DOCTYPE html PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML 1.0 Strict//EN" "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-strict.dtd"> Didi Tarsidi: Counseling, Blindness and Inclusive Education: Konseling untuk Penyesuaian Psikologis terhadap Kehilangan Penglihatan pada Individu Tunanetra Dewasa
  • HOME


  • Guestbook -- Buku Tamu



    Anda adalah pengunjung ke

    Silakan isi Buku Tamu Saya. Terima kasih banyak.
  • Lihat Buku Tamu


  • Comment

    Jika anda ingin meninggalkan pesan atau komentar,
    atau ingin mengajukan pertanyaan yang memerlukan respon saya,
    silakan klik
  • Komentar dan Pertanyaan Anda




  • Contents

    Untuk menampilkan daftar lengkap isi blog ini, silakan klik
  • Contents -- Daftar Isi




  • Izin

    Anda boleh mengutip artikel-artikel di blog ini asalkan anda mencantumkan nama penulisnya dan alamat blog ini sebagai sumber referensi.


    06 August 2007

    Konseling untuk Penyesuaian Psikologis terhadap Kehilangan Penglihatan pada Individu Tunanetra Dewasa

    Oleh Didi Tarsidi
    Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

    I. Pendahuluan

    Dalam makalah ini, yang dimaksud dengan tunanetra dewasa adalah orang yang menjadi tunanetra sesudah menginjak usia dewasa. Bila seorang individu tiba-tiba menjadi tunanetra, dia akan melewati suatu masa syok karena menyadari bahwa hidupnya akan berubah secara radikal. Karena kehilangan penglihatan mempengaruhi individu pada berbagai level sekaligus, yang menuntut individu itu untuk mengubah caranya berpersepsi, berperilaku, berpikir, dan merasakan berbagai hal, maka penyesuaian dirinya dapat merupakan proses yang panjang, dan mungkin harus dilakukan melalui beberapa macam cara, tergantung pada temperamen individu itu, pengalamannya terdahulu, dan caranya mengatasi krisis (Dodds, 1991a). Mengatasi kehilangan penglihatan harus dilakukan pada level emosi, persepsi, kognitif, dan perilaku, dan ini semua saling terkait. Ketunanetraan yang terjadi tiba-tiba pada usia dewasa dapat mengakibatkan depresi, persepsi diri yang tidak tepat, sangat menurunnya tingkat motivasi, rendanya harga diri, dan rendahnya self-efficacy. Akan tetapi, dengan bantuan bimbingan dan konseling yang tepat, penyesuaian diri terhadap kehilangan penglihatan itu akan dapat tercapai dengan baik. Makalah ini akan mengupas masalah-masalah tersebut dan bagaimana seorang konselor dapat membantu individu tunanetra dewasa melakukan penyesuaian psikologis terhadap kondisinya yang baru agar dapat mengatasi kehilangan penglihatannya secara positif. Dalam makalah ini, istilah “mengatasi” dipergunakan sebagai padanan untuk “coping”. Pada esensinya, Dodds (1993) merumuskan “coping” sebagai kemampuan individu untuk mengurangi kesenjangan antara sumber-sumber yang ada pada dirinya dengan tuntutan yang dibebankan lingkungan kepadanya. Makalah ini akan mencoba mengupas bagaimana bimbingan dan konseling dapat membantu orang tunanetra dewasa mengatasi kehilangan penglihatannya dan melakukan penyesuaian psikologis dengan ketunanetraannya itu serta memulai kembali kehidupan yang bermakna dengan kondisinya yang baru.

    II. Ketunanetraan dan Depresi

    Keadaan emosi seperti kecemasan dan depresi umum dialami oleh orang yang baru kehilangan penglihatan (Dodds, 1993). Dalam keadaan depresi, orang tidak dapat membuat pertimbangan yang sehat, tidak realistis, pesimistik, dan prediksinya tentang masa depannya suram.

    Perpaduan antara kecemasan dan depresi dapat membuat orang lemah fisiknya tetapi sangat aktif mentalnya. Mereka mungkin tidak dapat tidur karena pikirannya terus diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak dapat dijawabnya, harapan dan ketakutan yang tak terungkapkan, dan prediksi tentang masa depan yang menakutkan. Kepalanya mungkin penuh dengan pikiran-pikiran ini sehingga tampak tidak memiliki kapasitas lagi untuk memperhatikan pembicaraan orang lain. Mereka mungkin akan mengangguk tanda setuju dengan saran kita sebagai konselor, tetapi jika kita menanyakan apa yang kita katakan kepadanya 20 menit yang lalu, kemungkinan mereka tidak dapat menjawabnya. Kepada konselor, mereka akan berpura-pura berminat sekedar untuk menunjukkan rasa hormat, tetapi hati dan jiwanya sesungguhnya mungkin berada di dunia lain. Oleh karena itu, penting bagi konselor untuk mengulang setiap informasi yang disampaikan kepadanya pada kesempatan lain agar benar-benar masuk.

    Kecemasan dan depresi tidak selalu hadir bersamaan, tetapi pada orang yang baru kehilangan penglihatannya biasanya demikian (Dodds, 1993). Kehilangan penglihatan berarti bahwa cara-cara yang biasa dilakukan untuk mengatasi berbagai hal tidak akan dapat dilakukannya lagi, sehingga orang tidak dapat memenuhi tuntutan kehidupan dengan merespon secara otomatis; berbagai hal kecil harus ditimbang ulang. Tugas-tugas yang sederhana pun kini mungkin tampak sangat sulit dan berbahaya baginya, terutama jika orang itu memiliki pandangan yang negatif tentang ketunanetraan: ketergantungan seumur hidup dan tidak berdaya. Di samping itu, jika dia berkeyakinan bahwa situasinya tidak akan membaik secara signifikan dalam waktu dekat, keputusasaan dan depresi akan dialaminya.

    Meskipun terdapat faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi perkembangan depresi akibat kehilangan penglihatan, ada yang berpendapat bahwa terdapat faktor fisiologis yang mendasarinya. Penelitian menunjukkan bahwa depresi dapat diakibatkan oleh kurangnya eksposur terhadap cahaya (Rosenthal, Sack, Gillin et al., 1984). Cahaya mempengaruhi otak melalui dua cara: (1) melalui syaraf optik, dan (2) melalui hormon yang disebut melatonin, yang diproduksi di dalam otak sebagai respon terhadap cahaya. Melatonin adalah satu faktor yang mempengaruhi circadian rhythm (ritme siklus hari atau tidur-bangun) pada otak kita. Banyak orang tunanetra mengalami gangguan dalam ritme siklus ini, dan terapi dengan pemberian melatonin telah terbukti efektif untuk memulihkannya ke keadaan normal. Mungkin depresi kronis yang dijumpai pada banyak orang yang tiba-tiba menjadi tunanetra terkait dengan kondisi di mana otaknya tidak lagi terpengaruh oleh cahaya, sehingga ada kemungkinan bahwa salah satu penyebab depresi itu adalah faktor fisiologis. Spekulasi ini masih perlu pengujian dan penelitian, tetapi studi kasus yang dilakukan oleh Rosenthal et al. menunjukkan bahwa memang terdapat kaitan antara kehilangan penglihatan dan gangguan emosi.

    Depresi berdampak pada mekanisme perhatian. Bila penglihatan dan indera lain seperti pendengaran atau perabaan mengalami konflik, penglihatan cenderung memenangkan konflik tersebut (Rock & Victor, 1963). Ini menunjukkan bahwa perhatian kita lebih banyak didasarkan pada masukan visual. Oleh karena itu, bila orang kehilangan penglihatannya, maka perhatianya akan didasarkan pada masukan dari saluran indera-indera lain. Akan tetapi jika informasi ini kurang dipahaminya, maka ada kemungkinan bahwa perhatiannya akan lebih didasarkan pada pikiran dan perasaan yang muncul dari dalam, bukan pada masukan dari luar dirinya. Hal ini dapat mengakibatkan orang itu menarik diri dan enggan untuk berhubungan dengan dunia luar.

    Dalam membantu klien yang mengalami depresi, Cavanagh (1982) menyarankan agar konselor mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut. Konselor dapat menawarkan dirinya sebagai sumber pengertian dan empati, terutama karena orang yang mengalami depresi sering dijauhi oleh orang lain, termasuk orang-orang yang dicintainya. Konselor mungkin mengetahui dengan baik sebab-sebab umum depresi dan dapat membantu orang memperkuat kelemahan-kelemahan yang mendasarinya. Misalnya, meskipun konselor tidak dapat mengembalikan suatu kehilangan, tetapi mereka dapat membantu orang menafsir ulang kehilangan itu secara lebih realistis. Ini akan memberikan fondasi psikologis yang lebih kuat yang akan memberikan kemampuan kepada klien untuk mengatasi stress yang mungkin dialaminya kelak. Konselor dapat memahami bahwa depresi dapat dimanfaatkan sebagai cara mengekspresikan rasa takut dan marah. Banyak orang yang terdepresi tidak dapat bergerak karena mereka terlalu ketakutan. Depresinya itu tidak akan dapat disembuhkan kalau rasa takut yang mendasarinya itu tidak ditemukan dan dihilangkan terlebih dahulu.
    Konselor dapat menyadari bahwa tujuan utama dalam membantu orang yang terdepresi adalah bukan hanya untuk membantu klien terbebas dari depresi, tetapi untuk membantunya memperkuat dimensi-dimensinya yang lemah yang telah mengakibatkannya rentan terhadap depresi.

    III. Ketunanetraan dan Persepsi diri

    Orang yang tunanetra sering sekali digambarkan sebagai tak berdaya, tidak mandiri dan menyedihkan, sehingga terbentuk persepsi purbasangka (prejudice) di kalangan masyarakat awas bahwa orang tunanetra itu patut dikasihani, selalu butuh perlindungan dan bantuan. Dodds (1993) mengemukakan bahwa persepsi negatif tentang ketunanetraan tersebut sering sengaja dipertahankan dan diperkuat oleh badan-badan amal demi menggugah hati banyak orang untuk berderma. Hal yang serupa sangat sering kita jumpai di dalam masyarakat kita, di mana pencari derma berkeliling dari rumah ke rumah dengan mengatasnamakan tunanetra. Citra tunanetra yang digambarkan oleh para pencari derma tersebut bahkan diperkuat oleh pemandangan yang sering dijumpai di banyak pusat keramaian di mana orang tunanetra yang tidak berkesempatan memperoleh pendidikan, rehabilitasi atau latihan yang sesuai dengan kebutuhannya terpaksa harus menggantungkan dirinya pada belas kasihan orang lain. Sangat jarang orang awas bertemu dengan model peran tunanetra yang positif dalam wujud orang tunanetra yang kompeten dan mandiri. Di samping itu, media, seni rupa, literatur dan drama lebih sering menampilkan citra ketunanetraan yang negatif, yang cenderung menonjolkan stigma daripada menawarkan aspirasi positif kepada mereka yang pada suatu saat berkemungkinan untuk kehilangan penglihatannya (Lee & Loverage, 1987), menimbulkan rasa sedih pada pemirsanya atau pembacanya, serta membuat orang awas merasa superior dan beruntung bahwa mereka tidak seperti yang digambarkan itu (Dodds, 1993). Dodds juga mengamati bahwa banyak media menggambarkan kebutaan sebagai hukuman yang patut diterima oleh penyandangnya atas kejahatan yang dilakukannya. Gambaran seperti ini mengundang pemirsanya untuk memposisikan diri pada pandangan moral tertentu terhadap sang korban; satu pandangan di mana rasa kasihan merupakan satu-satunya respon yang tepat bagi mereka yang mempunyai rasa belas kasihan, dan perasaan kebenaran dan keadilan bagi mereka yang tidak mampu menunjukkan rasa belas kasihan.

    Sama merusaknya dengan gambaran negatif mengenai ketunanetraan adalah gambaran positif yang tidak realistis di mana orang tunanetra dilukiskan sebagai "super‑hero", yang dipandang sebagai orang yang memiliki daya yang mengagumkan, baik fisik maupun mental (ingat misalnya "Si Buta dari Gua Hantu").

    Akhir-akhir ini sering juga muncul pemberitaan tentang orang tunanetra dengan prestasi tinggi, misalnya mereka yang dapat mengoperasikan komputer dengan baik, atau berhasil meraih gelar akademik yang prestisius, atau berhasil dalam karir profesionalnya. Masyarakat sering memandang pencapaian seperti ini sebagai "langka tetapi nyata", sesuatu yang mengagumkan. Pemberitaan seperti ini tidak berhasil mengubah stereotipe negatif tentang ketunanetraan, karena di balik kekaguman itu tersirat pikiran bahwa orang tunanetra pada umumnya tidak dapat atau tidak seharusnya demikian, sehingga bila masyarakat melihat contoh orang tunanetra melanggar ekspektasi negatif tersebut, itu hanya dipandang sebagai kasus kekecualian. Dengan kata lain, ekspektasi masyarakat terhadap orang tunanetra tetap rendah.

    Dodds (1993) mengemukakan bahwa jika ketika awas seorang individu mempercayai steriotipe tersebut, maka bila dia tiba-tiba menjadi tunanetra, dia cenderung akan menerapkan steriotipe itu pada dirinya sendiri. Ini berarti bahwa penerimaan seorang klien terhadap kehilangan penglihatannya dapat ditingkatkan jika pandangannya tentang orang tunanetra dapat dibuat lebih positif. Di pihak lain, kita dapat mengatakan bahwa jika klien dapat lebih menerima kehilangan penglihatannya, maka pandangannya tentang ketunanetraan pun akan lebih positif; tetapi upaya untuk mempertinggi tingkat penerimaan klien terhadap kehilangan penglihatannya sendiri itu lebih penting daripada upaya untuk mengubah sikapnya terhadap orang tunanetra pada umumnya.

    IV. Ketunanetraan dan Harga Diri (Self-esteem)

    Dengan diberi label tunanetra, banyak klien merasa kehilangan harga dirinya, tetapi banyak juga yang tidak (Dodds, 1993), dan menarik untuk ditelaah mengapa demikian. Menurut Cuupersmith (1967), terdapat dua seumber harga diri: (1) rasa dicintai dan diterima yang diperoleh pada masa kanak-kanak, dan (2) rasa memiliki kompetensi yang diperoleh pada masa dewasa. Pada orang yang kehilangan penglihatannya pada masa dewasa, mungkin kehilangan harga dirinya lebih disebabkan oleh perasaan kehilangan kompetensi yang pernah dimilikinya. Jika demikian halnya, maka rasa harga dirinya itu dapat dipulihkan dengan meningkatkan kompetensinya dalam berbagai bidang sehingga mampu hidup mandiri.

    Harga diri terkait dengan proses penyesuaian diri. Harga diri merupakan salah satu aspek dari "citra diri" (self‑image), dan citra sosial yang negatif tentang ketunanetraan dapat membentuk citra diri negatif pada orang yang sudah diberi label "tunanetra". Jadi, kehilangan harga dirinya itu lebih disebabkan oleh mekanisme perendahan citra dirinya sendiri. Klien seperti ini membutuhkan konseling dan tidak boleh dibiarkan sendiri tanpa kegiatan untuk waktu yang lama (Dodds, 1993).

    V. Ketunanetraan dan Self-efficacy dan Locust of Control

    Dua konsep yang sangat penting untuk memahami proses penyesuaian diri adalah self‑efficacy dan locus of control. Self‑efficacy adalah estimasi subyektif tentang kemungkinan keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam tugas yang dihadapinya (Bandura, 1993). Orang yang memiliki perasaan self‑efficacy yang tinggi yakin bahwa dia akan berhasil, sehingga dia melaksanakan tugasnya dengan cepat dan percaya diri. Orang dengan perasaan self‑efficacy rendah yakin bahwa dia akan gagal, sehingga dia akan mencoba menghindarinya dengan berbagai cara, atau mengatakan sebelum mencobanya bahwa dia akan gagal.
    Begitu pula halnya, orang bervariasi dalam keyakinannya apakah suatu peristiwa berada di dalam batas kontrolnya atau tidak – locust of control (Rotter, dalam Byrne & Kelley, 1981). Orang yang yakin bahwa perilakunya dapat mengubah hal-hal tertentu dikatakan memiliki perasaan internal locus of control, dan mereka adalah tipe orang yang jarang mengatakan tidak dan tetap gigih meskipun menghadapi oposisi. Di pihak lain, orang yang yakin bahwa hal-hal berubah hanya akibat nasib baik atau buruk, atau akibat kekuatan-kekuatan di luar dirinya, dikatakan memiliki external locus of control, dan tipe orang ini cenderung mundur bila usahanya tampak tidak akan berhasil. Mereka bersifat fatalistik dan cenderung pasif.
    Self‑efficacy dan locus of control dapat dipandang sebagai saling berkaitan erat. Self‑efficacy dapat dipandang sebagai taksiran tentang masa depan suatu tugas tertentu, sedangkan locus of control lebih merupakan perasaan mengenai apakah seseorang memiliki kendali untuk masa depannya atau tidak. Penelitian telah menunjukkan bahwa kedua mekanisme psikologis ini sangat kuat pengaruhnya dalam menentukan apakah seseorang akan bertindak positif untuk mencapai sesuatu, atau apakah mereka akan berdiam diri saja karena takut akan kegagalan yang dapat menurunkan harga dirinya (Dodds, 1993).

    Salah satu aspek terpenting dari self‑efficacy dan locus of control adalah bahwa kedua mekanisme ini dapat dimodifikasi atas dasar hasilnya. Jika orang yang memiliki perasaan self‑efficacy rendah dikondisikan untuk mencapai suatu keberhasilan, maka hal ini dapat meningkatkan kepercayaan dirinya untuk dapat berhasil dalam tugas-tugas selanjutnya. Begitu pula, jika seseorang melihat bahwa tindakannya dapat berdampak pada dunia luar, maka dia akan memiliki perasaan kontrol internal yang lebih besar. Keberhasilan merupakan motivator yang sangat kuat untuk usaha mencapai tujuan yang lebih besar.

    Sebaliknya, kegagalan yang berulang-ulang akan menghasilkan perasaan tak berdaya dan keyakinan bahwa apa pun yang dilakukan seseorang, hasilnya akan tergantung pada nasib atau kekuatan eksternal di luar kontrolnya. Penelitian menunjukkan bahwa orang akan berhenti mencoba sesudah tiga kali kegagalan berturut-turut (Mikulincer, 1988 – dalam Dodds, 1993)).

    Kebalikan dari perasaan memiliki kontrol atau efficacy (rasa memiliki kemampuan yang terukur) adalah perasaan tak berdaya, yang diperoleh melalui kegagalan yang berulang-ulang. Fenomena ini disebut learned helplessness (Dodds, 1993). Ada ahli yang berpendapat bahwa perasaan ketidakberdayaan ini dapat menimbulkan gejala-gejala depresi. Akhir-akhir ini, hipotesis learned helplessness telah dikembangkan menjadi hipotesis "learned hopelessness" (keputusasaan perolehhan), dan dikemukakan adanya jenis depresi yang disebut "hopelessness‑depression" (Abramson, Metalsky & Alloy, 1980). Depresi keputusasaan tersebut ditandai dengan munculnya peristiwa kehidupan yang negatif yang dipersepsi sebagai bersifat global, permanen dan di luar kontrol individu.
    Dodds yakin bahwa depresi yang terjadi setelah kehilangan penglihatan yang mendadak merupakan kasus depresi keputusasaan, bukannya kasus kesedihan akibat kehilangan penglihatan. Karena kehilangan penglihatan yang mendadak mengakibatkan individu kehilangan berbagai kompetensi yang telah dimilikinya sejak masa kanak-kanaknya, kehilangan kompetensi tersebut akan disertai oleh kehilangan rasa kontrol dan efficacy. Memandang diri sendiri sebagai inkompeten (yang pada saat ini merupakan persepsi yang benar), ditambah dengan perasaan cemas dan depresi, akan mengakibatkan kehilangan rasa harga diri, karena dia tahu bahwa untuk memiliki kehidupan yang berkualitas orang harus dapat berbuat sesuatu untuk memperoleh apa yang diinginkannya. Bila keadaan tersebut diperparah oleh sikap negatif masyarakat terhadap ketunanetraan, maka individu itu akan menjadi putus asa.

    Teori learned helplessness mengatakan bahwa ada orang yang menganggap keberhasilan atau kegagalannya disebabkan oleh upayanya sendiri, oleh nasib baik atau buruk, atau oleh peristiwa-peristiwa eksternal di luar kontrolnya. Cara pandang seperti ini disebut attributional style (Dodds, 1993). Ada orang yang mempunyai internal attributional style untuk keberhasilannya, dan external attributional style untuk kegagalannya. Ini berarti bahwa mereka memandang keberhasilannya sebagai hasil usahanya sendiri dan menyalahkan kekuatan-kekuatan eksternal atas kegagalannya. Dodds (1993) menyebut orang seperti ini sebagai memiliki "gaya politisi" karena harga dirinya terpupuk terus oleh keberhasilannya dan tidak terpengaruh oleh kegagalannya. Di pihak lain, ada juga orang yang memandang keberhasilannya disebabkan oleh situasi dan kondisi yang menguntungkan, dan kegagalannya disebabkan oleh kekurangannya atau ketidakmampuannya sendiri. Ini merupakan kombinasi gaya yang lebih merugikan karena dapat mengakibatkan hilangnya rasa harga diri yang kronis, rendahnya rasa self‑efficacy, dan berkembangnya lokus kontrol eksternal. Gaya tersebut dikenal sebagai gaya atribusi depressogenic (menghasilkan depresi), dan Dodds menyebutnya sindrom "I'm one of life's losers".

    Orang cenderung mempertahankan kebiasaan gaya atribusinya karena memperoleh reinforcement dari pandangannya tentang dirinya sendiri dan dunia umumnya, baik positif maupun negatif, tetapi sebagai petugas konseling kita berkewajiban memodifikasi gaya atribusi klien kita dengan berbagai cara untuk meningkatkan self‑efficacy, locus of control dan harga dirinya. Klien yang terbiasa memcari-cari alasan sebaiknya dikonfrontasi agar mau menerima tanggung jawab atas tindakannya sendiri.

    VI. Tahapan Penyesuaian Diri terhadap Kehilangan Penglihatan

    James J. Messina (2005) mengemukakan bahwa terdapat lima tahap penyesuaian diri terhadap kehilangan, yaitu denial, bargaining, anger, despair, dan acceptance.

    Tahap 1: Denial
    Pada tahap ini, individu menolak bahwa kehilangan itu telah terjadi dan mengabaikan tanda-tanda kehilangan itu.

    Tahap 2: Bargaining
    Individu tawar-menawar atau berusaha mencapai kesepakatan dengan Tuhan, dirinya sendiri, atau orang lain untuk mengusir kehilangan itu. Dia berjanji untuk melakukan apa pun demi lenyapnya kehilangan itu. Dia sepakat untuk melakukan upaya-upaya yang ekstrim demi membuat kehilangan itu lenyap. Dia kehilangan rasa percaya diri dalam upayanya untuk mengatasi kehilangan itu, dan mencoba cara lain untuk memperoleh jawaban yang memuaskannya.

    Tahap 3: Anger
    Individu menjadi marah kepada Tuhan, kepada dirinya sendiri, atau kepada orang lain atas kehilangan yang dialaminya.
    Dia menjadi sangat marah dan gusar terhadap langkah-langkah yang harus diambilnya untuk mengatasi kehilangan yang dialaminya. Dia mulai mengkambinghitamkan berbagai pihak untuk melampiaskan kemarahannya itu.

    Tahap 4: Despair
    Individu terbenam ke dalam kesedihan dan kepedihan yang diakibatkan oleh kehilangan yang dialaminya itu, dan mulai menunjukkan berbagai respon emosional seperti menangis yang tak terkendali, berdiam diri dalam kemurungan dan melankoli yang mendalam.

    Tahap 5: Acceptance
    Pada tahap ini individu mulai mencapai tingkat kesadaran dan pemahaman tentang hakikat kehilangannya.

    Kini dia mampu:
    - Mendeskripsikan situasi dan kondisi yang terkait dengan kehilangan yang dialaminya.
    - Mendeskripsikan resiko dan keterbatasan perlakuan (treatment) atau rehabilitasi untuk mengatasi kehilangan itu.
    - Menyesuaikan diri dengan kehilangannya.
    - Menguji konsep-konsep dan berbagai alternatif yang ada untuk mengatasi kehilangan ini.
    - Memberikan respon terhadap berbagai informasi seputar kehilangannya ini secara lebih tepat.
    Dia mampu berpikir secara rasional, mengadaptasikan perilakunya, menunjukkan respon emosi yang wajar, memiliki kesabaran dan pemahaman diri yang baik, dan memiliki rasa percaya diri.

    Messina mengemukakan bahwa kelima tahap tersebut dapat terjadi dengan urutan seperti di atas atau dalam urutan yang berbeda. Proses penyesuaian diri terhadap kehilangan ini dapat berlangsung selama tiga bulan hingga tiga tahun. Keberhasilan dalam mengatasi setiap tahap respon terhadap kehilangan tersebut akan memungkinkan individu mendapatkan kembali kesehatan emosinya dan mengadaptasikan keberfungsiannya. Memperoleh bantuan dan dukungan dari luar diri individu selama proses duka cita itu akan menolongnya memperoleh objektivitas dan pemahaman yang tepat.

    Geldard & Geldard (2001) mengemukakan bahwa tahapan duka cita yang normal mencakup perasaan shok, penolakan, gejala-gejala psikologis dan somatic, depresi, perasaan bersalah, marah, idealisasi, penerimaan realisme, penyesuaian diri, dan pertumbuhan pribadi.

    Dalam autobiografinya, Hull (1990 – dalam Dodds, 1993) mengemukakan empat tahap dalam penyesuaian dirinya terhadap kehilangan penglihatan:
    1) Masa harapan, yang berlangsung selama satu tahun hingga 18 bulan, masa di mana dia belum menerima nasibnya.
    2) Fase yang terdiri dari tampilan perilaku yang di permukaan tampak sangat positif: mencari teknik alternatif dan peralatan baru untuk kantornya, tetapi fase ini disusul dengan
    3) masa putus asa, yang ditandai dengan tidak dapat tidur dan depresi, yang berlangsung selama satu tahun.
    4) Masa bangkit dari keputusasaan ke kesadaran bahwa dia memiliki banyak kekuatan terpendam, meskipun proses penyesuaian dirinya itu belum selesai sama sekali.

    VII. Model Penyesuaian Psikologis Berdasarkan Teori Skema (Schema Theory)

    Setiap orang akan sepakat bahwa yang terjadi di dalam kepala kita adalah kombinasi antara pikiran dan perasaan. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah pikiran menghasilkan perasaan, atau apakah justru perasaan yang menghasilkan atau mewarnai pikiran? Meskipun belum tercapai konsensus mengenai hal tersebut, tetapi pada umumnya diakui bahwa pikiran dan perasaan tertentu tidak ada kaitannya, namun banyak pikiran dan perasaan cenderung tidak dapat terpisahkan. Juga harus diakui bahwa pikiran dan perasaan muncul sebagai akibat dari persepsi atau pengalaman tentang situasi tertentu, dan bahwa pikiran dan perasaan dapat saling kontradiktif. Misalnya, kita dapat menyukai seseorang tetapi tidak setuju dengan pendapatnya. Perlu ditambahkan bahwa apa yang dilakukan orang mungkin tidak sepenuhnya rasional, tetapi dapat dipahami apabila dipandang dari perspektif emosi.

    Pemikiran psikologis mutakhir mengakui bahwa kognisi dan emosi (pikiran dan perasaan) saling terkait erat. Ingat-ingatlah ketika anda terakhir kali merasa depresi, dan cobalah ingat-ingat pula pikiran-pikiran apa yang muncul ketika itu. Sekarang ingat-ingat mengapa anda merasa depresi pada saat itu dan kembalikan pikiran anda ke situasi tersebut. Lalu bertanyalah kepada diri sendiri bagaimana perasaan andasaat ini. Mungkin anda akan merasa lebih ringan. Ini membuktikan bahwa pikiran dapat mengubah perasaan kita. Tetapi kebalikannya pun dapat terjadi: jika kita merasa down, maka kita akan merasa pesimistik tentang masa depan kita dan akan membayangkan skenario yang negatif.

    Dengan memahami bahwa terdapat hubungan antara pikiran dan perasaan, kita dapat memahami model dunia yang dipersepsi oleh klien - pikiran dan perasaannya tentang dirinya sendiri serta situasi yang dihadapinya dapat membentuk satu skema dunia menurut persepsinya dan pemahamannya, dan dia akan bertindak sesuai dengan persepsi dan pemahamannya tersebut.

    Skema merupakan kerangka mental yang mempunyai struktur internal yang stabil (Dodds, 1993). Karena strukturnya yang stabil itu, skema menyusun rangkaian pengalaman yang tidak teratur menjadi teratur. Skema yang terkait dengan perasaan orang terhadap dirinya sendiri saat ini disebut konsep diri (self‑concept), sedangkan skema yang terkait dengan pengalaman masa lalu dan mungkin juga pengalaman di masa mendatang disebut "naskah kehidupan" (life‑script). Skema-skema merupakan gambaran watak, perilaku, sikap, minat seseorang, dan berfungsi mengarahkan perhatian orang tersebut terhadap peristiwa-peristiwa tertentu, dan menentukan cara dia memberikan respon terhadap peristiwa-peristiwa tersebut (Fiske & Taylor, 1991 – dalam Dodds, 1993).

    Satu sifat penting lain dari sebuah skema adalah bahwa keseluruhan skema itu dapat dipengaruhi oleh satu bagian darinya (Dodds, 1993). Misalnya, bila sebagai seorang petugas konseling anda kebetulan melihat seseorang memakai tongkat masuk ke sebuah pasar swalayan, perhatian anda akan langsung tertuju pada orang itu. Anda akan memperhatikan mobilitasnya, ingin tahu siapa yang melatihnya, ingin tahu apakah dia memerlukan bantuan, dsb. Teman anda yang tidak memiliki latar belakang profesi konseling mungkin tidak akan memiliki perhatian seperti itu. Skema anda sebagai diri yang profesional dalam bidang konseling telah dipicu oleh stimulus melihat orang tunanetra, dan mental anda langsung tergerak untuk bertindak sesuai dengan tugas profesi anda.

    Mari kita terapkan teori skema ini pada pengalaman seorang tunanetra. Bayangkan seorang pengguna tongkat sedang melakukan perjalanan mandiri di sebuah daerah baru setelah dia mempelajari peta timbul daerah tersebut. Dia salah belok dan berusaha memahami di mana dia berada. Dia mendengar langkah orang lewat dan memintanya menunjukkan jalan ke tempat yang ditujunya. Orang lewat tersebut mengambil lengannya lalu membawanya ke tempat itu meskipun orang tunanetra itu berkata dia lebih suka berjalan sendiri. Pada saat meninggalkannya, orang lewat itu berkata kepadanya bahwa orang tunanetra sebaiknya tidak berjalan seorang diri karena ini merupakan daerah berbahaya. Ke dalam pikiran orang tunanetra itu muncul citra inkompetensi, penilaian orang yang kurang tepat, perasaan dipermalukan, terhina, marah, dan kesal. Skema stereotipe orang tunanetra telah terpicu.

    Dalam menghadapi seorang klien, kita harus berhati-hati untuk tidak bertindak sedemikian rupa sehingga dapat memicu skemanya. Penting untuk dipahami bahwa bila terpicu, skema dapat mengarahkan perhatian orang pada aspek-aspek situasi tertentu, sehingga skema itu dapat membantu ataupun mencegah akses ke informasi yang sudah tersimpan di dalam memori, dan bahwa skema dapat mengorganisasikan respon-respon otomatis terhadap situasi tersebut. Jadi, orang tunanetra dalam contoh di atas dapat menjadi over-sensitif terhadap informasi netral yang disampaikan orang kepadanya, yang diinterpretasikannya sebagai bukti kebenaran suatu stereotipe negatif, atau dia mungkin akan menampilkan tanda-tanda tak bersahabat yang kemudian mengakibatkan orang untuk menjauhinya. Sikap menjauh tersebut, pada gilirannya, akan ditafsirkan sebagai bukti lain untuk memvalidasi stereotipe tersebut. Oleh karena itu, terpicunya skema negatif dapat menghasilkan umpan balik yang mengakibatkan munculnya perasaan putus asa, sebagaimana juga terpicunya skema positif dapat menghasilkan umpan balik yang mengakibatkan munculnya perasaan euphoria.

    Teori skema membantu kita memahami bentuk-bentuk emosi seperti depresi dan kecemasan yang menandai reaksi awal terhadap kehilangan penglihatan.

    Telah terbukti bahwa terapi kognitif dapat menghilangkan keadaan depresi kronis (Robertson & Brown, 1992 – dalam Dodds, 1993). Di dalam terapi ini, atribut-atribut self yang negatif dikonfrontasi dan secara bertahap diganti oleh yang lebih positif. Pelatihan kembali atribusi juga dapat membantu mengubah pandangan seseorang yang mengalami depresi terhadap dirinya sendiri bila keberhasilan-keberhasilan kecil ditonjolkan dan kegagalan-kegagalan ditafsir ulang secara lebih positif (Weiner, 1979). Dalam latihan ini, kegagalan tidak dipandang sebagai malapetaka pribadi, melainkan dianggap sebagai umpan balik yang menunjukkan perlunya perbaikan kinerja dalam kesempatan berikutnya. Pandangan ini mengarahkan individu ke analisis yang konstruktif tentang apa yang dapat menimbulkan perbaikan, tidak membangkitkan perasaan inkompeten lebih jauh.

    Penelitian yang dilakukan di pusat penelitian mobilitas bagi tunanetra di universitas Nottingham (Inggris) telah mengidentifikasi skema pikiran dan perasaan yang hampir sama di kalangan orang yang baru kehilangan penglihatannya (Dodds et al., 1991). Klien yang menunjukkan tanda-tanda depresi juga tampak sangat cemas, merasa rendah diri, lokus kontrolnya eksternal, yakin bahwa mereka akan gagal dalam menjalankan tugas-tugas baru, bersikap negatif terhadap orang tunanetra, dan tidak menerima ketunanetrannya sendiri. Jika mereka down dalam salah satu faktor tersebut, maka mereka akan down dalam semua faktor lainnya juga, yang menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut merupakan elemen-elemen yang saling terkait dari sebuah struktur yang dapat disebut "adjustment".

    Oleh karenanya, dengan bertindak sedemikian rupa untuk mengubah masing-masing elemen struktur tersebut, seorang konselor dapat mengubah keseluruhan struktur secara progresif hingga terbentuk struktur baru yang dapat dipergunakan oleh individu untuk berinteraksi dengan dunia luar dan memahami dirinya sendiri. Struktur baru ini mempunyai properti baru, yaitu kognisi dan emosi yang positif, yang menghasilkan perilaku yang positif. Pada gilirannya, umpan balik perilaku tersebut akan memupuk skema yang positif.

    VIII. Kesimpulan

    Ketunanetraan yang terjadi tiba-tiba pada usia dewasa mengakibatkan kecemasan dan depresi. Dalam keadaan depresi, individu tidak dapat membuat pertimbangan yang sehat, tidak realistis, pesimistik, dan prediksinya tentang masa depannya suram. Hal ini akan diperparah oleh persepsi masyarakat tentang ketunanetraan yang cenderung negatif, yang pada giliranya individu yang tunanetra itu sendiri pun dapat mengembangkan persepsi diri yang tidak tepat. Persepsi yang tidak tepat mengenai ketunanetraan ini, banyak individu tunannetra merasa kehilangan harga dirinya. Akan tetapi, pada orang yang kehilangan penglihatannya pada masa dewasa, kehilangan harga diri tersebut mungkin lebih disebabkan oleh perasaan kehilangan kompetensi yang pernah dimilikinya. Harga diri terkait dengan proses penyesuaian diri. Dua konsep yang sangat penting untuk memahami proses penyesuaian diri adalah self‑efficacy dan locus of control. Orang yang memiliki perasaan self‑efficacy yang tinggi yakin bahwa dia akan berhasil, sehingga dia melaksanakan tugasnya dengan cepat dan percaya diri. Tingkat keberhasilan tersebut akan lebih tinggi apabila individu memiliki internal locust of control, yaitu keyakinan bahwa perilakunya dapat mengubah hal-hal tertentu. Individu seperti ini adalah tipe orang yang jarang mengatakan tidak dan tetap gigih meskipun menghadapi oposisi.

    Penyesuaian diri terhadap kehilangan penglihatan pada orang dewasa selalu melalui beberapa tahap, dari tahap penolakan hinga tahap penerimaan.

    Konseling bagi orang tunanetra dewasa ditujukan untuk membantu menghilangkan depresi dan masalah emosional lainnya yang sering mengiringi kehilangan penglihatan pada usia dewasa, membentuk persepsi positif tentang ketunanetraan, mengembalikan hahrga dirinya dengan merehabilitasi kompetensi yang pernah dimilikinya atau membentuk kompetensi baru untuk mengkompensasikan ketunanetraannya agar individu tersebut dapat memiliki self-efficacy yang tepat dan mengembalikan kemandirianya sehingga dapat membangun kehidupan yang bermakna, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Ini semua hanya dapat tercapai apabila individu tersebut mampu mencapai penyesuaian diri terhadap kondisinya yang baru dan berfungsi berdasarkan kondisi tersebut.

    Satu model penyesuaian psikologis yang dapat dipergunakan untuk membantu orang tunanetra dewasa adalah model yang didasarkan atas teori skema. Skema adalah gambaran tentang watak, perilaku, sikap, minat individu, yang merupakan perpaduan antara kognisi dan emosinya, dan berfungsi mengarahkan perhatian individu tersebut terhadap peristiwa-peristiwa tertentu, dan menentukan cara dia memberikan respon terhadap peristiwa-peristiwa tersebut. Skema merupakan kerangka mental yang mempunyai struktur internal yang stabil, yang menyusun rangkaian pengalaman yang tidak teratur menjadi teratur, dan oleh karena itu, apabila satu bagian dari skema itu diubah, maka keseluruhan skema itu akan berubah pula. Dengan model ini, tugas seorang konselor adalah mengubah bagian dari skema klien (baik aspek kognisi ataupun emosinya maupun keduanya) agar keseluruhan skema klien berubah secara positif dan mencapai tujuan konseling sebagaimana disebutkan di atas.

    Referensi

    Bandura, a. (1993). Perceived Self‑efficacy in Cognitive Development and Function ‑ Dalam Educational Psychologist, 28 (2), 1178.
    Byrne, D. & Kelley, K. (1981). An Introduction To Personality. Englewood Cliffs: Prentice Hall,Inc.
    Cavanagh, Michael E. (1982). The Counseling Experience. Monterey: Brooks/Cole Publishing Company.
    Coopersmith, S. (1967). The Antecedents of Self-Esteem. San Francisco: Freedman.
    Dodds, A. (1993). Rehabilitating Blind and Visually Impaired People: A psychological approach. London: Chapman& Hall.
    Dodds, A.G. (1991). The psychology of rehabilitation. British Journal of Visual Impairment 9 (2) 38-9.
    Geldard, David and Geldard, Kathryn (2001). Basic Personal Counselling. (Fourth edition). Australia: Prentice Hall.
    Lee, G. and Loverage, R. (1987) The Manufacture of Disadvantage: Stigma and Social Closure.Milton Keynes: Open University Press.
    Rock, I. and Victor, J. (1963) Vision and touch: an experimentally created conflict between the senses. Science, 143 594-6.
    Rosenthal, N. E., Sack, D.A., Gillin, J.C. et al. (1984) Seasonal affective disorder: a description of the syndrome and preliminary findings with light therapy. Archives of General Psychiatry, 41, 72-80.

    Labels: ,

    Links to this post:

    Create a Link

    << Home

    :)

    Anda ingin mencari artikel lain? Silakan isi formulir pencarian di bawah ini. :)
    Google
  • Kembali ke DAFTAR ISI