DOCTYPE html PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML 1.0 Strict//EN" "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-strict.dtd"> Didi Tarsidi: Counseling, Blindness and Inclusive Education: Pendidikan Inklusif: Konsep-konsep Utama
  • HOME


  • Guestbook -- Buku Tamu



    Anda adalah pengunjung ke

    Silakan isi Buku Tamu Saya. Terima kasih banyak.
  • Lihat Buku Tamu


  • Comment

    Jika anda ingin meninggalkan pesan atau komentar,
    atau ingin mengajukan pertanyaan yang memerlukan respon saya,
    silakan klik
  • Komentar dan Pertanyaan Anda




  • Contents

    Untuk menampilkan daftar lengkap isi blog ini, silakan klik
  • Contents -- Daftar Isi




  • Izin

    Anda boleh mengutip artikel-artikel di blog ini asalkan anda mencantumkan nama penulisnya dan alamat blog ini sebagai sumber referensi.


    13 June 2008

    Pendidikan Inklusif: Konsep-konsep Utama

    Bagian dari buku
    Pendidikan Inklusif Ketika Hanya Ada Sedikit Sumber

    Terjemahan dari
    Inclusive Education where there are Few Resources

    Oleh Sue Stubbs

    Alih Bahasa oleh Susi Septaviana R.

    Edisi bahasa Indonesia diedit oleh Didi Tarsidi

    Disponsori oleh IDP Norway

    Bab 3: Konsep-konsep Utama: Apakah Sesungguhnya Pendidikan Inklusif Itu?



    Dalam dua bab terdahulu ditunjukkan bagaimana pendidikan inklusif berkembang dalam berbagai kebijakan internasional dan juga dalam kaitannya dengan pengaruh berbagai pergerakan. Meskipun dukungan terhadap pendidikan inklusif semakin meningkat, tetapi masih terdapat beberapa perbedaan pendapat, pemahaman dan perspektif yang berbeda mengenai pendidikan inklusif. Namun demikian, banyak tentangan dan hambatan hilang apabila konsep-konsep pokok pendidikan inklusif sudah dipahami sepenuhnya.

    3.1. Definisi Pendidikan Inklusif
    Mengapa definisi penting. Memiliki pemahaman yang jelas tentang pendidikan inklusif itu penting karena tergantung pada prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang mendasari pemahaman itu, hasilnya dapat sangat berbeda. Jika pendidikan inklusif didefinisikan secara sempit, atau didasarkan pada asumsi ‘anak sebagai masalah’ dan jika kemudian definisi tersebut digunakan untuk mengembangkan atau memonitor prakteknya, maka pendidikan inklusif akan gagal atau tidak berkesinambungan.
    Definisi pendidikan inklusif juga terus-menerus berkembang sejalan dengan semakin mendalamnya renungan orang terhadap praktek yang ada, dan sejalan dengan dilaksanakannya pendidikan inklusif dalam berbagai budaya dan konteks yang semakin luas. Definisi pendidikan inklusif harus terus berkembang jika pendidikan inklusif ingin tetap menjadi jawaban yang riil dan berharga untuk mengatasi tantangan pendidikan dan hak asasi manusia.
    Akhirnya, mendefinisikan pendidikan inklusif itu penting karena banyak orang masih menganggap bahwa pendidikan inklusif hanya merupakan versi lain dari PLB. Konsep utama dan asumsi yang melandasi pendidikan inklusif adalah justru dalam berbagai hal bertentangan dengan konsep dan asumsi yang melandasi ‘pendidikan luar biasa’.
    “Inklusi atau Pendidikan Inklusif bukan nama lain untuk ‘pendidikan kebutuhan khusus’. Pendidikan inklusif menggunakan pendekatan yang berbeda dalam mengidentifikasi dan mencoba memecahkan kesulitan yang muncul di sekolah .... pendidikan kebutuhan khusus dapat menjadi hambatan bagi perkembangan praktek inklusi di sekolah.”
    Indeks for Inclusion, hal.13 (lihat di bawah).
    Konsep pendidikan inklusif memiliki lebih banyak kesamaan dengan konsep yang melandasi gerakan ‘Pendidikan untuk Semua’ dan ‘Peningkatan mutu sekolah’.
    Pendidikan inklusif merupakan pergeseran dari kecemasan tentang suatu kelompok tertentu menjadi upaya yang difokuskan untuk mengatasi hambatan untuk belajar dan berpartisipasi.

    Beberapa definisi Pendidikan Inklusif
    Definisi Pendidikan Inklusif yang dirumuskan dalam Seminar Agra disetujui oleh 55 peserta dari 23 negara (terutama dari ‘Selatan’) pada tahun 1998. Definisi ini kemudian diadopsi dalam South African White Paper on Inclusive Education dengan hampir tidak mengalami perubahan:

    Definisi Seminar Agra dan Kebijakan Afrika Selatan
    Pendidikan Inklusif:
    • Lebih luas daripada pendidikan formal: mencakup pendidikan di rumah, masyarakat, sistem nonformal dan informal.
    • Mengakui bahwa semua anak dapat belajar.
    • Memungkinkan struktur, sistem dan metodologi pendidikan memenuhi kebutuhan semua anak.
    • Mengakui dan menghargai berbagai perbedaan pada diri anak: usia, jender, etnik, bahasa, ketunaan, status HIV/AIDS dll.
    • Merupakan proses yang dinamis yang senantiasa berkembang sesuai dengan budaya dan konteksnya.
    • Merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk mempromosikan masyarakat yang inklusif.

    Indeks untuk Inklusi merupakan hasil dari proyek penelitian partisipatori selama 3 tahun di Inggris untuk mengembangkan materi untuk mendukung inklusi. Materi ini kini telah diterjemahkan secara meluas dan digunakan sebagai panduan pada berbagai konteks dan budaya. Akan tetapi, berbeda dengan definisi Agra, definisi ini difokuskan pada persekolahan, bukan pada pendidikan secara keseluruhan:

    Indeks untuk Inklusi
    “Inklusi dalam pendidikan merupakan proses peningkatan partisipasi siswa dan mengurangi keterpisahannya dari budaya, kurikulum dan komunitas sekolah setempat.”
    Inklusi juga melibatkan:
    • Restrukturisasi budaya, kebijakan dan praktek untuk merespon terhadap keberagaman siswa dalam lingkungannya;
    • pembelajaran dan partisipasi SEMUA anak yang rentan akan tekanan eksklusi (bukan hanya siswa penyandang ketunaan);
    • Meningkatkan mutu sekolah untuk stafnya maupun siswanya;
    • Mengatasi hambatan akses dan partisipasinya;
    • Hak siswa untuk dididik di dalam lingkungan masyarakatnya;
    • Memandang keberagaman sebagai kekayaan sumber, bukan sebagai masalah;
    • Saling memelihara hubungan antara sekolah dan masyarakat;
    • Memandang pendidikan inklusif sebagai satu aspek dari Masyarakat Inklusif.

    Konsep inklusi dan eksklusi saling terkait "karena proses peningkatan partisipasi siswa menuntut adanya pengurangan tekanan untuk mempraktekkan eksklusi.”

    UNESCO, dalam kajiannya terhadap aktifitasnya selama lima tahun setelah Konferensi Salamanca menggambarkan inklusi sebagai suatu gerakan, dan mengaitkannya langsung dengan peningkatan mutu sekolah.

    UNESCO: 5 Tahun Setelah Salamanca:
    “Pendidikan Inklusif telah berkembang sebagai suatu gerakan untuk menantang kebijakan dan praktek eksklusi ... .”
    “Inklusi dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan.”

    Definisi-definisi mutakhir lainnya juga menekankan bahwa pendidikan inklusif dimaksudkan untuk SEMUA anak:
    “Sebuah sekolah yang mempraktekkan pendidikan inklusif merupakan sekolah yang memperhatikan pengajaran dan pembelajaran, pencapaian, sikap dan kesejahteraan setiap anak.”
    “Sekolah yang efektif adalah sekolah yang mempraktekkan pendidikan inklusif .”

    Ofsted, dikutif dalam Ainscow, 2001

    Definisi yang dikutip di atas menggambarkan suatu model pendidikan inklusif yang didasarkan pada berbagai konsep utama tentang sistemnya, stakeholder utamanya, proses dan sumber dayanya.

    Konsep-konsep Utama yang terkait dengan Pendidikan Inklusif
    a) Konsep-konsep tentang anak
    - Semua anak berhak memperoleh pendidikan di dalam komunitasnya sendiri.
    - semua anak dapat belajar, dan siapapun dapat mengalami kesulitan dalam belajar.
    - semua anak membutuhkan dukungan untuk belajar.
    - pengajaran yang terfokus pada anak bermanfaat bagi SEMUA anak.
    b) Konsep-konsep tentang sistem pendidikan dan persekolahan
    - Pendidikan lebih luas dari pada persekolahan formal
    - Sistem pendidikan yang fleksibel dan responsif
    - Lingkungan pendidikan yang memupuk kemampuan dan ramah
    - Peningkatan mutu sekolah – sekolah yang efektif
    - Pendekatan sekolah yang menyeluruh dan kolaborasi antarmitra.
    c) Konsep-konsep tentang keberagaman dan diskriminasi
    - Memberantas diskriminasi dan tekanan untuk mempraktekkan eksklusi
    - Merespon/merangkul keberagaman sebagai sumber kekuatan, bukan masalah
    - Pendidikan inklusif mempersiapkan siswa untuk masyarakat yang menghargai dan menghormati perbedaan
    d) Konsep-konsep tentang proses untuk mempromosikan inklusi
    - Mengidentifikasi dan mengatasi hambatan inklusi
    - Meningkatkan partisipasi nyata bagi semua orang
    - Kolaborasi, kemitraan
    - Metodologi partisipatori, Penelitian tindakan, penelitian kolaboratif
    e) Konsep-konsep tentang sumber daya
    - Membuka jalan ke sumber daya setempat
    - Redistribusi sumber daya yang ada
    - Memandang orang (anak, orangtua, guru, anggota kelompok termarjinalisasi dll) sebagai sumber daya utama
    - Sumber daya yang tepat yang terdapat di dalam sekolah dan pada tingkat lokal dibutuhkan untuk berbagai anak, misalnya Braille, alat asistif.

    3.2. Pendidikan Luar Biasa, Integrasi, Mainstreaming, Unit Kecil dan Pendidikan Inklusif – Apa Bedanya?
    Pengaruh pendidikan luar biasa terhadap perkembangan pendidikan inklusif telah dibahas di muka. Sejauh tertentu, adanya bermacam-macam istilah ini mencerminkan sejarah perkembangan pendidikan inklusif, khususnya di negara-negara Utara atau negara-negara yang dipengaruhi oleh kebijakan dan praktek dari Utara. Tetapi di pihak lain, kesemua istilah tersebut kini masih diimplementasikan dan dipromosikan, dan perbedan antara istilah-istilah tersebut jarang sekali dipahami. Pihak donor dan para pembuat kebijakan perlu memahami perbedaannya, karena hasil jangka panjangnya akan sangat berbeda.
    Pertama-tama, penting untuk difahami bahwa istilah-istilah tersebut memiliki banyak kesaman konsep yang positif, misalnya:
    • Semua anak, termasuk anak penyandang ketunaan, berhak atas pendidikan.
    • Adanya komitmen untuk menemukan cara membantu anak yang belajar dengan cara dan kecepatan yang berbeda-beda agar benar-benar dapat belajar.
    • Mempromosikan perkembangan potensi individu anak secara holistik: secara fisik, linguistik, sosial, kognitif, sensori.
    • Mendukung bermacam-macam metoda komunikasi untuk penyandang berbagai ketunaan (Bahasa isyarat, Braille, papan tanda, bicara dengan bantuan komputer, Makaton, dll).

    Sekarang mari kita telaah perbedaan antara tiap istilah tersebut.

    3.2.1. Pendidikan Luar Biasa (mencakup sekolah luar biasa, kebutuhan pendidikan khusus, kebutuhan khusus)
    Pendidikan luar biasa berasumsi bahwa terdapat kelompok anak yang terpisah yang memiliki ‘kebutuhan pendidikan khusus’ dan seringkali disebut ‘anak berkebutuhan khusus’.
    ASUMSI INI TIDAK BENAR karena:
    • Anak manapun dapat mengalami kesulitan dalam belajar
    • Banyak anak penyandang ketunaan tidak memiliki masalah dalam belajar, hanya mengalami masalah dalam aksesnya, namun mereka masih diberi label ‘anak berkebutuhan khusus’
    • Anak yang memiliki ketunaan intelektual seringkali dapat belajar dengan sangat baik dalam bidang tertentu atau pada tahap tertentu dalam hidupnya.

    Pendidikan luar biasa tidak mendefinisikan istilah ‘khusus’. Pada kenyataannya, yang sering disebut 'khusus’ merupakan kebutuhan belajar yang umum saja. Misalnya, kebutuhan untuk dapat memahami apa yang dikatakan guru, untuk dapat mengakses bahan bacaan, untuk dapat masuk ke dalam bangunan sekolah.
    Pendidikan luar biasa meyakini bahwa ‘metode khusus’, 'guru khusus’, ‘lingkungan khusus’ dan ‘peralatan khusus’ diperlukan untuk mengajar ‘anak luar biasa’. Ini SALAH – yang disebut metode khusus itu sering kali tidak lebih dari sekedar metoda berkualitas baik yang difokuskan pada kebutuhan anak. Setiap anak butuh belajar dengan dukungan dan dalam lingkungan yang kondusif.
    Pendidikan luar biasa memandang anak sebagai yang bermasalah, bukan sistemnya atau gurunya. SALAH—dengan ditempatkan pada lingkungan yang tepat dan diberi dorongan, anak pasti akan mau belajar. Jika anak tidak mau belajar, maka guru dan lingkungannya itulah yang membuat anak itu gagal.
    Pendidikan luar biasa mendefinisikan keseluruhan individu anak berdasarkan ketunaannya dan mengelompokkannya berdasarkan ketunaannya itu. SALAH – Pada kenyataannya ketunaan hanya merupakan satu bagian saja dari diri anak. Sebagian besar kualitas dan karakteristik anak penyandang ketunaan sama dengan anak pada umumnya – membutuhkan teman, butuh dilibatkan, dicintai, ambil bagian dalam masyarakatnya.
    Pendidikan luar biasa ingin membuat anak menjadi ‘normal’ bukannya menghargai kekuatan dan karakteristik yang dimilikinya. Ini dapat mengakibatkan penekanan yang tidak semestinya untuk membuat anak berbicara atau berjalan, meskipun hal itu tidak realistis dan dapat mengakibatkan perasaan sakit yang tak semestinya.

    3.2.2. Pendidikan Integrasi
    Ini merupakan istilah yang paling banyak dipergunakan masyarakat untuk menggambarkan proses memasukkan anak penyandang ketunaan ke dalam sekolah reguler (juga disebut mainstreaming, terutama di Amerika Serikat). Pendidikan Integrasi berbeda dengan Pendidikan Inklusif dalam hal:
    • Fokusnya masih pada individu anak, bukan pada sistem. Anak dipandang sebagai masalah dan harus ‘disiapkan’ untuk integrasi, bukan sekolahnya yang disiapkan.
    • Integrasi sering hanya mengacu pada proses geografis - memindahkan anak secara fisik ke sekolah reguler. Integrasi mengabaikan masalah-masalah seperti apakah anak benar-benar belajar, diterima atau dilibatkan dalam kegiatan kelasnya.
    • Sebagian besar sumber daya dan metode difokuskan pada individu anak, bukan pada keterampilan guru atau sistemnya.
    • Anak yang ‘diintegrasikan’ akan dibiarkan untuk mengatasi sendiri sistem sekolah reguler yang kaku tanpa dukungan atau akan memperoleh perhatian khusus yang memisahkannya dari teman-teman sekelasnya.
    • Jika anak putus sekolah, tinggal kelas bertahun-tahun, atau terasing, maka ini semua dianggap sebagai kesalahan anak itu sendiri; ‘dia tidak dapat mengikuti kurikulum, tidak dapat berjalan sendiri ke sekolah, tidak tahan terhadap komentar anak-anak lain’.
    • Integrasi biasanya terfokus pada sekelompok anak tertentu, seperti mereka yang memiliki ketunaan ringan, dan tidak akan memandang bahwa semua anak dapat diintegrasikan.
    • Walaupun didasarkan pada konsep yang serupa dengan pendidikan luar biasa yang segregatif, pendidikan integrasi pada prakteknya sering dipandang sebagai perintis jalan menuju inklusi dan dapat mengarah pada perubahan sistem.

    3.2.3 Mainstreaming
    Istilah ini sering dipergunakan seperti halnya inklusi atau integrasi. Akan tetapi, istilah ini juga umum dipergunakan dalam kaitannya dengan isu-isu lain seperti jender dan hak anak di dalam kebijakan pembangunan secara umum. Dalam hal ini, mainstreaming dapat diartikan sebagai suatu proses politik untuk membawa suatu isu dari tepi ke tengah (mainstream), agar diterima oleh mayoritas. Ini dapat diartikan sebagai mengupayakan agar suatu isu masuk ke dalam agenda, dan mengubah kesadaran orang dari memandangnya sebagai hal kecil menjadi permasalahan inti dalam suatu perdebatan. Dalam hal ini, membuat isu ketunaan menjadi persoalan penting dalam perdebatan tentang Pendidikan untuk Semua dan Peningkatan mutu sekolah merupakan suatu tujuan yang sangat penting.

    3.2.4 Unit Kecil
    Istilah ini dipergunakan untuk kelas khusus atau bangunan khusus yang merupakan bagian dari suatu sekolah reguler. Pada umumnya unit ini memiliki guru khusus dan digunakan untuk anak dengan ‘kebutuhan pendidikan khusus’. Cara ini sering disebut ‘integrasi’ atau bahkan ‘pendidikan inklusif’ karena unit tersebut secara fisik merupakan bagian dari sekolah reguler, tetapi sebenarnya merupakan segregasi dalam jarak yang lebih dekat. Sistem ini didasarkan pada filosofi yang sama dengan pendidikan luar biasa dan memiliki banyak kelemahan – sering kali dapat meningkatkan segregasi dan eksklusi dan karenanya merupakan strategi yang harus dihindari. Beberapa permasalahannya adalah:
    • Guru sekolah reguler memandang bahwa anak yang memiliki kesulitan belajar merupakan tanggung jawab ‘guru khusus’ di unit tersebut. Mereka tidak suka dengan jumlah anak yang terlalu banyak dikelasnya sedangkan gaji mereka rendah, sehingga ingin melepaskan diri dari beban anak yang ‘bermasalah’ itu dengan melabelinya ‘berkebutuhan khusus’.
    • Pada prakteknya, jenis anak yang ditemukan di unit ini diklasifikasikan berdasarkan karakteristiknya yang arbitrer, bukan berdasarkan kebutuhan belajarnya. Misalnya, mereka disatukan karena memiliki ketunaan meskipun jenis ketunaannya berbeda-beda. (Tidak ada keuntungan apapun dengan menggabungkan anak tunarungu, tunanetra dan tunagrahita dalam satu kelompok untuk tujuan pengajaran).
    • Dengan menempatkan semua anak ‘cacat’ dan ‘berkebutuhan khusus’ di unit tersebut, mereka tidak memiliki kesempatan untuk belajar dari teman sebayanya, dan teman sebayanya pun tidak memiliki kesempatan untuk belajar berhubungan dengan mereka yang berbeda dari dirinya. Maka stigma dan pemisahan itu pun terabadikan.

    “Guru sibodoh” merupakan sebutan untuk guru unit khusus oleh anak sekolah dasar di Zambia.
    • SEMUA anak membutuhkan dukungan untuk belajarnya, tetapi unit tersebut menyediakan satu guru untuk sejumlah kecil siswa dan membiarkan guru-guru lain tanpa bantuan.
    • Pengajaran tim dan pendekatan sekolah yang menyeluruh tidak dipergunakan dalam sistem unit kecil – masalah individu siswa yang diberi label ‘khusus’ itu dianggap dapat diatasi dengan ‘teknik khusus’ yang hanya dapat diakses oleh guru khusus. Ini merupakan asumsi yang salah dan berbahaya dan belum pernah dibuktikan. Pada kenyataannya, contoh-contoh pendidikan inklusif yang berhasil menunjukkan bahwa anak yang mengalami kesulitan belajar dapat dibantu dengan menciptakan lingkungan yang inklusif, fleksibel dan menggunakan metodologi yang kreatif dan terfokus pada diri anak, yang pada dasarnya sekedar cara mengajar yang BAIK, bukan KHUSUS.
    • Di sebagian besar tempat di dunia ini, sumber-sumber daya itu langka adanya, dan unit kecil sering kekurangan ‘sumber khusus’, sedangkan guru khusus telah dilatih untuk tergantung padanya. In-service training dan dukungan juga jarang ada pada keadaan seperti itu, sehingga guru khusus dapat menjadi berkecil hati, terisolasi dan mengalami stres.

    Di Thailand, guru unit khusus yang telah memperoleh pelatihan khusus merasa bahwa mereka lebih baik daripada guru-guru dan merasa bahwa unit kecil merupakan yang terbaik kedua setelah sekolah luar biasa. Mereka sering meninggalkan unit kecil itu untuk mendirikan SLB atau bekerja di SLB.

    • Sering kali unit kecil tersebut dipergunakan sebagai tempat pembuangan anak-anak penyandang ketunaan berat – padahal anak-anak ini, dibanding anak-anak lainnya, lebih membutuhkan keterampilan-keterampilan praktis dalam konteks rumah dan lingkungannya sendiri, tidak semestinya dijauhkan dari rumahnya.

    Di Kenya, beberapa unit kecil menawarkan fasilitas asrama untuk anak-anak penyandang ketunaan karena tempat tinggal mereka jauh dari sekolah. Tidak jarang, orang tuanya ‘lupa’ untuk menjemput mereka untuk berlibur di rumahnya, sehingga secara efektif anak-anak ini dibuang.
    (SC Laporan Perjalanan UK)
    Banyak permasalahan utama yang dihadapi anak penyandang ketunaan dalam pendidikan tidak ada kaitannya dengan teknik mengajar.
    Diagram pada gambar 3 menunjukkan perbedaan utama antara konsep-konsep ini.
    (Gambar dapat dilihat pada buku aslinya, yang dapat di-download melalui link di atas).

    3.3. Pendidikan Inklusif dalam Konteks yang Lebih Luas
    Isu utama yang sering diabaikan atau diremehkan adalah perbedaan antara Pendidikan Inklusif dan Sekolah Inklusif, dan dalam konteks yang lebih luas, perbedaan antara Masyarakat inklusif dan Perkembangan Inklusif.
    Sekolah Inklusif merupakan fokus kebijakan dan praktek pendidikan di negara-negara Utara, karena sistem persekolahan merupakan sistem yang sangat besar dan memasyarakat, sehingga semua anak menghabiskan sebagian besar kehidupannya di dalamnya. Dari perspektif Utara, ‘pendidikan inklusif’ pada umumnya disamakan dengan sekolah inklusif.
    Pendidikan Inklusif lebih luas dari pada persekolahan. Kenyataan di dua pertiga bagian dunia (di Selatan), banyak komunitas tidak memiliki sekolah, tetapi semua komunitas memiliki pendidikan, dan pendidikan ini dilaksanakan di berbagai tempat dengan berbagai macam pendekatan. Pendidikan Inklusif meliputi: pendidikan informal, pendidikan nonformal, pendidikan di rumah, pendidikan pertanian di lapangan, pendidikan agama di mesjid, pura, gereja, serta semua bentuk pendidikan tradisional dan adat.

    Contoh Inklusi untuk Anak Penyandang Cacat Berat (meskipun anak berbasis di rumah)
     Program RBM membantu keluarga dan anak sejak lahir
     Relawan dan anak-anak lain membantu mengajarkan kegiatan hidup sehari-hari kepada anak di rumahnya sendiri
     Anak diajak dan dilibatkan dalam kegiatan masyarakat setempat, dalam kegiatan agama dan sosial
     Guru mengunjungi keluarga dan mengembangkan tujuan belajar yang sesuai bersama dengan pekerja RBM dan keluarga
     Anak masuk ke kelompok bermain (play group) pada usia yang semestinya
     Dinas pendidikan setempat mencakup anak ini dalam perencanaan, penyediaan dan alokasi sumber-sumber daya
     Orang tua menjadi anggota aktif organisasi orang tua atau organisasi penyandang ketunaan dan mampu merencanakan/melobby untuk masa depan anak

    Contoh Eksklusi dari Masyarakat terhadap Anak Penyandang ketunaan Berat yang berbasis di rumah
     Keluarga merasa ternodai ketika anak lahir
     Kakaknya berhenti sekolah untuk merawat anak tersebut
     Tetangga dan anak-anak lainnya tidak mau berkunjung dan takut kepada anak
     Anak dikurung di rumah, dibiarkan terus berbaring dan menjadi semakin tergantung pada orang lain dan mengalami atrophia
     Keluarga menghabiskan biaya untuk mencari pengobatan yang tidak berhasil
     Ayah merasa malu, menyalahkan ibu dan meninggalkannya
     Ibu menjadi semakin banyak pekerjaan dan tidak tahu bagaimana cara membantu anak
     Ibu mulai mengabaikan/menyiksa anak yang kini terlalu berat untuk dipangku dan sulit diatur
     Saudara kandungnya tidak dapat menikah atau mendapat pekerjaan karena stigma ini

    Masyarakat Inklusif: Pendidikan Inklusif merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk mempromosikan masyarakat inklusif; yaitu masyarakat yang memungkinkan semua orang, apapun jenis kelaminnya, usianya, kemampuannya, ketunaannya, ataupun etniknya, untuk berpartisipasi dan berkontribusi terhadap masyarakat tersebut. Ini merupakan hal yang sangat ideal, tetapi juga merupakan relita praktis yang dituntut oleh dunia pada masa ini, tuntutan agar kita menghadapi dan memperlakukan perbedaan sebagai sesuatu yang normal. (Lihat Gambar 4.)

    Perkembangan Inklusif:
    Istilah ‘perkembangan' (development) dirumitkan oleh asumsi-asumsi yang masih dapat diperdebatkan. Penyebutan “negara berkembang”, “terbelakang”, dan “maju” [‘developing’, ‘under-developed’ atau ‘developed’] masih terus dipertahankan, yang sering kali disamakan dengan konsep yang sempit tentang pertumbuhan ekonomi, dan mengabaikan besarnya warisan perkembangan budaya, spiritual dan manusia yang ada di negara-negara yang disebut “terbelakang” itu. Di sisi lain, perkembangan dapat dipandang sebagai pertumbuhan ke arah kematangan, yang dikaitkan dengan konsep-konsep seperti:
     Pencapaian hak asasi manusia yang penuh
     Keberlangsungan sumber daya dan pemeliharaan lingkungan
     Tanggung jawab sosial dan penghargaan atas keberagaman.
    Dalam konteks ini, Inklusi memainkan peranan utama. Perkembangan yang inklusif adalah tentang:
     Memastikan bahwa SEMUA orang memiliki akses yang sama ke hak-hak asasinya. hak asasi kelompok-kelompok rentan, termasuk anak penyandang ketunaan, adalah makanan, pakaian, perumahan, cinta dan kasih sayang.
     Mengakui bahwa perkembangan yang berkesinambungan tidak dapat terjadi tanpa partisipasi dan inklusi semua anggota masyarakat. Akibat perkembangan yang eksklusif kini dapat kita lihat dengan jelas: kesenjangan yang semakin lebar antara yang kaya dan yang miskin, meningkatnya konflik, kerusuhan, intoleransi, semakin tipisnya persediaan sumber-sumber daya.
     Mempraktekkan inklusi sejak awal. Misalnya, jika pendidikan hanya dapat dilakukan dengan menempatkan sekelompok anak di bawah pohon, maka pemberian bekal yang mendasar ini harus melibatkan semua anak.

    “Sebagai katalisator untuk perubahan, pendidikan inklusif tidak hanya memberikan peningkatan mutu sekolah, tetapi juga peningkatan kesadaran tentang hak asasi manusia yang mengarah pada pengurangan diskriminasi. Dengan menemukan solusi lokal untuk masalah-masalah yang rumit, ini akan memberdayakan masyarakat dan dapat mengarah pada perkembangan masyarakat yang lebih luas.”
    (Pernyataan tentang Pendidikan Inklusif dari Save the Children)



    Lanjut ke Bab 4: Bagaimana Kita Dapat Merencanakan Pendidikan Inklusif?

    Kembali ke Bab 2: Darimana asal Pendidikan Inklusif?

    Labels:

    Links to this post:

    Create a Link

    << Home

    :)

    Anda ingin mencari artikel lain? Silakan isi formulir pencarian di bawah ini. :)
    Google
  • Kembali ke DAFTAR ISI