DOCTYPE html PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML 1.0 Strict//EN" "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-strict.dtd"> Didi Tarsidi: Counseling, Blindness and Inclusive Education: Sejarah Pendidikan bagi Tunanetra di Inggris
  • HOME


  • Guestbook -- Buku Tamu



    Anda adalah pengunjung ke

    Silakan isi Buku Tamu Saya. Terima kasih banyak.
  • Lihat Buku Tamu


  • Comment

    Jika anda ingin meninggalkan pesan atau komentar,
    atau ingin mengajukan pertanyaan yang memerlukan respon saya,
    silakan klik
  • Komentar dan Pertanyaan Anda




  • Contents

    Untuk menampilkan daftar lengkap isi blog ini, silakan klik
  • Contents -- Daftar Isi




  • Izin

    Anda boleh mengutip artikel-artikel di blog ini asalkan anda mencantumkan nama penulisnya dan alamat blog ini sebagai sumber referensi.


    06 June 2008

    Sejarah Pendidikan bagi Tunanetra di Inggris

    McCall, S. (1999). “Historical Perspectives”. In: Mason, H. & McCall, S. (Eds.). (1999, pp.2-13). Visual Impairment: Access to Education for Children and Young People. London: David Fulton Publishers.

    Diterjemahkan oleh Didi Tarsidi
    Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

    Pendahuluan

    Bab ini akan menyajikan sejarah singkat tentang perkembangan layanan pendidikan bagi anak dan remaja tunanetra di Inggris. Penulis akan berusaha mengidentifikasi peristiwa-peristiwa kunci, tokoh-tokoh dan pengaruh-pengaruh yang telah membentuk sistem penyelenggaraan dan praktek pendidikan yang digambarkan di dalam buku ini.

    Masa-masa Awal

    Sekolah pertama bagi anak tunanetra di Eropa didirikan di Paris pada tahun 1784 oleh Valentin Hauy, tetapi jelas bahwa di berbagai bagian Eropa sejumlah kecil anak tunanetra sudah menerima pendidikan formal sebelum tahun tersebut, kadang-kadang di sekolah setempat bersama-sama dengan anak-anak yang awas. Beberapa dari anak-anak tersebut, dalam masa kehidupannya selanjutnya, bahkan berhasil mencapai prestasi nasional maupun internasional dalam berbagai bidang kebudayaan dan akademik. Salah seorang dari individu luar biasa ini adalah akademisi Inggris Nicholas Saunderson yang lahir pada tahun 1682 dan kehilangan penglihatannya pada masa bayinya karena cacar. Dia dididik di sebuah sekolah di Penistone di Yorkshire dan menonjol dalam sastera klasik dan kemudian dalam matematika. Dia selanjutnya masuk Cambridge University, di mana dia diangkat sebagai profesor dalam bidang matematika, dan meniti karir yang menonjol hingga meninggalnya pada tahun 1739 (Ritchie, 1930).

    Contoh lainnya adalah pendeta terkemuka dan kepala sekolah di Skotlandia yang bernama Thomas Blacklock, yang meskipun buta sejak bayi, dididik di sebuah sekolah dasar biasa. Dia banyak menulis puisi dan merupakan salah seorang sahabat pujangga Robert Burns.
    Lowenfeld (1974) mengemukakan bahwa munculnya para "self-emansipator" pada awal abad ke-18 ini merupakan salah satu faktor yang mendorong minat orang terhadap pendidikan bagi orang-orang yang tunanetra. Akan tetapi, contoh-contoh yang baik ini sesungguhnya merupakan topeng bagi keberadaan yang menyedihkan dari kemiskinan dan kebodohan yang merupakan nasib dari kebanyakan orang tunanetra di Eropa pada abad ke-18 dan awal abad ke-19.

    Sekolah Khusus dan Sekolah Umum Lokal

    Selama masa-masa rusuh yang mengitari Revolusi Perancis, sekolah yang didirikan oleh Hauy itu untuk sementara luput dari perhatian orang, dan Hauy melanjutkan pekerjaannya di Berlin dan St. Petersburg di mana dia membantu mendirikan sekolah-sekolah khusus baru bagi tunanetra. Selama dua dekade berikutnya sekolah-sekolah semacam ini berdiri di kota-kota besar lain di seluruh Eropa.
    Sekolah khusus bagi tunanetra pertama di Inggris dibuka di Liverpool pada tahun 1891 dan diikuti oleh sekolah-sekolah di Edinburgh, Bristol, London dan kota-kota besar lainnya. Pendirian sekolah-sekolah di Inggris tersebut dipelopori oleh badan-badan sukarela filantropis atau organisasi-organisasi keagamaan, dan sering dilengkapi dengan bengkel-bengkel kerja dan rumah-rumah khusus untuk tunanetra dewasa yang disebut "asylum" (rumah suaka). Pada awalnya sekolah-sekolah ini terutama bertujuan mengajarkan keterampilan-keterampilan kerja, misalnya piagam pendirian sekolah Liverpool menyebutkan bahwa para tunanetra akan diberi pelajaran dalam bidang musik atau seni mekanik agar mereka dapat mandiri dan berguna bagi masyarakat (Best, 1992).
    Meskipun sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra di Inggris sudah terorganisasi dengan baik sejak tahun 1860-an, tetapi sekolah-sekolah tersebut baru melayani sebagian saja anak-anak tunanetra yang membutuhkan pendidikan. Menurut Hurt (1988), kampanye untuk mendapatkan pendidikan dasar bagi semua anak yang tunanetra dimulai pada tahun 1869. Elizabeth Gilbert, puteri tunanetra dari Uskup Chichester, menggalang sebuah petisi yang menuntut agar anak-anak tunanetra tercakup di dalam perundang-undangan nasional tentang pendidikan dasar universal.
    Pendidikan dasar universal diperkenalkan di Inggris pada tahun 1870. Meskipun undang-undang tidak mewajibkan sekolah-sekolah umum lokal untuk mencakupkan di dalam penyelenggaraannya anak-anak yang tunanetra, tetapi anak-anak tunanetra dengan jumlah yang cukup besar diterima di banyak sekolah umum lokal. Alexander Barnhill, dalam kata pengantarnya pada bukunya A New Era in the Education of Blind Children, or Teaching the Blind in Ordinary School (1875), mengatakan bahwa terdapat 50 anak tunanetra yang diajar dengan cara ini di Skotlandia dan hanya 102 diajar di lembaga-lembaga khusus bagi tunanetra.
    Kelompok-kelompok penjaringan yang didirikan di banyak kota pada tahun 1830-an dan 1840-an untuk menjaring orang tunanetra dewasa untuk diberi pengajaran membaca, menemukan juga anak-anak tunanetra yang belum bersekolah. Kota tempat tinggal Barnhill, Glasgow, tidak terkecuali. Dia mengatakan bahwa di kotanya sendiri, di mana terdapat sebuah rumah suaka yang sangat baik, anak-anak seperti ini, dalam jumlah yang cukup besar, ditemukan tumbuh tanpa pendidikan - orang tuanya tidak mampu atau tidak berkeinginan memasukkannya ke lembaga-lembaga bagi tunanetra.
    Barnhill berpendapat bahwa pendidikan bagi anak-anak tunanetra di sekolah biasa merupakan satu-satunya cara untuk memperoleh pendidikan bagi semua anak tunanetra, dengan argumentasi sebagai berikut: Banyaknya kesulitan atau tingginya biaya biasanya merupakan penghambat dimasukkannya anak-anak tunanetra ke lembaga-lembaga bagi tunanetra, sehingga banyak anak yang terabaikan sama sekali. Dalam keadaan seperti ini, alasan untuk mendidik anak-anak tunanetra di sekolah biasa harus diakui sebagai alasan terkuat. Sudah tampak cukup banyak indikasi bahwa Negara tidak akan mentoleransi penyelenggaraan pendidikan yang hanya bagi 50% dari populasi anak tunanetra, yang tertampung di lembaga-lembaga, dan membiarkan selebihnya tumbuh tak terperhatikan. Ketika Barnhill mengadvokasikan untuk diselenggarakannya pendidikan cuma-cuma bagi anak-anak tunanetra di sekolah-sekolah umum lokal, dia tidak bermaksud mengatakan bahwa sekolah-sekolah khusus harus ditutup, melainkan dia mengemukakan bahwa pendidikan bagi semua anak tunanetra hanya dapat dicapai dengan memanfaatkan sekolah umum lokal.
    The Royal Commission on the Blind and Deaf and Dumb (Komisi Kerajaan untuk Urusan Tunanetra dan Tunarungu), yang menyampaikan laporannya pada tahun 1889, mencatat bahwa di samping apa yang telah dilaksanakan di Glasgow, sekolah-sekolah umum di London, Bradford, Cardiff dan Sunderland juga telah melaksanakan pengajaran bagi anak-anak tunanetra. Laporan tersebut mengemukakan bahwa dalam kebanyakan kasus, anak-anak ini mengikuti jadwal biasa bersama-sama dengan teman-temannya yang awas dan bergaul dengan mereka, baik pada waktu sekolah maupun pada waktu bermain. Di London, anak-anak tunanetra biasanya mengikuti sekolah biasa, tetapi di samping itu, pada hari-hari tertentu mereka menerima pengajaran khusus di pusat-pusat pendidikan khusus bagi tunanetra yang jumlahnya ada 18 buah. Pada tahun 1888 jumlah keseluruhan anak tunanetra adalah 132.
    Para anggota Komisi tersebut pada umumnya lebih menyukai pendidikan anak-anak tunanetra bersama-sama dengan anak-anak awas. Mereka menulis bahwa pergaulan yang bebas dengan orang-orang awas memberikan semangat dan kemandirian kepada orang-orang tunanetra, dan memberikan stimulus yang sehat, yang memungkinkan mereka bersaing secara lebih berhasil dengan orang-orang awas dalam kehidupan mereka kelak dibandingkan dengan mereka yang dididik sepenuhnya di lembaga-lembaga khusus bagi tunanetra.
    Atas usulan Komisi tersebut, the Elementary Education Act (Undang-undang Pendidikan Dasar) bagi Anak Tunanetra dan Tunarungu diberlakukan pada tahun 1893. Undang-undang tersebut mewajibkan dewan pengurus sekolah lokal untuk memberikan pendidikan bagi anak-anak tunanetra dari usia lima sampai enam belas tahun, yang merupakan satu prestasi besar pada masa di mana usia minimal untuk keluar sekolah bagi anak pada umumnya adalah sepuluh tahun.
    Berlawanan dengan apa yang mungkin diharapkan, menjelang akhir abad ke-19 itu praktek mendidik anak-anak tunanetra di sekolah umum tampak menurun, dan sekolah-sekolah khusus dibiarkan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan pendidikan bagi anak-anak tunanetra itu sendirian. Sejumlah faktor bertanggung jawab atas perubahan ini. Satu di antaranya adalah mungkin bahwa Undang-undang pendidikan tahun 1893 itu berisi satu klausul yang mengatur satu prosedur baru bahwa sebuah sekolah harus mempunyai sertifikasi untuk dapat dipandang cocok untuk mengajar anakk-anak tunanetra, dan jelas sekolah khusus akan lebih memungkinkan untuk memenuhi persyaratan untuk memperoleh sertifikasi tersebut daripada sekolah umum yang dikelola oleh dewan pengurus lokal. Lebih jauh, berdasarkan Undang-undang pendidikan Inggris tahun 1902, lembaga pendidikan lokal yang lebih kecil dilebur ke dalam lembaga yang lebih besar, dan kebanyakan otoritas pendidikan leburan tersebut tampaknya lebih suka memenuhi kewajibannya terhadap anak-anak tunanetra ini dengan membiayai mereka untuk masuk ke sekolah khusus bagi tunanetra suasta.
    Maka sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra mengkonsolidasikan posisinya dan gerakan untuk mendidik anak tunanetra di sekolah-sekolah umum lokal kehilangan momentumnya selama 70 tahun. Akan tetapi, gerakan ini tidak mati sama sekali, karena satu survey oleh College of Teachers of the Blind dan National Institute for the Blind (1936) melaporkan bahwa praktek yang saat itu dijumpai di Glasgow, sebagaimana digambarkan oleh salah seorang saksi dari Skotlandia, adalah bahwa di satu dari tiga sekolah untuk anak awas terdapat anak tunanetra.
    Pada awal abad ke-20, jumlah anak di sekolah khusus bagi tunanetra meningkat, meskipun sekolah-sekolah tersebut aga selektif dalam pendekatannya.
    Wilson (1907), dalam kata pengantarnya pada edisi keempat dari Information with Regard to Institutions, Societies and Classes for the Blind in England and Wales, menyatakan bahwa:
    Hal-hal berikut ini dapat dipandang sebagai aturan umum yang mempengaruhi semua anak yang ingin masuk ke sekolah khusus bagi tunanetra. Mereka harus buta sama sekali, atau secara praktis adalah buta, tidak berkekurangan dalam daya intelek atau fisiknya, berkesehatan baik, tidak kaku, tidak menderita penyakit kulit ataupun gangguan lain yang dapat mengganggu kenyamanan sesama pelajar, dan harus sudah divaksin atau pernah terkena cacar.
    Secara singkat, dapat ditambahkan bahwa sangat sulit untuk memberi rekomendasi tentang apa yang sebaiknya dilakukan terhadap anak tunanetra yang sakit-sakitan, lemah, dan "berkelainan", yang tidak berhak masuk ke sekolah khusus bagi tunanetra.
    Sekitar tahun 1907 sekolah berasrama telah menjadi norma bagi anak-anak tunanetra, dan daftar yang memuat lebih dari 33 sekolah berasrama yang melayani 826 anak laki-laki dan 639 anak perempuan dikatalogkan oleh Wilson.
    Pada tahun tersebut juga berdiri College of Teachers of the Blind (CTB) (lembaga pendidikan guru bagi tunanetra), yang melakukan pengujian terhadap guru-guru di sekolah khusus bagi tunanetra dan memberikan diploma kepada mereka yang memenuhi persyaratannya. Memperoleh diploma CTB dalam masa tiga tahun mengajar di sebuah sekolah khusus bagi tunanetra menjadi wajib bagi guru-guru berdasarkan peraturan pemerintah.

    Sekolah bagi Anak Kurang Awas (Low Vision)

    Sekitar awal abad ke-20, kebutuhan pendidikan anak-anak kurang awas (yang ketika itu disebut partially sighted atau partially blind) mulai diakui sebagai berbeda dari kebutuhan anak-anak yang buta. Klasifikasi kebutaan hingga saat itu demikian kabur sehingga anak-anak yang masih memiliki sisa penglihatan dengan mudah dapat dimasukkan ke sekolah khusus untuk anak-anak yang buta ataupun ke sekolah biasa.
    Pada tahun 1902, seorang dokter mata muda, N. Bishop Harman, diberi tanggung jawab untuk memberikan layanan optalmologis kepada sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra di London (Hathaway, 1964). Harman menemukan bahwa banyak anak di sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra di London masih memiliki cukup banyak sisa penglihatan untuk memperoleh keuntungan dari metode pengajaran visual. Atas rekomendasinya, anak-anak yang mengidap myopia berat dan bentuk-bentuk kehilangan sebagian penglihatan lainnya secara tentatif diperkenalkan dengan metode-metode pengajaran visual di sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra di London. Kelas pertama untuk anak-anak kurang awas didirikan pada tahun 1908 di sebuah sekolah dasar biasa di Camberwell, sebuah tempat di wilayah London. Pada awalnya, anak-anak kurang awas tersebut dilarang membaca dan menulis, dan kegiatan belajar/mengajar dilaksanakan secara lisan. Praktek ini berangsur-angsur berubah dengan diizinkannya penggunaan tulisan cetak tangan berukuran besar pada papan tulis (lihat Gambar 1.1).
    Kelas-kelas lain didirikan di sekolah-sekolah umum di London dan tempat-tempat lain di seluruh Inggris, tetapi sementara beberapa kelas khusus itu bertahan terus, sekitar tahun 1930 kebanyakan penyelenggaraan hpendidikan bagi anak kurang awas ini dilaksanakan di sekolah khusus yang terpisah. Pada tahun 1931 National Board of Education membentuk sebuah panitia di bawah kepemimpinan Crowther untuk mengumpulkan informasi tentang pendidikan anak kurang awas. Di antara rekomendasi panitia ini adalah bahwa istilah "partially sighted" lebih tepat daripada "partially blind" untuk anak-anak ini, dan bahwa sebaiknya mereka tidak disekolahkan di sekolah untuk anak-anak yang buta.

    Perwakilan medis panitia itu juga merekomendasikan pelonggaran pembatasan dalam hal membaca dan menulis serta latihan fisik yang telah dipraktekkan hingga saat itu demi alasan "penghematan penglihatan", suatu keyakinan yang salah bahwa sisa penglihatan akan semakin berkurang bila dipergunakan sehingga perlu dihemat dengan membatasi penggunaannya. Sayangnya laporan Crowther itu kecil sekali dampaknya terhadap pendidikan anak-anak kurang awas, dan jumlah tempat bagi anak-anak ini di kelas-kelas di sekolah umum tetap terbatas hingga diberlakukannya Undang-undang Pendidikan (Education Act) 1945 (Department of Education and Science [DES], 1972).

    Berbagai Bentuk Penyelenggaraan Lain

    Sekitar tahun 1930-an berbagai bentuk penyelengaraan pendidikan tersedia untuk berbagai kelompok usia. National Institute for the Blind mendirikan "Sunshine Homes for Blind Babies" (rumah sinar mentari bagi bayi tunanetra) di seluruh Inggris pada tahun 1918, 1923, dan 1924 (College of Teachers of the Blind/National Institute for the Blind [CTB/NIB], 1936). Rumah-rumah ini, yang melayani "anak-anak yang tidak dapat dilayani secara memadai di rumahnya sendiri", menawarkan pendidikan berasrama bagi anak-anak pra-sekolah sedini mungkin. Anak-anak pra-sekolah yang tidak tinggal di Sunshine Home sering mendapat kunjungan dari pekerja sosial yang disebut "home teachers for the blind", satu peranan yang telah berkembang dari "guru membaca kunjung" yang umum pada abad sebelumnya.
    Pendidikan dasar bagi anak-anak tunanetra tetap wajib antara usia lima sampai 16 tahun. Kebanyakan dari anak-anak ini bersekolah di sekolah khusus bagi tunanetra hingga usia 16 tahun dan kemudian disalurkan ke pusat latihan bagi tunanetra di mana mereka mendapat pengajaran kekaryaan dalam keterampilan-keterampilan seperti membuat keranjang dan sikat, menata tempat tidur, memperbaiki sepatu, bertenun atau penyetelan piano (piano tuning).
    Pada usia 11 atau 12 tahun, anak-anak tunanetra yang paling berkemampuan diseleksi untuk pendidikan lanjutan dan menengah yang diselenggarakan di Worcester College for the Blind, Chorleywood College for Girls with Little or No Sight, atau The Royal Normal College for the Blind. Pusat-pusat pendidikan ini menyiapkan siswa-siswanya untuk ujian negara yang hasilnya dapat membawa mereka ke universitas atau karier dalam profesi-profesi tertentu.
    Pada tahun 1930-an pun, diakui bahwa penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak usia sekolah yang diidentifikasi sebagai menyandang ketunanetraan itu masih memerlukan reorganisasi. Sebagian besar dari ke-34 sekolah khusus yang ada hanya mempunyai murid dalam jumlah kecil (kadang-kadang hanya 20 orang) dan tidak dapat menawarkan kurikulum yang luas ataupun kelas-kelas yang cukup homogen.
    College of Teachers of the Blind dan the National Institute for the Blind (CTB/NIB, 1936) merekomendasikan suatu reorganisasi nasional sehingga pendidikan bagi anak-anak tunanetra hanya diselenggarakan oleh sekolah-sekolah yang lebih besar dalam jumlah yang lebih sedikit, yang kesemuanya berasrama. Mereka juga mengusulkan diselenggarakannya taman inderia regional berasrama untuk kanak-kanak di bawah usia lima tahun, dan mempertimbangkan untuk mereorganisasi sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra agar sesuai dengan sistem baru yang diberlakukan bagi sekolah-sekolah umum, di mana semua anak akan meninggalkan sekolah dasar pada usia 11 tahun untuk masuk ke sekolah lanjutan dan menengah yang terpisah.
    Perang Dunia Kedua mengacaukan rencana pengembangan sistem pendidikan bagi tunanetra itu, dan banyak di antara sekolah khusus di kota-kota untuk sementara waktu dipindahkan ke daerah pedesaan karena alasan keamanan. Tahun-tahun sesudah Perang Dunia Kedua ditandai oleh konsolidasi penyelenggaraan sekolah-sekolah khusus.
    Undang-undang Pendidikan (Education Act) 1944 telah meredefinisikan kategori ketunaan dan mencakup untuk pertama kalinya kategori "partially sighted" (kurang awas) yang didefinisikan sebagai "pupils who by reason of defective vision cannot follow the ordinary curriculum without detriment to their sight or to their educational development, but can be educated by special methods involving the use of sight" (siswa-siswa yang karena alasan ganguan penglihatan tidak dapat mengikuti kurikulum biasa tanpa membahayakan penglihatannya atau perkembangan pendidikannya, tetapi dapat dididik dengan metode-metode khusus yang mencakup penggunaan penglihatan).
    Antara tahun 1945 dan 1947 empat sekolah berasrama yang sebelumnya mengakomodasi siswa-siswa yang buta maupun kurang awas direorganisasi menjadi sekolah untuk siswa-siswa kurang awas saja. Pada akhir tahun 1940-an, beberapa sekolah khusus bagi tunanetra di bagian utara England direorganisasi menjadi sekolah dasar dan sekolah lanjutan, dan siswa-siswa berganti sekolah pada usia 11 tahun.
    Pada akhir tahun 1940-an dan awal tahun 1950-an terjadi peningkatan yang tak diduga dalam jumlah anak yang buta menurut pendidikan (educationally blind). Anak-anak ini, yang pada umumnya lahir prematur, pada awal masa bayinya mengembangkan satu kondisi yang pada saat itu dikenal dengan istilah "retrolental fibroplasia" (RLF) yang mengakibatkan ketunanetraan yang parah dan kadang-kadang disertai ketunaan lain yang terkait. Pada mulanya penyebab kondisi tersebut hanya sedikit saja dimengerti, tetapi kemudian ditemukan bahwa kondisi tersebut terkait dengan cara-cara pemberian oxygen kepada bayi-bayi prematur. Berkat perbaikan dalam cara pemberian oxygen kepada bayi-bayi prematur, kondisi tersebut sebagian besar dapat diatasi tetapi telah mewariskan sejumlah besar anak tunanetra di sekolah-sekolah berasrama pada tahun 1950-an dan 1960-an.

    Sekolah bagi Anak-anak dengan Ketunaan Tambahan

    Kesenjangan utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi tunanetra adalah kurangnya tempat yang cocok bagi anak-anak tunanetra yang menyandang kesulitan belajar (learning disabilities). Pada tahun 1930-an, penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak ini terbatas pada Court Grange School di Abbotskerswell di South Devon, sebuah sekolah kecil berasrama yang didirikan pada tahun 1931 oleh National Institute for the Blind untuk 34 anak yang digambarkan sebagai "terbelakang" yang mempunyai kesempatan yang cukup baik untuk "reklamasi" (CTB/NIB, 1936).
    Akan tetapi, pada tahun 1930-an dan bertahun-tahun sesudah itu, anak-anak yang menyandang keterbelakangan mental yang sangat parah dipandang sebagai tidak mampu didik. The Ellen Terry Homes for Blind Mentally Defective Children (rumah penampungan anak tunanetra dengan ketunaan mental) mengakomodasi 30 anak "yang kondisinya sedemikian rupa sehingga mereka tidak dapat diberi pendidikan" (CTB/NIB, 1936). Anak-anak tunanetra yang mengidap epilepsi berat juga dikesampingkan dari sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra dan sejumlah anak tunanetra yang menyandang ketunaan lain yang berat tetap berada di luar sistem pendidikan hingga sesudah diberlakukannya Education (Handicapped Children) Act (Department of Education and Science, 1970).
    Sebagai respon terhadap semakin meningkatnya kepedulian terhadap anak-anak ini, sebuah sekolah didirikan oleh National Institute for the Blind pada tahun 1947 di Condover Hall, sebuah rumah peninggalan abad ke-16 di daerah pedesaan Shropshire. Kepala sekolah pertamanya, Stanley Oscar Myers, menjadi seorang tokoh yang sangat penting dalam pengembangan pendidikan bagi anak-anak tunanetra dengan ketunaan tambahan. Sekolah tersebut pada awalnya hanya melayani 60 anak usia 7-16, tetapi pada tahun 1959, sebagai respon terhadap semakin meningkatnya tuntutan kebutuhan, RNIB membuka Rushton Hall School di Northamptonshire untuk anak-anak usia 7-11 tahun yang buta menurut pendidikan dan mempunyai ketunaan tambahan, dan Condover menjadi sekolah lanjutan bagi anak-anak kelompok ini yang berusia 12-17 tahun. Pada tahun yang sama, "Pathways", sebuah unit untuk anak-anak yang tunanetra-rungu (deaf-blind), didirikan di Condover (Myers, 1975).

    Pendidikan Guru

    College of Teachers of the Blind (lembaga pendidikan guru bagi tunanetra) (CTB) merupakan tenaga pendorong bagi pengembangan metodologi pengajaran, dan hingga tahun 1950-an merupakan satu-satunya lembaga yang bertanggung jawab untuk menyelenggarakan pendidikan guru bagi tunanetra secara profesional di Inggris. Sebagian besar guru yang mengajar di sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra sudah berpengalaman mengajar di sekolah umum dan dipersyaratkan untuk memperoleh kualifikasi dari CTB sementara mengajar penuh waktu di posnya yang baru.
    Program pendidikan pertama bagi guru-guru untuk anak-anak tunanetra yang diselenggarakan di sebuah lembaga pendidikan tinggi didirikan di University of Birmingham pada pertengahan tahun 1950-an. Angkatan pertamanya terdiri dari enam orang mahasiswa yang mengikuti perkuliahan penuh waktu selama satu tahun untuk diploma. Program tersebut, yang mula-mula berada di bawah kepemimpinan Myfanwy Williams, dan selanjutnya di bawah Elizabeth Chapman OBE, berkembang terus, dan pada tahun 1980-an program ini telah menyamai peranan CTB di tingkat nasional dalam pendidikan guru, menawarkan program pendidikan penuh waktu maupun perkuliahan jarak jauh hingga tingkat gelar bagi guru-guru dari seluruh Inggris dan seluruh dunia.
    Pada tahun 1970, Research Centre for the Education of the Visually Handicapped (RCEVH) (pusat penelitian pendidikan tunanetra ) didirikan di University of Birmingham di bawah kepemimpinan Dr. Michael Tobin. Di antara karya-karya pertamanya adalah penelitian ke arah penyederhanaan kode Braille dan studi longitudinal terhadap anak-anak yang tunanetra.

    Pertumbuhan Sistem Integrasi

    Sekitar tahun 1970, pendidikan bagi anak-anak yang tunanetra menjadi fokus kaji ulang lagi secara nasional. Pengurangan yang tajam dalam jumlah anak yang buta menurut pendidikan, yang terjadi setelah kelompok anak pengidap RLF melewati masa sekolahnya, memunculkan tuntutan akan reorganisasi sistem penyelenggaraan pendidikan bagi anak tunanetra. Kecemasan juga mulai muncul ke permukaan tentang sempitnya pilihan pendidikan yang tersedia bagi para orang tua untuk anak-anaknya yang menyandang ketunanetraan.
    Perdebatan tentang pengintegrasian anak-anak tunanetra ke dalam sekolah umum memanas kembali ketika bukti mulai muncul dari eksperimen skala kecil yang melibatkan pengintegrasian anak-anak dari sekolah-sekolah berasrama untuk tunanetra ke sekolah menengah umum lokal. Pada tahun 1961, sekolah khusus bagi tunanetra St. Vincent, sebuah sekolah berasrama Katolik untuk anak-anak tunanetra segala umur di Liverpool, mulai mengirimkan beberapa siswanya yang paling berprestasi ke sekolah dasar Katolik terdekat untuk belajar bersama-sama dengan anak-anak awas. Anak-anak tunanetra tersebut didukung oleh seorang guru berpengalaman dari St. Vincent yang memberi advis kepada guru-guru kelas di SD itu tentang kebutuhan-kebutuhan khusus anak-anak tersebut dan membantu anak-anak itu dalam mengerjakan pekerjaan rumahnya setiap malam bila mereka pulang ke St. Vincent. Eksperimen serupa di Tapton Mount School di Sheffield dimulai pada tahun 1969 ketika empat orang anak yang pendidikan tingkat SD-nya ditempuh di sekolah itu melanjutkan pendidikan tingkat lanjutannya di sebuah sekolah lanjutan komprehensif setempat.
    Hasilnya menunjukkan bahwa dengan tingkat dukungan yang tepat, anak-anak tertentu yang buta menurut pendidikan dapat berhasil secara akademik di sekolah umum. Akan tetapi, pada saat itu keahlian dalam mendidik anak-anak yang tunanetra hampir secara eksklusif hanya ditemukan di sekolah-sekolah khusus, dan otoritas pendidikan lokal (Local Education Authority / LEA) tidak mempunyai banyak alternatif yang dapat ditawarkannya. Pada tahun 1968, Margaret Thatcher, yang pada saat itu adalah Menteri Negara untuk Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan, membentuk sebuah komisi untuk mempelajari berbagai kemungkinan pendidikan bagi tunanetra, yang diketuai oleh Profesor M. D. Vernon. Pada saat itu penyelenggaraan pendidikan bagi tunanetra terdiri dari 18 sekolah khusus bagi anak-anak yang buta, 19 sekolah khusus untuk anak-anak kurang awas, dua sekolah yang mendidik kedua klasifikasi ketunanetraan tersebut, dan delapan sekolah umum yang menyediakan kelas-kelas khusus bagi anak-anak kurang awas.
    Laporan tentang hasil penyelidikan tersebut diterbitkan pada tahun 1972 (DES, 1972), dan sejumlah rekomendasi dibuat mengenai pengembangan sistem pelayanan di masa depan. Diusulkan agar sebuah rencana nasional dibuat untuk pendistribusian, pengorganisasian dan manajemen sekolah-sekolah khusus dan bentuk-bentuk layanan pendidikan lainnya untuk tunanetra. Rekomendasi-rekomendasi lainnya mencakup pembentukan tim asesmen multidisipliner regional untuk anak-anak pra-sekolah, dan satu pengakuan bahwa anak-anak ini seyogyanya tidak dijauhkan dari rumah keluarganya. Sebagai gantinya, komisi tersebut mengusulkan agar anak-anak pra-sekolah seyogyanya didukung oleh seorang guru kunjung (peripatetic teacher) yang ditugaskan oleh otoritas pendidikan lokal, yang akan mengunjungi anak-anak itu di rumahnya, memberi advis kepada orang tuanya dan memberi dukungan bagi pengintegrasian ke taman kanak-kanak setempat.
    Rekomendasi tersebut segera dilaksanakan berkat keberhasilan sebuah layanan eksperimental yang telah dibentuk di wilayah Midlands. Meskipun pada tahun 1950-an para kepala dan staf senior dari ketujuh taman kanak-kanak Sunshine House sudah mengadakan kunjungan rumah ke keluarga-keluarga bila diminta, namun layanan ini hanya diberikan kepada beberapa anak saja yang terkait dengan taman kanak-kanak tersebut. Sebagai respon terhadap kecemasan yang diungkapkan pada tahun 1960-an oleh para kepala sekolah khusus bagi tunanetra tentang keterlambatan perkembangan di kalangan anak-anak yang masuk sekolah-sekolah khusus itu, kepala sekolah Lickey Grange School diberi izin oleh atasannya, Birmingham Royal Institution for the Blind, untuk menyelenggarakan program perintis untuk memberikan layanan kunjungan cuma-cuma bagi anak-anak pra-sekolah yang tinggal di dalam radius 50 mil di Birmingham. Guru kunjung spesialis pertama yang khusus untuk anak-anak pra-sekolah beserta keluarganya ini adalah seorang mantan kepala sebuah taman kanak-kanak Sunshine House, Heather Jones, yang menduduki posisi barunya itu pada bulan Januari 1970.
    Meskipun respon terhadap permintaan akan layanan ini dari LEA dirasakan lamban, tetapi banyak anak dirujuk melalui kontak pribadi, dan permintaan akan dukungan ini tidak hanya datang dari para orang tua, taman kanak-kanak dan kelompok bermain (playgroup), tetapi juga dari guru-guru di sekolah-sekolah umum lokal yang mempunyai murid yang tunanetra. Dokter spesialis anak dan psikolog perkembangan di pusat-pusat asesmen yang baru berkembang dan unit-unit pengembangan anak di rumah-rumah sakit juga turut memberikan layanan, dan segera permintaan akan dukungan atau advis mulai diterima dari seluruh Inggris. Pada tahun 1971, The Royal National Institute for the Blind (RNIB) sepakat untuk mengambil alih layanan advisoris ini dan mengangkat dua orang guru bagi tunanetra yang lebih berpengalaman untuk tugas tersebut. Jumlah tim tersebut tumbuh terus untuk memenuhi permintaan nasional yang senantiasa meningkat.
    Meskipun Laporan Vernon itu telah memperoleh respon yang luar biasa terhadap rekomendasinya tentang sistem integrasi, tetapi komisi yang diketuai oleh Prof. Vernon itu menyarankan agar dilaksanakan eksperimen lebih lanjut mengenai pendidikan anak-anak tunanetra di sekolah umum, baik dalam kelas reguler maupun kelas khusus. Di samping itu, sementara RNIB memperluas layanan advisorisnya, beberapa otoritas lokal mulai mengangkat guru-guru advisorisnya sendiri. Manchester dan Cleveland adalah di antara otoritas lokal pertama yang menyelenggarakan program layanan untuk mendukung anak-anak yang tunanetra di sekolah umum. Sebagian besar dari "peri-peri" perintis itu diambil oleh LEA dari guru-guru yang berkualifikasi dari sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra. Guru-guru ini sedikit demi sedikit mempertinggi tingkat dukungan lokal kepada para orang tua beserta anak-anaknya. Fokus layanan ini pada awalnya adalah untuk memberi dukungan kkepada anak-anak pra-sekolah dan memberikan dukungan pengajaran bagi anak-anak kurang awas di sekolah umum. Layanan ini meluas dengan cepat, dan di beberapa wilayah tim guru kunjung mulai menawarkan pengajaran dan dukungan advisoris yang mencakup semua kelompok usia dan semua tingkat kemampuan anak-anak yang tunanetra.
    Warnock Report (DES, 1978) menyajikan hasil sebuah penyelidikan pemerintah tentang pendidikan bagi anak-anak penyandang kebutuhan khusus dan memperkuat kecenderungan ke arah pendidikan anak-anak penyandang kebutuhan khusus di sekolah umum. Education Act 1981 (DES, 1981) menyebutkan bahwa anak-anak penyandang kebutuhan khusus seyogyanya memperoleh pendidikannya di sekolah umum setempat asalkan memperhatikan efisiensi penggunaan sumber-sumber yang ada.
    Hal ini lebih mempercepat lagi peningkatan jumlah unit layanan advisoris LEA bagi anak-anak tunanetra pada tahun 1980-an. Anak-anak kurang awas kini pada umumnya dididik di sekolah-sekolah umum, dan hal ini mulai berdampak pada penerimaan siswa baru bagi sekolah-sekolah khusus bagi anak kurang awas. Selama akhir tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an, sekolah-sekolah khusus bagi anak-anak kurang awas mengalami pengurangan peranan secara drastis dan banyak di antaranya harus tutup. Beberapa yang bertahan mulai juga menawarkan layanan kepada anak-anak yang buta secara pendidikan, dan akibatnya perbedaan antara sekolah khusus bagi anak-anak yang buta dan sekolah khusus bagi anak kurang awas tidak ada lagi, karena sekolah-sekolah khusus yang bertahan itu kini melayani semua klasifikasi ketunanetraan dengan rentangan kemampuan yang lebih luas.
    Sistem layanan guru kunjung tumbuh terus dan menjelang awal tahun 1990-an hampir semua otoritas pendidikan lokal di Britania sudah membentuk dinas layanannya sendiri. Karena layanan tersebut beroperasi di sekolah umum, maka suatu gambaran yang lebih lengkap mulai muncul tentang populasi anak tunanetra. Angka populasi tersebut terevisi terus. Pada tahun 1990-an, berbagai laporan menunjukkan bahwa angka yang tepat adalah sekitar 19.500 anak, yang dua pertiganya diperkirakan menyandang ketunaan tambahan (lihat Bab 2 dan 32).
    Meskipun sekolah-sekolah khusus bagi tunanetra hanya melayani sebagian kecil dari 19.500 anak ini, tetapi penurunan dalam populasi beberapa sekolah ini tampaknya sudah mencapai titiknya. Terdapat konsensus di kalangan para pendidik tentang perlunya terdapat berbagai jenis layanan di setiap wilayah, sehingga dapat menawarkan kepada para orang tua satu pilihan yang lebih mereka sukai di antara bermacam-macam jenis sistem penyelenggaraan pendidikan yang tersedia bagi anak-anaknya yang menyandang ketunanetraan.
    Tantangan masa kini dan masa mendatang akan dikaji pada bab selanjutnya, tetapi prestasi dan kegagalan di masa lalu itu patut dicatat dan ditandai.

    Labels:

    Links to this post:

    Create a Link

    << Home

    :)

    Anda ingin mencari artikel lain? Silakan isi formulir pencarian di bawah ini. :)
    Google
  • Kembali ke DAFTAR ISI