memungkinkannya berjalan di dalam lingkungannya tanpa menabrak benda-benda;
    - memiliki keterampilan navigasi yang baik;
    - mengalami gangguan neurologis, misalnya gangguan motorik;
    - melihat benda-benda dari jarak yang sangat dekat;
    - hanya dapat melihat benda-benda yang tak bergerak;
    - gerakan matanya tersentak-sentak dan tidak normal (bukan nystagmus);
    - keberfungsiannya rendah dan tidak kooperatif.
    Hingga ke tingkat tertentu, penglihatan anak-anak ini kemungkinan dapat dikoreksi, jadi informasi di atas sangat penting bagi mereka yang memberikan layanan kepada anak-anak ini. Penanggulangan dari ahli diperlukan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai kondisi ini, lihat Vision for Doing oleh Aitken dan Buultjens (1992) dan Hyvarinen (1995b).

    Down's syndrome
    Banyak anak yang mengidap Down's syndrome mengalami masalah penglihatan seperti katarak, nystagmus, kelainan refraksi, dan strabismus (juling).

    Marfan's syndrome
    Marfan's syndrome merupakan kondisi yang herediter, yang ditandai oleh jari-jari tangan, kaki dan tulang-tulang lain yang panjang dan kecil, kelainan jantung bawaan, otot-otot yang kurang berkembang, dan kelainan mata seperti dislokasi lensa dan sobeknya iris yang mengakibatkan penglihatan kabur atau bahkan penglihatan ganda. Di samping itu, penglihatan jauh maupun penglihatan dekatnya juga buruk.

    Retinoblastoma
    Ini adalah tumor ganas pada retina. Dalam banyak kasus, bola mata harus dibuang. Kalaupun tidak, penglihatannya sering rusak sebagai akibat dari terapi radiasi.

    Rubella (German Measles)
    Dampak rubella tergantung pada saat janin terserang virus, dan tiga bulan pertama merupakan saat yang paling berbahaya. Penyakit ini dapat berdampak pada perkembangan mata, telinga, jantung dan paru-paru. Gangguan penglihatan dapat berbentuk katarak, buramnya cornea, glaucoma, dan microphthalmia (kurang berkembangnya mata). Banyak di antara anak-anak ini sangat peka terhadap cahaya, dan pembedahan untuk kataraknya sering tidak berhasil akibat infeksi virus yang terjadi pada mata.

    Usher's Syndrome
    Ini mengakibatkan kecacatan sensoris ganda yang bersifat progresif. Usher's syndrome merupakan penyebab utama ketulian pada orang dewasa, dan terkait dengan retinitis pigmentosa (lihat di atas) yang juga dapat mengakibatkan kebutaan. Karena sindrom ini menampakkan diri dalam tiga bentuk, advis medis sangat diperlukan. Remaja yang mengidap kondisi ini membutuhkan konseling dan bimbingan yang seksama dari ahlinya.

    Catatan: Untuk gambar, silakan anda lihat pada buku aslinya.

    Labels:

    Links to this post:

    Create a Link

    << Home

    :)

    Anda ingin mencari artikel lain? Silakan isi formulir pencarian di bawah ini. :)
    Google
  • Kembali ke DAFTAR ISI