DOCTYPE html PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML 1.0 Strict//EN" "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-strict.dtd"> Didi Tarsidi: Counseling, Blindness and Inclusive Education: MASYARAKAT
  • HOME


  • Guestbook -- Buku Tamu



    Anda adalah pengunjung ke

    Silakan isi Buku Tamu Saya. Terima kasih banyak.
  • Lihat Buku Tamu


  • Comment

    Jika anda ingin meninggalkan pesan atau komentar,
    atau ingin mengajukan pertanyaan yang memerlukan respon saya,
    silakan klik
  • Komentar dan Pertanyaan Anda




  • Contents

    Untuk menampilkan daftar lengkap isi blog ini, silakan klik
  • Contents -- Daftar Isi




  • Izin

    Anda boleh mengutip artikel-artikel di blog ini asalkan anda mencantumkan nama penulisnya dan alamat blog ini sebagai sumber referensi.


    01 June 2008

    MASYARAKAT

    Diintisarikan dari:
    Krech, D.; Crutchfield, R.S.; & Ballachey, E.L. (1982). Individual in Society. Chapter 9: Society. Berkeley: McGraw-Hill International Book Company.

    Oleh Didi Tarsidi
    Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

    Koordinasi dan kontrol atas aktivitas para anggota sebuah masyarakat dicapai melalui sistem posisi dan peranan

    Di dalam sebuah masyarakat, mungkin karakteristik utama yang membuat berbagai komunitas dan kelompoknya (badan usaha, keluarga, dsb.) efektif dalam mengontrol perilaku individu adalah bahwa masing-masing komunitas dan kelompok tersebut mengembangkan sistem "peranan psikologis" yang terdefinisikan secara baik, dan individu dilatih khusus untuk peranan tersebut dan peranan itu cocok baginya.

    POSISI

    Terdapat sekurang-kurangnya lima cara yang umum untuk mengklasifikasikan orang agar masyarakat terorganisasi dan terstruktur:
    (1) klasifikasi berdasarkan usia-jenis kelamin;
    (2) klasifikasi berdasarkan hubungan biologis atau keluarga (hubungan saudara);
    (3) klasifikasi berdasarkan pekerjaan;
    (4) klasifikasi berdasarkan persahabatan dan kepentingan; dan
    (5) klasifikasi berdasarkan status.
    Di dalam setiap klasifikasi tersebut terdapat bermacam-macam kategori. Kategori-kategori ini diberi istilah posisi. Di dalam klasifikasi usia-jenis kelamin, misalnya, sekurang-kurangnya terdapat tujuh posisi: bayi, anak laki-laki, anak perempuan, dewasa laki-laki, dewasa perempuan, orang tua laki-laki, orang tua perempuan. Di banyak masyarakat, dalam sistem klasifikasi usia-jenis kelamin ini bahkan terdapat lebih banyak lagi posisi.

    Setiap individu perlu menduduki satu posisi dalam masing-masing sistem klasifikasi utama tersebut. Jadi, satu orang pada satu waktu tertentu mungkin berposisi sebagai orang muda, anak laki-laki, mahasiswa, ketua kelas, dll. Banyak dari posisi-posisinya itu akan berubah bila dia bertambah usia, mengembangkan minat dan keterampilan baru, mempunyai pekerjaan, menikah, dsb. Posisi tertentu didudukinya secara otomatis, misalnya karena hubungan keluarga atau karena usianya. Ada pula posisi yang dicapainya berkat kinerja pribadinya.

    Kontribusi yang diberikan oleh satu posisi terhadap pencapaian tujuan komunitas menggambarkan fungsi dari posisi tersebut. Misalnya, fungsi posisi guru adalah mengajar generasi muda mengikuti tata cara komunitasnya. Keyakinan yang dipegang oleh para anggota satu komunitas mengenai fungsi berbagai posisi itu menggambarkan sebagian dari ideologi komunitas tersebut. Fungsi suatu posisi sebagaimana didefinisikan dalam ideologi suatu komunitas mungkin sesuai ataupun tidak sesuai dengan fungsi berdasarkan interpretasi pihak luar komunitas yang bersangkutan.

    PERANAN

    Untuk setiap posisi terdapat ekspektasi komunitas tentang bagaimana seharusnya perilaku individu yang menduduki posisi tersebut. Perilaku khas apa yang diharapkan dilakukan oleh orang yang menduduki posisi tertentu merupakan peranan yang terkait dengan posisi tersebut.
    Satu peranan dapat dipandang sebagai mencakup tugas atau kewajiban posisi yang bersangkutan. Misalnya, seorang dokter diharapkan merawat orang sakit yang datang kepadanya, netral emosinya, ahli dalam mendiagnosis dan mengobati penyakit, dsb.
    Peranan dapat juga dipandang sebagai meliputi hak dari posisi itu. Hak suatu posisi sebagian dibatasi oleh peranan posisi-posisi terkait. Misalnya, hak seorang dokter sebagian dibatasi oleh hak pasien dan juru rawatnya.
    Jelas bahwa sistem peranan yang mengatur hubungan antara satu posisi dengan posisi-posisi lain yang terkait akan meminimalkan konflik, dan fungsi antarpribadi menjadi efektif. Misalnya, dokter akan tahu apa yang diharapkan darinya dan apa yang dapat dia harapkan dari pasiennya; pasien akan tahu apa yang diharapkan darinya dan apa yang dapat dia harapkan dari sang dokter. Maka masing-masing individu dapat mengarahkan perilakunya secara tepat dalam kaitannya dengan individu lain.
    Peranan-peranan itu saling berketergantungan. Peranan-peranan yang terkait dengan suatu posisi tertentu dalam sebuah kelompok perlu didefinisikan sekaitan dengan peranan-peranan dari posisi-posisi lain yang terkait. Peranan pasien, misalnya, didefinisikan sekaitan dengan peranan dokter. Bila peranan dokter berubah, maka peranan pasiean pun berubah.

    PERANAN MERUPAKAN "RUMPUN HARAPAN". Harapan-harapan yang tersirat pada peranan tidak hanya terbatas pada tindakan; harapan itu juga mencakup harapan tentang motivasi, keyakinan, perasaan, sikap, dan nilai. Misalnya, peranan seorang dokter tidak hanya mencakup harapan tentang tindakannya sebagai dokter, tetapi juga mencakup harapan tentang keinginan dan tujuannya (dia diharapkan mempertahankan minatnya untuk meningkatkan pengetahuannya tentang kedokteran dan meningkatkan keterampilannya sebagai dokter), perasaannya (dia diharapkan netral emosinya dalam hubungannya dengan pasien), sikapnya (dia diharapkan menentang "kedokteran sosial" - "socialized medicine"), nilai yang dianutnya (dia diharapkan menghargai ilmu sebagai alat untuk meningkatkan pengetahuan manusia tentang penyakit dan pengobatannya). Oleh karena itu kita dapat memandang peranan sebagai satu rumpun harapan.


    PERANAN MENGACU PADA SITUASI STANDAR. Peranan menentukan perilaku yang diharapkan dari orang dalam posisi tertentu yang beroperasi dalam situasi yang didefinisikan secara khas atau situasi standar. Misalnya, peranan pendeta diharapkan membawakan perilaku seorang pendeta bila dia berada dalam situasi gereja. Kita akan kikuk dalam melakukan perilaku antarpribadi dengan pendeta itu jika bertemu dengannya di bar. Pentingnya situasi sebagai faktor penentu pengakuan atas peranan seseorang mencerminkan adanya pengaruh konteks terhadap persepsi. Kita selalu mempersepsi perilaku seseorang dalam suatu konteks. Dan konteks ini mempengaruhi persepsi kita.

    MULTIPOSISI DAN MULTIPERANAN

    Setiap orang pada satu waktu yang sama menduduki satu posisi di dalam bermacam-macam sistem di mana masyarakatnya mengklasifikasikan dan menempatkan anggota-anggotanya. Dengan kata lain, setiap orang menduduki bermacam-macam posisi dan oleh karenanya juga mempunyai bermacam-macam peranan pada saat yang sama. Multiposisi dan multiperanan dialami oleh semua orang. Tempat individu di dalam masing-masing sistem-sistem ini sebagian menentukan bagaimana dia diperlakukan oleh sesamanya. Orang menerima perlakuan yang berbeda-beda dari sesamanya tergantung pada posisinya dalam berbagai sistem dalam komunitasnya. Misalnya, anak laki-laki diperlakukan berbeda dari anak perempuan, paman diperlakukan berbeda dari kakek, pendeta diperlakukan berbeda dari politisi. Perlakuan yang berbeda-beda yang diberikan kepada orang tertentu yang menduduki posisi tertentu dipandu oleh ekspektasi peranan yang dimiliki oleh para anggota komunitasnya. Ekspektasi tentang bagaimana seharusnya seorang anak laki-laki berperilaku akan memandu cara mendidik anak tersebut bersosialisasi. Misalnya, bila seorang anak laki-laki bermain boneka, masyarakat akan menghukumnya dengan mengatainya banci, dan bila dia bermain sepak bola, masyarakat akan mengganjarnya dengan menyebutnya jantan. Pendek kata, setiap individu belajar bahwa perilaku tertentu diharapkan darinya sebagai pemegang posisi tertentu. Artinya, dia belajar peranan yang terkait dengan posisinya. Dalam caranya mempersepsi, berpikir, merasa, berupaya, dan bertindak, dia dipengaruhi oleh pengharapan dari sesamanya, didukung oleh ganjaran dan hukuman yang diberikan oleh anggota-anggota masyarakatnya.
    Ini tidak berarti bahwa cara seorang individu tertentu melaksanakan suatu peranan identik dengan cara individu lain melaksanakan peranan tersebut. Merupakan kebenaran yang tak dapat disangkal lagi, tetapi merupakan kenyataan yang penting, bahwa individu-individu berbeda-beda dalam melaksanakan peranan-peranannya. Sumber perbedaan tersebut mencerminkan perbedaan di kalangan individu dalam hal faktor-faktor psikologis dasarnya - kognisi, keinginan, sifat respon antarpribadi. Yang kita katakan di sini adalah bahwa sebaran perbedaan dalam perilaku individu yang menduduki posisi tertentu dibatasi oleh kenyataan bahwa mereka terekspos pada lingkungan sosial yang lebih kurang seragam; masyarakat mengharapkan mereka berperilaku tertentu, dan mengganjar konformitas serta menghukum nonkonformitas antara perilaku yang sesungguhnya ditampilkan individu tersebut dengan perilaku yang diharapkan masyarakat.
    ------------------------------

    Setiap masyarakat mempunyai sistem status, yang paling umum adalah sistem kelas sosial; kelas sosial secara signifikan menentukan lingkungan sosial dan kekuasaan individu


    Dalam setiap komunitas, orang dipandang berbeda-beda dalam statusnya. Ada yang dipersepsi sebagai berstatus tinggi dan ada pula yang berstatus rendah. Dalam komunitas yang sangat maju dan kompleks, terdapat sistem status yang rumit, permanen, dan multipleks. Di dalam sistem tersebut orang diperingkatkan berdasarkan prestise atau nilai sosialnya. Salah satu sistem status yang paling umum adalah sistem status kelas. Kepentingan psikologi sosial dalam hal kelas sosial berakar pada kenyataan bahwa kelas sosial secara signifikan menentukan lingkungan sosial individu. Kognisi, keinginan dan tujuan, sifat perilaku antarpribadi dan sikap individu sangat dikondisikan oleh lingkungan sosialnya. Dan sejauh faktor-faktor tersebut menentukan tindakan sosial individu, maka psikolog sosial harus memperhatikan kelas sosial tersebut.
    Makna terpenting kelas sosial bagi psikolog sosial adalah bahwa kelas sosial turut menentukan lingkungan sosial individu dan karenanya mempengaruhi jenis pendidikan budaya apa yang diterimanya.

    Davis dan Havighurst 1946] mengemukakan bahwa sistem kelas sosial mempertahankan penghambat budaya, ekonomi dan sosial yang mencegah terjadinya percampuran sosial yang intim antara kelas bawah, kelas menengah dan kelas atas.
    Sejauh mana kelas sosial dapat membatasi terjadinya interaksi sosial yang intim antara orang-orang telah banyak diteliti, yang kesemuanya menunjukkan bahwa orang pada umumnya membatasi sebagian besar hubungan sosial intimnya pada anggota kelasnya sendiri. Bila kita bertemu dengan seorang asing untuk pertama kalinya,kita sering melewatkan banyak waktu untuk mengukur status kelas orang asing tersebut. Kita melakukan ini untuk mengetahui seberapa intim kita dapat bergaul dengannya dan untuk mengetahui cara yang pantas untuk memperlakukannya. Akan tetapi, sesungguhnya orang dapat berpindah dari satu kelas ke kelas lain, sehingga dapat mengubah lingkungan sosialnya.

    METODE-METODE PENGUKURAN KELAS SOSIAL

    Terdapat tiga metode utama yang dapat dipergunakan untuk mengukur kelas sosial anggota sebuah komunitas: metode obyektif, metode subyektif, dan metode reputasi.

    METODE OBYEKTIF. Metode obyektif pengukuran kelas sosial adalah suatu metode untuk mengukur posisi kelas sosial anggota sebuah komunitas di mana indeks kelas didasarkan atas karakteristik-karakteristik yang dapat diukur secara obyektif seperti penghasilan, pendidikan, pekerjaan. Orang dari kelompok pekerjaan yang sama, atau dari kelompok penghasilan yang sama, atau dari kelompok pendidikan yang sama, cenderung tinggal di lingkungan yang sama dan berinteraksi secara lebih erat dan lebih sering di kalangan mereka sendiri daripada dengan anggota dari kelompok pekerjaan, penghasilan, atau pendidikan yang berbeda. Jadi, pengukuran obyektif kelas sosial dapat ditafsirkan sebagai pengukuran tak langsung lingkungan sosial individu.


    METODE SUBYEKTIF. Metode subyektif pengukuran kelas sosial adalah metode untuk mengukur posisi kelas sosial seorang anggota komunitas dengan melihat dengan kelas sosial apa orang tersebut mengidentifikasikan dirinya.
    Pengukuran subyektif posisi kelas dapat dipandang sebagai pengukuran lingkungan sosial di mana individu cenderung membatasi hubungan sosialnya dengan anggota-anggota kelompok kelas yang oleh individu tersebut dipergunakan untuk mengidentifikasikan dirinya. Itu adalah kelompok yang terdiri dari orang-orang yang melakukan pekerjaan yang serupa dan yang mempunyai kesamaan dalam keyakinan, sikap dan nilai. Orang cenderung berafiliasi dengan mereka yang seperti dirinya dalam pekerjaannya dan dalam caranya berpikir dan berperasaan.

    METODE REPUTASI. Metode reputasi pengukuran kelas sosial adalah metode untuk menentukan posisi kelas sosial anggota sebuah komunitas atas dasar penilaian anggota-anggota lain di dalam komunitasnya tentang posisi sosial anggota tersebut.
    Metode reputasi merupakan satu pengukuran langsung tentang lingkungan sosial indiviiidu. Metode ini (dengan asumsi tentang validitas laporan dari informan) menceritakan kepada kita dengan siapa individu saling tukar kunjungan, bermain, pergi ke tempat peribadatan, dll.

    DAERAH SOSIAL (SOCIAL AREAS)


    Adanya kelas-kelas sosial berarti bahwa orang tinggal di dalam lingkungan sosial yang berbeda-beda. Lingkungan fisik tempat orang itu tinggal mencerminkan adanya perbedaan dalam lingkungan sosialnya.
    Komunitas metropolitan terdiri dari daerah-daerah sosial -yaitu kelompok-kelompok lingkungan (tidak harus bersebelahan) yang memiliki kesamaan karakteristik demografis dan ekologis. Daerah sosial dihuni oleh orang-orang yang cenderung sama dalam sikap politiknya dan sikap-sikap lainnya, dan mereka sangat stabil dari masa ke masa, meskipun tingkat perubahan penghuni daerah itu tinggi.
    ------------------------------

    Keterbukaan sistem status terhadap mobilitas sosial vertikal ditentukan oleh tuntutan fungsional dari masyarakat: mobilitas mempunyai konsekuensi positif ataupun negatif bagi individu maupun bagi kelompok

    Dalam setiap masyarakat industri modern terdapat mobilitas sosial vertikal dalam jumlah yang cukup besar; orang terus-menerus berpindah-pindah turun/naik dari dan ke berbagai sistem status di dalam masyarakat. Tingkat mobilitas vertikal dalam sebuah masyarakat merupakan indikasi tentang tingkat "keterbukaan" masyarakat itu. Studi komparatif menunjukkan bahwa di dalam semua masyarakat Barat, jumlah mobilitas sosialnya kira-kira sama. Studi komparatif sejarah lebih jauh menunjukkan bahwa tapal batas Amerika tidak menjadi lebih tertutup ataupun kurang tertutup selama seratus tahun terakhir ini.

    Mobilitas sosial ke atas itu tidak selalu baik. Individu yang pindah ke status atas mungkin harus membayar dalam bentuk rasa tidak aman dan ketegangan; masyarakat harus membayar dalam bentuk berkurangnya solidaritas kelompok.
    Ketidaksesuaian antara kedudukan-kedudukan seorang individu dalam berbagai sistem status sebuah komunitas - dalam status pekerjaannya, kekuasaannya, ekonominya, dan sistem kelas sosialnya - dapat merupakan sumber frustrasi yang parah bagi individu tersebut, yang mempengaruhinya untuk mengambil sikap politik ekstrimis.

    KEDUDUKAN SOSIAL INDIVIDU


    Semakin banyak fakta yang kita ketahui tentang seseorang, kita akan semakin dapat menduga secara lebih tepat tentang keadaan orang tersebut. Kita akan dapat menentukan secara lebih tepat kedudukan sosialnya - kita akan semakin mampu menggambarkan habitat sosialnya. Dan dengan mengetahui habitat sosial seorang individu, maka akan meningkat pula kemampuan kita untuk membuat estimasi tentang karakteristik psikologisnya - kognisinya, keinginannya, sikapnya, nilai-nilai yang dianutnya, dan tindakannya. Kedudukan sosial individu itu sangat menentukan partisipasinya secara khusus di dalam keseluruhan kebudayaan masyarakatnya. Keseluruhan kebudayaan sebuah masyarakat yang kompleks itu terlalu kompleks dan terlalu kaya bagi seorang individu untuk dapat berpartisipasi di dalamnya secara penuh, untuk berbagi semua keyakinan-keyakinannya, norma-normanya, nilai-nilainya, dan tindakan-tindakannya. Untuk berpartisipasi di dalam kebudayaan masyarakatnya itu laki-laki harus memiliki keterampilan-keterampilan dan pengetahuan tertentu. Mereka harus menganut sikap dan nilai tertentu; mereka harus berusaha mencapai tujuan tertentu. Perempuan harus mempunyai keterampilan-keterampilan yang berbeda, sikap dan nilai yang berbeda, tujuan yang berbeda. Oleh karena itu kita dapat berbicara tentang budaya laki-laki dan budaya perempuan. Demikian pula halnya, ada budaya usia, budaya kerja, budaya kelas, dan banyak "budaya bagian" lainnya - sebanyak "bagian" yang terdapat di dalam sebuah masyarakat. Karena hal inilah maka kita terlebih dahulu menelaah bagaimana anggota masyarakat dapat dipilah-pilah sebelum memfokuskan perhatian kita pada telaah mengenai kebudayaan.

    Labels:

    Links to this post:

    Create a Link

    << Home

    :)

    Anda ingin mencari artikel lain? Silakan isi formulir pencarian di bawah ini. :)
    Google
  • Kembali ke DAFTAR ISI