DOCTYPE html PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML 1.0 Strict//EN" "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-strict.dtd"> Didi Tarsidi: Counseling, Blindness and Inclusive Education: Pertimbangan-pertimbangan dalam Intervensi Konseling Rehabilitasi: Faktor Lingkungan
  • HOME


  • Guestbook -- Buku Tamu



    Anda adalah pengunjung ke

    Silakan isi Buku Tamu Saya. Terima kasih banyak.
  • Lihat Buku Tamu


  • Comment

    Jika anda ingin meninggalkan pesan atau komentar,
    atau ingin mengajukan pertanyaan yang memerlukan respon saya,
    silakan klik
  • Komentar dan Pertanyaan Anda




  • Contents

    Untuk menampilkan daftar lengkap isi blog ini, silakan klik
  • Contents -- Daftar Isi




  • Izin

    Anda boleh mengutip artikel-artikel di blog ini asalkan anda mencantumkan nama penulisnya dan alamat blog ini sebagai sumber referensi.


    05 May 2008

    Pertimbangan-pertimbangan dalam Intervensi Konseling Rehabilitasi: Faktor Lingkungan

    Oleh Didi Tarsidi
    Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

    Di depan telah dikemukakan bahwa terdapat tiga faktor utama yang perlu dipertimbangkan seorang konselor dalam melakukan intervensi konseling rehabilitasi, yaitu:
    (a) factor personal,
    (b) factor lingkungan,
    dan
    (c) hakikat ketunaan.

    Lingkungan merupakan kategori kedua dari faktor-faktor yang mempengaruhi respon terhadap ketunaan. Lingkungan, yang mencakup faktor-faktor eksternal bagi individu, meliputi lingkungan terdekat (misalnya keluarga, teman, komunitas) maupun lingkungan masyarakat yang lebih luas (misalnya teknologi, perundang-undangan, definisi sosial tentang ketunaan). Penting untuk memahami bahwa dampak ketunaan dapat bervariasi berdasarkan lingkungan. Misalnya, dampak ketunarunguan dan penggunaan bahasa isyarat menjadi sangat berkurang bila individu tinggal dalam komunitas di mana bahasa isyarat merupakan bahasa utama. Demikian pula, dampak ketunaan anak terhadap keluarga dapat berkurang bila keluarga itu memiliki informasi yang memadai dan berbagai dukungan yang dibutuhkan (termasuk dukungan emosional, finansial, sosial, masyarakat).

    a. Keluarga

    Pentingnya keluarga dalam proses rehabilitasi telah ditunjukkan dalam berbagai studi. Sebagaimana dikemukakan oleh Power, Dell Orto, dan Gibbons (1988), keluarga dapat menjadi sumber bantuan utama bagi rehabilitasi atau proses penyesuaian seorang individu, atau juga dapat menjadi batu sandungan yang signifikan menuju pencapaian tujuan treatment. Keluarga dan orang terdekat lainnya mempengaruhi cara individu merespon terhadap ketunaannya, dan, pada gilirannya, keluarga dipengaruhi oleh ketunaan yang terjadi pada seorang anggota keluarga.

    Merupakan kewajiban seorang konselor rehabilitasi untuk mengakui pentingnya keluarga dan melibatkannya dalam upaya rehabilitasi sesuai dengan kebutuhan klien. Keluarga yang tidak dilibatkan dalam proses rehabilitasi akan lebih sulit memberikan dukungan terhadap upaya rehabilitasi.

    Respon orang tua merupakan factor utama yang mempengaruhi anak dengan ketunaan bawaan; akan tetapi, respon orang tua cenderung sangat bervariasi (Ferguson, 2001). Karena pada umumnya orang tua tidak mengantisipasi mempunyai anak yang menyandang ketunaan, sebagian orang tua akan bereaksi dengan duka cita, kebingungan, ketakutan, kemarahan, dan kekecewaan ketika mereka mendapati bahwa anaknya mengalami ketunaan. Biasanya perasaan-perasaan seperti ini akan mereda; akan tetapi, kadang-kadang perasaan ini dapat mengakibatkan overproteksi atau bahkan penolakan terhadap anak itu. Respon orang tua dipengaruhi oleh: (a) keyakinan mengenai ketunaan, (b) keterampilan coping, (c) keterampilan mengelola stress, (d) keterampilan mengelola anak, dan (e) jaringan dukungan yang tersedia (Van Hasselt, Lutzker, & Hersen, 1990).

    Konseling vokasional dari perspektif perkembangan adalah penting bagi konselor rehabilitasi karena suatu ketunaan, terutama ketunaan bawaan, berdampak besar terhadap perkembangan karir. Gilbride (1993), setelah menemukan bahwa orang tua mempunyai ekspektasi yang rendah untuk anaknya yang menyandang ketunaan, berpendapat bahwa orang tua itu mungkin secara tidak sadar memperkecil jumlah pilihan vokasi bagi anaknya itu. Curnow (1989) berpendapat bahwa terbatasnya pengalaman pada usia dini, kurangnya kesempatan untuk mengembangkan keterampilan membuat keputusan, dan rendahnya konsep diri merupakan akibat yang umum dari ketunaan bawaan atau ketunaan yang diperoleh pada usia dini. Oleh karena itu, intervensi oleh konselor mencakup pemberian bantuan kepada keluarga untuk memahami pentingnya memberi kesempatan kepada anak untuk berinteraksi dengan lingkungan di luar rumah yang berkontribusi terhadap aktivitas eksplorasi karir. Kegiatan eksplorasi karir mencakup pemberian pengalaman yang terkait dengan pengembangan kematangan karir (Patton & Creed, 2001), seperti memahami minat dan bakat sendiri, dan mengenal berbagai lingkungan kerja (Curnow, 1989). Karena keterampilan membuat keputusan akan meningkat dengan praktek, maka konselor seyogyanya membantu keluarga mengidentifikasi berbagai kesempatan bagi anak untuk belajar dan menggunakan keterampilan membuat keputusan itu. Konselor dapat membantu keluarga menyadari bahwa overproteksi dan ketergantungan yang dipaksakan pada anak penyandang ketunaan sering berkontribusi terhadap ketidakmatangan social (social immaturity) dan menghambat pembuatan keputusan (Chubon, 1985).

    Peran pendidikan dan dukungan konselor rehabilitasi bervariasi berdasarkan kekuatan dan kelemahan unit keluarga dan tergantung pada tahap dalam proses rehabilitasi yang sedang berjalan (diagnosis, perawatan atau rehabilitasi di rumah sakit, terminasi perawatan atau rehabilitasi di rumah sakit dan kembali ke dalam unit keluarga, dan perawatan atau rehabilitasi di luar rumah sakit). Power (1988) mendeskripsikan pertimbangan-pertimbangan konseling untuk keluarga pada berbagai tahap dalam proses rehabilitasi tersebut.
    Pada tahap diagnosis dan awal treatment, kebutuhan keluarga mungkin mencakup pemrosesan informasi, mengeksplorasi berbagai alternative, mengklarifikasi frustrasi, memperoleh dukungan, dan mendapatkan akses ke pendengar yang empatik.
    Pada tahap perawatan atau rehabilitasi di rumah sakit, konselor mungkin perlu mengases ketepatan informasi yang sudah didapatkan oleh keluarga mengenai ketunaan atau penyakitnya. Sering kali, keluarga perlu memproses informasi itu di luar pertemuan dengan dokter, karena dalam pertemuan tersebut kecemasan biasanya lebih tinggi. Konselor mungkin perlu mengidentifikasi kemungkinan ancaman terhadap keberfungsian keluarga, serta mengases kefektifan keterampilan coping yang sudah dipergunakan oleh keluarga sejauh ini.
    Bila perawatan atau rehabilitasi di rumah sakit sudah dihentikan dan pasien sudah kembali ke rumahnya, Power (1988) merekomendasikan agar konselor rehabilitasi mengidentifikasi ekspektasi keluarga terhadap anggota keluarga yang menyandang ketunaan itu, kebutuhan individu yang akan paling bertanggung jawab menjaga klien itu, dan perasaan para anggota keluarga lainya terhadap klien. Tidak jarang bahwa anggota keluarga mempunyai perasaan yang kuat dan bercampur aduk terhadap klien; perasaan ini (misalnya perasaan marah terhadap perilaku klien atau merasa sangat perlu mempertahankan klien dalam perannya sebagai “orang sakit”. Ini akan berdampak pada upaya rehabilitasi selanjutnya.
    Pada tahap perawatan atau rehabilitasi di luar rumah sakit, konselor harus memperhatikan apakah terdapat gangguan dalam keluarga dan apakah hubungan antara keluarga dengan petugas kesehatan telah berubah. Mengidentifikasi bagaimana perubahan yang telah terjadi di dalam keluarga sejak klien kembali dari rumah sakit, masalah-masalah yang mereka rasakan dalam hubungannya dengan klien, dan pelayanan yang mereka butuhkan, akan membantu konselor dalam mengembangkan rencananya untuk klien tersebut.

    B. Sahabat

    Hubungan, termasuk hubungan persahabatan, merupakan inti kehidupan yang bermakna. Persahabatan membantu individu merasa bahwa mereka merupakan bagian dari komunitasnya, diperhatikan kesejahteraan dan kesehatannya, dan terlindung dari eksploitasi dan tidak diabaikan. Sahabat merupakan sumber dukungan social.

    Dukungan social (social support) didefinisikan sebagai terdiri dari empat kategori (Reid et al., 1989), yaitu: (1) emotional support, informational support, instrumental aid, dan companionship.

    C. Komunitas

    Komunitas mempunyai berbagai sumber yang khusus bagi para penyandang ketunaan. Adanya pendidikan inklusif yang berkualitas, berbagai sumber dan fasilitas medis, program rehabilitasi inpatient dan outpatient, pelayanan lembaga rehabilitasi, pelayanan kehidupan mandiri, peralatan teknologi asistif, organisasi advokasi, dan transportasi umum dapat mempengaruhi kemandirian dan penyesuaian diri para penyandang ketunaan maupun layanan konseling yang mungkin dibutuhkannya. Seorang konselor rehabilitasi wajib mengetahui sumber-sumber yang tersedia di dalam komunitas kliennya. Di samping itu, konselor juga harus mengetahui keberadaan organisasi-organisasi atau penyedia jasa layanan yang terkait dengan ketunaan, seperti pusat kehidupan mandiri, kelompok-kelompok advokasi seperti persatuan tunanetra nasional.

    Sumber-sumber komunitas tidak hanya mempengaruhi respon individu tetapi juga respon keluarga terhadap ketunaan. Individu penyandang ketunaan mungkin merasa menjadi beban bila keluarga menjadi satu-satunya pihak yang dapat membantunya. Demikian pula, individu penyandang ketunaan akan dapat tetap tinggal di lingkungan rumahnya jika terdapat layanan dukungan di dalam komunitasnya, dan mereka akan lebih mudah beradaptasi dengan ketunaannya daripada kalau mereka harus tinggal di dalam institusi khusus bagi penyandang ketunaan.

    D. Masyarakat

    Lingkungan juga mencakup aspek-aspek masyarakat secara keseluruhan; yang sangat penting adalah definisi cultural tentang ketunaan dan sikap terhadap ketunaan. Makna yang diberikan oleh masyarakat terhadap ketunaan juga berdampak besar pada respon individu terhadap ketunaan. Sikap masyarakat dapat termanifestasikan dalam perundang-undangan, maupun dalam penggambaran citra, pendeskripsian dalam bahasa, dan inklusi penyandang ketunaan dalam semua aspek kehidupan. Apabila individu mendapatkan pengalaman negative dalam hal tersebut, maka ketunaannya pun berdampak besar pada kehidupannya. Seorang konselor rehabilitasi harus memahami konteks social, politik, dan budaya dari ketunaan, agar dapat memahami pengalaman individu tersebut.

    Gerakan hak azasi penyandang ketunaan, yang dipimpin oleh individu penyandang ketunaan, telah memaksakan perubahan social positif yang signifikan bagi para penyandang ketunaan dalam pelayanan, kemandirian, perlindungan hukum, control, pilihan, dan penghormatan. Dengan mengorganisasikan, memaksakan konfrontasi, dan berusaha untuk mengubah system, banyak penyandang ketunaan dapat mengembangkan rasa bangga dan berdaya (Fleischer & Zanies, 2001; Shapiro, 1993). Sayangnya, gerakan hak azasi penyandang ketunaan ini tidak selalu dipandang positif oleh masyarakat umum, oleh profesional, ataupun oleh kelompok penyandang ketunaan tertentu. Ada orang yang merasa kesal dengan kemandirian dan "bossiness" para konsumen ini, atau merasa bahwa kemarahan dan pembangkangan sipil itu tidak pantas, dan beranggapan bahwa para penyandang ketunaan seharusnya berkiprah dalam system yang ada saja.

    Konselor harus menelaah sikapnya terhadap ketunaan yang telah diserapnya dari masyarakat umum, maupun perasaannya tentang kemandirian, pilihan, dan kemarahan dari pihak penyandang ketunaan. Setiap konselor perlu mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan ini: Apakah saya menginginkan atau mengharapkan ucapan terima kasih dan kepatuhan dari klien saya? Apakah saya sadar akan hambatan lingkungan, perundang-undangan, dan hambatan social yang dapat mewarnai detail kehidupan sehari-hari seorang individu penyandang ketunaan?

    Di dalam masyarakat ini, yang menghargai kemandirian, rasionalitas, dan keindahan fisik, penyandang ketunaan secara signifikan menjadi terdevaluasi (Vash,1981). Devaluasi ini mungkin termanifestasikan dalam bentuk ungkapan rasa kasihan, cemooh, atau pengucilan. Sikap negative masyarakat pada umumnya terhhadap ketunaan dapat mempunyai dampak yang signifikan pada konsep diri seorang individu. Dalam kenyataannya, tidak ada demarkasi yang jelas antara persepsi masyarakat tentang ketunaan dengan penyesuaian individu terhadap ketunaannya karena individu menginternalisasikan banyak penilaian dan reaksi masyarakat terhadap ketunaan (Smart, 2001). Harga diri (self-esteem) berkembang secara internal maupun eksternal selama tahap-tahap awal perkembangan. Harga diri seseorang pada umumnya diperoleh dari perilaku dan verbalisasi orang lain (eksternal). Ketika seorang individu sudah matang dan menjadi produktif, kompeten, dan bertanggung jawab, harga diri menjadi proses yang lebih berorientasi internal (Tuttle & Tuttle, 1996).

    Sebagian besar anak penyandang ketunaan tumbuh dengan pesan-pesan bahwa mereka tidak sebaik anak tanpa ketunaan, bahwa kelainannya membuat mereka "tidak okay". Akibatnya, banyak penyandang ketunaan memasuki masa dewasa dengan merasa membutuhkan persetujuan dan validasi. Seorang konselor sebaiknya menyadari sikap negative masyarakat terhadap ketunaan dan dampak sikap negative tersebut pada rasa harga diri individu tersebut.

    Banyak orang dewasa penyandang ketunaan tidak mendapat kesempatan untuk membuktikan kompetensi dan produktivitasnya, dan mampu menjadi anggota masyarakat yang kontributif; maka mereka berjuang untuk mengembangkan internal sources of self-esteem. Seorang konselor mungkin dapat membantu individu dalam mengembangkan kesempatan-kesempatan baru, seperti menjadi relawan atau memperoleh pengalaman kerja, yang dapat meningkatkan rasa memiliki kompetensi dan produktivitas. Di samping itu, konselor mungkin dapat membantu individu dalam mengevaluasi aspek-aspek lain dari kehidupannya yang dapat membuktikan kompetensi dan produktivitasnya, tetapi yang oleh masyarakat pada umumnya tidak dihargai sebagai kerja. Memberdayakan seorang individu untuk mengidentifikasi dan mengukur daya produktivitasnya berdasarkan makna personal, mungkin merupakan sebuah pertimbangan yang penting dalam memberikan konseling kepada individu dengan rasa harga diri rendah.

    Referensi

    Bonett, R. (1994). Marital Status and Sex: Impact On Career Self-Efficacy. Journal of Counseling and Development, 73, 187-190.
    Cayleff, S. (1986). Ethical Issues in Counseling Gender, Race, and Culturally Distinct Groups. Journal of Counseling and Development, 64, 345-347.
    Chubon, R. (1985). Career-Related Needs of School Children with Severe Physical Disabilities. Journal of Counseling and Development, 64, 47-51.
    Curnow, T. (1989). Vocational Development of Persons with Disability. Career Development Quarterly, 37, 269-278.
    Ferguson, P. (2001). Mapping the Family: Disability Studies and the Exploration of Parental Response to Disability. In G. L. Albrecht, K.
    Fleischer, D. Z. & Zanies, E (2001). The Disability Rights Movement: From Charity to Confrontation. Philadelphia: Temple University Press.
    Gilbride, D. (1993). Parental Attitudes toward Their Child with a Disability: Implications for Rehabilitation Counselors. Rehabilitation Counseling Bulletin, 36,129-150.
    Hecht, M., Andersen, P., & Ribeau, S. (1989). The Cultural Dimensions of Nonverbal Communication. In M. Asante & W. Gudykunst (Eds.), Handbook of International and Intercultural Communication (Pp. 163185). London: Sage.
    Livneh, H., & Sherwood-Hawes, A. (1993). Group Counseling Approaches with Persons who Have Sustained Myocardial Infarction. Journal of Counseling and Development, 72, 57-61.
    Patterson, J.B.; Delagarza, D. & Schaller, J. (2004). “Rehabilitation Counseling Practice: Considerations and Interventions”. In: Parker Et Al. (2004). Rehabilitation Counseling: Basics and Beyond. Fourth Edition. Texas: Pro.Ed Inc. International Publisher
    Patton, W, & Creed, P A. (2001). Developmental Issues in Career Maturity and Career Decision Status. The Career Development Quarterly, 49, 336-351.
    Power, P, Dell Orto, A., & Gibbons, M. (Eds.). (1988). Family Interventions throughout Chronic Illness and Disability. New York: Springer.
    Prout, H.O., & Strohmer, . (1995). Counseling with Persons with Mental Retardation: Issues And Considerations. Journal of Applied Rehabilitation Counseling, 26(3), 49-54.
    Reid, M., Landesman, S., Treder, R., & Jaccard,J. (1989). "My Family and Friends": Six to Twelve Year-Old Children's Perceptions of Social Support. Child Development, 60, 896-910.
    Seelman, & M. Bury (Eds.), Handbook of Disability Studies. Thousand Oaks, CA: Sage.
    Shapiro, J.P. (1993). No Pity. New York: Times Books.
    Sherman,J., & Fischer,J. M. (2001). Spirituality and Addiction Recovery for Rehabilitation Counseling. Journal of Applied Rehabilitation Counseling, 33(4), 27-31.
    Smart, J. (2001). Disability, Society, and the Individual. Gaithersburg, MD: Aspen.
    Sue, L.W., & Sue, D. (2003). Counseling the Culturally Diverse:Theory and Practice (4th Ed.). New York: Wiley.
    Tuttle, D., & Tuttle, N. (1996). Self-Esteem and Adjusting with Blindness. Springfield, IL: Thomas.
    Vacc, N. A., Devaney, S. B., & Brendel, J. M. (2003). Counseling Multicultural and Diverse Populations: Smudgies for Practitioners. New York: Brunner-Routledge.
    Van Hasselt, V.B., Lutzker, J., & Hersen, M. (1990). Overview. In M. Hersen & V Van Hasselt (Eds.). Psychological Aspects of Developmental and Physical Disabilities: A Casebook. Newbury Park, CA: Sage.
    Vash, C. (1981). The Psychology of Disability. New York: Springer.
    Wright, B. (1983). Physical Disability-A Psychosocial Approach (2nd Ed.). New York: Harper & Row.

    Labels:

    Links to this post:

    Create a Link

    << Home

    :)

    Anda ingin mencari artikel lain? Silakan isi formulir pencarian di bawah ini. :)
    Google
  • Kembali ke DAFTAR ISI