DOCTYPE html PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML 1.0 Strict//EN" "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-strict.dtd"> Didi Tarsidi: Counseling, Blindness and Inclusive Education
  • HOME


  • Guestbook -- Buku Tamu



    Anda adalah pengunjung ke

    Silakan isi Buku Tamu Saya. Terima kasih banyak.
  • Lihat Buku Tamu


  • Comment

    Jika anda ingin meninggalkan pesan atau komentar,
    atau ingin mengajukan pertanyaan yang memerlukan respon saya,
    silakan klik
  • Komentar dan Pertanyaan Anda




  • Contents

    Untuk menampilkan daftar lengkap isi blog ini, silakan klik
  • Contents -- Daftar Isi




  • Izin

    Anda boleh mengutip artikel-artikel di blog ini asalkan anda mencantumkan nama penulisnya dan alamat blog ini sebagai sumber referensi.


    08 November 2008

    Pendidikan Inklusif: Lampiran

    Bagian dari buku
    Pendidikan Inklusif Ketika Hanya Ada Sedikit Sumber

    Terjemahan dari
    Inclusive Education where there are Few Resources

    Oleh Sue Stubbs

    Alih Bahasa oleh Susi Septaviana R.

    Edisi bahasa Indonesia diedit oleh Didi Tarsidi

    Disponsori oleh IDP Norway

    LAMPIRAN



    Lampiran 1: Konvensi PBB tentang Hak Anak

    Lampiran 2: Konferensi Jomtien 1990

    Lampiran 3: Peraturan Standar PBB tentang Persamaan Kesempatan bagi Penyandang ketunaan

    Lampiran 4: Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi tentang Pendidikan Kebutuhan Khusus

    Lampiran 5: Konferensi Dakar 2000

    Lampiran 6: Kritik terhadap Konferensi Dakar

    Lampiran 7: Perbedaan antara Integrasi dan Pendidikan Inklusif

    Lampiran 8: Indeks untuk Inklusi

    Lampiran 9: Lokakarya Laos: Kerangka Kerja untuk Perencanaan dan Implementasi

    Lampiran 1
    Konvensi PBB tentang Hak Anak
    Kutipan dari Pasal 2, 23, 28 dan 29

    Pasal 2
    1. Negara harus menghormati dan menjamin hak-hak yang ditetapkan dalam konvensi ini bagi setiap anak yang berada di dalam wilayah hukumnya tanpa diskriminasi apapun, tanpa memandang ras anak atau orang tua atau walinya, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat politik atau pendapat lainnya, suku atau asal muasal sosial, hak milik, ketunaan, kelahiran ataupun status lainnya.

    Pasal 23
    0. Negara mengakui bahwa anak yang menyandang ketunaan mental ataupun fisik seyogyanya menikmati kehidupan yang layak dan utuh, dalam kondisi yang menjamin martabat, meningkatkan kemandirian serta memberi kemudahan kepada anak untuk berpartisipasi aktif dalam masyarakat.
    2. .. mengakui hak anak atas perhatian khusus …… sesuai dengan sumber-sumber yang tersedia ….
    0. Mengakui kebutuhan khusus anak penyandang ketunaan … dengan mempertimbangkan sumber keuangan orang tua atau orang lain yang mengasuh anak tersebut ……. Menjamin bahwa anak penyandang ketunaan itu diberi kesempatan dan memperoleh pendidikan, pelatihan, layanan kesehatan, layanan rehabilitasi, penyiapan untuk memperoleh pekerjaan dan kesempatan rekreasi dalam cara yang kondusif bagi anak untuk mencapai integrasi social sepenuhnya dan perkembangan pribadinya, termasuk perkembangan cultural dan spiritualnya.”

    Pasal 28
    1. Negara mengakui hak anak atas pendidikan dan dengan mengupayakan pencapaian hak ini secara berangsur-angsur dan atas dasar kesamaan kesempatan, Negara seyogyanya:
    (a) Membuat pendidikan dasar wajib dan tersedia secara Cuma-Cuma bagi semua anak;
    (b) Mendorong pengembangan berbagai bentuk pendidikan lanjutan, termasuk pendidikan umum dan kejuruan, membuatnya tersedia dan dapat diakses oleh setiap anak;
    (c) Membuat pendidikan tinggi terakses oleh semua orang;
    (d) Membuat agar informasi tentang pendidikan dan pekerjaan serta bimbingan tersedia dan terakses oleh semua anak;
    (e) Mengambil langkah-langkah untuk mendorong agar anak-anak bersekolah secara teratur dan mengurangi angka putus sekolah.
    Pasal 29
    1. Negara menyetujui bahwa pendidikan bagi anak seyogyanya diarahkan untuk:
    (a) Pengembangan kepribadian, bakat dan kemampuan mental maupun fisik anak seoptimal mungkin;
    (b) Pengembangan penghargaan atas hak asasi manusia dan kebebasan fundamental,
    (c) Pengembangan penghargaan terhadap orang tua anak, identitas budayanya, bahasa dan nilai-nilai yang dianutnya, terhadap nilai-nilai nasional dari negara tempat tinggal anak, negara tempat asalnya, dan terhadap peradaban yang berbeda dari peradabannya sendiri;
    (d) Penyiapan anak untuk menjalani kehidupan yang bertanggung jawab di dalam masyarakat yang bebas;
    (e) Pengembangan penghargaan terhadap lingkungan alam.



    Lampiran 2: Konferensi Jomtien 1990
    Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua
    Memenuhi Kebutuhan Dasar untuk Belajar Konferensi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua

    Pasal III – Universalisasi Akses dan Peningkatan Kesamaan Hak
    1. Pendidikan dasar seyogyanya diberikan kepada semua anak, remaja dan orang dewasa. Untuk mencapai tujuan ini, layanan pendidikan dasar yang berkualitas seyogyanya diperluas dan upaya-upaya yang konsisten harus dilakukan untuk nmengurangi kesenjangan.
    2. Agar pendidikan dasar dapat diperoleh secara merata, semua anak, remaja dan orang dewasa harus diberi kesempatan untuk mencapai dan mempertahankan tingkat belajar yang wajar.
    3. Prioritas yang paling mendesak adalah menjamin adanya akses ke pendidikan dan meningkatkan kualitasnya bagi anak perempuan, dan menghilangkan setiap hambatan yang merintangi partisipasi aktifnya. Semua bentuk diskriminasi gender dalam pendidikan harus dihilangkan.
    4. Suatu komitmen yang aktif harus ditunjukkan untuk menghilangkan kesenjangan pendidikan. Kelompok-kelompok yang kurang terlayani: orang miskin; anak jalanan dan anak yang bekerja; penduduk desa dan daerah terpencil; pengembara dan pekerja migran; suku terasing; minoritas etnik, ras, dan linguistik; pengungsi; mereka yang terusir oleh perang; dan penduduk yang berada di bawah penjajahan, seyogyanya tidak memperoleh perlakuan diskriminasi dalam mendapatkan kesempatan untuk belajar.
    5. Kebutuhan belajar para penyandang ketunaan menuntut perhatian khusus. Langkah-langkah perlu diambil untuk memberikan kesamaan akses pendidikan bagi setiap kategori penyandang ketunaan sebagai bagian yang integral dari system pendidikan.


    II
    Lampiran 3: Peraturan Standar PBB tentang Persamaan Kesempatan bagi Penyandang ketunaan

    Peraturan 6:
    • Negara seyogyanya menjamin bahwa pendidikan bagi penyandang ketunaan merupakan bagian yang integral dari system pendidikan.
    • paragraf 1: Para pejabat pendidikan umum bertanggung jawab atas para penyandang ketunaan.
    • Paragraf 2: Pendidikan di sekolah umum seyogyanya menyediakan layanan pendukung yang tepat.
    • Paragraf 6: Negara seyogyanya: a) memiliki kebijakan yang jelas, b) memiliki kurikulum yang fleksibel, c) menyediakan materi yang berkualitas, dan pelatihan guru dan dukungan yang berkelanjutan.
    • Paragraf 7: Program rehabilitasi berbasis masyarakat seyogyanya dilihat sebagai pelengkap bagi pendidikan integrasi.
    • Paragraf 8: Dalam hal di mana system persekolahan umum tidak secara memadai memenuhi kebutuhan semua penyandang ketunaan, pendidikan luar biasa dapat dipertimbangkan … dalam hal-hal tertentu pendidikan luar biasa mungkin pada saat ini merupakan bentuk pendidikan yang paling tepat untuk siswa-siswa tertentu.
    • Paragraf 9: Siswa tunarungu dan tunarungu-netra mungkin akan memperoleh pendidikan yang lebih tepat di sekolah khusus, kelas khusus atau unit khusus.


    Lampiran 4: Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi tentang Pendidikan Kebutuhan Khusus http://www.unesco.org/education/educprog/sne/salamanc/covere.html

    Pasal 2:
    • Sistem pendidikan seyogyanya mempertimbangkan berbagai macam karakteristik dan kebutuhan anak yang berbeda-beda.
    • Sekolah reguler dengan orientasi inklusi ini merupakan tempat yang paling efektif untuk memerangi sikap diskriminasi, menciptakan masyarakat yang ramah, membangun sebuah masyarakat inklusif dan mencapai pendidikan untuk semua; lebih jauh, sekolah tersebut memberikan pendidikan yang efektif kepada sebagian besar anak dan meningkatkan efisiensi dan pada akhirnya akan menjadi system pendidikan yang paling ekonomis.
    Pasal 3: Pemerintah seyogyanya:
    • Menetapkan prinsip pendidikan inklusif sebagai undang-undang atau kebijakan … kecuali jika terdapat alasan yang memaksa untuk menetapkan lain.

    Kerangka Aksi
    Pasal 3:
    • Prinsip dasar kerangka ini adalah bahwa sekolah seyogyanya mengakomodasi semua anak … ini seyogyanya mencakup anak penyandang ketunaan dan anak berbakat, anak jalanan dan anak yang bekerja, anak dari kaum pengembara atau daerah terpencil, anak dari kelompok minoritas berdasarkan bahasanya, etniknya atau budayanya dan anak dari kelompok atau daerah lain yang kurang beruntung atau terkepinggirkan …. Tantangan yang dihadapi oleh sekolah inklusif adalah bahwa harus dikembangkannya pedagogi yang berpusat pada diri anak yang mampu mendidik semua anak.
    • Pasal 4: … perbedaan umat manusia itu normal adanya dan pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan anak, bukannya anak yang disesuaikan dengan asumsi-asumsi yang tidak berdasar. … Pedagogi yang berpusat pada diri anak akan menguntungkan bagi semua siswa, dan akhirnya juga bagi keseluruhan masyarakat. … ini dapat sangat menurunkan angka putus sekolah dan tinggal kelas. … di samping menjamin tercapainya tingkat pencapaian rata-rata yang lebih tinggi … Sekolah yang berpusat pada diri anak juga merupakan tempat pelatihan untuk masyarakat yang berorientasi pada orang-orang yang menghargai perbedaan dan martabat seluruh umat manusia.
    • Pasal 6: Inklusi dan partisipasi itu sangat penting bagi martabat manusia dan bagi terwujudnya dan dilaksanakannya hak asasi manusia.
    • Pasal 7: Prinsip mendasar dari sekolah inklusif adalah bahwa semua anak seyogyanya belajar bersama-sama, sejauh memungkinkan, apa pun kesulitan atau perbedaan yang ada pada diri mereka. Sekolah inklusif harus mengakui dan tanggap terhadap keberagaman kebutuhan siswa-siswanya, mengakomodasi gaya dan kecepatan belajar yang berbeda-beda…
    • Pasal 10: Pengalaman menunjukkan bahwa sekolah inklusif, yang memberi layanan kepada semua anak di masyarakat, sangat berhasil dalam menggalang dukungan dari masyarakat dan dalam menemukan cara yang imaginative dan inovatif untuk memanfaatkan ketersediaan sumber-sumber yang terbatas.
    • Pasal 18: Kebijakan pendidikan pada semua level, dari level nasional hingga local, seyogyanya menetapkan bahwa seorang anak penyandang ketunaan bersekolah di lingkungan tempat tinggalnya, di sekolah yang akan dimasukinya andaikata dia tidak memiliki ketunaan.


    Lampiran 5: Konferensi Dakar
    Pada bulan April 2000 lebih dari 1100 peserta dari 164 negara berkumpul di Dakar, Senegal, untuk Forum Pendidikan Dunia. Dari guru hingga perdana menteri, dari akademisi hingga pembuat kebijakan, dari lembaga nonpemerintah hingga ketua organisasi internasional utama, mereka menetapkan Kerangka Aksi Dakar, Pendidikan untuk Semua: Memenuhi Komitmen Kolektif, yang terdiri dari 2000 kata.

    Pendidikan untuk Semua: Memenuhi Komitmen Kolektif
    Teks yang ditetapkan oleh Forum Pendidikan Dunia di Dakar, Senegal, 26-28 April 2000

    7. Kami dengan ini secara kolektif menyatakan komitmen kami untuk mencapai tujuan-tujuan berikut:
    (i) Memperluas dan meningkatkan perawatan dan pendidikan usia dini yang komprehensif, terutama bagi anak-anak yang paling rentan dan kurang beruntung;
    (ii) Menjamin bahwa menjelang tahun 2015 semua anak, terutama anak perempuan, anak yang mengalami keadaan yang sulit dan mereka yang termasuk etnik minoritas, memperoleh akses ke dan menamatkan pendidikan dasar wajib dan bebas biaya dengan kualitas baik;
    (iii) Menjamin bahwa kebutuhan belajar semua anak dan orang dewasa dipenuhi melalui kesamaan akses ke program pembelajaran dan keterampilan kehidupan yang tepat;
    (iv) Mencapai 50 persen perbaikan dalam tingkat melek huruf di kalangan orang dewasa menjelang tahun 2015, terutama untuk perempuan, dan kesamaan akses ke pendidikan dasar dan lanjut untuk semua orang dewasa;
    (v) Menghilangkan kesenjangan gender dalam pendidikan dasar dan menengah menjelang tahun 2005, dan mencapai kesamaan gender dalam pendidikan menjelang tahun 2015, dengan focus pada jaminan terhadap kesamaan akses ke dan pencapaian dalam pendidikan dasar berkualitas bagi anak perempuan;
    (vi) Meningkatkan semua aspek kualitas pendidikan dan menjamin kualitas terbaik bagi semua sehingga hasil belajar yang terakui dan terukur dapat dicapai oleh semua, terutama dalam baca/tulis, berhitung dan keterampilan kehidupan yang esensial.

    28 April 2000, Dakar, Senegal


    Lampiran 6: Apa yang Terjadi pada Forum Pendidikan Dunia? Instituto Fronesis, Mei 2000, Sebuah Kritik dari Selatan, dari Kampanye NGO (Dakar, Senegal, 26-28 April 2000), Rosa María Torres,
    http://www.campaignforeducation.org/_html/docs/welcome/frameset.shtml

    “Tidak banyak yang terjadi di Dakar. Ini merupakan pertemuan yang sangat besar dan mahal tanpa cahaya dan tanpa harapan, dengan logistik yang rumit, dengan sedikit kejutan dan dengan hasil yang sudah diantisipasi, sebagaimana biasanya pada peristiwa-peristiwa yang pada dasarnya hanya untuk membahas dan menyepakati dokumen-dokumen yang sudah dipersiapkan sebelumnya dan sudah melalui berbagai draft. Yang masih terbuka untuk didiskusikan hanyalah bentuknya, bukan isinya: mengganti, menghapus atau menambahkan kata, memindahkan paragraph, atau lebih menonjolkan satu gagasan tertentu di antara gagasan-gagasan lain. Sering kali, perdebatan dan kemenangan berkutat sekitar "memasukkan " kalimat atau paragraph yang dipandang relevan oleh setiap orang atau kelompok dari sudut pandangnya atau bidang minatnya masing-masing: pendidikan bagi anak perempuan, melindungi lingkungan, penghapusan hutang, perkembangan anak usia dini, anak jalanan, pemberantasan mempekerjakan anak, perspektif gender, pencegahan HIV/AIDS, kelompok terasing, kerjasama Selatan-Selatan, pengembangan guru, keterlibatan masyarakat, perang melawan kemiskinan, dan seterusnya. Hasilnya adalah dokumen yang mencakup segala hal, mencakup setiap orang tetapi tidak mewakili ataupun memuaskan pihak tertentu. Itulah yang selalu terjadi dengan dokumen dan deklarasi internasional, dan akhirnya dokumen-dokumen itu menjadi sangat umum, kembali ke hal-hal yang biasa, berisikan kekaburan dan ambiguitas, dan menciptakan ilusi tentang idealisme bersama, consensus dan komitmen.
    Pendidikan untuk Semua 1990-2000 pada dasarnya merupakan rencana pergerakan top-down, yang dilaksanakan dan dievaluasi oleh elit politik dan teknokrat internasional dan nasional, dengan sedikit sekali informasi atau dorongan untuk berpartisipasi diberikan kepada warga masyarakat, bahkan juga kepada guru ataupun peneliti dan spesialis pendidikan. Rencana Pendidikan untuk Semua di tingkat nasional biasanya merupakan rencana pemerintah, yang digariskan dan dibahas di belakang pintu tertutup oleh fungsionaris nasional dan internasional. Pertemuan global, regional dan nasional untuk memonitor PUS merupakan pertemuan yang dihadiri oleh sejumlah kecil wajah yang dikenal masyarakat. Sedikit saja orang yang tahu tentang pekerjaan yang dilakukan oleh Forum PUS – badan internasional yang memonitor PUS, yang sekretariatnya terletak di kantor UNESCO, di Paris – atau tentang komposisi komite pengarahnya, pertemuan-pertemuan yang diadakannya dan keputusan-keputusan yang diambilnya. Asesmen akhir dasawarsa PUS bagi banyak orang merupakan peringatan bahwa ada sesuatu yang disebut Pendidikan untuk Semua, yang tengah dievaluasi oleh orang lain dan yang sudah hampir berakhir.
    Lima belas tahun ke depan tidak boleh merupakan pengulangan cerita ini. Tidak mungkin memisahkan antara pemikiran (top) dengan tindakan (bottom), baik dalam hubungan antara lembaga internasional dengan pemerintah nasional ataupun dalam hubungan antara pemerintah nasional/lokal dengan masyarakat nasional/lokal. Menerima pembedaan ini berarti menerima bahwa terdapat pihak tertentu yang merencanakan dan pihak lain yang terbatas pada pelaksanaannya, bahwa investigasi dan analisisnya sudah dilakukan dan bahwa yang tersisa hanyalah mengkonversinya ke dalam rencana aksi. Melakukan sesuatu secara baik berarti berpikir dan bertindak pada semua level. Mendiskusikan diagnosis dan strategi yang ditetapkan pada level makro, dan mengemukakan saran-saran tentang "apa " dan"bagaimana" untuk setiap konteks yang spesifik, merupakan tugas untuk Forum PUS Nasional dan untuk masyarakat sipil secara keseluruhan.


    Lampiran 7: Perbedaan antara Integrasi dan Pendidikan Inklusif (diambil dari Laporan Seminar Agra)


    Solusi: Perbaiki keadaan atau anak akan gagal. Mereka hanya dapat memperoleh pendidikan jika:
    • Mereka dapat bergaul dengan anak-anak lain (tidak terusir karena digoda atau diganggu).
    • Mereka mempunyai peralatan khusus.
    • Mereka memperoleh dukungan satu persatu.
    • Mereka mempunyai guru khusus.
    • Mereka dapat mengikuti kurikulum.
    • Mereka mempunyai lingkungan khusus.
    • Mereka diajar dengan teknik khusus untuk memenuhi kebutuhan khususnya.
    • Kita mempunyai sumber-sumber ekstra untuk memenuhi kebutuhan khususnya.
    • Mereka dapat berangkat ke sekolah dan berkomunikasi secara tepat.
    • Mereka dipisahkan karena mereka berbeda.

    Solusi: Peningkatan keadaan sekolah melalui perubahan yang dikelola secara berhati-hati dan partisipasi.
    • Kembangkan pendekatan seluruh sekolah – tanggung jawab dan pemecahan masalah bersama.
    • Identifikasi, dapatkan dan manfaatkan sumber-sumber yang tersedia di masyarakat.
    • Buat alat Bantu dan peralatan lainnya dengan menggunakan bahan-bahan local yang murah.
    • Sumber-sumber dialokasikan untuk mendukung pembelajaran semua siswa.
    • Dengarkan guru, tawarkan dukungan, galakkan pengajaran tim, tawarkan pelatihan praktis yang relevan.
    • Buat agar lingkungan aksesibel dan ramah.
    • Kembangkan dan implementasikan kebijakan untuk merespon keberagaman dan kurangi diskriminasi.
    • Kembangkan tutoring antar-anak dan antar-teman sebaya.
    • Ciptakan hubungan dengan organisasi dan program kemasyarakatan: organisasi penyandang ketunaan, persatuan orang tua, program RBM.

    Lampiran 8: Indeks untuk Inklusi
    Ainscow et al. (2000) Bristol: CSIE

    Menciptakan Budaya Inklusi Menetapkan Kebijakan Inklusi Mengembangkan Praktek Inklusi
    Membangun Masyarakat:
    • Saling mendukung dan saling membantu
    • Melibatkan berbagai kelompok
    • Lingkungan yang ramah
    • Mempraktekkan penghargaan Mengembangkan Satu Sekolah untuk Semua
    • Rekrutmen staf yang mencerminkan keberagaman
    • Staf diperlakukan baik dan adil
    • Semua anak setempat diperbolehkan masuk
    • Lingkungan yang aksesibel Memvariasikan Pembelajaran
    • Kurikulum yang responsive
    • Pelajaran dapat diakses oleh semua
    • Pelajaran secara aktif mendorong pemahaman tentang perbedaan dan inklusi
    • Semua anak mendapat dorongan
    • Pengajaran tim
    Menegakkan Nilai-nilai Inklusi
    • Mengharapkan semua siswa mengembangkan potensinya
    • Berbagi nilai
    • Semua anak dihargai setara
    • Manusia seutuhnya – bukan sekedar sebuah mesin yang dapat belajar
    • Pendekatan menghilangkan hambatan (model social)
    • Kebijakan dan proses untuk memerangi praktek diskriminasi, misalnya mengganggu orang lain Mengorganisasikan Dukungan untuk Keberagaman
    • Mengkoordinasikan dukungan
    • Proses untuk pemecahan masalah bersama
    • Berbagai kelompok memperoleh dukungan: staf, siswa, orang tua
    • Dukungan yang tepat diberikan untuk kebutuhan yang berbeda (Braille, tape, bahasa isyarat dan bentuk dukungan lainnya)
    • Proses untuk mengidentifikasi dan mengurangi hambatan belajar bagi semua siswa Memobilisasi Sumber-sumber
    • Distribusi yang adil
    • Mendapatkan dan memanfaatkan sumber-sumber dari masyarakat setempat
    • Semua orang (anak, staf, orang tua) dipandang sebagai sumber daya
    • Penggunaan sumber-sumber local sesuai dengan prioritas


    Lampiran 9: Lokakarya Laos 1995, Merencanakan dan Mengimplementasikan Pendidikan Inklusif: Diadaptasikan dari Kerangka Aksi Salamanca









































    Level/Tahap A. Perundang-undangan dan Kebijakan Pemerintah B. Lembaga Pemerintah C. Faktor Masyarakat D. Faktor Sekolah E. Pengetahuan, Keterampilan, Informasi F. Sumber Daya
    1. Apa yang sudah ada Kebijakan, pakta atau kebijakan internasional, regional atau nasional yang terkait dengan anak, pendidikan dan ketunaan – membantukah atau menghambatkah? Siapa yang bertanggung jawab untuk apa? Siapa yang mempunyai kekuasaan untuk membuat kebijakan, anggaran, implementasi?
    Keahlian apa yang tersedia?
    Bagaimana hubungan antara pemerintah dengan organisasi nonpemerintah dan kelompok pengguna?
    Bagaimanakah sikap dan perilaku yang ada? Apakah anak penyandang ketunaan sudah bersekolah? Di mana mereka? Apakah ada RBM? Persatuan orang tua? Organisasi penyandang ketunaan? Bagaimanakah hubungan antara sekolah dengan masyarakat dan pemerintah pada berbagai level?
    Bagaimanakah system persekolahan yang ada? TK? SLB/unit khusus? Siapakah yang bersekolah? Siapa yang putus sekolah?
    Bagaimanakah pengelolaan sekolah? Kurikulum? Metodologi?
    Jenis pelatihan apa yang ada dan siapakah yang melaksanakannya? Apakah ada pelatihan “khusus”? Bagaimanakah perkembangan bahasa isyarat? Jenis informasi apa yang didapat orang mengenai ketunaan?
    Ada bengkel untuk memproduksi peralatan asistif?
    Orang: orang tua, OPC, anggota masyarakat, ONP, donatur, organisasi internasional nonpemerintah, - apa yang membantu/menghambat inklusi?
    Materi: fasilitas untuk Braille, alat Bantu mobilitas
    2. Memulai PI Apakah perubahan kebijakan atau kebijakan baru diperlukan? Mengidentifikasi orang kunci dan mulai melakukan kampanye kesadaran – menghimpun dukungan Melibatkan dan berkonsultasi dengan masyarakat sejak awal – orang tua, OPC, pemimpin, anak Memilih subjek rintisan tergantung pada banyak factor; usia muda lebih baik, tetapi replikabilitas penting. Mulai dengan apa yang dapat dicapai. Kampanye kesadaran sebaiknya ditargetkan pada berbagai level dan mencakup semua orang yang memiliki pengaruh. Pelatihan – model social, berkelanjutan, fleksibel, dalam konteks yang alami. Bagaimanakah sumber daya yang tersedia dapat diperoleh dan dimanfaatkan? Mulai dengan SDM, dan dengan apa yang benar-benar tersedia, jangan mulai dengan daftar keinginan. Kolaborasi
    3. Mendukung Implementasi Lobi difokuskan pada implementasi kebijakan, alokasi dan monitoring anggaran Komite pengarah melibatkan semua individu kunci. Kerjasama lintas sector Pendidikan di rumah, masyarakat, sekolah – semua yang relevan Metode mengajar yang berfokus pada anak, kurikulum dan lingkungan yang fleksibel, pengajaran tim, peralatan asistif yang tepat. Peningkatan mutu sekolah seyogyanya menguntungkan bagi semua anak. Terapkan teori ke dalam praktek – mengelola perubahan, langkah yang lambat, mengembangkan budaya belajar berbagi, kerjasama. Gunakan spesialis sebagai sumber daya, tetapi tanggung jawab harus berada pada guru reguler dan masyarakat yang lebih luas.
    4. Monitoring dan Evaluasi Bekerjasama dengan kelompok-kelompok lobi seperti orang tua dan OPC untuk memastikan bahwa kebijakan dimonitor. Manfaatkan mekanisme monitoring internasional yang ada – pelaporan, pelapor khusus Siapa yang aktif terlibat? Siapa yang benar-benar mendukung? Bagaimana sumber-sumber dialokasikan? Seberapa inklusifkah masyarakat dalam prakteknya? Siapa yang membuat keputusan, siapa yang memiliki akses ke sumber-sumber? Andaikata focusnya pada system, bukan pada anak, hanbatan apa terhadap inklusi yang sudah dihilangkan? Tingkat partisipasinya? Kolaborasi? Respon terhadap perbedaan? Melibatkan peserta pelatihan dalam evaluasi – apakah itu berjalan? Apa yang perlu diubah? Perubahan apa yang terjadi dalam cara penggunaan sumber-sumber? Apakah kolaborasi sudah meningkat? Apakah sumber-sumber yang dialokasikan dimanfaatkan?



    Buku kecil ini ditulis untuk semua orang yang ingin mengetahui lebih banyak tentang pendidikan inklusif. Terutama ditujukan untuk mereka yang bekerja dalam bidang pendidikan di negara-negara di mana sumber ekonominya langka.
    Fokus internasional pada pendidikan inklusif tumbuh berkembang dan dipandang semakin relevan untuk mencapai tujuan Pendidikan untuk Semua. Pada tahun 2001 UNESCO membentuk flagship tentang ketunaan dan pendidikan; ini bertujuan untuk “Memajukan Pendidikan Inklusif sebagai pendekatan utama untuk mencapai Pendidikan untuk Semua.” Namun, meskipun fokus yang diarahkan pada pendidikan inklusif sudah meningkat dan semakin banyak literatur yang membahas topik ini, tetapi masih ada kekurangan pengetahuan dan kebingungan tentang cara menerapkan konsep tersebut ke dalam praktek yang sesungguhnya.
    Atlas alliance ingin menutupi kesenjangan ini dan meminta Sue Stubss, koordinator untuk Konsorsium Internasional tentang Ketunaan dan Pembangunan dan mantan penasehat ketunaan di Save the Children UK, untuk menulis suatu tinjauan tentang pendidikan inklusif. Buku kecil inilah hasilnya: suatu tinjauan yang diarahkan untuk mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep, strategi dan isu-isu pendidikan inklusif. Isi buku kecil ini akreditasinya sepenuhnya berada pada penulis. Atlas alliance sangat berbahagia menerbitkan buku kecil ini dan berharap akan menjadi sumber yang bermanfaat bagi para pembaca yang tinggal dan bekerja, baik di Selatan maupun di Utara.










    Naskah asli diterbitkan oleh the Atlas-Alliance bekerjasama dengan
    the Norwegian Association of the Disabled.


    The Atlas Alliance
    Schweigaardsgt 12
    PO Box 9218 Grønland
    0134 Oslo, Norway
    Tel: +47 22 17 46 47
    Fax: +47 23 16 35 95
    E-mail: atlas@atlas-alliansen.no
    www.atlas-alliansen.no




    Kembali ke Bab 7: Apa Selanjutnya?

    Labels:

    :)

    Anda ingin mencari artikel lain? Silakan isi formulir pencarian di bawah ini. :)
    Google

    Pendidikan Inklusif: Apa Selanjutnya?

    Bagian dari buku
    Pendidikan Inklusif Ketika Hanya Ada Sedikit Sumber

    Terjemahan dari
    Inclusive Education where there are Few Resources

    Oleh Sue Stubbs

    Alih Bahasa oleh Susi Septaviana R.

    Edisi bahasa Indonesia diedit oleh Didi Tarsidi

    Disponsori oleh IDP Norway

    Bab 7: Apa Selanjutnya?


    Dari mana kita dapat memperoleh informasi lebih lanjut?

    Sebagian besar sumber-sumber rujukan berikut ini diambil dari EENET. Kecuali jika disebutkan lain, semuanya dapat diperoleh dari EENET. Alamat dan lain-lain dapat diperoleh dari penerbit Buku kecil ini, Atlas alliance di Norwegia.

    7.1. Organisasi sebagai Rujukan
    The Enabling Education Network (EENET)
    www.eenet.org.uk
    eet@man.ac.uk
    EENET merupakan sumber utama untuk informasi tentang pendidikan inklusif yang terkait dengan negara-negara yang secara ekonomi lebih miskin. Eenet Menerbitkan buletin satu kali setahun, memiliki situs web yang lengkap dan juga memproduksi CD ROM yang berisikan situs webnya.
    EENET Coordinator
    Centre For Educational Needs,
    School of Education,
    Manchester University, Oxford Rd, Manchester
    M13 9PL, UK
    Tel 00 44 (0) 161 275 3711
    Fax 00 44 (0) 161 275 3548

    The Atlas-alliance
    The Atlas-alliance adalah sebuah aliansi organisasi-organisasi penyandang ketunaan [OPC] Norwegia yang aktif mendukung proyek-proyek untuk penyandang ketunaan dan OPC di Selatan. Aliansi ini telah membuat database sumber informasi dan dokumentasi. Klik “English” sesudah masuk ke: http://ww.atlas-alliansen.no/server/atlas/ressurbank.jsp

    CSIE (Centre for Studies on Inclusive Education)
    CSIE memberikan informasi tentang inklusi dan masalah-masalah terkait. Ini merupakan organisasi amal yang terdaftar di Inggris dan kegiatannya didasarkan atas prinsip-prinsip hak asasi manusia.
    The Centre for Studies on Inclusive Education (CSIE)
    Room 25, 203 S Block,
    Frenchay Campus,
    Coldharbour Lane, Bristol
    BS16 1QU, UK
    Tel: +44 (0) 117 344 4007
    Fax: +44 (0) 117 344 4005
    www.inclusion.uwe.ac.uk

    Departemen Pendidikan Inklusif UNESCO
    (Sebelumnya disebut Departemen Pendidikan Kebutuhan Khusus) UNESCO menerbitkan berbagai macam sumber informasi dan publikasi dalam bermacam-macam bahasa tentang pendidikan inklusif.
    http://www.unesco.org/education/educprog/sne/index.html
    UNESCO Inclusive Education
    Division of Basic Education 7
    Place de Fontenoy –
    75352 PARIS 07 SP – France
    Tel: +33 (0)1 45 68 11 95
    Fax: +33 (0)1 45 68 56 26/7

    Situs web Kantor Pendidikan Kebutuhan Khusus Bangkok:
    http://www.unescobkk.org/education/appeal/topic08.htm

    Kantor Pendidikan Inklusif Dakar:
    Http:// ww.dakar.unesco.org/education_fr/base_integr.shtml

    Situs web Kantor Santiago: http://www.unesco.org/education/efa/index.shtml

    Pendidikan untuk Semua UNESCO
    Departemen ini di UNESCO bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan berbagai inisiatif PUS, termasuk Flagship tentang inklusi penyandang ketunaan dalam Pendidikan. Departemen ini juga memiliki teks laporan konferensi utama tentang pendidikan: Jomtien dan Dakar.
    http://www.unesco.org/education/efa/index.shtml

    Child-to-Child Trust
    Child-to-Child Trust mengkoordinasikan jaringan kerja dalam bidang kesehatan dan pendidikan di lebih dari 60 negara. Badan ini merupakan organisasi amal independen yang berkantor pusat di Universitas London, yang mendesain dan mendistribusikan bahan-bahan pendidikan kesehatan dan advis tentang implementasi proyek “dari anak untuk anak”.
    Child-to-Child Trust
    Institute of Education,
    20 Bedford Way,
    London WC1H OAL
    Tel: +44 (0)207 612 6648/9
    Fax: +44 (0)207 612 6645
    E-mail: telecs@ioe.ac.uk

    Inclusion International
    Inclusion International dulunya disebut Liga Internasional Masyarakat untuk Penyandang Tunagrahita – ILSMH. Ini adalah organisasi hak asasi manusia dan advokasi, yang bekerja erat dengan PBB. Inclusion International memiliki 173 organisasi anggota di 109 negara (1998) yang diorganisasikan ke dalam kelompok-kelompok regional.
    Inclusion International,
    International Disability Centre,
    13D Chemin du Levant
    01210 Ferney-Voltaire,
    France
    Fax: +33 (0)450 400119
    E-mail: info@inclusion.international.org
    Web: www.inclusion.international.org

    Deaf Africa Fund
    Deaf Africa Fund (dana tunarungu Afrika) didirikan untuk memenuhi kebutuhan anak tunarungu beserta keluarganya di negara-negara berpenghasilan rendah. Salah satu kebutuhan tersebut adalah agar orang tua mendapatkan akses ke informasi mutakhir dan kesempatan untuk bertemu dengan orang tua lain, baik di negaranya sendiri maupun di negara lain.
    Deaf Africa Fund
    Chapel Cottage,
    7 King Street,
    Much Wenlock TF13 6BL, UK

    Save the Children Sweden (SC S)
    SC S bekerja untuk hak anak dengan mengembangkan pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan anak, mensponsori pembangunan dan program yang praktis serta menyebarluaskan pengalaman yang diperoleh darinya, dan dengan mempengaruhi opini publik dan para pembuat keputusan.
    Rädda Barnen Sweden (SC S)
    SE 107 88, Stockholm, Sweden
    Fax: +46 (0) 8 698 90 20
    E-mail: info@rb.se
    Web: www.rb.se

    Save the Children UK (SC UK)
    Save the Children merupakan badan amal internasional untuk anak yang paling terkemuka. SC UK beroperasi di lebih dari 70 negara dalam bantuan darurat maupun untuk program pembangunan jangka panjang. SC memiliki berbagai macam karya tulis yang tidak diterbitkan tentang Pendidikan Inklusif, banyak di antaranya dimuat dalam situs web EENET atau dapat juga diperoleh langsung dari Pusat Sumber informasi SC UK.
    Save the Children UK,
    17 Grove Lane,
    London SE5 8RD, UK
    Tel: +44 (0)20 7703 5400
    Fax: +44 (0)20 7708 2508
    www.savethechildren.org.uk

    Child Rights Information Network (CRIN)
    CRIN merupakan jaringan kerja yang sangat besar dalam aktivitas tentang hak asasi anak. CRIN mempunyai database yang besar dan buletin yang terbit berkala. Alamat Posnya sama dengan Save the Children di atas. Untuk berlangganan jaringan email:
    crinmail_english-subscribe@domeus.co.uk
    Untuk meminta informasi: info@crin.org
    Web: www.crin.org

    7.2. Pedoman Praktis

    UNESCO Teacher Education Resource Pack: Special Needs in the Classroom (1993). Materi ini dibuat sebagai bagian dari proyek UNESCO untuk membantu sekolah dan guru merespon terhadap siswa berkebutuhan khusus. Ini dapat dipergunakan sebagai materi pelatihan guru pada tahap awal; lokakarya in-service; atau untuk pengembangan staf sekolah.

    UNESCO (2001): Open File on Inclusive Education: Support Materials for Managers and Administrators. Paket sumber ini membahas asesmen, pengembangan profesi, peranan keluarga dan masyarakat, dan pengembangan kurikulum yang inklusif.

    UNESCO: Deafness: A guide for community workers, teachers, and parents (2001)
    Publikasi UNESCO ini dilengkapi dengan video. Publikasi ini relevan dengan semua budaya dan konteks, dan terdapat bagian yang sangat bagus tentang pendidikan. Video dibuat di Uganda dengan beberapa adegan tentang program pendidikan inklusif di Lesotho.

    UNESCO: Understanding and Responding to Children’s Needs in Inclusive Classrooms: A guide for teachers (2001)
    Panduan ini dapat dipergunakan di samping UNESCO Teacher Education Resource Pack. Buku ini mengulang sebagian pesan yang ada dalam paket sumber itu, tetapi juga memberikan advis praktis kepada guru dalam menangani anak yang memiliki kesulitan belajar tertentu.

    Holdsworth, J, Sacklokham, K, Phommaboud,C, Inthirath, S (1997) Management of Integrated Education Programme:Guidelines, Laos
    Panduan praktis berdasarkan program rintisan pendidikan inklusif di Laos.

    Index for Inclusion: Developing learning and participation in schools (2000)
    Ini merupakan serangkaian materi untuk membimbing sekolah dalam proses pengembangan sekolah inklusif. Diterbitkan oleh CSIE bekerjasama dengan Centre for Educational Needs, Manchester, dan Centre for Educational Research, Canterbury, dan merupakan hasil dari penelitian tindakan selama tiga tahun. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.
    Harga: £24,50 p&p di Inggris.
    Tersedia dari: Centre for Studies on Inclusive Education (CSIE). Alamat seperti di atas.

    Hazel Jones (1990) Including Disabled People in Everyday Life
    Video praktis dan publikasi ini didasarkan atas serangkaian lokakarya yang dikembangkan oleh Save the Children sebagai bagian dari kegiatannya yang berbasis masyarakat dalam bidang ketunaan di Ho Chi Minh City, Vietnam.
    Diterbitkan oleh SC UK.
    Harga: £9,95 & £1,50p&p.
    ISBN:1 841870 08 0
    Tersedia dari:
    Publications Sales
    Save the Children
    17 Grove Lane,
    London SE5 8RD
    UK
    Tel: +44 (0)20 7716 2138
    Fax: +44 (0)20 7703 2278
    www.save the children.org.uk

    Ingrid Lewis (2000) Access for All: Helping to Make Participatory Processes Accessible for Everyone
    Dokumen ini diterbitkan menyusul kajian tentang program RBM Global yang diselenggarakan oleh SC UK. Publikasi ini berisikan kajian yang komprehensif tentang masalah-masalah aksesibilitas sebelum, selama dan sesudah seminar. Tersedia dalam bahasa Perancis, Portugis, Spanyol dan Arab, kaset (dalam bahasa Inggris) dan Braille.
    Tersedia dari:
    Development Dialogue Team
    Save the Children UK
    17 Grove Lane
    London SE5 8RD
    UK
    Tel: +44 (0)20 7703 5400 ext.2565
    Fax: +44 (0)20 7793 7630

    Jones, H (2001) Hak Penyandang ketunaan – panduan praktis
    Panduan yang ditulis secara sederhana ini berisikan Konvensi PBB tentang Hak Anak dalam versi yang disederhanakan dan ringkasan Peraturan Standar PBB. Buku ini juga memuat daftar cek yang membantu memasukkan masalah-masalah ketunaan ke dalam program sosialisasi hak anak. Buku ini disertai dengan CD-ROM yang berjudul ‘Disabled Children’s Rights: contoh-contoh tentang praktek yang baik dan pelanggaran dari seluruh dunia.
    Tersedia dari:
    Save the Children Sweden
    SE 107 88
    Stockholm
    Sweden
    Fax: +46 (0)8 698 90 20
    E-mail: info@rb.se
    Web: www.rb.se

    Parent Mobilisation Resource Group and DICAG South Africa (2000). Where there is a Will, There is a Way. Panduan pelatihan untuk Orang Tua dan Profesional dalam Menciptakan Sebuah Masyarakat untuk Semua. Salinan dokumen ini tersedia dari EENET.

    Rieser, R and Mason, M (1992) Disability Equality in the Classroom.
    Orang tua anak penyandang ketunaan telah meminta dipublikasikannya tulisan yang sangat informatif ini. Publikasi ini ditulis oleh pelatih dalam bidang persamaan hak penyandang ketunaan yang memiliki banyak pengalaman dalam mempromosikan pendidikan inklusif. Meskipun tulisan ini didasarkan atas pengalaman di Inggris, tetapi sangat mudah diadaptasikan pada situasi lain.

    Rieser, R and Mason, M (1994) Altogether Better: From 'Special Needs' to Equality in Education.
    Paket video pelatihan ini dimaksudkan untuk menciptakan sistem sekolah yang menghargai perbedaan, dan oleh karenanya meningkatkan kualitas lingkungan pendidikan bagi semua orang. Diproduksi oleh Proyek Amal dan tersedia dari: Disability Equality in Education, Unit 4Q Leroy House, 436 Essex Road, London N1 3QP, UK. Fax: +44 (0)207 354 3372, E-mail: info@diseed.org.uk

    Parents as Trainers of Families, Professionals and Communities (1999)
    Ini merupakan buku pelatihan yang dikembangkan oleh the Lesotho Society of Mentally Handicapped Persons (LSMHP). Tersedia dalam bahasa Inggris dan Spanyol.

    Let's communicate: buku pegangan untuk mereka yang menangani anak yang berkesulitan dalam komunikasi.
    Diterbitkan atas kerjasama antara WHO, UNICEF dan Kementrian Kesehatan Zimbabwe. 1997. Serial buku kecil ini membahas tentang masalah-masalah komunikasi. Tersedia dari:
    Disability and Rehabilitation Team, WHO. Kode rujukan: WHO/RHB 971. WHO, CH-1211, Geneve 27, Switzerland

    UN Convention on the Rights of the Child Training Kit. International Save the Children Alliance. Harga SEK 336.
    Ini bermanfaat untuk siapapun yang terlibat dalam pelatihan dan pendidikan di bidang hak anak.
    Tersedia dari: Radda Barnen, 10788 Stockholm, Sweden Fax: +46 8698 9012

    Low Vision Guidelines for Itinerant Teachers, Class Teachers, Rehabilitation, Social Workers and Parents. 1998.
    Gladys Nyaga.
    Publikasi ini berisikan pedoman tentang layanan bagi penyandang kurang awas (low vision) untuk guru, petugas rehabilitasi, pekerja sosial dan orang tua.
    Tersedia dari:
    Sight Savers International, PO Box 34690, Nairobi, Kenya .
    Fax: +254 2 505548
    Email: ssiecsa@africaonline.co.ke
    *
    Promoting Inclusive Education – Manual pelatihan untuk pelaksana kegiatan dari anak untuk anak.
    Sebuah proyek rintisan di Pusat Pendidikan Anak Penyandang ketunaan Jerusalem, Palestina, Maysa Hawwash. Najat Soboh dan Lucienne Maas memproduksi paket pelatihan ini dengan ilustrasi.

    Ainscow et al (1999) Creating Conditions for School Improvement. London: Fulton.
    Sebuah panduan praktis tentang cara bekerja secara partisipatif di sekolah. Didasarkan atas situasi di Inggris, tetapi mengandung kerangka kerja yang dapat dipergunakan untuk mengawali suatu diskusi.

    7.3. Video Paket Pelatihan

    Kementerian Pendidikan Lesotho (1996) Preparing teachers for inclusive education.
    Ini merupakan paket pelatihan berbasis video untuk digunakan pada kursus pelatihan in-service dan pre-service yang terdiri dari 13 program video dan dibagi menjadi empat bagian: landasan, mengatasi kelainan, mengadaptasikan kurikulum dan merespon terhadap perbedaan. Disertai dengan empat buku kecil. 240 menit. Harga: £30 untuk lembaga yang berbasis di Utara atau didanai oleh lembaga dari Utara. Gratis untuk organisasi dari Selatan. Tersedia dari EENET.

    Community Based Rehabilitation Service (CBRS), Nepal. Building on Ability (2000)
    Video ini memberikan wawasan tentang kehidupan sehari-hari anak penyandang ketunaan yang didukung oleh CBRS di Nepal. Ada fokus pada pendidikan inklusif.

    Parents for Inclusion (P9) Including All Children (2001)
    Video ini dibuat dalam konteks Inggris, tetapi memiliki pandangan yang luas, berfokus pada pendidikan inklusif dan peranan organisasi orang tua.
    Video ini berdurasi 17 menit dan harganya £10. Tersedia dari PI, Unit 2, 70 South Lambeth Road, London SW8 1RL, UK
    E-mail: info@parentsforinclusion.org Web: www.parentsforinclusion.org

    The Agra Seminar Report and Video. International Disability & Development Consortium (DDC). Inclusive Education: Towards the Common Goal
    Video ini diambil dari seminar internasional IDDC tentang Pendidikan Inklusif. Agra, India, Maret 1998. Laporan seminar berserta video 20 menit.
    Harga: £5,00. Gratis untuk Organisasi dari Selatan.
    Tersedia dari: EENET

    The Norwegian Association for Persons with Developmental Disabilities (NFU) 1. My Rights, 1998
    Video dan panduan pelatihan yang membahas kesempatan bagi penyandang tunagrahita. Video menayangkan negara-negara: Zambia, Zimbabwe, Mauritius, Lesotho, Afrika Selatan, Jamaica. Organisasi orang tua di negara-negara ini adalah anggota Kelompok Mobilisasi Orang Tua, sebuah kelompok Inclusion International. Harga: US$30
    2. Bridging the Gap: Parents as Trainers, 1997
    Video ini mempertunjukkan peranan orang tua dalam meningkatkan kesadaran di kalangan profesional tentang kebutuhan anak tunagrahita. Diproduksi di Lesotho.
    Tersedia dari: NFU, Rosenkrantztgate 16, 0160 Oslo, Norway Fax: +47 22 39 60 50

    Save the Children Fund. Children, Disability and Development (1994)
    Video ini merupakan serial dari 3 program: RBM, Pendidikan Integrasi dan Pemberdayaan dan Penyandang ketunaan. Masing-masing program didasarkan pada wawancara dan refleksi pemikiran SCF tentang tema Pertemuan yang membahas masalah-masalah Ketunaan yang diselenggarakan oleh Global Save the Children di Inggris pada bulan April 1994. Disertai dengan catatan program. 72 menit. Harga: £5. Tersedia dari: Publications Sales, SCF UK

    UNESCO
    1. Teacher Education Resource Pack: Special Needs in the Classroom
    Video pelatihan bertujuan memperkenalkan proyek. 50 menit, Bahasa Inggris, 1993. Harga: US$30. Inclusive Schools: Mengilustrasikan pengalaman sekolah-sekolah di Spanyol, Inggris, Portugal, Selandia Baru dan Jordania. 60 menit, Dalam bahasa asli negara yang disebutkan, 1993. Harga: US$30

    2. Special Needs Education: Access and Quality
    Isu-isu dan pandangan dari Perdebatan Salamanca, 1995
    55 menit, Bahasa Inggris, Perancis dan Spanyol. Harga: US$40

    3. Working with children with developmental delays
    Video ini untuk pekerja sosial masyarakat, petugas kesehatan dan orang tua. Malawi: Getting Together, 50 menit. Sri Lanka: One of the Family, 50 menit.
    Uganda: Learning Together, 60 menit. Harga: US$40 masing-masing

    Hopeful Steps Community Based Rehabilitation programme: Guyana
    1. The challenge of introducing children with disabilities into mainstream schools.
    Paket pelatihan ini terdiri dari video yang berisi 10 program 12 menit. Disertai dengan 60 halaman panduan mengajar. 120 menit.
    Harga: US$80 atau £50

    2. Educating Communities about Disability
    Video ini menyajikan serangkaian pertunjukan wayang yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran di masyarakat tentang kebutuhan penyandang ketunaan. Disertai dengan panduan ilustrasi 62 halaman tentang cara membuat wayang dan menulis naskah.

    3. When there is no Nursery School
    Video ini terdiri dari 7 program 10 menit yang menawarkan ide-ide kepada orang tua dan guru untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak prasekolah kalau tidak ada taman asuh. Disertai panduan mengajar yang berilustrasi.

    4. Introducing Children with Disabilities into Mainstream Schools
    Video ini terdiri dari 8 program 15 menit yang memiliki kategori "Sekolah untuk Semua " atau "Bekerja Bersama di Sekolah ". Disertai dengan panduan mengajar berilustrasi yang terdiri dari 56 halaman.
    Versi NTSC dapat diperoleh dari: Community Based Rehabilitation, PO Box 10847, Georgetown, Guyana. Fax: +592 2 62615
    Versi PAL dapat diperoleh dari: Professor Roy McConkey, School of Health Sciences, University of Ulster, Newton Abbey, Co Antrim, BT 37 OOB, N Ireland, UK Fax: +44 (0)1232 - 368202 Email: rmcconkey@ulst.ac.uk


    7.4. Studi Kasus

    EENET Newsletters penuh dengan studi kasus tentang kebijakan dan praktek yang berkaitan dengan pendidikan inklusif di berbagai budaya dan konteks.

    UNESCO: Including the excluded: Meeting diversity in education - Uganda & Romania (2001)
    Studi kasus yang mendalam ini dikembangkan oleh UNESCO, memberikan contoh yang berharga tentang implementasi pendidikan inklusif.

    UNESCO: Welcoming Schools: Students with disabilities in regular schools (1999)
    Publikasi pendek ini disertai dengan sebuah video. Membahas tentang masyarakat, guru dan anak yang bekerjasama untuk mengurangi hambatan belajar dan mempromosikan inklusi untuk semua anak di sekolah. Guru dari 15 sekolah, tiap sekolah dari satu negara, berbagi pengalaman dan praktek di kelas. Tersedia dari UNESCO (lihat di atas).

    Sue Stubbs (1995) The Lesotho National Integrated Education Programme: A Case Study on Implementation
    Ini adalah Tesis Magister yang didasarkan pada penilitian tindakan di Lesotho. Tesis ini berfokus pada pelajaran yang diperoleh dari sekolah yang “berhasil” dan “tidak berhasil” yang terlibat dalam program rintisan pendidikan inklusif. Tesis ini juga memberikan kritik mendalam tentang MAKNA penelitian yang valid dan tepat sehubungan dengan kolaborasi antara Utara dan Selatan. Tersedia dalam situs web EENET atau dari EENET.

    EENET (2002) Family Action for Inclusion. Sebuah koleksi studi kasus tentang peran keluarga dan kelompok orang tua dalam mempromosikan Pendidikan Inklusif. Tersedia dari EENET.

    Farah, F (2000) Co-operation between Families and Schools: Parent Power Experience in Lebanon.
    Bab pendek ini memaparkan inisiatif yang diambil oleh Asosiasi Down Syndrome Lebanon untuk mempromosikan pendidikan inklusif. Artikel ini menekankan pentingnya kemitraan antara orang tua dan staf sekolah, dan berusaha menunjukkan keuntungannya bagi semua anak apabila anak penyandang ketunaan diinklusikan ke dalam sekolah setempat. Bab ini dimuat dalam buku Meeting Special and Diverse Educational Needs: Making Inclusive Education a Reality oleh Savolainen, H, Kokkola, H and Alasuutari, H (eds). Tersedia gratis dari: Ministry of Foreign Affairs of Finland, The Department of International Development Co-operation, PO Box 176, 00161 Helsinki, Finland.

    Hastie, R (1997) Disabled Children in a Society at War: A Casebook from Bosnia
    Buku ini menggambarkan peralihan dari layanan institusional menjadi integrasi di masyarakat dalam masa pasca komunisme. Oxfam Publishing. BE13C, PO Box 1496, Parkstone, Dorset, BH12 3YD, UK E-mail: pubiish@oxfam.org.uk

    McConkey, R (2001) A Bundle of Sticks: Family-based organizations in developing countries Unpublished paper
    Ini merupakan ringkasan yang sangat bermanfaat tentang bagaimana asosiasi orang tua berkembang di Utara dan Selatan, dengan rujukan khusus pada kesulitan belajar.
    School of Health Sciences, University of Ulster, Newtownabbey, BT37 OQB Northern Ireland

    Save the Children UK (1995) In Our Own Words: Disability and Integration in Morocco. Ini adalah kisah tentang layanan bagi penyandang ketunaan di Morocco dari sudut pandang remaja penyandang ketunaan sendiri. Pendidikan integrasi dibahas secara cukup rinci.
    Save the Children UK Publications, clo Plymbridge Distributors Ltd, Estover Road, Plymouth PL6 7PY, UK
    E-mail: orders@piymbridge.com

    O'Toole, B and McConkey, R (eds) (1995) Innovations in Developing Countries for People with Disabilities
    Lisieux Hall Publications berasosiasi dengan A1FO-Italy (Associazione Italiana Amici di Raoul Follereau). Buku ini kini sudah habis terjual dan izin diberikan oleh penerbitnya untuk direproduksi pada situs web EENET.

    Towards Responsive Schools: supporting better schooling for disadvantaged children (2000)
    Publikasi dari Save the Children/DFID ini menelaah bagaimana persekolahan terkait dengan kemiskinan dan ketidakberuntungan sosial atau politik. Studi kasus meliputi sekolah-sekolah masyarakat di India, taman kanak-kanak di Mongolia, dan pendidikan di kam pengungsi di Lebanon.
    DFID Education Publications Despatch, PO Box 190, Sevenoaks, TN14 5SP, UK Email: dfidpubs@echristian.co.uk

    Different voices adalah publikasi yang menunjukkan praktek-praktek yang patut dicontoh dari enam orang guru Tasmania dalam pendidikan bagi siswa dengan kebutuhan dukungan yang tinggi. Materi ini menggambarkan pengalaman dan praktek guru dalam setting anak usia dini, sekolah dasar, sekolah menengah dan perguruan tinggi. Teks visualnya menyajikan essay fotografis tentang sejumlah kelas dan praktek guru. Cerita ini menunjukkan bagaimana kebutuhan berbagai siswa dipenuhi sebagai bagian dari kehidupan kelas sehari-hari.
    Kontak: Julianne Moss. Dosen mata kuliah pendidikan usia dini dan pendidikan dasar. University of Tasmania. Box 252c-66 Hobart 7001. Australia.

    7.5. Publikasi Utama dan Sumber Bacaan Lebih Lanjut

    UNESCO: The Salamanca Statement and Framework for Action on Special Needs Education. Suatu tinjauan komprehensif tentang prinsip-prinsip, kebijakan dan praktek yang terkait dengan pendidikan inklusif. Kerangka kerjanya memberikan panduan kepada berbagai tingkatan dari Pemerintah hingga Masyarakat. Ini merupakan referensi kunci.

    UNESCO: Salamanca - Five Years On (1999)
    Ini merupakan tinjauan tentang perkembangan internasional menuju sistem pendidikan yang lebih inklusif dan kontribusi UNESCO terhadap perkembangan tersebut.
    Tersedia gratis dari UNESCO.

    Holdsworth J and Kay J (ed) (1996) Towards Inclusion: SCF's Experience in Integrated Education.
    Tinjauan tentang isu-isu utama berdasarkan lokakarya Save the Children untuk para praktisi dan pembuat kebijakan dari Asia. Mencakup studi kasus dari Laos, Cina, Vietnam dan Lesotho.

    Sue Stubbs (1997) Towards Inclusive Education: The Global Experience of Save the Children.
    Suatu diskusi komprehensif tentang prinsip-prinsip dan praktek pendidikan inklusif dari perspektif global, termasuk studi kasus dari negara-negara tertentu, dan sebuah diskusi tentang perbedaan antara pendekatan pendidikan khusus, unit kecil dan pendidikan inklusif.

    Sue Stubbs (1994) A Critical Review of the Literature on the Education of Disabled Children in Developing Countries.
    Sebuah survey mendalam dan kritik literatur, mencakup bibliografi yang lengkap. Makalah ini mengemukakan banyak isu yang menantang tentang bahaya konsep berbasis Utara yang diterapkan di Selatan, dan tentang validitas informasi tertulis.

    Laporan Seminar Aqra dan Video. International Disability & Development Consortium 0DDC). Inclusive Education: Towards the Common Goal.
    Lihat detilnya pada Video.

    Susie Miles (2000) Overcoming Resource Barriers: the Challenge of Implementing IE in Rural Areas.
    Sebuah makalah yang sangat bagus dan menantang, yang berargumen bahwa kurangnya sumber BUKAN suatu hambatan untuk pendidikan inklusif – hambatan sikap justru jauh lebih besar. Juga lihat 'Overcoming Resource Barriers' laporan EENET dari Symposium yang dipresentasikan pada konferensi ISEC 2000.

    Susie Miles (2000) Enabling Inclusive Education: Challenges and Dilemmas.
    Sebuah tinjauan tentang pelajaran utama yang diperoleh dari pengalaman dalam mendukung pengembangan pendidikan inklusif di negara-negara yang secara ekonomi lebih miskin. Mengkaji peran RBM, dan mengambil studi kasus dari Afrika dan Asia.

    Hannu Savolainen, Heikki Kokkala, Hanna Alasuutari (eds). (2000) Meeting Special and Diverse Educational Needs: Making Inclusive Education a Reality.
    Buku ini didasarkan pada makalah-makalah yang dipresentasikan pada sesi strategi Forum Pendidikan Dunia tentang Pendidikan Kebutuhan Khusus, yang difasilitasi oleh Niflo Maki Institute, Finlandia. Tersedia gratis dari: Kementerian Luar Negeri Finlandia (lihat alamatnya di atas).

    Ernma Stone (ed) (1999) Disability and Development: Learning from Action Research on Disability in the Majority World.
    ISBN: 0-952840-3-2. Harga: £15,99+ £1,50 p&p
    Buku ini menganalisis masalah-masalah yang muncul ketika gagasan dan praktek dari utara diekspos ke dunia mayoritas. Ada 15 kontribusi dari aktivis, praktisi dan peneliti penyandang ketunaan. Topiknya meliputi: pendidikan inklusif, RBM, organisasi penyandang ketunaan dan penelitian di bidang ketunaan. Dapat dibeli dari: The Disability Press, The Department of Sociology and Social Policy, The University of Leeds, Leeds LS2 9JT. Fax: +44 (0)113 233 4415.


    Mel Ainscow. Understanding the Development of Inclusive Schools (1999).
    Buku ini menawarkan saran-saran tentang cara mengembangkan sekolah dan kelas agar dapat menjangkau semua siswa. ISBN No: 0 7507 0734 8, paperback, harga: £14,95.

    Why exams and tests do not help disabled and non-disabled children learn in the same school. Simone Aspis (1998) Simone adalah penyandang ketunaan yang pernah bersekolah di slb, yang diberi label oleh sistem ujian/ asesmen sebagai berkesulitan belajar. Simone adalah seorang juru kampanye pendidikan inklusif yang independen. Dia bekerja secara freelance sebagai konsultan untuk penyelenggaraan seminar dan lokakarya. Simone Aspis, Changing Perspectives, 40 Churchill Road ' Willesden, London, UK. Tel/Fax: 0181459 5717.
    Makalah-makalah Simone dapat diperoleh dari EENET atau dari: Bolton Dat for Inclusion, Bolton Institute, Chadwick Street, Bolton, Lancashire, BL2 1JW UK. Tel: +44 1204 528851 Fax: +44 1204 399074, Email: k.barton@bolton.ac.uk

    Inclusive Education on the Agenda (1998).
    Sebuah buku kecil rujukan yang merangkum berbagai inisiatif internasional utama yang mendukung perkembangan pendidikan inklusif. Tersedia dari UNESCO, Special Education, 7 Place de Fontenoy, 75352 Paris 07 SP, France. Tel: +33 1 45 68 1137/95 . Fax: +33 1 45 68 5626/7/ 8.

    From Them To Us: an international study of Inclusion in education (1998).
    Diedit oleh Tony Booth dan Mel Ainscow. Publikasi baru ini mengkaji pertanyaan-menangani pertanyaan seperti “akankah ada perspektif global tentang pendidikan inklusif?" melalui serangkaian studi kasus dari delapan negara. Buku ini diterbitkan oleh Routledge, dan nomor ISDN-nya adalah sebagai berikut: Jilid keras: 0-415 18739-7 (£47,50). Jilid kertas: 0-415-13979-1 (£15,99)

    Mittler, Brouillette and Harris (ed) (1993) Special Needs Education. Sebuah kompilasi artikel dari seluruh dunia, dan diskusi tentang berbagai isu tentang pendidikan anak penyandang ketunaan. Beberapa artikel difokuskan pada pendidikan luar biasa, dan yang lainnya pada pendidikan inklusif.



    Kembali ke Bab 6: Apa yang Sudah Kita Peroleh?

    Labels:

    :)

    Anda ingin mencari artikel lain? Silakan isi formulir pencarian di bawah ini. :)
    Google

    02 August 2008

    Pendidikan Inklusif: Resume

    Bagian dari buku
    Pendidikan Inklusif Ketika Hanya Ada Sedikit Sumber

    Terjemahan dari
    Inclusive Education where there are Few Resources

    Oleh Sue Stubbs

    Alih Bahasa oleh Susi Septaviana R.

    Edisi bahasa Indonesia diedit oleh Didi Tarsidi

    Disponsori oleh IDP Norway


    Bab 6: Apa yang Sudah Kita Peroleh?



    6.1. Jawaban untuk Pertanyaan-pertanyaan Utama
    Beberapa pertanyaan utama diajukan pada awal Bab 2. Bab-bab selanjutnya telah mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui diskusi dan studi kasus.

    1. Apakah pendidikan inklusif sebenarnya ditujukan pada semua kelompok, atau apakah hanya pada kelompok anak penyandang ketunaan?
    Pendidikan inklusif ditujukan pada SEMUA kelompok yang termarjinalisasi, tetapi kebijakan dan praktek inklusi anak penyandang ketunaan telah menjadi katalisator utama untuk mengembangkan pendidikan inklusif yang efektif, yang fleksibel dan tangap terhadap keanekaragaman gaya dan kecepatan belajar.
    2. Apakah pendidikan inklusif merupakan suatu prioritas?
    Jika mendidik semua anak, mengurangi kemiskinan dan mengembangkan toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman itu penting, maka pendidikan inklusif merupakan prioritas. jika tidak diprioritaskan, maka akan jauh lebih sulit dan mahal untuk mengembangkannya apabila infrastrukturnya yang kompleks sudah terbangun. Jadi, terutama di mana hanya terdapat sedikit infrastruktur, dan dalam situasi rekonstruksi pasca-konflik, pendidikan inklusif merupakan prioritas. Akan tetapi, masyarakat jarang secara spontan memprioritaskan inklusi tanpa adanya suatu katalisator atau model atau contoh keberhasilan yang nyata.
    3. Apakah pendidikan inklusif merupakan ciptaan Barat yang dipaksakan kepada seluruh dunia?
    Tidak, pada esensinya tidak. Terminologinya mungkin berkembang di Barat, tetapi negara-negara di Selatan mungkin bahkan lebih ‘inklusif’ sebelum ada kolonialisme, dan kini bahkan sering menjadi pelopor dalam inklusi yang berkelanjutan. Akan tetapi, para donor dan lembaga pembangunan asing masih mencoba memaksakan pendidikan inklusif bversinya sendiri, tanpa konsultasi dan partisipasi. Hal tersebut harus ditentang.
    4. Bagaimanakah kaitan antara pendidikan inklusif dengan tantangan utama yang dihadapi pendidikan seperti putus sekolah, kualitas pendidikan, akses anak perempuan ke sekolah, kurikulum yang kaku, kurangnya sumber daya?
    Secara sentral, pendidikan inklusif terkait dengan masalah-masalah ini dan memberikan solusi yang konkrit terhadap banyak di antara tantangan-tantangan tersebut. Agar pendidikan inklusif dapat berkelanjutan, maka mutu sekolah harus ditingkatkan, fleksibel dan tanggap terhadap keberagaman. Di mana pendidikan inklusif telah diimplementasikan dan tingkat putus sekolah dimonitor, masalah putus sekolah tersebut ternyata berkurang (misalnya di Lesotho).
    5. Apakah pendidikan inklusif benar-benar berarti mendidik SEMUA anak dari masyarakat tertentu di dalam satu bangunan sekolah yang sama?
    Terdapat semakin banyak contoh yang menunjukkan bahwa sekolah yang benar-benar fleksibel dan terfokus pada diri anak DAPAT mengakomodasi semua anak. Tetapi sangat penting bahwa ‘sekolah’ sebaiknya tidak dipandang sebagai satu sistem tradisional yang kaku. Sekolah harus fleksibel, berorientasi pada anak dan masyarakat, dan tanggap secara kreatif terhadap situasi setempat.
    6. Apakah pendidikan inklusif identik dengan sekolah inklusif?
    Di negara-negara Utara, sekolah menjadi fokus pendidikan inklusif, tetapi di dua pertiga bagian dunia (di Selatan), pendidikan lebih dari sekadar persekolahan. Di negara-negara ini pendidikan dapat bersifat nonformal atau informal, dan mencakup berbagai macam inisiatif masyarakat. Pendidikan dimulai di rumah dan juga berlangsung di rumah. Pendidikan inklusif mempertimbangkan keluarga dan rumah.

    7. Apa perbedaan antara Pendidikan Inklusif, Pendidikan Integrasi dan Pendidikan Khusus [PLB]?
    Pendidikan inklusif difokuskan pada upaya untuk mengubah sistem pendidikan, sedangkan Pendidikan Integrasi dan PLB difokuskan pada upaya untuk mengubah anak.
    8. Apakah pendidikan inklusif cocok untuk anak yang ketunaannya berat dan mereka yang tunarunga atau buta-tuli?
    Ya, asalkan pendidikan inklusif dipersepsi sebagai sesuatu yang diadaptasikan dengan anak, lebih luas daripada persekolahan dan bukan sistem yang kaku di mana anak harus mengadaptasikan dirinya. pendidikan inklusif juga membutuhkan sumber daya dan materi yang tepat. Persoalan utamanya adalah berfokus pada tercapainya tujuan terbentuknya masyarakat inklusif, perencanaan dan tanggung jawab pendidikan yang inklusif, dan fleksibel dalam bentuknya.
    9. Apakah ada ‘cara yang benar’ untuk melaksanakan pendidikan inklusif? Apakah ada rencana yang jelas yang dapat kita ikuti?
    Ada nilai-nilai, keyakinan dan prinsip-prinsip yang melandasi pendidikan inklusif, yang didasarkan pada model sosial, dan sesuai dengan ketentuan Hak Asasi Manusia. Tetapi tidak ada cetak biru atau jawaban yang magis. Sangatlah penting bahwa pendidikan inklusif direncanakan dan diimplementasikan secara partisipatif, didasarkan atas budaya dan konteks lokal, dan sepenuhnya memanfaatkan sumber daya lokal. Dibutuhkan adanya komitmen, waktu dan upaya keras agar pendidikan inklusif berhasil dan berkelanjutan.
    10. Apakah pendidikan inklusif itu praktis, terutama di negara-negara yang memiliki sedikit sumber dan banyak tantangan?
    Ya, beberapa contoh terbaik pendidikan inklusif ada di negara-negara Selatan yang miskin. pendidikan inklusif itu lebih praktis daripada pendidikan segregasi. Pendidikan inklusif jauh lebih praktis daripada memisahkan kelompok-kelompok anak tertentu dan kemudian harus mengatasi konsekuensi tingginya tingkat buta huruf dan warga masyarakat yang pasif dan berketergantungan.

    6.2. Kesimpulan
    Buku kecil ini telah mencoba menyajikan tinjauan tentang situasi pendidikan inklusif pada saat ini, dengan rujukan khusus pada dunia mayoritas: Negara-negara Selatan yang secara ekonomi lebih miskin. Pesan utama yang terkandung dalam buku kecil ini dapat dirangkum sebagai berikut:
     Pendidikan inklusif BUKAN merupakan suatu strategi yang terpisah untuk dipergunakan dalam mendidik anak penyandang ketunaan – pendidikan inklusif merupakan sebuah proses dan tujuan yang menggambarkan kualitas atau karakteristik tertentu dari PUS (Pendidikan untuk Semua). pendidikan inklusif seyogyanya merupakan cara untuk mencapai PUS, dan PUS seyogyanya merupakan cara untuk mencapai inklusi.
     Pendidikan inklusif ditujukan untuk mengubah sistem sekolah, bukan untuk memberi label kepada individu atau kelompok anak tertentu ataupun untuk mengubahnya. Ini dilakukan dengan merespon keberagaman, dengan mengidentifikasi hambatan belajar yang dihadapi individu maupun kelompok anak.
     Pendidikan inklusif lebih luas daripada persekolahan. Orang cenderung berpikir bahwa pendidikan = sekolah, dan sekolah=struktur yang kaku, yang tidak dapat diubah. Jika demikian halnya, akan sulit bagi pendidikan inklusif untuk cocok dengan model tersebut. Di dalam masyarakat yang miskin, tidak adanya infrastruktur dan kurangnya sekolah dapat menjadi peluang untuk menciptakan pendidikan yang lebih terpusat pada diri anak dan lebih tepat, relevan dan inklusif. pendidikan inklusif menuntut kita untuk berpikir secara kreatif tentang cara melibatkan semua anak dalam satu sistem yang dapat mencakup sekolah, program nonformal, pendidikan berbasis rumah dan kelompok-kelompok kecil untuk belajar Bahasa Isyarat atau bahasa ibu, dan dapat melibatkan seluruh masyarakat secara penuh.
     Pendidikan inklusif merupakan bagian dari tujuan yang lebih luas untuk menciptakan suatu Masyarakat yang Inklusif. Pendidikan inklusif bukan hanya menyangkut metode dan sistem, tetapi menyangkut nilai-nilai dan keyakinan mendasar tentang pentingnya menghargai dan menghormati perbedaan, tidak mendiskriminasi, dan berkolaborasi dengan orang lain untuk menciptakan dunia yang lebih adil.

    Apa yang Belum Dibahas dalam Buku Kecil Ini?
    Ada banyak sekali aspek yang dapat dibahas tentang pendidikan inklusif, dan pasti ada masalah-masalah penting yang belum dibahas atau hanya dibahas secara singkat. Tujuan Buku kecil ini bukan untuk dijadikan sebagai panduan untuk praktek mengajar di kelas; hal itu dapat dilihat dalam buku lain, dan sumber rujukan tersebut direkomendasikan dalam bagian berikutnya. Ada juga aspek-aspek penting pendidikan inklusif yang baru dikemukakan secara sepintas – misalnya berbagai tahap dan jenjang pendidikan dari pendidikan Usia Dini, Pendidikan Dasar, pendidikan Menengah, pendidikan Tinggi dan pendidikan kejuruan. Prinsip-prinsip umum pendidikan inklusif relevan untuk semua jenjang pendidikan tersebut, tetapi buku kecil ini tidak membahasnya secara terfokus.

    Akhirnya, pendidikan inklusif merupakan proses dinamis yang bergerak dari teori menuju implementasi praktis dan sebaliknya. Bab terakhir akan memberikan beberapa saran untuk studi lebih lanjut, dukungan dan informasi praktis yang lebih rinci tentang aspek-aspek spesifik dari bidang pendidikan inklusif yang luas, kompleks dan peka budaya ini.

    Labels:

    :)

    Anda ingin mencari artikel lain? Silakan isi formulir pencarian di bawah ini. :)
    Google

    27 June 2008

    Pendidikan Inklusif: Kesempatan dan Tantangan

    Bagian dari buku
    Pendidikan Inklusif Ketika Hanya Ada Sedikit Sumber

    Terjemahan dari
    Inclusive Education where there are Few Resources

    Oleh Sue Stubbs

    Alih Bahasa oleh Susi Septaviana R.

    Edisi bahasa Indonesia diedit oleh Didi Tarsidi

    Disponsori oleh IDP Norway



    Bab 5: Kesempatan dan Tantangan dalam Pendidikan Inklusif: Beberapa Studi Kasus



    5.1. Belajar dari Praktek yang Baik di Selatan
    Terdapat semakin banyak contoh tentang praktek pendidikan inklusif yang baik dari berbagai budaya dan konteks. Walaupun pendidikan inklusif bukan merupakan cetak biru yang dapat dialihkan dari satu budaya ke budaya lainnya, tetapi terdapat banyak pelajaran yang dapat diambil terutama jika hambatan yang dihadapi dan sumber-sumber yang tersedia sangat mirip. Seminar Agra menghimpun lebih dari 40 praktisi pendidikan inklusif yang bekerja di berbagai negara yang secara ekonomi lebih miskin. Mereka mendapati bahwa mereka dapat belajar jauh lebih banyak dari sesama negara Selatan dibanding dari para ahli dan praktisi dari Utara yang memiliki tingkat ketersediaan yang berbeda dan sistem yang berbeda pula. Dalam banyak hal, pengalaman mereka tidak hanya relevan dengan sesama negara miskin, tetapi juga dapat memberikan pelajaran yang berharga bagi perkembangan pendidikan inklusif di Utara.
    Seminar Agra menghasilkan kesimpulan berikut tentang potensi praktis pendidikan inklusif:
    • Pendidikan inklusif tidak terhambat oleh banyaknya jumlah siswa dalam satu kelas
    • Pendidikan inklusif tidak perlu terhambat oleh kurangnya sumber daya materi
    • Hambatan sikap terhadap inklusi jauh lebih besar daripada hambatan yang berupa kesulitan ekonomi
    • Tenaga ahli pendukung tidak harus tenaga tetap sekolah yang bersangkutan
    • Pendidikan inklusif dapat memberikan kesempatan untuk peningkatan mutu sekolah
    • Alumni penyandang ketunaan dan orang tuanya dapat berkontribusi banyak terhadap pendidikan inklusif
    • Pendidikan inklusif merupakan bagian dari pergerakan yang lebih besar menuju inklusi sosial.

    Contoh-contoh berikut menunjukkan bagaimana suatu kerangka yang kuat, implementasi di dalam konteks praktis yang mempertimbangkan faktor budaya, dan partisipasi aktif yang berkesinambungan dari semua stakeholder utama, dapat memberikan kontribusi terhadap program pendidikan inklusif yang dinamis, tepat dan berkesinambungan. Ini tidak berarti bahwa tidak ada kelemahan atau tantangannya, tetapi dasar-dasarnya ada yang memungkinkan kita mengatasi berbagai kelemahan dan tantangan itu.

    5.2. Pendidikan Inklusif Dihubungkan dengan Peningkatan mutu sekolah

    Mengembangkan jejaring yang kuat

    Di Afrika Selatan (buletin EENET no.2), tantangan utama yang dihadapi pendidikan adalah: mengenali dan mengatasi berbagai macam kebutuhan seluruh populasi siswa, untuk mempromosikan pembelajaran yang efektif untuk semua. Pendekatan yang dipergunakan adalah menganalisis hambatan-hambatan yang merintangi pembelajaran untuk berbagai kelompok anak. Diakui bahwa keseluruhan bedaya, etos dan struktur sistem pendidikan harus berubah jika ingin memenuhi kebutuhan semua siswa. Pendekatan ‘pembelajaran bebas hambatan’ ini secara instrinsik mendukung inklusi.
    Hambatan-hambatan belajar itu teridentifikasi sebagai:
    • Hambatan dalam kurikulum
    • Pusat pembelajaran
    • Sistem pendidikan
    • Konteks sosial yang lebih luas
    • Hambatan sebagai akibat dari kebutuhan siswa.

    Pendekatan-pendekatan utama untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut:
    • Setiap pusat pembelajaran dilengkapi dengan struktur pendukung yang terdiri dari guru, tetapi juga dilengkapi dengan sumber daya masyarakat dan layanan tenaga ahli. Oleh karena itu pada hakikatnya berbasis masyarakat.
    • Adanya pusat dukungan lokal untuk memberikan pelatihan dan dukungan kepada guru, bukan kepada individu siswa pada umumnya.
    • Orang tua, guru, siswa (atau para pembelanya), dengan kata lain semua stakeholder utama, akan dilibatkan dalam manajemen, perencanaan kurikulum, pengembangan sistem pendukung, dan dalam proses belajar dan mengajar.
    • Kapasitas pendanaan, kepemimpinan dan manajemen dikembangkan dengan cara yang berkesinambungan.

    Propinsi Anhui di Cina merupakan contoh yang baik untuk kebijakan pemerintah yang memfasilitasi inklusi. Anhui adalah satu propinsi yang miskin dengan penduduk 56 juta orang, dan untuk mencapai pendidikan untuk semua, mereka mengakui bahwa anak-anak penyandang ketunaan perlu diinklusikan. Pendidikan usia dini sudah diprioritaskan dan sistem pendidikan taman kanak-kanak berkembang dengan pesat, dan banyak di antaranya mempunyai lebih dari seribu orang siswa. Program perintis yang difokuskan pada reformasi pendidikan merupakan sistem yang sangat formal; anak-anak usia tiga tahun sudah diajarkan untuk duduk rapi, dan sering kali jam pelajarannya panjang.

    Anhui, Cina - Taman Kanak-Kanak Inklusif

    Program perintis pendidikan inklusif ini mendorong terjadinya perubahan-perubahan sebagai berikut:
    • Anak belajar aktif, dalam kelompok kerja dan bermain
    • Terjalin kerjasama yang lebih erat dengan keluarga
    • Dipergunakan pendekatan seluruh sekolah (whole school approach) dan dukungan belajar antarteman sebaya
    • Dukungan dari administrator dan masyarakat setempat melalui pembentukan komite
    • Pelatihan guru berbasis sekolah yang berkesinambungan
    • Pengintegrasian anak tunagrahita secara bertahap.

    LAOS
    Reformasi Pendidikan Guru dan Pendidikan Inklusif
    Pada awal tahun 1990-an, Laos mengalami reformasi sistem pendidikannya dengan memperkenalkan metode pengajaran yang aktif dan terfokus pada diri anak untuk meningkatkan kualitas tetapi biayanya tetap rendah, dalam upayanya untuk mendidik semua anak. Memberikan pendidikan kepada anak penyandang ketunaan merupakan bagian dari tujuan PUS tingkat nasional, dan program perintis pendidikan inklusif berhasil karena sepenuhnya dikaitkan dengan reformasi sistem.
    “Reformasi metodologi mengajar dan pendidikan guru, disertai dengan kurikulum yang relevan... telah melancarkan jalan bagi integrasi.”
    “Laos tidak memiliki sekolah khusus untuk anak penyandang ketunaan yang merupakan keuntungan yang sangat besar bagi Kementrian Pendidikan karena dengan demikian dapat membangun sistem yang menjangkau semua anak.”
    “Pengalaman Program pendidikan inklusif di Laos telah menunjukkan bahwa dengan perencanaan yang seksama, implementasi, monitoring dan dukungan yang tepat, dan dengan menggunakan semua sumber yang ada, dua tujuan sekaligus, yaitu meningkatkan kualitas pendidikan untuk semua dan mengintegrasikan anak penyandang ketunaan, dapat berjalan selaras.
    (Janet Holdsworth, Buletin EENET no. 2)
    NICARAGUA - Membantu Guru untuk Merenung
    Paket Sumber UNESCO tentang Kebutuhan Khusus di Kelas dipergunakan di Nicaragua untuk mengembangkan praktek inklusi.
    Paket tersebut membantu guru:
    • Merenungkan hal-hal yang telah dipraktekkannya sendiri
    • Melaksanakan penelitian tindakannya sendiri
    • Mengidentifikasi masalah yang dihadapinya, mempelajari dan menganalisisnya, dan menciptakan jalan pemecahannya sendiri.
    "Pengalaman kami saat ini menunjukkan bahwa sebagian dari keberhasilan proyek pendidikan inklusif kami itu adalah berkat semakin meningkatnya kesadaran akan metode mengajar yang kami praktekkan."
    (Desiree Roman Stadthagen, Buletin EENET No. 4)

    MOZAMBIQUE – Memotivasi Guru
    Sebuah kompetisi pendidikan inklusif diselenggarakan bagi guru-guru untuk menunjukkan bagaimana mereka mengidentifikasi anak yang mengalami kesulitan dalam belajar dan bagaimana mereka meresponnya. Guru yang membuat laporan kasus terbaik diberi hadiah sepeda, radio dan buku tentang pendidikan inklusif. Guru-guru itu menyatakan bahwa:
    “Jelas bahwa kami memerlukan lebih banyak pelatihan dan dukungan yang terus-menerus. Penting untuk selalu berdiskusi dengan rekan-rekan sejawat dari sekolah lain... guru merupakan ‘orang tua kedua’ dan mereka harus menerima semua jenis anak.”
    (Elina Lehtomaki, Buletin EENET no. 6)

    LESOTHO - Bagaimana Pendidikan Inklusif dapat Membuat guru lebih Bahagia
    Studi kelayakan program pendidikan inklusif di Lesotho menemukan bahwa 19% anak yang sudah masuk sekolah dasar mengalami kesulitan dalam belajar. Oleh karena itu program ini memfokuskan pada peningkatan kemampuan guru agar dapat merespon kebutuhan belajar setiap anak, termasuk menemukan cara agar kurikulum dapat diakses oleh mereka yang menyandang ketunaan.
    “Saya lebih senang mengajar. Program ini telah memperlengkapi kami dengan berbagai teknik untuk menghadapi siswa-siswa yang disebut normal; bahkan setelah jam mengajar berakhir, kami terus bekerja untuk membuat persiapan.”
    “Bahkan tanpa program (integrasi anak penyandang ketunaan) pun kami masih harus dapat mengatasi berbagai perbedaan individu... Saya mendapati bahwa dengan memiliki pengetahuan tentang mengases kekuatan dan kelemahan, saya dapat memahami kebutuhan individu setiap siswa.”
    “Pendidikan itu untuk Semua. Semua orang yang diabaikan ini – diabaikan untuk waktu yang sangat lama – mereka mempunyai hak atas pendidikan! Terutama karena kami belajar banyak dari mereka.”
    “Masalah silabus adalah masalah sikap... Bahkan sebelum ada program pendidikan inklusif ini pun kebanyakan dari kami tidak dapat menyelesaikan silabus... Untuk siapakah silabus itu? Kita tidak dapat mengesampingkan anak-anak itu hanya karena kita harus menyelesaikan buku yang disebut silabus ini!”
    (Dikutip dari guru-guru dalam Sue Stubbs, 1995 studi kasus tentang pendidikan inklusif di Lesotho)

    5.3. Siswa Aktif: Partisipasi Anak
    Anak kepada Anak dan Pendidikan Inklusif

    SWAZILAND
    Metode pengajaran dari anak kepada anak dipergunakan sebagai bagian dari program RBM Kementrian Kesehatan untuk memberdayakan dan mendidik anak tentang masalah-masalah ketunaan. Anak:
    • Mengarang lagu dan mempertunjukkan drama untuk meningkatkan kesadaran di sekolah dan masyarakat
    • Mencakup Menjangkau masalah-masalah seperti keselamatan di jalan raya, HIV/AIDS dan ketunaan
    • Membantu membangun jalan landai (ramp), atau membuat toilet yang aksesibel, merancang peralatan tempat bermain

    “Anak dilibatkan dalam mendidik masyarakat tentang perlunya inklusi dengan menantang sikap negatif terhadap penyandang ketunaan."
    (Sindi Dube, Buletin EENET No.2)

    ZAMBIA - Mendorong Siswa Aktif
    “Setiap orang mengajar dan setiap orang belajar dari satu sama lain.” Paul Mumba, seorang guru kelas SD di Zambia, menggunakan metode mengajar dari anak kepada anak untuk membantu mendorong anak agar menjadi siswa yang lebih akti.
    Beberapa aktifitasnya meliputi:
    • Mengembangkan materi pengajaran dan pembelajaran yang mengupas masalah-masalah ketunaan dan inklusi
    • Menelaah peranan kerja kelompok untuk mendukung inklusi di kelas
    • Mengembangkan tes asesmen sederhana yang dapat dipergunakan oleh anak dan guru di rumah dan di masyarakatnya
    • Memasangkan anak penyandang ketunaan dan anak non-cacat sehingga mereka dapat bekerjasama untuk saling mendukung di sekolah dan masyarakat untuk mempromosikan inklusi.
    (Paul Mumba, Buletin EENET no.3)

    LESOTHO - Perspektif seorang anak
    Mamello (seorang anak perempuan yang mengidap penyakit tulang rapuh) mampu terus belajar di sebuah sekolah reguler walaupun mendapat perlakuan yang kurang baik dari guru-gurunya, karena dia mendapat bantuan dari teman-temanya. Untuk dapat pergi ke sekolah, dia harus didorong dengan kursi rodanya memalui jalan yang kasar. Sering kali kursi rodanya terbalik dan mengalami patah tulang. Masyarakat di sekitarnya begitu suportif kepada ‘wanita kecil” ini sehinggga mereka bergotong-royong memperbaiki jalan menuju sekolahnya agar Mamello dapat pergi ke sekolah tanpa harus mengalami patah tulang lagi.
    “Saya diajari membaca dan menulis di rumah oleh sahabat saya – kami selalu bermain bersama. Kami membentuk kelompok paduan suara dan banyak anak lain yang ikut bergabung. Guru-guru dari sekolah dasar mengunjungi kami dan memberi tugas kepada saya.”
    (Mamello Fosere, buletin EENET no.5)

    5.4. Peranan Aktifis: Para Penyandang ketunaan dan Orang Tua

    Peran orang tua dalam Pendidikan Inklusif

    LESOTHO - Saling Memberi dan Menerima antara Orang tua dan Sekolah
    Orang tua telah berkolaborasi dalam mengembangkan program pendidikan inklusif dan terbukti sebagai ‘mitra kerja yang setara’ dengan guru. Kontribusi mereka meliput i:
    • Membantu dan memberi advis kepada guru tentang cara menangani anaknya
    • Menjadi pembicara dan berbagi pengalaman dalam seminar guru dan in-service training­
    • Pelatih orang tua dan narasumber orang tua dapat bekerja dengan sekolah lain untuk membantu mengembangkan pendidikan inklusif
    • Bekerjasama dan membuat perencanaan bersama dengan kelompok-kelompok stakeholder utama lainnya: Federasi Nasional Organisasi Penyandang ketunaan Lesotho dan program RBM.

    Mereka juga mendapatkan manfaat dari program pendidikan inklusif:
    • Mereka menjadi lebih sadar akan kebutuhan anaknya
    • Pengetahuan yang mereka dapatkan dengan menghadiri lokakarya bagi guru-guru meningkatkan kepercayaan diri dan memberdayakan mereka.
    (Janak Thapa, Buletin EENET no.5)

    Orang Penyandang ketunaan sebagai Model Peran yang Positif

    INDIA – Inklusi Sosial menuju Inklusi Pendidikan
    Di India Selatan, para aktivis penyandang ketunaan bekerjasama dengan masyarakat untuk mempromosikan inklusi sosial yang pada gilirannya meretas jalan menuju inklusi dalam pendidikan. Mereka melakukannya dengan:
    - Menciptakan model peran yang positif – siswa penyandang ketunaan dilatih sebagai agen perubahan dan menyampaikan informasi yang berharga tentang kesehatan kepada masyarakat. Mereka mulai dipandang sebagai sumber daya yang berharga di masyarakat.
    Mereka mendorong keluarga-keluarga untuk membiarkan anaknya yang penyandang ketunaan untuk keluar rumah dan bermain bersama anak-anak lain di tempat bermain yang inklusif. “Hal ini memberi kesempatan kepada anak penyandang ketunaan dan non-cacat beserta orang tuanya untuk bergaul, meretas jalan menuju penerimaan dan inklusi. Saling mengenal merupakan benih inklusi’. (B Venkatesh, Buletin EENET no. 4)

    Nepal – Model Peran Penyandang ketunaan Mengubah Sikap
    Seorang anak tunanetra, Jetha Murmu, tidak bersekolah. Orang tuanya menjadi sangat marah ketika seorang petugas RBM menyarankan agar dia disekolahkan. Akhirnya petugas RBM tersebut mempertemukan orang tua itu dengan seorang wanita tunanetra yang dapat membaca dan menulis Braille dan merupakan anggota yang aktif dari keluarganya. Setelah itu orang tua tersebut mengubah sikapnya dan mengizinkan petugas RBM itu melatih Jetha membaca dan menulis Braille. Petugas RBM tersebut harus bekerja keras untuk meyakinkan agar sekolah bersedia menerima Jetha sebagai siswa, tetapi akhirnya berhasil. Anak tersebut kini terkenal didesanya sebagai “satu-satunya orang yang mampu membaca dan menulis tanpa lampu di malam hari”. (Janak Thapa, bulletin EENET no. 5

    5.5. Pendidikan Inklusif di Dunia Nyata
    Pendidikan Inklusif dan Kemiskinan

    MALI - Inklusi dalam kondisi kemiskinan yang ekstrim
    Distrik Douentza di Mali adalah salah satu daerah termiskin di dunia. 90% penduduknya berada di bawah garis kemiskinan. Hanya 8% anak yang bersekolah, dan 87% anak usia 7 tahun bekerja sekitar 6 jam perhari. Hanya 6% dari desa-desa memiliki sekolah dan guru-gurunya tidak mendapatkan pelatihan yang memadai dan beban kerjanya sangat tinggi. Dalam konteks ini, program rintisan pendidikan dikembangkan yang di dalamnya juga terdapat inklusi sebagai komponen inti:
    • Program rintisan dimulai dengan studi kelayakan yang seksama dengan melibatkan SEMUA stakeholder di masyarakat untuk menampung perspektifnya tentang pendidikan dan persekolahan.
    • Masyarakat tersebut memprioritaskan pendidikan, dan komite sekolah dibentuk yang mencakup seorang wanita yang bertanggungjawab untuk memperhatikan pendidikan bagi anak perempuan dan penyandang ketunaan.
    • Keputusan untuk melibatkan anak penyandang ketunaan jarang diprioritaskan secara spontan oleh masyarakat miskin, karena mereka tidak memiliki contoh positif yang menunjukkan bahwa anak tersebut dapat belajar dan produktif. Tenaga pendorong dari luar sering dibutuhkan untuk memberi perhatian terhadap penyandang ketunaan ( dalam hal ini LSM).

    “Banyak hambatan yang menyebabkan anak penyandang ketunaan diabaikan, tetapi ada hambatan-hambatan tertentu yang spesifik untuk inklusi anak penyandang ketunaan.”
    • Anak dengan ketunaan mobilitas, penglihatan dan pendengaran diinklusikan. Satu anak terbukti memiliki kemampuan belajar yang lebih baik daripada banyak anak lain yang tidak cacat.
    "Kami memulai dengan komitmen untuk mengikutsertakan anak penyandang ketunaan, tetapi sesungguhnya kami tidak benar-benar yakin apakah mereka dapat bersekolah. Sekarang kami sudah milihatnya sendiri, dan kami telah beralih dari komitmen menjadi keyakinan.”
    (Sue Stubss Buletin EENET no.4)

    INDIA – Pendidikan inklusif perlu Tanggap terhadap Kemiskinan
    Seorang petugas RBM bertanya kepada seorang ibu dari seorang anak tunarungu usia 8 tahun: “Mengapa anda tidak menyekolahkan anak anda di TK pada Pusat Bantuan Diri? Sekolah itu dekat sekali dari rumah anda, bukan?”
    Ibu itu menjawab: “Anak saya sibuk. Saya membutuhkan dia untuk membawa kambing-kambing ke padang rumput. Saya hanya dapat mengirimnya ke sekolah kalau dia tidak ada pekerjaan di rumah.”
    (Rua Banerjee, Seva in Action, Bangalore)

    Pendidikan Inklusif lebih Luas daripada Persekolahan – Konteks Masyarakat

    BANGLADESH - Belajar dari Pendidikan Non-Formal
    Program pendidikan dasar non-formal Bangladesh bertujuan untuk menurunkan tingkat buta huruf, meningkatkan partisipasi anak perempuan dan memberikan pendidikan dasar untuk semua, terutama yang paling miskin. Ini ditandai oleh:
    • Jadwal yang fleksibel – pelajaran di pagi hari, bergiliran.
    • Guru-gurunya mendapat pendidikan keguruan di lembaga pendidikan lokal
    • Ada in-service training bulanan
    • Keterlibatan masyarakat dalam pembuatan jadwal, pembangunan, dan penyediaan bahan
    • Metode pengajaran yang terpusat pada diri siswa
    • Penggunaan permainan dan aktifitas yang kreatif dalam kurikulum.

    “Sistem pendidikan formal dengan pendekatan yang kaku dapat belajar banyak dari pendidikan non-formal dengan pendekatan yang inovatif, yang lebih terpusat pada diri anak dan menekankan cara belajar siswa aktif. Hubungan ini akan menyuburkan benih pendidikan inklusif di Bangladesh.”
    (Anupam Ahuja, Buletin EENET no.4)

    VIETNAM - Peranan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat
    “Sejumlah petugas RBM telah bekerjasama dengan guru-guru sekolah dasar untuk membuat alat bantu rehabilitasi dengan harga terjangkau dan melaksanakan survey bersama untuk mengidentifikasi anak-anak yang sudah siap untuk mulai bersekolah. Pembelajaran di rumah dianjurkan dalam seting keluarga bila tidak memungkinkan untuk anak datang ke sekolah setempat. Usia dan derajat ketunaan tidak dipandang sebagai hambatan terhadap pembelajaran dalam konteks masyarakat.”
    (Trinh Duc Duy, Buletin EENET no.2)

    Inisiatif Masyarakat dalam Menginklusikan Berbagai Kelompok Minoritas

    UGANDA - Inklusi untuk Kaum Pengembara
    Di Karamoja, Uganda, suku Karimojong adalah semi-pengembara yang menggantungkan hidupnya pada ternak. Hanya 11,5% yang melek huruf. Anak memiliki kewajiban mengerjakan tugas-tugas kerumahtanggaan yang penting untuk keberlangsungan hidup keluarga. Program PDAK [Pendidikan Dasar Alternatif untuk Karamoja] sangat berbasis masyarakat dan mempromosikan inklusi sebagai berikut:
    • Program ini diprakarsai oleh masyarakat dan fasilitatornya dipilih dari kalangan masyarakat sendiri.
    • Bidang-bidang pembelajarannya sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat dan keberlangsungan hidup mereka, yang mencakup pendidikan peternakan, bercocok tanam, perdamaian dan keamanan serta kesehatan.
    • Fasilitator mengajar di pagi hari sebelum mereka harus pergi ke ladang dan dilanjutkan di malam hari ketika pekerjaannya telah selesai.
    • Anak perempuan masih dapat mengasuh adik-adiknya yang masih kecil.
    • Anak laki-laki masih dapat mengembalakan ternaknya dan ikut belajar membaca dan menulis.
    • Para orang tua dan orang lanjut usia boleh hadir dan berpartisipasi.
    • Bahasa pengantarnya adalah bahasanya sendiri.
    • Metode mengajarnya aktif dan menggunakan musik dan tarian.
    • Warga masyarakat yang lanjut usia merupakan fasilitator spesialis tentang sejarah penduduk asli dan pengetahuan tentang ketahanan hidup.
    • Kantor Pendidikan distrik memegang peranan utama, yaitu pengadministrasian PDAK dan memperkuat hubungan program ini dengan sistem formal.
    • Mereka juga mendorong partisipasi anak penyandang ketunaan.
    (Margarita Focas Licht, Buletin EENET no.4)

    FILIPINA - Inklusi bukan berarti integrasi yang tidak dipaksakan
    Di Filipina, suku Manoba merupakan masyarakat pegunungan yang minoritas yang telah terusir dari tanah leluhurnya dan hidup dalam kemiskinan. Mereka enggan berpadu dengan masyarakat pendatang dan oleh karenanya anak-anaknya cenderung tereksklusi dari program pendidikan. Program Pendidikan Menolong Diri Sendiri yang Tepat untuk Masyarakat Budaya (SHEPACC), dengan pendanaan dari Handicap International, memberikan kontribusi pada pusat belajar berbasis masyarakat yang diselenggarakan oleh guru-guru yang ditunjuk oleh masyarakat, dan mendapat pelatihan tentang pembelajaran berbasis masyarakat dan tepat budaya. Sekitar 10% dari anak-anak dalam program ini sejauh ini telah berhasil diinklusikan di sekolah reguler.
    (Evelina Tabares, bulletin EENET no. 2)

    Republik Ceko – Mengatasi Rasialisme melalui Inklusi
    Di Ceko, sekolah-sekolah reguler tidak kondusif untuk keberagaman. Terdapat sikap rasialisme yang kuat terhadap orang-orang Rumania yang dipandang inferior dan lebih cocok bersekolah di sekolah-sekolah khusus. lebih dari 50% anak Rumania bersekolah di sekolah khusus. Sebuah LSM sudah mulai berhasil dalam membantu anak-anak Rumania diinklusikan di sekolah reguler. Mereka melakukannya dengan:
    • Membangun harga diri anak-anak Rumania
    • Berusaha mengubah sikap sekolah
    • Bekerjasama dengan keluarga
    • Menempatkan guru Bantu di sekolah untuk membantu anak-anak Rumania di kelas
    • Berusaha meningkatkan kemampuan belajar orang-orang Rumania dewasa.
    (Alison Cross, bulletin EENET no. 3)

    Inklusi dalam Situasi Konflik dan Pengungsian

    Pendidikan Inklusif di Kam Pengungsi Bhutan
    Promosi Pendidikan Inklusif di Kamp Pengungsi Jhapa merupakan komponen integral dari program RBM, yang bertujuan untuk menanggapi kebutuhan dan permasalahan yang terdapat di dalam kelompok sasaran. Komponen-komponen utamanya meliputi:
    • Kunjungan rumah oleh petugas RBM, yang melibatkan orang tua dan tetangga, dan yang memobilisasi orang tua untuk mengintegrasikan anak penyandang ketunaan ke sistem sekolah reguler.
    • Program untuk penyandang ketunaan ini telah membentuk kelompok perwakilan yang beranggotakan para orang tua anak penyandang ketunaan. Kelompok ini mengadakan pertemuan dua kali sebulan dengan staf Save the Children Fund untuk menelaah kemajuan, permasalahan dan cara pemecahannya.
    • Koordinasi yang aktif dipelihara dalam praktek dan kebijakan antara lembaga-lembaga sosial dalam bidang pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial yang saling terkait.
    • Pendekatan RBM yang holistik penting untuk mendukung inklusi anak penyandang ketunaan dalam pendidikan. Misalnya, anak tunanetra membutuhkan latihan mobilitas dan Braille, sedangkan anak-anak tunadaksa tertentu membutuhkan fisioterapi dan peralatan mobilitas seperti alat pembantu berjalan, tongkat ketiak, batang paralel, kursi toilet, kursi sudut, dan belat. Guru dan orang tua diberi pelatihan.

    “Hingga tahun 1997, lebih dari 700 anak telah diintegrasikan ke dalam sekolah reguler. Ini mencakup anak dengan ketunaan sensori dan fisik, dan anak dengan kesulitan belajar ringan.”
    (Sue Stubbs, Studi Kasus Kam Pengungsi Jhapa)

    PALESTINA - Konflik Dapat Memunculkan Kesempatan
    Dalam konteks pendudukan Israel dan kerusuhan yang berkepanjangan, sektor ketunaan telah diasingkan dari masyarakat umum dan terus mengembangkan model pendidikan dan rehabilitasi yang segregasi. Ironisnya, Intifada (kebangkitan bangsa Palestina) secara tiba-tiba juga memunculkan perhatian orang pada masalah-masalah ketunaan... Minat terhadap ketunaan ini membawa banyak perubahan yang positif jauh melampaui rehabilitasi berbasis institusi. Misalnya, RBM diperkenalkan, dan perlunya pendidikan bagi penyandang ketunaan di dalam masyarakat dirasakan.
    Tetapi tantangannya adalah bahwa jutaan dolar dihabiskan untuk rehabilitasi medis bagi mereka yang terluka selama Intifada; "kebutuhan mayoritas penyandang ketunaan dipandang kurang penting.”
    (George Malki, Buletin EENET no.1)

    5.6. Apakah Inklusi untuk Semua orang?

    “Dilema Penyandang Tunarungu”

    “Orang tunarungu membutuhkan masyarakat tunarungu yang kuat. Setelah ini diperkuat, penyandang tunarungu dapat menikmati manfaat hidup di dalam masyarakat orang-orang yang dapat mendengar.”
    (Raghav Bir Joshi, Direktur Asosiasi Tunarungu Kathmandu, Buletin EENET no.2)
    Apakah ‘dilema penyandang tunarungu’ yang terdapat dalam pendidikan inklusif di negara-negara miskin?
    Tingkat ketunarunguan dapat ringan, sedang atau berat, dan pengaruhnya terhadap individu pun berbeda-beda. Anak-anak tertentu dengan tingkat ketunarunguan ringan dapat belajar dalam lingkungan pendidikan reguler asalkan gurunya menyadari keadaan anak-anak itu, telaten menghadapkan wajahnya kepada mereka saat berbicara, dan berbicara serta menulis dengan jelas. Tetapi untuk banyak anak tunarungu, hal ini tidak memungkinkan. Alat bantu dengar tidak hanya sulit dan mahal untuk diperoleh, tetapi juga memerlukan pemeliharaan dan monitoring yang terus-menerus, yang biasanya tidak mungkin dilakukan di masyarakat pedesaan yang terpencil. Di samping itu, alat bantu dengar tidak “memecahkan persoalan” ketunarunguan karena alat ini hanya memperkeras bunyi, tidak mengajarkan ketrampilan berbahasa. Masalah utamanya adalah bahwa anak tunarungu tidak akan dapat mengembangkan keterampilan bahasa dan komunikasi secara otomatis di dalam lingkungan keluarga dan masyarakatnya sendiri yang dapat mendengar. Mereka sudah dieksklusikan sejak lahir di keluarganya sendiri hanya karena tidak dapat menggunakan bahasa yang sama. Mereka membutuhkan kontak dengan sesama penyandang tunarungu agar dapat mengembangkan bahasa isyarat, dan itulah sebabnya banyak penyandang tunarungu berargumen bahwa sekolah atau unit khusus diperlukan untuk mereka. ada juga anak yang buta-tuli, dan tantangan untuk inklusi bagi mereka bahkan lebih berat lagi.
    Masalah yang dihadapi mayoritas anak tunarungu di negara-negara secara ekonomi miskin adalah bahwa sekolah khusus yang berasrama itu amat mahal biayanya, hanya dapat memenuhi kebutuhan sejumlah kecil anak saja, dan akibat terpisahnya mereka dari keluarga dan masyarakatnya dapat menyebabkan tidak dimilikinya keterampilan yang diperlukan untuk bertahan hidup, misalnya keterampilan pertanian. Bahkan yang lebih buruk lagi, banyak sekolah khusus untuk tunarungu itu melarang penggunaan bahasa isyarat dan mengharuskan penggunaan metode oral, yang bertentangan dengan rekomendasi Peraturan Standar PBB dan Pernyataan Salamanca.
    Jadi, ‘dilema penyandang tunarungu’ di sini adalah:
    • Bahasa Isyarat hanya dapat berkembang apabila penyandang tunarungu belajar bersama-sama dengan penyandang tunarungu lainnya, tetapi:
    • Pendidikan segregasi tidak mempromosikan inklusi di dalam keluarga atau masyarakat, tetapi:
    • Tanpa Bahasa Isyarat, sangat sulit bagi penyandang tunarungu untuk tercakup di dalam kegiatan kehidupan keluarga atau masyarakatnya.

    Solusi
    • Orang dewasa tunarungu merupakan sumber daya manusia yang paling jelas ada untuk pendidikan anak-anak tunarungu. Di beberapa negara Afrika, keterlibatan orang dewasa tunarungu dalam pendidikan bagi anak tunarungu telah membuat lebih banyak kemajuan daripada di banyak negara Utara.
    • Inklusi harus dilihat sebagai lebih luas daripada persekolahan, dan di dalam masyarakat, kelompok kecil anak dan orang dewasa tunarungu dapat bertemu untuk belajar bahasa isyarat tanpa dipisahkan dari keseluruhan perencanaan dan penyelenggaraan pendidikan, dan mereka dapat tetap tinggal di dalam masyarakat.
    • Pendidikan bilingual perlu diteliti pada tingkat keluarga, masyarakat dan sekolah.

    Anak Penyandang Ketunaan Parah dan/atau Ketunaan Ganda
    Sering kali diasumsikan bahwa pendidikan inklusif bukan untuk anak yang memiliki ketunaan fisik dan intelektual yang parah. Asumsi ini biasanya didasarkan pada pemikiran yang kaku tentang pendidikan dan persekolahan. Asumsi ini didasarkan pada model yang meyakini bahwa anak harus menyesuaikan diri dengan sistem, bukan sistem yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Inklusi anak penyandang ketunaan yang sangat berat juga mempunyai implikasi yang berbeda di negara-negara Utara dan Selatan.
    • Di Utara, pendidikan inklusif cenderung diartikan sama dengan sekolah Inklusif. Terdapat semakin banyak contoh tentang anak penyandang ketunaan berat diinklusikan pada semua jenjang.

    ISLANDIA - Perencanaan yang Baik Dapat Mengatasi Hambatan
    Anak laki-laki yang sangat parah ketunaannya diinklusikan secara penuh di kelas 5 sekolah terdekat. Dia menggunakan sistem komunikasi yang disebut ‘Bliss’ untuk mengekspresikan dirinya, baik melalui tabel atau dengan bantuan lampu senter yang ditempelkan pada kacamatanya.
    “Situasi yang sangat baik dalam kelas ini bukanlah suatu kebetulan, tidak pula terjadi secara alami, ini efektif karena direncanakan dengan baik, sebagaimana halnya dengan praktek-praktek yang baik lainnya di sekolah itu. Guru-gurunya, bekerjasama erat dengan orang tua, telah mengembangkan keterampilannya, memupuk suasana positif untuk pembelajaran dan pertumbuhan sosial.”
    (Rosa Eggertdottir, Buletin EENET no.1)

    Di Selatan, terdapat perbedaan besar antara anak penyandang ketunaan berat yang diinklusikan dan dieksklusikan, termasuk jika anak tersebut berada di rumah dan bukan di sekolah. Lihat Bab 2 untuk contohnya. Program RBM yang bekerjasama secara erat dengan pendidikan inklusif sering kali merupakan strategi yang memfasilitasi keberhasilan inklusi ini.

    5.7. Tantangan: Mengatasi Hambatan

    Partisipasi yang Berkesinambungan
    Contoh-contoh di atas dengan jelas menunjukkan bahwa ‘di mana ada kemauan, disitu ada jalan'. keberhasilan pendidikan inklusif tidak tergantung pada suatu formula yang sempurna, tetapi ditentukan oleh kesediaan orang untuk bekerjasama untuk mengidentifikasi dan mengatasi hambatan jika muncul. Inilah sebabnya mengapa partisipasi yang terus-menerus itu penting. Jika stakeholder utama tidak secara penuh dilibatkan dan tidak merasa memiliki program pendidikan inklusif, maka jika muncul masalah dalam konteks mereka, mereka tidak akan termotivasi untuk bertindak.

    EENET - Membangun Percakapan
    Salah satu tujuan utama Enabling Education Network (EENET) adalah untuk ‘membangun percakapan’ tentang inklusi kelompok-kelompok yang termarjinalisasi dalam pendidikan. Untuk tujuan tersebut, EENET telah terlibat dalam beberapa proyek untuk membantu agar orang mampu berpikir kritis tentang hal-hal yang biasa dipraktekkannya. Salah satu proyeknya adalah membangkitkan para praktisi lokal untuk merenungkan dan menganalisis pengalamannya sendiri. Tiga pertanyaan sederhana diajukan untuk memfasilitasi hal tersebut:
    1. Apa hambatan partisipasi dan belajar anak?
    2. Bagaimana hambatan ini dapat diatasi?
    3. Siapa yang perlu dilibatkan?

    Terdapat banyak jenis hambatan, dan kategorisasi berikut ini dibuat oleh para praktisi dari negara-negara Selatan. Hambatan dan Kesempatan yang terkait dengan:
    a) Orang: anak, guru, orang tua, pekerja berbasis masyarakat;
    b) Uang dan materi: donor eksternal, keberlangsungan, peralatan yang diproduksi secara lokal;
    c) Pengetahuan dan informasi: melek huruf, kebijakan, pemecahan masalah lokal, konsep asing, dokumentasi internasional.
    (Lihat situs web EENET untuk informasi lebih lanjut – informasi diberikan pada bab 7)


    Menganalisis Hambatan dan Kesempatan
    Tabel berikut ini memberikan contoh bagaimana berbagai faktor dapat menjadi kesempatan ataupun tantangan dalam kaitannya dengan tiga “faktor utama” yang telah dibahas pada bab 4.

    Faktor Penentu Utama Keberhasilan PI:
    1. Kerangka kerja yang kuat (rangka):
    • Nilai-nilai, keyakinan
    • Prinsip-prinsip utama
    • Indikator keberhasilan
    2. Implementasi dalam Budaya dan Konteks Lokal

    • Situasi praktis
    • Sumber daya
    • Masalah budaya
    3. Monitoring Partisipatori berkesinambungan (nafas-darah)
    • Siapa
    • Bagaimana
    • Apa dan kapan

    Kesempatan untuk Pengembangan PI:
    • Inisiatif peningkatan mutu sekolah
    • Instrumen hak asasi manusia
    • Model-model baik yang ada
    • Inisiatif berbasis masyarakat, misalnya RBM
    • Rintisan program nonformal
    • Budaya dengan fokus solidaritas masyarakat yang kuat
    • Para aktivis: kelompok-kelompok penyandang ketunaan dan orang tua
    • Inisiatif partisipasi anak, misalnya dari anak kepada anak
    • Cara yang partisipatif dan kreatif

    Model ini dapat dikembangkan dengan berbagai cara menurut budaya dan konteks lokal. Satu contoh tentang cara menganalisis hambatan yang telah dipergunakan dalam situasi praktis dapat dilihat pada tabel berikut. Analisis ini dikembangkan selama evaluasi TENGAH PROGRAM yang melibatkan semua stakeholder utama.

    Contoh dari Mali – PENERAPAN model sosial untuk mengatasi hambatan
    1. Penyelenggaraan negara yang KURANG tepat dan tidak memadai
    • Mencari alternatif seperti dukungan masyarakat dan LSM
    • Konsultasi dengan masyarakat setempat
    Kolaborasi antara LSM, masyarakat dan negara
    2. Pendidikan untuk anak perempuan tidak dipandang sebagai prioritas dalam budaya Mali
    • Mengambil keputusan untuk memastikan bahwa 50% jatah tempat di sekolah diperuntukkan bagi anak perempuan
    • Seorang anggota komite manajemen (seorang wanita) diberi tanggung jawab khusus untuk rekrutmen anak perempuan
    Teater dan grup musik lokal dipergunakan untuk meningkatkan kesadaran dan mengubah sikap masyarakat lokal terhadap anak perempuan dan pendidikannya.
    3. Akses anak penyandang ketunaan terhadap pendidikan tidak diprioritaskan oleh pemerintah, LSM, ataupun masyarakat di Mali
    • Kolaborasi dengan LSM ketunaan untuk mengidentifikasi anak penyandang ketunaan dan meningkatkan kesadaran
    • Keputusan untuk mewajibkan inklusi anak penyandang ketunaan sejak awal
    • Orang dari komite manajemen yang bertanggung jawab atas rekrutmen anak perempuan juga ditugasi untuk rekrutmen anak penyandang ketunaan
    Teater dan grup musik lokal dipergunakan untuk meningkatkan kesadaran dan perubahan sikap terhadap ketunaan.
    4. Tidak ada transportasi bagi anak tunadaksa untuk pergi ke sekolah
    • Pada awalnya orang tua menggendong anaknya setiap hari.
    Kolaborasi dengan LSM Ketunaan menghasilkan penyediaan kendaraan roda tiga bagi yang membutuhkannya.
    5. Orang tua enggan membawa anaknya yang cacat ke luar rumah
    • Peningkatan kesadaran dan mobilisasi orang tua dengan dukungan dari LSM Ketunaan
    6. kurangnya tenaga kependidikan di desa
    7. Diambil keputusan bahwa pengetahuan dan pengalaman penduduk desa lebih relevan bagi anak desa daripada keahlian guru-guru profesional yang mendapat pendidikan di kota
    • Penduduk setempat dipilih dan kemudian dilatih oleh profesional
    8. masyarakat setempat sangat miskin dan tidak memiliki waktu luang ataupun sumber
    • Jika penduduk desa memang menginginkan sebuah sekolah, maka mereka akan mempunyai motivasi untuk mendukung dan memelihara sekolah itu.
    • Penduduk desa berhasil mendapatkan sumber untuk membangun rumahnya sendiri dan mengelola bidang-bidang lain kehidupannya.
    • Keterlibatan seluruh masyarakat sejak tahap analisis dan perencanaan itu sangat penting.
    • Kontribusi penduduk desa dimulai sejak awal yang mencakup pembangunan fisik sekolah, memberikan kontribusi finansial untuk gaji guru dan bertanggung jawab untuk manajemen secara umum.
    Monitoring dan dukungan yang berkesinambungan dari SCF juga sangat penting
    9. Kurangnya pengetahuan dan pengalaman tentang pendidikan yang aksesibel bagi anak tunarungu
    • Pelatihan dan dukungan yang berkesinambungan dari ADD dan penilaian yang realistis terhadap seluruh kehidupan anak tunarungu; tidak ada gunanya jika hanya menempatkan secara fisik saja anak tunarungu yang lebih besar di sekolah.
    Lebih banyak bekerjasama dengan orang tua dan keluarga dalam mengembangkan komunikasi dengan anaknya yang tunarungu.

    Kembali ke Bab 4: Bagaimana Kita Dapat Merencanakan Pendidikan Inklusif?

    Labels:

    :)

    Anda ingin mencari artikel lain? Silakan isi formulir pencarian di bawah ini. :)
    Google
  • Kembali ke DAFTAR ISI