DOCTYPE html PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML 1.0 Strict//EN" "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-strict.dtd"> Didi Tarsidi: Counseling, Blindness and Inclusive Education: Pendidikan Inklusif: Resume
  • HOME


  • Guestbook -- Buku Tamu



    Anda adalah pengunjung ke

    Silakan isi Buku Tamu Saya. Terima kasih banyak.
  • Lihat Buku Tamu


  • Comment

    Jika anda ingin meninggalkan pesan atau komentar,
    atau ingin mengajukan pertanyaan yang memerlukan respon saya,
    silakan klik
  • Komentar dan Pertanyaan Anda




  • Contents

    Untuk menampilkan daftar lengkap isi blog ini, silakan klik
  • Contents -- Daftar Isi




  • Izin

    Anda boleh mengutip artikel-artikel di blog ini asalkan anda mencantumkan nama penulisnya dan alamat blog ini sebagai sumber referensi.


    02 August 2008

    Pendidikan Inklusif: Resume

    Bagian dari buku
    Pendidikan Inklusif Ketika Hanya Ada Sedikit Sumber

    Terjemahan dari
    Inclusive Education where there are Few Resources

    Oleh Sue Stubbs

    Alih Bahasa oleh Susi Septaviana R.

    Edisi bahasa Indonesia diedit oleh Didi Tarsidi

    Disponsori oleh IDP Norway


    Bab 6: Apa yang Sudah Kita Peroleh?



    6.1. Jawaban untuk Pertanyaan-pertanyaan Utama
    Beberapa pertanyaan utama diajukan pada awal Bab 2. Bab-bab selanjutnya telah mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui diskusi dan studi kasus.

    1. Apakah pendidikan inklusif sebenarnya ditujukan pada semua kelompok, atau apakah hanya pada kelompok anak penyandang ketunaan?
    Pendidikan inklusif ditujukan pada SEMUA kelompok yang termarjinalisasi, tetapi kebijakan dan praktek inklusi anak penyandang ketunaan telah menjadi katalisator utama untuk mengembangkan pendidikan inklusif yang efektif, yang fleksibel dan tangap terhadap keanekaragaman gaya dan kecepatan belajar.
    2. Apakah pendidikan inklusif merupakan suatu prioritas?
    Jika mendidik semua anak, mengurangi kemiskinan dan mengembangkan toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman itu penting, maka pendidikan inklusif merupakan prioritas. jika tidak diprioritaskan, maka akan jauh lebih sulit dan mahal untuk mengembangkannya apabila infrastrukturnya yang kompleks sudah terbangun. Jadi, terutama di mana hanya terdapat sedikit infrastruktur, dan dalam situasi rekonstruksi pasca-konflik, pendidikan inklusif merupakan prioritas. Akan tetapi, masyarakat jarang secara spontan memprioritaskan inklusi tanpa adanya suatu katalisator atau model atau contoh keberhasilan yang nyata.
    3. Apakah pendidikan inklusif merupakan ciptaan Barat yang dipaksakan kepada seluruh dunia?
    Tidak, pada esensinya tidak. Terminologinya mungkin berkembang di Barat, tetapi negara-negara di Selatan mungkin bahkan lebih ‘inklusif’ sebelum ada kolonialisme, dan kini bahkan sering menjadi pelopor dalam inklusi yang berkelanjutan. Akan tetapi, para donor dan lembaga pembangunan asing masih mencoba memaksakan pendidikan inklusif bversinya sendiri, tanpa konsultasi dan partisipasi. Hal tersebut harus ditentang.
    4. Bagaimanakah kaitan antara pendidikan inklusif dengan tantangan utama yang dihadapi pendidikan seperti putus sekolah, kualitas pendidikan, akses anak perempuan ke sekolah, kurikulum yang kaku, kurangnya sumber daya?
    Secara sentral, pendidikan inklusif terkait dengan masalah-masalah ini dan memberikan solusi yang konkrit terhadap banyak di antara tantangan-tantangan tersebut. Agar pendidikan inklusif dapat berkelanjutan, maka mutu sekolah harus ditingkatkan, fleksibel dan tanggap terhadap keberagaman. Di mana pendidikan inklusif telah diimplementasikan dan tingkat putus sekolah dimonitor, masalah putus sekolah tersebut ternyata berkurang (misalnya di Lesotho).
    5. Apakah pendidikan inklusif benar-benar berarti mendidik SEMUA anak dari masyarakat tertentu di dalam satu bangunan sekolah yang sama?
    Terdapat semakin banyak contoh yang menunjukkan bahwa sekolah yang benar-benar fleksibel dan terfokus pada diri anak DAPAT mengakomodasi semua anak. Tetapi sangat penting bahwa ‘sekolah’ sebaiknya tidak dipandang sebagai satu sistem tradisional yang kaku. Sekolah harus fleksibel, berorientasi pada anak dan masyarakat, dan tanggap secara kreatif terhadap situasi setempat.
    6. Apakah pendidikan inklusif identik dengan sekolah inklusif?
    Di negara-negara Utara, sekolah menjadi fokus pendidikan inklusif, tetapi di dua pertiga bagian dunia (di Selatan), pendidikan lebih dari sekadar persekolahan. Di negara-negara ini pendidikan dapat bersifat nonformal atau informal, dan mencakup berbagai macam inisiatif masyarakat. Pendidikan dimulai di rumah dan juga berlangsung di rumah. Pendidikan inklusif mempertimbangkan keluarga dan rumah.

    7. Apa perbedaan antara Pendidikan Inklusif, Pendidikan Integrasi dan Pendidikan Khusus [PLB]?
    Pendidikan inklusif difokuskan pada upaya untuk mengubah sistem pendidikan, sedangkan Pendidikan Integrasi dan PLB difokuskan pada upaya untuk mengubah anak.
    8. Apakah pendidikan inklusif cocok untuk anak yang ketunaannya berat dan mereka yang tunarunga atau buta-tuli?
    Ya, asalkan pendidikan inklusif dipersepsi sebagai sesuatu yang diadaptasikan dengan anak, lebih luas daripada persekolahan dan bukan sistem yang kaku di mana anak harus mengadaptasikan dirinya. pendidikan inklusif juga membutuhkan sumber daya dan materi yang tepat. Persoalan utamanya adalah berfokus pada tercapainya tujuan terbentuknya masyarakat inklusif, perencanaan dan tanggung jawab pendidikan yang inklusif, dan fleksibel dalam bentuknya.
    9. Apakah ada ‘cara yang benar’ untuk melaksanakan pendidikan inklusif? Apakah ada rencana yang jelas yang dapat kita ikuti?
    Ada nilai-nilai, keyakinan dan prinsip-prinsip yang melandasi pendidikan inklusif, yang didasarkan pada model sosial, dan sesuai dengan ketentuan Hak Asasi Manusia. Tetapi tidak ada cetak biru atau jawaban yang magis. Sangatlah penting bahwa pendidikan inklusif direncanakan dan diimplementasikan secara partisipatif, didasarkan atas budaya dan konteks lokal, dan sepenuhnya memanfaatkan sumber daya lokal. Dibutuhkan adanya komitmen, waktu dan upaya keras agar pendidikan inklusif berhasil dan berkelanjutan.
    10. Apakah pendidikan inklusif itu praktis, terutama di negara-negara yang memiliki sedikit sumber dan banyak tantangan?
    Ya, beberapa contoh terbaik pendidikan inklusif ada di negara-negara Selatan yang miskin. pendidikan inklusif itu lebih praktis daripada pendidikan segregasi. Pendidikan inklusif jauh lebih praktis daripada memisahkan kelompok-kelompok anak tertentu dan kemudian harus mengatasi konsekuensi tingginya tingkat buta huruf dan warga masyarakat yang pasif dan berketergantungan.

    6.2. Kesimpulan
    Buku kecil ini telah mencoba menyajikan tinjauan tentang situasi pendidikan inklusif pada saat ini, dengan rujukan khusus pada dunia mayoritas: Negara-negara Selatan yang secara ekonomi lebih miskin. Pesan utama yang terkandung dalam buku kecil ini dapat dirangkum sebagai berikut:
     Pendidikan inklusif BUKAN merupakan suatu strategi yang terpisah untuk dipergunakan dalam mendidik anak penyandang ketunaan – pendidikan inklusif merupakan sebuah proses dan tujuan yang menggambarkan kualitas atau karakteristik tertentu dari PUS (Pendidikan untuk Semua). pendidikan inklusif seyogyanya merupakan cara untuk mencapai PUS, dan PUS seyogyanya merupakan cara untuk mencapai inklusi.
     Pendidikan inklusif ditujukan untuk mengubah sistem sekolah, bukan untuk memberi label kepada individu atau kelompok anak tertentu ataupun untuk mengubahnya. Ini dilakukan dengan merespon keberagaman, dengan mengidentifikasi hambatan belajar yang dihadapi individu maupun kelompok anak.
     Pendidikan inklusif lebih luas daripada persekolahan. Orang cenderung berpikir bahwa pendidikan = sekolah, dan sekolah=struktur yang kaku, yang tidak dapat diubah. Jika demikian halnya, akan sulit bagi pendidikan inklusif untuk cocok dengan model tersebut. Di dalam masyarakat yang miskin, tidak adanya infrastruktur dan kurangnya sekolah dapat menjadi peluang untuk menciptakan pendidikan yang lebih terpusat pada diri anak dan lebih tepat, relevan dan inklusif. pendidikan inklusif menuntut kita untuk berpikir secara kreatif tentang cara melibatkan semua anak dalam satu sistem yang dapat mencakup sekolah, program nonformal, pendidikan berbasis rumah dan kelompok-kelompok kecil untuk belajar Bahasa Isyarat atau bahasa ibu, dan dapat melibatkan seluruh masyarakat secara penuh.
     Pendidikan inklusif merupakan bagian dari tujuan yang lebih luas untuk menciptakan suatu Masyarakat yang Inklusif. Pendidikan inklusif bukan hanya menyangkut metode dan sistem, tetapi menyangkut nilai-nilai dan keyakinan mendasar tentang pentingnya menghargai dan menghormati perbedaan, tidak mendiskriminasi, dan berkolaborasi dengan orang lain untuk menciptakan dunia yang lebih adil.

    Apa yang Belum Dibahas dalam Buku Kecil Ini?
    Ada banyak sekali aspek yang dapat dibahas tentang pendidikan inklusif, dan pasti ada masalah-masalah penting yang belum dibahas atau hanya dibahas secara singkat. Tujuan Buku kecil ini bukan untuk dijadikan sebagai panduan untuk praktek mengajar di kelas; hal itu dapat dilihat dalam buku lain, dan sumber rujukan tersebut direkomendasikan dalam bagian berikutnya. Ada juga aspek-aspek penting pendidikan inklusif yang baru dikemukakan secara sepintas – misalnya berbagai tahap dan jenjang pendidikan dari pendidikan Usia Dini, Pendidikan Dasar, pendidikan Menengah, pendidikan Tinggi dan pendidikan kejuruan. Prinsip-prinsip umum pendidikan inklusif relevan untuk semua jenjang pendidikan tersebut, tetapi buku kecil ini tidak membahasnya secara terfokus.

    Akhirnya, pendidikan inklusif merupakan proses dinamis yang bergerak dari teori menuju implementasi praktis dan sebaliknya. Bab terakhir akan memberikan beberapa saran untuk studi lebih lanjut, dukungan dan informasi praktis yang lebih rinci tentang aspek-aspek spesifik dari bidang pendidikan inklusif yang luas, kompleks dan peka budaya ini.

    Labels:

    Links to this post:

    Create a Link

    << Home

    :)

    Anda ingin mencari artikel lain? Silakan isi formulir pencarian di bawah ini. :)
    Google
  • Kembali ke DAFTAR ISI